"Plis! Sekali ini aja, ya, bantu aku, Ocil?" Memohon. Ini Lianra, sang keponakan.
Mari berkilas balik sebentar pada awal mula kenapa Aylin bisa sampai duduk di kafe berdua dengan seorang 'Reno.'
"Ocil nggak mau, Ra." Dan ini Aylin, putri Jayakarsa Atmaja. Menjadi tante bagi ponakan yang usianya bisa dibilang sepantar, sebutan 'Onty' pun jadi dipadukan dengan 'Cilik', itulah kenapa Aylin dipanggilnya 'Ocil'.
Onty Cilik.
"Ayo dong, Ocil. Tega, nih, Ocil sama aku?"
Awal mula kisah ini dibuat adalah memang saat Aylin kelas tiga SMA, sudah lulus-lulusan. Dia memberengut.
Yeah ... Jayline Jayakarsa Atmaja nama lengkapnya. Kenal, kan? Dia putri tunggal Komisaris Utama Atmaja Group, terkenal sebagai Tuan Putri Luxe. Dan Luxe adalah nama merek furnitur, produk perusahaan papinya. Tapi ini YTTA—yang tahu-tahu aja, tidak semua orang tahu siapa Aylin walau dia cukup terkenal.
"Ya, habis kamu minta tolongnya kayak gitu, Ra," dumal Aylin, kesal.
Lianra yang sejak tadi bernegosiasi dengan tantenya pun mengepal tangan—saling menggenggam antara yang kiri dan kanan lebih tepatnya, lalu ditempatkan di bawah dagu, persis sedang mengharap bala bantuan dengan tampang mengiba.
"Onty Aylin ... mau, ya? Please ... aku takut dimarahin papi kalau ketahuan."
Tentu Aylin sewot. "Ya, sama! Lagian kamu bisa-bisanya nerima tantangan macam itu. Ini, sih, kamu dikibulin, Ra, sama temenmu," omel Aylin. Mendengkus-dengkus kesal.
Ah, sebal, deh! Bahkan Aylin misuh-misuh di dalam hati. Walau satu sekolah, tetapi beda jurusan di SMA, teman bergaulnya pun tidak selalu sama antara tante dan ponakan ini.
Lianra merengek.
Kalian tahu apa masalahnya?
"Cuma datang gantiin aku ke kencan buta itu, Ocil."
Kencan buta.
"Dan kamu ini ngegantiin temenmu yang dapet mandat dari tantenya. Dodol, ih."
"Ya, kan, aku kalah main game ToD." Lianra memelas.
Betul.
Gara-gara main Truth or Dare, terus Lianra kalah dan dia memilih dare, lalu hukumannya adalah tantangan tidak masuk akal bagi Aylin.
"Ini mah akal-akalan temen kamu yang nyari tumbal buat gantiin dia datang di acara kencan buta tantenya itu. Sadar?"
"Iya, tahu. Tapi gimana? Udah telanjur gini. Kalo nggak, dia minta pinjam motorku sebulan. Bisa-bisa diomelin papi aku, Ocil. Plis, bantuin!"
Papinya Lianra itu kakaknya Aylin. Sekarang Aylin sedang berada di kediaman sang kakak—Julian Jayakarsa Atmaja namanya, tepatnya ini di kamar Lianra. Bicara pun agak bisik-bisik karena takut kedengaran sampai ke luar walau penuh tanda seru. Tapi harusnya aman, sih.
Nih, ya, biar Aylin perjelas lagi masalahnya. Jadi, yang dijodohkan dan diaturkan kencan butanya itu tantenya si teman Lianra—bernama Avita. Si tante tersebut tidak mau pergi ke sana, alhasil menyuruh ponakannya. Kemudian si ponakan itu adalah kawan main Lianra yang merupakan keponakan Aylin. Mereka main ToD, Lianra kalah dan apesnya memilih dare. Mungkin sesuai prediksi si teman bahwa Lianra akan memilih itu, anak ini memang suka tantangan.
Tapi siapa sangka bila tantangannya sangat merugikan? Eh, malah tetap Lianra mau menjabani.
Terus ....
Dia pulang dan menelepon agar Aylin mampir ke rumahnya, penting, meminta tolong. Sekarang sampai memohon-mohon. Lianra ingin Aylin menggantikannya datang ke janji temu itu. Soalnya acara malam, sementara Lianra tidak ada cara buat bisa keluar saat matahari sudah tenggelam. Katanya, lain cerita jika siang.
Beda dengan Aylin. Dia, sih, tinggal sebut nama sobat—si Maharani, maka izin nginap di rumah teman sudah Aylin kantongi.
