4. Dia Siapa?

1388 Words
Tiba di depan kendaraan mewahnya, ponsel Rheana berdering. Dia melihat siapa yang menghubunginya lantas mendesis kesal. “Selalu tepat waktu, sialan!” Tapi meski begitu, dia tetap menerima panggilan. “Ada apa?” Tanpa basi pula. “Ada kecelakaan tunggal di dekat rumah sakit. Kau harus segera datang, Rheana. Sepertinya dia … menyebut namamu terus.” Lapor seseorang dari sambungan telepon itu. Dahi Rhena mengerut. “Mana ada orang sekarat manggil aku?” katanya sarkas. “Ada, Rhe. Cepat datang!” “Tidak. Panggil dokter lain saja. Aku ada urusan,” tolaknya. “Nggak ada dokter lain, Rheana! Mereka ada seminar. Di unit gawat hanya ada dokter pemula. Kau mau keadaan kacau dan kau yang disalahkan seperti terakhir kali itu?” “Sial! Nggak usah ingetin juga kali, Han.” Rheana membalas tajam tapi dia masuk ke mobilnya dan memasang sabuk pengaman. “Stay di depan unit gawat, aku bawa mobil, parkirkan. Sampai dalam sepuluh menit!” Lantas panggilan ditutup sepihak olehnya. Rheana memacu mobilnya di jalanan kota Melone yang lengang dengan kecepatan tinggi. Dia bahkan sebenarnya bisa menguasai jalanan andai tidak ada peraturan lalu lintas. Tiba di depan rumah sakit, Rheana keluar dari mobilnya begitu saja. Seorang dokter perempuan yang menunggu sempat menatapnya tak percaya dari atas kepala hingga bawah kaki Rheana, lalu menggeleng. Bahkan pasang mata yang melihatnya pun terpukau. “Awas matamu jatuh, Han. Jasmu!” Rheana meminta dengan nada perintah. “Dasar gila! Kau ke unit gawat darurat pakai gaun seksi buat apa?” Dokter itu protes tapi Rheana tak peduli, mengambil alih jas putih tulang temannya itu. “Pikirkan mobilnya, jangan lecet. Aku harus balikin dalam keadaan utuh tanpa baret,” kata Rheana sambil berlalu. Gadis itu berlari di sepanjang ruang UGD rumah sakit kota dengan stiletto yang berhak tipis. Beberapa dokter jaga di sana sampai terpukau, bahkan suster pun ikut menatap heran. Para pasien yang berbaring di ranjang ikut menatapnya, pun tak ketinggalan para wali pasien. Mana ada dokter ke unit gawat mengenakan gaun dan dandan cantik? “Mana pasiennya?” Rheana tak mempedulikan semua itu, hanya fokus pada satu pasien yang katanya darurat. “Lewat sini, Dokter.” Seorang suster mengarahkan. Rheana menyibak tirai yang menutupi, tampak seorang pria dengan setelan formal lengkap terbaring tak berdaya dengan noda merah di beberapa bagian. Begitu mendekat, kedua mata Rheana membulat sempurna. Walau wajah itu bersimbah darah, dia mengenalinya. “Hei, kau?” Rheana memanggil. “Kau bisa dengar aku? Tam?” tanyanya menepuk pipi pria itu. “Korban kecelakaan tunggal. Menurut saksi, korban berusaha menghindari anak kecil yang tiba-tiba menyeberang jalan, dan menabrak pembatas jalan lalu mobilnya meluncur ke jurang sedalam 1 meter dan menabrak pohon. Status kesadarannya delirium,” lapor seorang dokter muda yang berjaga di sana. “Hei, Tam, kau bisa dengar aku?” Rheana memanggil, bertanya pelan sambil menepuk pipi pria itu. “Hei, Rhe. Kau … cantik.” Itu jawaban dari pria yang sepertinya kesadarannya mulai menurun. Tapi senyuman di bibirnya membuat Rheana sempat berdecih. Di saat seperti ini pun senyum jahilnya tetap muncul. Rheana mendesis tertahan, dia mulai memberikan instruksi pada para dokter dan suster untuk mengambil tindakan pengobatan pada pria itu yang sepertinya mereka saling kenal. *** Setelah menangani pasien tadi, Rheana termenung. Dia bekalan tanpa arah di koridor rumah sakit. Pikirannya bercabang, pada malam yang panas itu dan dirinya menyerahkan mahkotanya dalam buaian nikmat Tama. Tapi di sisi lain, Rheana teringat bagaimana Tama menghilang secara tiba-tiba, lima tahun lalu. Menghela napas panjang dan berat, Rheana berusaha mengenyahkan pikiran itu. Dia berjalan ke sebuah ruangan yang pintunya berderet rapi di koridor itu, semua tertutup. Langkahnya berbelok, berjalan lurus dan terbuka. Begitu tiba di pintu yang dia tuju, tanpa permisi lebih dulu dia membukanya. Namun, dia terdiam ketika telinganya mendengar suara aneh yang membuat tubuhnya mengejang seketika. Suara itu yang bersahutan membawa Rheana pada malam panas yang dia lalui bersama Tama. “Sialan! Han!” Rheana berteriak, menyentak si penghuni ruangan tengah bermain di sudut gelap dengan seseorang. Entah siapa kali ini yang menjadi mangsa teman dekat Rheana itu. “Aaah! Sial! Cepat!” Rheana mual dengan suara itu, tapi anehnya, tubuhnya bereaksi