1 | What the Fuckk

1325 Words
"Reno?" "Ya, saya." Aylin menyelipkan helai rambut ke belakang telinga dengan gerakan paling centil yang pernah dirinya lakukan, tak lupa bibir dimanyun-manyunkan. Yang mana bibir Aylin saat ini berpoles gincu merah menyala persis milik neneknya di kampung. Uh, yeah ... maklum. Aylin sedang menjalankan misi. "Avita?" ucap lelaki itu, suaranya berat-berat becek seperti bintang papan atas film romance luar negeri—yang kalau mendesah, penonton mampus sudah. Eh? "Hm. Duduk sini, ya?" "Oh, iya. Silakan," ujar pria itu lagi. Namanya Reno tadi, sosok yang dijodohkan dengan Avita. Siapa Avita? Jelas bukan Aylin. Dia hanya sedang mengambil peran sebagai si Avita-Avita ini. Dan ceritanya panjang hingga Aylin harus duduk di depan pria matang itu. Iya, sih. Kayak om-om. Tapi memang berapa umur Avita? Tantenya teman Lianra. Di mana Lianra ini adalah keponakan Aylin, tetapi usia tidak beda jauh karena umur Aylin dan sang kakak selaku ayah Lianra itu beda kisaran 28-an tahun. Eh, kalian pasti bingung, kan? Sebentar, biar Aylin jelaskan perlahan. Tapi mari kita hadapi dulu si om yang satu ini. Ganteng padahal. Gagah juga kelihatannya. Nggak tua-tua amatlah. Pas, sih, kalau disebut om. Yang sedang Aylin seruput minuman di depannya. Kopi pahit—ugh, sial! Aylin hampir ber-hoek-hoek ria memuntahkan cairan hitam yang diseruputnya. Bagaimana tidak? Ini minuman bukan miliknya, cangkir yang ada di meja adalah satu-satunya hanya milik pria tersebut. Si Om Reno-Reno itu sampai menatap Aylin dengan sorot agak ... apa, ya? Karena Aylin sudah asal ambil cangkir kopinya. Ini sengaja, sih, Aylin lakukan supaya pria di depannya ilfeel. Tugas Aylin adalah mengusir mundur laki-laki yang hendak dijodohkan dengan Avita. Macam di novel romansa yang pernah Aylin baca saja, sekarang dia tokoh utamanya. Lelaki itu menghela napas samar. "Silakan pesan dulu. Saya nggak tahu selera kamu, jadi saya hanya pesan espresso." Oh, ya ampun! Pantas saja pahitnya pekat. Ugh, Aylin mau kumur-kumur rasanya. Dia si pencinta makanan manis. Argh! "Tolong pesenin, dong, Yang. Eh, maaf. Nggak pa-pa kalau kita langsung naik ke jenjang sayang-sayangan?" seloroh Aylin, beraksi. Ilfeel gak, tuh? Ilfeel-lah harusnya. Secara gitu, ya. Manusia normal mana yang baru ketemu sudah senang dipanggil sayang? Dengan wanita ber-make up medok, menor, dan warna-warni pelangi seakan ada di wajahnya. Paling normal lagi, si lelaki harusnya merinding sebulu roma. Secantik apa pun Aylin, mestinya dandanan ini menjatuhkan kadar pesona. Sobat gaul Aylin sendiri yang memoleskan make up-nya. Si Maharani, tuh! "Boleh. Mau apa? Menunya lihat saja di sana," tutur Om Reno, menunjuk papan menu yang terpampang besar-besar di banner. Gila, sih. Kaku pol macam triplek baru. Aylin melirik ke sana. Pilih-pilih, tetapi percuma karena Aylin sudah punya pilihan sendiri, yakni ... "Bilang aja menu paling mahal, Say. Eh, dibayarin kamu, kan, Yang?" Hhhh. Suara tawa batin Aylin yang niat tak niat. Tenang, Girlsss! Besok juga nggak bakal meet lagi. Dan lagi, toh, Aylin menyamar. Si om nggak bakal kenallah. Aylin yang asli itu cuantik puol kalau kata nenek. Serius! Karena dia adalah Jayline Jayakarsa Atmaja, anak perempuan semata wayang dari Papi Jaya yang tampan paripurna sampai perawan macam mami kepincut dan klepek-klepek brutal sama beliau di usia 47-nya, sedangkan mami Aylin anak gadis umur 33—konon. Aylin dapat cerita seru itu dari nenek juga. Selain itu, Aylin keturunan blasteran yang super duper blang-blang-blang! Lebih dari percampuran satu negara, tetapi wujudnya apik seaduhai Aylin ini. Kata nenek, lho, ya. "Oke. Tunggu." Seperti itu. Aylin pun senyum sampai kelihatan gigi. Mestinya ada lipstik nempel di sana, si om wajib melihat. Dan tatapan itu Aylin rasa jatuh sebentar di giginya. Ahay, mantap. Memang Aylin jago kalau soal ini. Ehm. Sekali lagi, besok-besok nggak ketemu, kok. Aylin rogoh ponsel. Dia mengirim pesan kepada sang ponakan, sosok yang membuatnya mau tak mau harus melakukan ini. Di mana yang mestinya jadi sosok Avita sekarang itu Lianra—ponakan Aylin, bukan Aylin. Nanti Aylin ceritakan, si omnya sudah keburu kembali. Duduk di tempat tadi. Aylin senyumi sambil menopang dagu. "Dengar-dengar, kamu masih kuliah." Oalah! Itu, toh, yang membuat sosok Avita ini tidak mau