Menapaki usia remaja SMA ini, Aylin dapat keleluasaan dari papi dan mami. Tadinya memang tidak boleh, tetapi entah apa yang membuat papi berubah pikiran. Katanya, asal hanya dengan Maharani. Sepercaya itu papi kepada sahabat Aylin.
Dan Lianra tahu dengan keleluasaan sang tante soal bisa nginap di rumah teman itu. Mungkin karenanya, muncullah ide ini.
"Kita suruh orang aja, Ra. Jangan kayak orang miskin—"
"No!" sergah Lianra. "Jangan, Ocil. Kita emang mampu bayar orang buat gantiin peran ini, tapi bukannya lebih berisiko karena keluar-masuk uang kita masih di bawah pengawasan orang tua?"
Orang tua sudah seperti fungsi OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk anaknya.
Dan pikiran dangkal dua remaja tanggung ini mulai sehaluan, sama-sama merasa lebih aman kalau tidak menyuruh orang. Toh, Aylin memang tidak seketat itu penjagaan langsung dari mami dan papinya. Mami manut sama papi, papi lebih memberi kebebasan buat Aylin.
"Ya udah, oke," putus Aylin. Lemah betul terhadap kemelasan ponakannya.
Lianra sampai bersorak 'yes' dan berterima kasih. "Oh, ya, tapi nanti Ocil jangan nyuksesin kencannya, ya. Dibikin ilfeel aja si cowoknya. Biar perjodohan itu batal, tapi harus pihak cowok yang ngebatalin katanya."
Kening Aylin mengernyit. "Kalo gitu nggak usah datang aja, simpel."
"No! Katanya kalo nggak datang, bahaya buat kelangsungan bisnis keluarganya. Kan, tadi dibilang supaya pihak cowok yang batalin, pihak Avita ini jangan bikin gara-gara gitu, Ocil."
Aylin mengerling.
"Yang penting datang dulu aja, Ocil." Lianra memelas lagi. "Aku percaya sama Onty."
"Emang apa yang bikin si tantenya temen kamu gak suka sama perjodohan itu? Dia udah punya calon sendiri? Cih! Kenapa nggak jujur aja." Aylin saking kesalnya sampai mendecih.
"Bukan ...." Lianra bicara pelan.
"Terus?"
Lianra kali ini meringis. "Soalnya si tante nggak mau dijodohin sama om-om."
Astaga.
Hei!
"Kamu cari perkara aja, deh, Ra. Om-om? Terus gimana nasib Ocil kalo sampe kenapa-napa? Si tante itu aja nggak mau datang karena partnernya om-om, gimana kita yang SMA aja baru abis kelulusan? Gimana kalo diapa-apain?!" Sudah gitu, Aylin punya 'Om Raja' di hatinya ... yang harus Aylin jaga.
Eh?
Sama-sama om.
Selera Aylin om-om berarti, ya?
"Ya, mau gimana lagi, Ocil? Aku bener-bener memohon kemurahan hati Yang Mulia Onty."
Alah, lebay!
Aylin menghela napas. Ini sanga tidak masuk akal, but—fine.
"Sebagai gantinya ... beliin Ocil tas Gucci."
"Ih, mahal amat."
"Papi kamu, kan, CEO."
"Ya, papi Ocil juga atasan CEO."
Tante dan ponakan ini sedang berdebat perkara bayaran yang diminta berupa tas branded.
Sebab Aylin—remaja kini—menjelma sebagai pencinta barang-barang mewah, limited edition, dan branded tentunya. Padahal sekali lagi, masih SMA kelas tiga. Baru lulus. Pun karena masih sekolah itulah Aylin dilarang mengoleksi barang jenis tersebut—sekali pun orang tua dan keluarga besar Aylin ini konglomerat, kaya raya tujuh turunan delapan tanjakan.
Papi yang melarang. Anak sekolah yang sederhana-sederhana dulu saja katanya.
Padahal kalau ke sekolah, Aylin dijemput Sedan mewah harga miliaran rupiah. Kenapa untuk tas, sepatu, dan lain halnya itu dilarang, ya? Sempat Aylin berpikir begini.
Eh, tetapi sekarang bukan itu poinnya.
Malam nanti Aylin akan pergi ke acara kencan buta menggantikan Lianra untuk memenuhi hukumannya yang kalah main ToD.
***
"Nanti malam Aylin nginap di rumah Maharani boleh, Pi?"
Sebagai komisaris, papi Aylin ini sudah lebih sering di rumah. Ya, apalagi usia tidak semuda dulu. Tapi Alhamdulillah papinya panjang umur sebab menerapkan gaya hidup sehat. Cuma jadi agak kelihatan jomplang saja tampilannya dengan mami Aylin yang masih muda. Selisih umur beliau-beliau ini empat belasan tahun memang. Lumayan, kan?
"Dalam rangka apa?" tanya papi.