lain, dia mematung, telinganya panas. “Faster! Nanti ada orang!” Mereka tidak tahu kalau sudah ada orang di sana, diam menunggu dengan kaku. Pikirannya terbayang sentuhan demi sentuhan yang dia rasakan malam itu. Dia menelan ludahnya, tubuhnya terasa begitu panas. Tiba-tiba saja ruangan itu menjadi gerah dan pengap. Lenguhan panjang yang saling bersahutan itu membuat bulu kuduk Rheana meremang. Perasaannya tak nyaman. Tapi dia berusaha menyembunyikan semua itu, dan berdiri tegak di pintu yang tertutup rapat. Kedua tangannya terlipat di d**a, tatapannya tajam menusuk. Rheana menunggu dua orang yang sepertinya tengah tergesa merapikan penampilan. “Kau hebat juga. Meski di awal kaku, kau bisa memimpin,” puji seorang wanita di ruangan itu sambil terkekeh. Suara pria menyusul kemudian dengan seabrek pujian yang bagi Rheana itu menggelikan dan nyaris saja membuatnya muntah. “Ya, sudah. Pergilah. Nanti ada orang yang —” Ucapannya terhenti ketika didapatinya Rheana berdiri di pintu, menatap tajam keduanya yang akhirnya muncul ke tengah ruangan. “Orang yang melihat dan mendengar desah nikmat. Begitu maksudnya?” Rhea menyindir sarkas. Tatapannya mengarah pada wanita yang cukup dikenal olehnya. “Pergilah. Sampai jumpa,” usir wanita itu pada pria muda yang baru saja bercinta dengannya. Lirikan tajam Rheana itu mengikuti ke mana si pria berjalan pergi. Dia takut-takut untuk lewat karena Rheana menghadang pintu. “Kau menakutinya, Rhe,” wanita yang merupakan teman Rheana itu menegur. Dia juga yang membantu pria itu lolos dari Rheana. Setelah pria itu pergi, barulan wanita itu mendelik tak suka pada Rheana. “Kau menakutinya,” tegurnya. “Mana mungkin dia takut? Dia aja bernyali bermain dalam gelap denganmu, Han, aku liat dia aja takut. Cemen.” Hanin, wanita itu hanya menggeleng. “Kau gak tahu apa-apa, Dokter Rheana,” katanya seraya merapikan penampilannya berantakan. Hanin melengos begitu saja, membiarkan Rheana mengekori dirinya keluar dari ruangan itu yang merupakan gudang. “Siapa lagi yang mau gaet kali ini, Han? Kau merusak anak orang,” kata Rheana. “Jaga sikapmu di rumah sakit. Kalau mau mau b******u, mending pergi saja ke tempat yang sudah disediakan, bukan di RS yang suci.” “Cih!” Hanin berdecih sinis. “Suci apanya? Bagimu mungkin itu suci, karena kau hanya bermain di UGD, IGD, ruang OP, pemerikasaan, dan cafetaria, kantin juga. Kau tidak tahu apapun,” bantah Hanin. “Apa maksudnya?” Hanin menghela napas. Dia tidak berhenti berjalan, tidak pula melirik Rheana di sampingnya. “Kau tidak akan pernah tahu, di setiap sudut gedung ini ada ruang gelap yang dimanfaatkan oknum. Kau tidak tahu apa-apa jika tidak berkeliling bahwa setiap menit, bahkan mungkin detik ada orang yang mengerang dalam nikmat, di tegangnya waktu dan ruang. Tidak hanya erangan kematian yang menjemput. Kau saja yang terlalu ‘alim’ untuk melihat sisi gelap yang tak banyak orang tahu, tapi juga bukan lagi rahasia. Jadi kenapa kau kaget?” Rheana terdiam. “Lagi pula, untuk orang sepertimu yang tak pernah ‘bermain’, mana paham sensasinya,” lanjut Hanin. Langkah Rheana berhenti, dia teringat akan sesuatu. “Hei, Han. Saat pertama kali, apakah rasanya sakit?” tanyanya tiba-tiba. Dahi Hanin mengerut, dia menatap Rheana aneh. “Hm. Ya, sakit. Pedih juga. Ah, pas jalan itu sakit, kaku, dan … yah, aku lupa. Soalnya dalam ingatan aku, itu kabur,” jawabnya. Rheana semakin diam mendengarnya. “Kenapa kau, Rhe?” Hanin menatapnya, menyelidiki. “Hei, jangan bilang kau …!” Mulutnya terbuka lebar pikirannya membentuk sebuah jawaban. “Kalau dipikir-pikir, cara berjalanmu tadi aneh. Orang lain mungkin tak memperhatikan, tapi aku tidak. Kau … melakukan itu, kan?” Kedua mata Rheana melebar, kaget dengan tebakan Hanin yang tepat sasaran. Hanin tertawa. “Ternyata, ada bagusnya juga kau dikhianati,” katanya meledek. “CK! Sialan!” Rheana mendesis, dia melanjutkan langkahnya. Hanin mengikuti dengan sisa tawa. “Lagi pula, aku tak berniat melakukan itu lagi.” “Cih! Aku tak percaya. Sekali kau melakukannya, akan ada tarikan yang membuatmu lupa daratan,” sambar Hanin. “Tidak akan. Aku hanya akan pastikan kalau dia yang bermain denganku . Hanya dia.” “Dia siapa?” Hanin bertanya. “Dia —” “Momy!” Percakapan kedua dokter perempuan itu teralihkan pada suara anak kecil memanggilnya momy, entah pada siapa. Tapi anak itu berlari menuju ke arah mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD