4 | Sia-Sia

2099 Words
Maharani yang menunggu di luar sampai bolak-balik lihat jam, lalu cek ponsel, kemudian keluar-masuk resto yang dirinya tempati juga. Kok, si Aylin Markulin lama, ya? Pikirannya sudah tak sabar ingin pulang. Haruskah Rani menelepon sang sobat? Tapi ini di chat juga belum dibalas, artinya sedang tidak bisa pegang ponsel. Kemungkinan begitu. Oh, atau terjadi sesuatu di dalam kafe sana? Jangan-jangan Aylin ... wah, wah, gawat! Jangan sampai ini, bisa-bisa Rani yang kena murka Pak Jaya. Belum lagi, kan, Aylin itu anak perempuan satu-satunya. Alamak. Gegas Rani telepon kontak sobatnya. Terhubung, tetapi tidak terjawab. Aylin pakai mode silent atau memang sengaja, sih? Duh. Bikin orang khawatir saja. Masa kencan buta sampai dua jam lebih? Atau malah betah? Mereka malah kepincut, gitu? Tapi, kan, Aylin sudah punya tambatan hatinya sendiri. Mustahil rasanya si Aylin Markulin sobat gaul Maharani itu bisa dengan gampang naksir lelaki lain. Secara, perasaan Aylin kepada Kanjeng Raja Mahawirya ini tertanam sedari SMP dan baru disadari saat masuk SMA. Hati Aylin selalu tertuju pada sosok asisten pribadi papinya yang sering seliweran di rumah dia. Rani tahu betul sebab dirinya saksi pendengar curahan hati Aylin. Selalu menceritakan soal Raja sampai baper kelojotan segala. Saat Rani mencoba mengecek ke Kafe Mozza, katanya orang-orang terkait masih di dalam, jadi Rani belum bisa masuk. "Bisa tolong disampaikan kalo—" "Maaf, Kak. Soalnya ini pelanggan eksklusif yang nge-booking. Paling nanti saya sampaikan ada Kakak ke sini saat bertemu mereka. Yang perempuan, kan?" Satpamnya ingat bahwa Rani ini yang bersama Aylin tadi. "Iya. Makasih, ya. Saya tunggu di resto itu." Menunjuk resto yang tadi. Terpaksa balik lagi. *** Bayangkan, Girlsss! Sudah mau pukul sepuluh. Itu kafe juga sudah mau tutup harusnya. Kencan buta mana coba yang selama itu? Benar-benar mulai dari jam tujuh hingga hampir ke jam sepuluh itu lama badai, kan? The real sampai kafenya mau tutup. Aylin pun mengantuk. Apa menyerah saja, ya? Susah. Sekarang malah tubuhnya serasa panas tak menentu. Jantung berdebar lebih cepat, lalu gelisah. Tapi jenis gelisahnya beda. Sementara, saat Baja sudah duduk kembali, sekian menit sesudah dirinya minum air layanan couple itu ... dia menyadari sesuatu. Ditambah dengan melihat sosok Avita di depannya, tampak merasakan hal yang sama dari gelagat dan ekspresi di rautnya. Benar-benar. Reno tidak bilang kalau keluarganya senekat itu ingin menjodohkan sampai diberi layanan kamuflase berupa minuman ber-'obat perangsang'. Baja yakin ada campuran obat itu di dalam minumannya. Sebetulnya saat diminum malah seperti air putih biasa. Pasti supaya obatnya bekerja dengan baik tanpa gangguan komposisi penghambat. Berapa persen kira-kira dosisnya, ya? Baja melepas dua teratas kancing bajunya, lalu menyugar rambut. Harusnya ini sudah cukup dan bisa pulang, biar si Avita pikirkan apa masih ingin bertahan tak mau menolak perjodohan atau— "Jangan diminum," sergah Baja kepada Avita yang malah hendak meneguk lagi air di gelas tadi. Sosok itu wajahnya sudah ... sulit Baja jelaskan, tetapi cukup membuatnya menelan ludah kelat. Padahal partner perjodohan Reno ini ber-make up badut, tetapi kenapa tubuh Baja bereaksi? Detik di kala jari kelingkingnya tidak sengaja bersentuhan dengan jari Avita di gelas. Oh, tentu. Di luar konteks wajah ber-make up, tubuh wanita itu—I mean