dijodohkan? Mungkin karena masih kuliah. Aylin sekarang masih SMA. Sudah memasuki fase kelulusan, kok. Sebentar lagi juga jadi mahasiswa. "Iya. Kamu?" tanggap Aylin sok akrab, sok seumuran. Baja menatap cairan espresso-nya yang sudah terkontaminasi oleh lipstik perempuan di hadapan. Ya, Baja. Baja Isander Pribumi, bukan Reno. Reno ini memang benar nama laki-laki yang dijodohkan dengan Avita. Malam inilah agenda kencan butanya. Namun, Baja yang duduk di sini sekarang ... atas nama Reno. "Saya bukan mahasiswa." Ya, itu, sih, Aylin tahu. Berdasarkan info, si Om Reno ini sudah bekerja. Tapi Aylin senyumi dulu saja. "Oh, iya, udah kerja, kan?" Makanan dan minumannya datang. Eh, Aylin melihat ada cangkir kopi hitam lagi. Apa itu espresso? Dan milik pria di depannya. "Betewe, pesen minuman yang sama?" Lelaki itu mengangguk. "Kenapa? Kan, ini juga nggak aku habisin." Sambil Aylin sodorkan cangkir pertama. "Saya nggak suka ada lipstik yang nempel ke bibir cangkir." Oalah .... "Sayang, ih. Toh, kalau kita ciuman juga lipstiknya kamu lumat." Hehe. Aylin berdebar setelahnya. Apa dia keterlaluan? Bahas cium-cium dan lumat-lumat. By the way, mulut Aylin ngegasnya lebih kebut dari otak. Dia asal jeplak. Dan di usianya ini, soal kiss sudah tidak asing, kok. Aylin pernah diam-diam nonton film romansa barat, bukan film biru, tetapi saat adegan kiss-nya ... beuh! Bikin dia tutup mata malu-malu, tetapi dipantengi dari balik jemari. Efek filmnya dibahas teman sekolah, lalu Aylin penasaran. Tapi sekarang bukan itu poinnya, ya, kan? Baja menyeruput kopinya. Merasa-rasa nuansa pahit dari espresso. Kemudian menatap wanita yang duduk di depannya. Tatapan itu serasa menelanjangi, Aylin sontak langsung teguk minuman termahalnya—akh! Apa ini?! Rasa apa, Astaga? Lidah Aylin sampai menjulur. Refleks. Dan ... yeah, lumayan kalau sampai bikin Om Reno ilfeel. "Itu Kopi Black Ivory." Huh? "Dibuat dari biji kopi yang dimakan gajah." W-what?! "Prosesnya sangat minim dan menghasilkan kopi yang sangat mahal per cangkir." "Dimakan gajah?" Fokus Aylin ke sini. Kelopak mata warna-warninya mengerjap. Ada perpaduan hijau dan biru di sana. Bayangkan sajalah! Baja mengangguk. "Harusnya enak ...." Enak bagi yang suka kali, ya? Tapi Aylin kurang cocok dengan rasanya. Ada rasa rempah-rempah, terus aroma tanah. Ugh, aneh. Baja seruput lagi esspreso-nya. "Mau ganti?" Super duper santai dan tenang pol lelaki itu. Di rautnya juga tidak ada muka-muka jijik melihat Aylin. Aylin sontak tersenyum dan geleng-geleng. Rasanya ingin pulang saja. Ayolah ... kenapa pertemuan ini tidak disudahi sampai di sini? Sudah cukup memakan waktu sekian menit. "Dengar-dengar ... kita dijadwalkan menikah setelah kamu wisuda," seloroh Baja. Tatapan pria itu tajam. Aylin agak merinding, tetapi sebisa-bisa dia biasa saja. Tak mau terkesan terintimidasi, Aylin kibaskan rambutnya. Sorot mata si om jatuh di leher Aylin detik ini. Bisa Aylin rasakan. "Katanya, ya. Kamu siap?" balas Aylin acuh tak acuh. "Sampai punya anak sepuluh pun saya siap." Buset. Ha-ha! Tawa Aylin terpatah. Ini di dalam batin sucinya. Makin tahu kenapa si Avita itu tidak mau dijodohkan dengan lelaki ini. Ngeri, sih. Anak sepuluh, cui! Gila. "Itu perempuan apa mesin kopi, Om?" Eh, refleks. Aylin tampol mulutnya. "Maaf." Baja terkekeh. Ow, s**t! Aylin menelan ludah. Suara kekehannya seksi betul seperti tokoh mafia di film romansa dewasa. Dan jangan lupakan tatapannya. Hanya tidak bercambang saja si Om Reno ini, tetapi ada bintik-bintik tipis dari rambut kasar. "Lebih enak didengar daripada 'sayang.' Walau umur saya dan kamu juga nggak sejauh itu sampai harus sebut om." Aylin senyum. Oh, ya? "Ya udah, Om Sayang." Mestinya double kill ilfeel! Mari lihat reaksi Om Reno. Sejatinya, ini Baja. Dia mengulas senyuman. "Ya sudah, senyaman kamu saja." "Jadi, Om fix bakal lanjut pertemuan ini ke jenjang nikah? Nggak masalah dengan seapa-adanya diri aku?" Aylin menunjuk wajah secara tersirat. Pakaiannya juga jadul. "Kalau itu soal penampilan, sepertinya dipermak sedikit kamu sudah cantik." Alamak! "Om Sayang bisa aja, ih." Aylin kelojotan, lalu haha-hihi. Plis, ilfeel! Ayo pulang, plis! Baja mengulum bibir, lalu tatapannya turun. "Tapi sebelum itu ... boleh saya tahu ukuran dadaa kamu?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD