"Ja. Lo, kan, pernah bilang kalo lo merasa berutang budi ke gue dulu." Reno, teman Baja menggaruk-garuk pucuk hidungnya yang tidak gatal. "Kalo sekarang gue ... bukan nagih, sih, Ja. Tapi—"
"Lagi butuh bantuan?" timpal Baja santai.
"Hm. Gue butuh bantuan lo, Ja. Sori."
Bahasa lo-gue sangat lumrah di Jakarta, tak pandang usia sudah menapak di angka tiga puluh satu. Saat itu. Setidaknya saat bicara dengan teman; lo-lo atau gue-gue. Meski Baja tidak relate. Dia lebih nyaman saya-sayaan.
"Kalem, Ren. Sebut aja, butuh apa?"
Dan Baja tidak seformal itu juga. Dia masih bisa santai tutur katanya. Walau dari segi penampilan, Baja seperti bapak-bapak yang menjunjung nilai EYD (Ejaan yang Disempurnakan).
Karenanya, Baja suka disangka lebih tua dari umur asli. Penampilannya itu, lho! Dia si paling apik, sih. Suka kerapian. Caranya menyisir rambut juga tidak ada sedikit pun khas anak muda, sedari umur dua puluhan sudah style bapak-bapak. Yeah ... kalau sudah kenal, makin mengira lebih tua lagi umurnya sebab obrolan yang mengalir dengan Baja—kata mereka. Baja terlalu kolot cara berpikirnya, cara bicaranya, hingga caranya bergaya. Baja si bapak-bapak. Belum saja melihat sosok Baja yang casual kalau di rumah.
Mungkin sebab itu pula yang tahan berkawan lama dengan Baja cuma si Reno ini.
"Jadi gini, Ja ...." Reno memulai.
Well, nama kawan Baja mirip dengan sang putra. Bedanya, yang ini Reno, yang di rumah sana Mahareno.
Oh, ya. Baja sudah punya anak dua.
Konon.
"Gue dijodohin."
Baja memperhatikan sang sobat dengan khidmat tanpa menyela.
Reno kembali berkata, "Tapi lo tau, kan, gue udah punya cewek yang gue suka dari lama walaupun tuh cewek nggak sadar-sadar?"
Reno terjebak kakak-adik zone. Hubungan abang-abangan gitu, lho. Abang-adek ketemu gede.
"Nah, rencananya mau gue lamar akhir tahun ini. Alhasil, nggak mungkin, dong, gue nerima perjodohan?"
Itu latar belakang masalah Reno, sepertinya Baja tahu akan lari ke mana arahnya.
"Terus gue gak bisa batalin. Bisa batal, tapi harus dari pihak perempuannya. Jangan dari pihak gue. Ada kerugian buat perusahaan nanti."
Kok, bisa seperti itu? Memang perjanjian apa yang sudah leluhur Reno buat? Baja letakkan cangkir kopi pahit di meja. Ini juga yang membuat dia jadi dicap bapak-bapak. Kalau ngopi, ya, kopi hitam Kapal Fire tanpa gula daripada kopi Hari Baik—I mean, kopi Gudey.
"Udah dua, kan, tuh masalah gue. Yang pertama berarti gue jangan sampe kelihatan atau ada jejak habis ketemu cewek lain. Soalnya mau ngelamar. Bisa-bisa ditolak entar. Barangkali ada masanya gue ketahuan abis hadiri agenda kencan buta. Minimal fisik gue absen gitu, Ja."
Tatapan Baja super serius. Khas bapak dosen juga, mentang-mentang profesi lainnya sebagai dosen praktisi di kampus elite ibu kota, jiwa dosennya terbawa-bawa sampai ke cara dia menyimak curhatan sang sobat.
"Kedua, gue mau perjodohan itu batal. Nah, jadi ... lo bisa, kan, handel dua hal ini buat gue?" Tampang Reno memelas. "Lo nanti datang ke alamat kafe yang gue kasih, lo nyamar sebagai gue, terus ketemu cewek itu. Lagian ceweknya masih mahasiswa. Ya, S2, sih. Tapi tetep bukan selera gue yang selisih umurnya lebih dari dua tahun."
Kalimat terakhir tidak penting, Baja skip. "Oke. Jadi, saya cukup datang gantikan kamu dan bikin partner kencan butamu itu minta mundur duluan?"
"Nah! Emang terbaik daya tangkap lo, Ja. Gak diragukan lagi sebagai penerus perusahaan sekaligus pak dosen. Sungkem gue." Reno terkekeh, dia bercanda. Memang suka bawa-bawa profesi.
Baja tidak begitu menggubris. "Kapan acaranya?"
"Nanti malem." Reno meringis. "Sori dadakan. Waktunya habis gue pake mikirin ini nggak kelar-kelar."