Avita—senormalnya perempuan yang sangat serius merawat diri. Aromanya juga tadi wangi sekali. "Kenapa jangan?" Dan Aylin terpaku menatap ke pria di depannya. Wait. Apa ini sosok yang sama seperti lelaki dengan penampilan super rapi bin membosankan walau ganteng dan gagah? Sekarang dua kancing teratas kemejanya dibuka, lalu rambut acak-acakan. Sejak kapan begitu? Aylin dari tadi fokus dengan rasa-rasa aneh yang menjalari tubuh. "Sebaiknya sekarang kita pulang saja." Oh, yeah ... itu yang Aylin mau. Dia mengangguk. Dipikir-pikir buat apa Aylin seberjuang ini mengorbankan diri sendiri buat kisah orang yang bahkan tidak dirinya kenal? Ciuman Aylin hampir dirampok tadi. Iya, Aylin kira bibirnya benar-benar akan dipertautkan, tetapi ternyata tidak. Hanya sampai membuat Aylin merem saja—reaksi refleks saat tubuh dilanda kebekuan yang membingungkan. Si Om Reno tidak mencium, kok. Dia cuma berucap, "Bagi perempuan yang menyebut dirinya pemain, kenapa reaksimu seperti ini?" Ya, tadi. Bicara di depan bibir Aylin sampai embusan napasnya terasa, lalu tangan Aylin yang refleks mengepal di atas meja disentuh, membuat Aylin membuka kelopak mata warna-warninya. Sosok Om Reno telah menjauh, kembali duduk di tempatnya. Saat itulah Aylin meneguk air minum yang disajikan sebagai hidangan couple dari Kafe Mozza, setelah sebelumnya bilang, "Soalnya kalau di ruang terbuka, aku agak gugup. Jadi kayak cupu, tapi aslinya aku suhu kalau udah masuk kamar, kok, Om." Hhhh. Tidak tahu lagilah, ya. Embuh. Aylin teguk banyak-banyak air minum itu. Eh, kok, rasanya macam air putih biasa? Meski ada rasa ... pahit? Bukan. Tak bisa Aylin deskripsi rasa dari minuman ini. Itu menit kesekian sebelum rasa panas yang asing menjalari tubuhnya, terkhusus di titik paling ranum. Apa namanya? Bergairahh. Tapi Aylin yang saat itu masih delapan belas tahun mana paham. Dia datang ke acara kencan buta seseorang yang sudah berumur dua puluh enam. Pria di depannya dari obrolan yang tak semua dikisahkan—mengaku sudah masuk umur tiga puluh satu. Kalau dengan Avita si Mas Reno ini cocok, sih. Selisih cuma lima tahun. Hingga tiba saat di mana Aylin ingin meneguk air minum tadi lagi, pergerakannya disela oleh larangan 'jangan diminum.' By the way, hampir tiga jam di sini isinya ngobrol dan flirting. Baru sekarang yang terasa serius. Aylin tanya kenapa, lelaki itu pun mengajaknya pulang. Of course, Aylin mengangguk. Tapi si om berucap lagi, "Mari saya antar kamu ke rumah." Aduh. "Nggak usah, Om." Aylin tidak lupa ada Maharani di luar, belum lagi tak mungkin juga partner perjodohan Avita ini mengantarnya. Bisa-bisa Aylin ketahuan. Rasanya sudah cukup Aylin jadi orang yang nggak enakan, bahkan kepada ponakan. Jam segini dirinya masih kesusahan, sementara Lianra pasti sudah bobok di rumahnya. "Saya antar," ucap Baja sambil mencekal pergelangan tangan Avita dan itu ... menyetrum sekujur tubuh. Aylin juga sama. Terkesiap dengan rasa dari sentuhannya. Sekadar tangan dicekal, efeknya seperti ada—ah, entah. Aylin menelan ludah. Baja pun menekan geraham. Bisa-bisanya kafe ini mengizinkan permintaan kotor seperti itu dari pelanggan, menyiapkan minuman perangsang. Andai Baja sedang menjadi dirinya, kelak akan dia tuntut Kafe Mozza. Dan cekalan Baja dilengan Avita 'palsu' itu mengerat, hanya memang tidak melukai. Dia tuntun menuju mobil di parkiran, hanya ada mobil miliknya seorang. Terlihat si Avita ini mau jalan kaki