"Jangan dikasih izin, Pi. Anak gadis, kok, suka banget nginap-nginap di rumah orang lain?"
"Maharani bukan orang lain, Mi. Dia sahabat Aylin, udah sehati dan sejiwa." Oke, ini lebay. Mami sampai mengerling. "Lagi pula di rumahnya Rani itu suka sendirian, kasihan. Dia minta Aylin nginap malam ini."
"Apalagi itu, kan? Sebenernya Mami agak kurang setuju Aylin nginap-nginap di sana. Gimana kalau kalian nakal bawa masuk laki-laki? Belum lagi kata kamu, Maharani itu cuma punya abang dan papa setelah ibunya meninggal. Abang dan papa ini cowok, lho, Lin. Gimana semisal kamu diapa-apain?"
"Tapi kenyataannya Aylin baik-baik aja, Mi. Nggak pernah diapa-apain. Rani juga lebih sering sendiri. Biasanya kalau Aylin nginap, dia minta papa dan abangnya jangan pulang sekalian. Soalnya ada Aylin."
Papi Jaya menyusut mulut dengan tisu, gerakannya masih saja berkelas walau umur sudah makin tergilas.
"Ya sudah, yang penting harus bisa jaga diri," kata papi.
"Pi!" Mami sampai menegur.
"Nggak apa-apa, Mi. Artinya semakin besar kepercayaan yang kita beri, Aylin semakin memikul beban tanggung jawab untuk menjaganya agar tetap utuh."
"Siap!" tukas Aylin. Selagi nggak ketahuan, harusnya aman. Ya, walau agak deg-degan juga, sih. Tapi Aylin janji tidak akan mengecewakan orang tuanya, seperti waktu lalu di masa kecil.
"Gila kamu, Lin. Modal nekat."
Itu kata Maharani setelah Aylin datang ke rumahnya, cerita soal obrolan bersama papi dan mami saat izin nginap.
"Ya, mau gimana lagi, Ran? Satu sisi gak tega sama Lianra."
"Gak tega, sih, gak tega. Tapi kalo kamu apes, yang kena imbas aku juga, lho. Bisa-bisa Pak Jaya ngasih perhitungan sama aku, Lin. Ngeri."
Papi Aylin bukan orang sembarangan.
"Nanti bisa aku jelasin, Ran. Paling yang kena marah si Lianra. Tapi, kan, papi orangnya gak tegaan juga marahin cucu. Ujung-ujungnya yang kena—mungkin—yang ngasih tantangan ToD ini.
Oh, ya, tolong bantu dandanin aku biar cowok gak tahan liatnya, Ran. Karena ilfeel."
Maharani pasrah. "Ya udah, sini."
Terserah Aylin sajalah, atur saja. Macam ini.
Aylin senyum. Berdoa semoga dilancarkan. Pertemuannya semoga singkat saja karena keburu ilfeel duluan.
"Oh, ya, Lin. Gimana kabar percintaan kamu sama si om?"
Om Raja maksudnya. Sosok asisten pribadi papi, lelaki yang tadi sempat berpapasan di luar kala Aylin mau masuk mobil.
"Tambah suka, Ran. Dianya tambah ganteng. Dan kami makin co cwit aja di chat."
Ya, Raja so sweet sampai Aylin mesem-mesem ketika mengulasnya. Sudah Aylin notice tentang cintanya yang sedang jatuh ke siapa, kan?
Om Raja.
"Jangan sampe kamu ketahuan lagi berduaan sama cowok lain, lho, Lin."
"Ya, nggak bakallah! Om Raja habitatnya di sekitar papi aku aja, Ran. Gak jauh-jauh, soalnya papi sering kasih tugas. Itu pun paling ke kantor."
Karena sudah malam, Aylin langsung didandan. Detik-detik sebelum berhadapan langsung dengan pria bernama Reno.
"Eh, iya. Abang kamu namanya Reno, kan, Ran? Yang mau dijodohin sama Avita ini namanya Reno juga, lho." Dan Avita adalah sosok yang sebenarnya dari yang mestinya datang ke kencan buta perjodohan.
"Iya, sama. Tapi abang aku Mahareno, Lin. Dia Reno doang kayaknya. Abang aku gak dijodohin, kok."
"Oh, iya—" Wait. Ponsel Aylin getar. Gegas dia raih.
"Cie, cie ...." Maharani sempat melongok, di layar itu notifikasinya dari kontak Om Cayang. Tahulah siapa, itu nomor ponsel Raja yang Aylin save dengan nama khas alay lebay.
Aylin senyum.
Pesan dari Raja.
Om Cayang: [Nginap di luar lagi, ya?]
Aylin: [Di rumah temen, Om. Si Rani. Aman, kok. Nih, aku pap.]
Aylin kirim video sekitar. Sudah izin kepada Maharani.