Sampai akhirnya dengan tidak enak hati Reno terpaksa menagih utang budi Baja. Takut Baja tidak mau membantu kalau tak pakai embel-embel utang budi. Soalnya ini saaangat merepotkan. Dan Baja anti hal-hal repot. Kalau ada yang simple, kenapa harus yang merepotkan? Baja sosok yang seperti itu orangnya di mata Reno.
Ya, tidak apa-apa. Baja mengerti.
"Kalau begitu, kasih saya informasi penting untuk bekal malam ini."
***
Nama: Avita Nurbaya.
Umur: 26 tahun.
Status: Mahasiswa.
Itu saja cukup kata Reno. Soalnya nanti hanya akan ada satu pengunjung kafe selain Baja, yakni si Avita-Avita ini. Kafenya sudah di-booking keluarga. Tak akan ada pengunjung lain yang bisa masuk selain Avita Nurbaya, dua puluh enam tahun.
Untuk misi penggagalan perjodohan hingga si wanita mundur duluan, itu kata Reno terserah Baja saja. Pokoknya si Avita semaksimal mungkin harus dibuat mundur.
"Tenang, dia bukan mahasiswa lo. Anak univ Jateng, gak kenal sama lo yang ngajar di sini."
Macam itu.
Tapi, kan, Baja pernah mengisi seminar kewirausahaan di kampus almamater kuning itu juga. Sudah lama, sih.
"Aman, deh, aman. Soalnya mau kasih foto juga gimana, gue nggak punya. Males mau minta, tuh, Ja. Pas itu dikasih, sih. Tapi langsung gue hapus, takut ketahuan calon yang sesungguhnya."
"Apa dia nggak ada media sosial, Ren?" Mungkin bisa Baja cari-cari info lewat itu. Dia harus riset dulu, bukan?
"Anak gen Z, medsos juga postingannya nol. Foto profil kosong. Kayak akun fake kalo follower-nya nggak ribuan. Dikunci lagi. Gue males follow."
"Nomor WhatssApp?" Baja masih berusaha mencari lebih banyak data soal target buat persiapan. Ini masalah serius baginya.
"Gak ada, gue hapus. Chat ibu juga gue delete. Tahu sendiri hape gue suka tiba-tiba dipegang Rosalinda."
Itu nama adik-adikannya Reno. Oca disebutnya. Ya, bukan hal penting juga untuk kisah Baja. For your information saja.
"Oke." Demikian Baja menyimpulkan, dirinya cukup dengan memberi kesan bajingann m***m.
Coba, wanita mana yang tidak akan berpikir ribuan kali buat menerima sosok pria macam itu? Lebih masuk akal kalau langsung ditolak.
"Fix nanti malam, ya?"
Reno mengangguk. "Thank's, Ja."
Dan malam itu tiba. Baja sudah mencoba berbagai cara. Yang Baja lihat-lihat, sepertinya pihak wanita pun sama; ingin perjodohan ini batal. Padahal kalau cuma itu, sepertinya gampang. Namun, ini harus perang siapa yang lebih kuat bertahan untuk tidak membatalkan duluan.
Dari saat si wanita masuk, Baja yang agak kaget dengan tampang gadis itu langsung berkesimpulan demikian; Avita juga enggan dijodohkan.
Terlihat jelas dari caranya yang tidak natural, seolah memang hanya ingin partner kencannya mental.
Lalu kapan pertemuan ini usai jika satu sama lain tidak ada yang menyerah? Masalahnya sekali pun Baja ingin menyerah, tetapi konteksnya dia sedang bayar utang budi. So, tak mungkin. Harus si Avita yang mundur.
Sampai bokongg dirasa panas duduk mau dua jam di sini.
***
Asem!
Kok, nggak kelar-kelar, sih? Ya ampuuun! Aylin mau rebahan, help! Jika sudah begini rasanya Aylin ingin misuh membabi buta kepada Lianra.
Sudah berbagai cara Aylin coba untuk memukul mundur pria di depannya, tetapi masih saja terkesan mau menikahi.
Ayo, Lin. Mikir! Cara apa lagi, hm?
Aylin mengobok-obok isi kepala, apa saja yang tersimpan dalam ingatannya. Aylin, kan, pernah baca novel di mana si wanita bekerja freelance buat batalkan perjodohan kliennya.
Di sana tertera dua tips: Satu, pura-pura binall. Dua, pura-pura les to the bi—lesbii.
Ah, tapi itu semua menjatuhkan harga dirinya.
Ya elah, Lin, nggak kenal ini. Gas aja, udah! Pilih salah satu, ucap batin Aylin yang suci. Antara jadi binall atau lesbong—si penyuka sesama jenis.
Tapi kalau lesbii, bagaimana beraksinya? Di sini hanya berdua dengan si om saja. Aylin sontak tersenyum saat tatapan pria itu berpapasan dengan lirikannya.