ke gerbang depan tadi, artinya tidak bawa kendaraan. "Nggak usah, Om. Aku bisa pulang sendiri." Oh, ya ampun! Sekarang pinggang Aylin yang dilingkari, dibimbing sampai ke sisi mobil tanpa bisa mengelak. Belum lagi tubuh Aylin sedang dipengaruhi sesuatu, tak begitu dia sadari apa itu, tetapi .... Remasan jemari pria bernama Reno itu melumpuhkannya. "Masuk." Suaranya juga berat di dekat daun telinga Aylin, desah napasnya panas. Argh! Aylin sendiri mulai tercekat. Di sini, sorot mata Baja sadar tak sadar sudah berkabut. Kira-kira dirinya mampu mengemudi dalam keadaan seperti ini atau tidak? Baja tak tahu, tetapi dia yakin mampu. Asal tidak diganggu. "Tapi ... Om!" Dipaksa masuk. Aduuuh! Bagaimana ini? Aylin pijat-pijat kepala dulu. Sekarang teringat ucapan orang tua. Bisa gawat kalau sampai dirinya kenapa-napa. Aylin tidak lupa bagaimana papi pernah kecewa parah padanya. Baja pun mulai mengemudikan mobil keluar dari pelataran kafe itu. Di tempatnya, pikiran Aylin full. Dia sedang mempertimbangkan sesuatu. Apa Aylin mengaku saja? Dengan ini siapa tahu perjodohannya jadi batal, kan? Sebab si Avita—persetan! Siapa si Avita itu? Aylin nggak kenal. Ah, bodoh amat. Buat apa juga Aylin sampai begini, ya, kan? Biar saja motor Lianra tergadaikan sebagai gantinya, lalu diomel-omel oleh papinya. Aylin juga bodoh amat saja semisal dirinya ikut kena amuk. Daripada rusak sendirian, kan? "Aku bukan Avita." Hening. Aylin sudah mengatakannya dengan suara berat, tercekat. Bukannya apa, ini efek tubuh yang dirasa aneh pol. Embusan napas juga malah jadi kayak desahan yang tak Aylin kenal. Dia lalu menoleh dan sosok di bangku kemudi itu terlihat mengetatkan rahang. Dan rasanya makin tidak keruan lagi debar di jantung Aylin. Gerah melanda, tetapi bukan gerah yang biasa. Aylin ingin buka kancing baju juga, tetapi gila saja. Sebentar. Mari fokus pada yang tadi dulu. "Aku bukan Avita, Om Reno." Disebutlah namanya. Si pria konsisten diam dengan tatapan lurus ke jalanan. "Maaf, ya. Terpaksa jadi dia. Om tahu? Dia nggak mau dijodohin." Bodoh amat, bodoh amat. Sia-sia aksi dan waktu yang Aylin lalui tadi, daripada dirinya lebih menyesal nanti sudah seberjuang itu buat nasib orang yang tak dirinya kenal. Memang nanti si Avita akan peduli kalau sampai Aylin kenapa-napa? "Jadi, jangan diantar ke rumah Avita, aku bukan dia. Perempatan di depan itu tolong belok kanan ... atau Om turunin aku di minimarket aja." "Lalu siapa nama kamu?" Cepat Baja menjawab. Oh, akhirnya ada sahutan walau tidak sambil menoleh. Tatapan si om masih lurus ke jalanan di depan. "Aylin." Ya, mari jujur saja. "Habis belok kanan ke mana lagi?" Aylin diam sejenak, menatap lekat pria bernama Reno ini. Sepertinya ini cowok baik. "Aylin?" Oh, tubuh Aylin bereaksi aneh saat namanya didesahkan. Wait! Desah? "Ke arah mana lagi?" Itu cuma pendengaran somplak Aylin saja. "Lurus, Om. Nanti ada perumahan Permai Indah, masuk ke situ." Permai Indah .... "Betewe, maaf dan makasih, ya, Om. Semoga Om dan Avita nemuin jalan keluar terbaik. Aku nggak ada maksud—oh, iya, bener, ini rumahnya." Mobil tidak terasa sudah henti di depan rumah Maharani. "Udah nyampe, Om. Makasih, ya." Entah tadi Aylin mau bilang apa, sekarang langsung turun saja. Si omnya tidak turun. Hanya geming. Beliau lalu melajukan kuda besinya meninggalkan tempat yang Aylin pijaki. Well .... Persetan dengan beliau! Aylin langsung menelepon kontak sang sobat sambil