Aylin: [Gak ada cowok, kan?]
Om Cayang: [Tapi bisa aja disembunyiin.]
"Gemes banget kalau cowokku udah cemburu gini, Ran."
"Cowokku? Jadian dulu aja, gak, sih, Lin?"
"Tau, nih. Dianya masih memantaskan diri, kali. Jadi nggak nembak-nembak. Aku sabar, sih. Toh, masih SMA, kan, kita? Walau udah kelulusan."
Aylin: [Astagfirullah. Om, kan, yang paling tahu aku gimana orangnya. Nggak mungkin aku lakuin itu, Om. Apalagi aku punya Om Raja.]
"Kode keras, Lin."
"Iya, udah aku send. Emang cowok kebiasaan, identiknya kudu dikodein mulu."
Om Cayang: [Awas kalau sampai ada apa-apa, saya laporin ke Pak Jaya.]
"Jiaaah!" ledek Maharani atas balasan chat itu.
"Tapi dia nggak ngelak, lho, soal 'aku punya Om Raja'. Artinya apa kalo gini, Ran? Ada feedback, kan? Karena kalau nggak, mestinya dibantah."
Saat itu.
Sebelum akhirnya Aylin masuk ke sebuah kafe yang ternyata sudah di-booking sehingga Maharani pun tak diizinkan masuk buat sekadar jadi teman Aylin di meja ujung.
"Maaf, ya, Kak. Hanya yang bersangkutan saja yang boleh masuk. Aturannya seperti ini," ujar pak satpam.
Maharani dan Aylin bersitatap seolah melempar telepati:
'Yah, Lin. Gimana, dong? Gak bisa jagain kamu di dalem.' Ini gambaran tersirat dari sorot mata Rani. Dan ini dari tatapan Aylin: 'Yah, Ran. Kacau.'
"Ya udah, telepon aja kalo perlu jemputan, Ya, Vit."
Aylin sudah mulai nyamar jadi Avita.
"Aku mau nongkrong di ... di rumah makan seberang itu aja!" imbuh Maharani, menunjuk kedai di seberang jalan.
Oke, sip.
Aylin mengangguk.
Demikian, setapak demi setapak langkah membawanya masuk ke Kafe Mozza, kafe janji temu antara Avita dan Reno. Aylin komat-kamit dalam hati baca doa supaya target begitu melihatnya langsung pamit pulang.
Bismillah.
Tapi, kok, yang terjadi malah .... "Boleh saya tahu ukuran dadaa kamu?"
What the—fuckkk?!
Aylin menelan ludah.
Tangannya yang bertengger di atas meja sontak turun, saling remas di paha. Ini gerakan refleks. Tampaknya Aylin sedang dalam bahaya.
Lelaki itu pun menatap dengan sorotan mesumm yang terang-terangan. Matanya mampir di dadaa Aylin.
Ahaha! Aylin tertawa saja.
Kalem, Lin, kalem.
Walau cuma akting.
"Om ...." Dan Aylin bergerak mendekat hingga dadanya menempel dengan tepi meja. Tangan pun sudah kembali bersedekap di atas meja yang sama. "Mau langsung beli seserahan, ya?"
Dalam seserahan pernikahan, bukannya ada pakaian dalam?
Tapi pria di depannya yang ikut mendekat hingga wajah satu sama lain dengan Aylin jadi cuma sisa jarak sekian senti itu bicara, "Memastikan ukurannya nanti sesuai dengan kepalan tangan saya saat diremas."
A-apa dia bilang?
Wajah Aylin memucat kalau tidak ada make up.
Di samping itu, sorot mata Baja super serius dilempar ke wajah Aylin—yang Baja tahu adalah Avita, lalu turun perlahan ke leher, hingga hinggap di dadanya. Sudah cukup untuk membuat perjodohan Reno dan Avita itu batal, bukan? Dengan pihak Avita yang kabur duluan. Mesti demikian. Baja sebisa-bisa ambil peran.
"Om ... coba lihat kepalan tangannya segimana."
Samar kening Baja mengernyit.
Aylin lalu menengadahkan tangan menanti juluran lengan si om. Tak mau terkesan ciut soalnya. Harus lelaki itu duluan yang mundur dari perjodohan, ini yang Lianra wanti-wanti.
Baja pun memberikan tangannya. Aylin raih. Sementara, mata ke mata sedang saling lamat bersua.
Berdebar-debar jantung putri Jayakarsa, telapak tangan pun pasti dingin terasa di punggung tangan partner perjodohan Avita.
Aylin kepalkan jemari pria itu.
"Eh ... segini?" Meski tangan Baja besar dibanding dirinya, tetapi kalau ukuran dadaa cuma sekepalan tangan bukannya itu .... "Om suka yang kecil, ya?"
***