Berteguk-teguk minuman sudah Aylin keluarkan lagi di kloset saat buang air kecil. Pada akhirnya makan malam bersama, minum air putih—Aylin cari aman.
Om Reno—yang Aylin tahu—itu juga sudah tidak ngopi lagi sejak hampir dua jam lalu.
"Kalau kita nikah ...." Aylin bicara, beraksi kembali setelah terjadi hening beberapa detik. "Nggak masalah semisal aku udah nggak perawan?"
Uh, Aylin menelan ludah.
Bicara apa kamu, Lin?!
Astaga. Frustesyen rasanya.
"Kebetulan saya bukan perjaka."
Wah ....
Percaya, sih. Umur segini pasti sudah melewati asam manis surga dunia. Iya, kan?
"Dan aku ...." Ayo berpikir, Lin! Bikin lelaki itu segera ilfeel. "Sebenernya punya fantasi bercinta yang aneh, Om."
Haha! Mampus.
Sudah, tenang. Toh, besok tidak akan bertemu. Batin Aylin menenangkan, yang penting sebetulnya agar sekarang bisa cepat pulang. Capek, Sis! Pantatt sudah berbuah ditanam terus di kursi, nih.
"Seperti apa?" tanya Baja. Sorot matanya serius.
Dan Aylin berpikir sebentar. Biasanya adegan bercinta macam bagaimana yang bikin cowok mundur teratur plus memilih mencari cewek baik-baik buat diajak ke pelaminan?
Oh, Aylin tahu.
"Aku ...." Sebentar, menelan ludah dulu. Kok, jadi deg-degan pol gini saat hendak mengatakannya? Padahal, toh, ini bohongan. Ini hanya agar misi sukses dan selesai. "Aku suka berisik kalau begituan. Bukan cuma berisik pada umumnya, tapi beneran kayak teriak gitu, Om."
Karena berisik itu mengganggu. Kalau sedang bercocok tanam, bukankah butuh konsentrasi ekstra? Ya, Aylin tidak tahu, sih. Ini ngarang bebas.
"Contohkan."
Huh?
Apa katanya?
CONTOHKAN?!
Ya, gila saja.
"Malulah." Aylin pun menyisipkan helai rambut ke belakang telinga sambil manyun-manyun lagi.
"Mau di hotel?"
A-apa?!
HOTEL?
Raut om-om itu serius, terlihat sangat nyata menginginkan ... TIDAK, TIDAK!
Sampai capslock saking hebohnya suara batin Aylin. Detak jantung juga kencang sekali. Brutal.
"Tapi ... tapi aku sukanya three in one, Om." Yang satu lawan dua, tuh. Ini sudah yang paling binall, kan? Dan jangan ditanya Aylin tahu istilah itu dari mana. Pokoknya, sih, adalah.
"Threeso—"
"Om, maaf. Baiknya nggak boleh diperjelas. Nanti pengin." Sambil Aylin kedipkan salah satu matanya.
Ilfeel, gak? Ilfeel, plis!
"Permisi, Kak."
Oke, jeda sebentar. Baik Aylin dan Baja menoleh. Ada pelayan datang menghampiri dengan dua gelas minuman. Tidak ada yang memesan itu padahal.
Eh, pas sekali sang pramusaji berucap, "Ini bonus dan merupakan salah satu pelayanan kafe kami untuk pasangan."
Oalah ... seperti itu.
Aylin senyum. "Makasih, Kak."
Bodoh amat dengan wajahnya, si Amat saja tidak peduli kalau di sini Aylin sudah ingin pulang.
"Jadi?" kata Baja lagi. "Mau langsung ke hotel aja?"
Aylin masih di tempat, lelaki itu lalu berdiri. Meraih minuman di meja, diteguk sambil menatap dalam raut Aylin. Saaangat dalam hingga Palung Mariana juga tersaingi. Membuat Aylin resah gelisah.
Ini ....
Baja mencondong, dia meraih dagu Avita—Aylin nama aslinya, Baja tak tahu. Sontak wajah mereka kini tipis jaraknya.
Aylin duduk dengan kepala auto mendongak sebab dagu diapit naik, sementara Baja merunduk. Dia membisik dengan suara paling berat yang pernah anak gadis Jayakarsa dengar.
"Lagi pula kita mau menikah," bisik lelaki itu.
Bisik-bisiknya di depan bibir Aylin, tetapi yang terasa panas adalah pipi, telinga, dan rahim.
Eh?
Gak.
Aylin hanya—melotot di detik wajah Om Reno-Reno ini makin mendekat dengan sorot mata paling syahdu sesemesta raya. Seolah bibir Aylin akan dilumat. Itu menghadirkan detak jantung super jedak-jeduk macam suara bass di sound horeg.
C-ci-ciuman pertamanya!
***