mengipas-ngipas wajah, masih terasa panas yang tidak menentu dan tak biasa. "Halo, Ran. Maaf sebelumnya, aku udah di rumah kamu. Kamu udah pulang duluan atau masih—" Oh, God. Terpangkas oleh kata-kata mutiara yang Rani lontarkan. Ini mesti Aylin sensor soalnya amat sangat tidak ramah bintang satu untuk didengar. *** Aylin. Tentu tidak asing namanya, hanya memang wajahnya tak pernah Baja tahu sekali pun Aylin ini kawan main Maharani. Iya, putrinya itu suka bilang, "Pa, jangan pulang. Temen aku mau nginap. Aylin. Mau kerja kelompok juga." Sebatas itu. Baja pun tidak mencari tahu sosok Aylin karena belum ada yang dirasa itu penting. Kemudian tiap-tiap ada acara sekolah yang mengundang orang tua murid, bukan Baja yang menghadiri, melainkan ibunda Maharani. Rani juga pernah bilang kalau dia tidak mau teman-temannya tahu tentang siapa papanya. Baja mengerti kenapa seperti itu. Dan tidak masalah baginya. Belum lagi tadi si Aylin-Aylin ini berdandan aneh sekali. Siapa juga yang akan mengenal bahwa itu putri Jayakarsa Atmaja? Oh, kalau soal Aylin anak siapa, Baja jelas tahu. Kan, setidaknya sebagai orang tua, Baja urgenkan bertanya, "Anak siapa Aylin itu?" "Pak Jaya. Yang punya Luxe." Luxe. Di mana sejarah mengatakan bahwa itu perusahaan pernah membuat Nusantara Furnishing gagal mendapat job besar dari projek raksasa di Labuan Bajo bersama Bumantara Corp. Sejarah juga mengatakan bahwa Luxe yang kondisinya pernah hampir gulung tikar itu mengambil alih posisi Nusantara yang harusnya bisa naik level lebih cepat. Meski memang diakui hal itu terjadi sebab produk Nusantara belum sebagus saat ini, yang menjadikannya saingan Luxe di abad sekarang. Baja sedang berusaha mengungguli produk Atmaja Group. Well .... Ada sekian panggilan tidak terjawab dari Reno, ada pesan-pesan juga. Baru Baja baca saat ini. Reno: [Ja, sori. Gue lupa bilang, lo ati-ati jangan minum atau makan apa pun yang nanti disuguhin selain yang lo pesen. Barangkali ada bonus menu atau apalah, jangan dikonsumsi. Gue yakin bakal dikasih obat.] Reno: [Ja! Angkat telepon gue.] Reno: [Lo harus baca chat ini, Ja.] Reno: [Sampe jam segini, kok, masih centang dua abu. Aduh, Ja. Lo ... jangan bilang udah kejebak?] Soal minuman couple tadi maksudnya? Ya, sudah Baja teguk. Sekarang dia merasakan efeknya. Mungkin kalau tadi selesai lebih cepat, minuman perangsang itu tak akan disuguhkan. Karena bisa bahaya bila dikonsumsi setelah minum kopi. Makanya diberikan selepas Baja dua jam lewat di kafe itu. Baja ketik pesan untuk sang sobat. Baja: [Saya sudah berusaha.] Utang budinya lunas, kan, harusnya? Baja beranjak ke kamar mandi. Perlu diguyur atau ... sedikit memanjakan tubuh dengan kemampuan sendiri. Ya kali! Sementara, di rumah Maharani. Dua remaja sedang menangis karena; Maharani takut Aylin kenapa-napa dan lalu dirinya diamuk oleh pimpinan tinggi Atmaja Group yang sudah pasti punya algojo sendiri buat membogem kepala ini. Aylin menangis sebab tidak keruan tubuhnya dilanda rasa yang paling asing. Plus, menyesal sudah mewujudkan permintaan tolong Lianra. Tahu begini, biar saja tak usah datang. Energi dan segalanya sudah terbuang sia-sia di kurun waktu hampir tiga jam. Belum lagi ... ciuman pertama Aylin hampir saja terenggut konyol malam ini. Yang hanya ingin Aylin berikan kepada sang pujaan hati; Kanjeng Raja Mahawirya kelak saat sudah menjadi suami. HUAAA! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD