5 | Intip-intip

1722 Words
"Tolong saya ...." Vokal serak itu mengudara, terdengar begitu jantan di telinganya yang masihlah seorang siswi SMA—bagaimanapun Aylin belum resmi jadi mahasiswa. Dan ini gila. Aylin sempat terpesona, detik di mana dua kancing teratas kemeja pria di depannya terbuka, lalu dipadu dengan rambut acak-acakan pula, seketika aura om-omnya berganti jadi mas-mas sugarr daddy. Eh, memangnya ada aura begitu? Yeah ... entah kenapa Aylin terpikat. Pria itu jauh di atas usianya, beda tiga belasan tahun, meski tidak sampai seperti mami dan papi yang age gap-nya menyentuh angka empat belas. But, ini serius darah Aylin berdesir atas sosok Om Reno. Sungguh, Aylin terbakar, terlebih saat ada remasan di—oh, tidak. "Om ...." Damn! Suara apa itu? Suara yang berasal dari diri Aylin sendiri. Aylin lalu mendapati bibirnya diraup. Lips to lips. Ciuman pertama yang ingin dia jaga hanya untuk Raja itu lenyap detik ini. Dengan wajah yang ditangkup oleh jemari panjang pria bernama Reno itu. Namun, kenapa di sini Aylin menyukai tiap sentuhan yang dibuat? Kenapa di sini Aylin menikmatinya? Kenapa .... Yang terjadi adalah Aylin sebagai Avita sudah pergi dari kafe, tetapi berakhir di dalam sebuah lift hotel. Ini juga kenapa jadi ada di hotel? "I want you—" "Nggak!" teriak Aylin di detik pagutan bibirnya dilepas. NO, NO, NOOO! Aylin berusaha lolos dari kungkungan tubuh pria itu. Rencana kabur, hanya saja digagalkan dalam satu gerakan. Yang kini tubuhnya dikunci lebih kuat, Aylin sontak melotot, belum apa-apa tubuhnya sudah dibuat sepolos bayi. Bagaimana bisa ini terjadi begitu mudahnya? Hingga yang semula serasa masih di lift sudah pindah ke kamar. "Lagi pula kita mau menikah," bisik lelaki itu, panas di telinga Aylin. Suaranya kedengaran sangat nyata. Seraya kembali melumat bibir Aylin yang sedang cosplay jadi Avita. Argh! Ciuman pertamanya hangus sejak tadi, dapat Aylin rasakan betapa piawai lelaki bernama Reno itu memagutnya. Seperti memang bukan amatir, seperti sudah sangat ahli bertaut bibir. Ya, segi umur yang sudah masuk usia tiga puluh satu tahun, di tengah kota Jakarta yang banyak kenakalan ini, mustahil bila Om Reno tidak pandai berciuman, bukan? Bukan cuma ciuman, mungkin hal lain yang lebih dari itu juga mahir. Ya ampun! Om Reno ini partner perjodohan Avita. Tak seharusnya dengan Aylin begini. Tidak boleh. "Om, aku bukan—!" Mampus. Seakan tak diberi celah. Aku bukan Avita! Aylin mau bilang begitu. Terus terngiang-ngiang di batinnya. Dan Aylin terus berusaha menyadarkan pria di atasnya. Antara takut dan ... apa, ya, namanya? Jantungnya berdebar, pipi memanas, belum lagi tubuh serasa enjoy dengan ini. Sebuah pengkhianatan paling mengerikan, antara reaksi tubuh dengan kesadaran akal sehat. Jelas siapa yang kalah. Akal sehat. Tampaknya memang tubuh telah digerogoti nafsuu di detik pertama ada sentuhan. But, why begini? "A-aku ...." Aylin mengerang, aduh! Dia menjambak rambut Om Reno. Pria yang saat itu mengentak diri, membuat Aylin tersentak bangun dalam keadaan ngos-ngosan. Wait. A-apa itu barusan? Jantung Aylin pun berdebar kencang. Tapi ada hal yang dia syukuri kala sadar bahwa ini dirinya sedang di dalam kamar Maharani, bukan di hotel. Tak ada laki-laki yang bernama Reno, tak ada sosok yang tadi di kafe Aylin temui, hanya ada Maharani yang terlelap damai di sisinya. Sesuai yang seharusnya. Oh, Aylin mimpi, ya? Benar, mimpi. Dan mimpinya aneh sekali. Sampai dia menggigit bagian dalam bibirnya saat ini, merinding disko mengingat apa yang terjadi di mimpi. Di mana bibir Aylin sampai seluruh tubuhnya ... tercemar! *** "SAKIT!" jerit wanita itu histeris sendiri dengan dua tangan yang mencakar punggung Baja. Tapi tidak terasa sakit. Yang Baja rasa hanyalah kenikmatan. Dan di sana Baja mendesahkan nama wanita itu, dengan sesekali bibirnya mendesis, juga menggeram lirih. Saat kepalanya menunduk, matanya melihat sesuatu di bawah sana. Yang mana sedang terjadi penyatuan antara dia dengan ... Shit! Kawan Maharani. Tidak, tidak. Tapi kenapa bisa begini? "Aylin ...." Iya, Baja meracau, menyebut nama partner kencan buta tadi. "Aylin ...." Nama asli, bukan sebagai Avita. Saat ini Baja serasa terbakar di seluruh tubuh. Mengesampingkan semua fakta yang bisa membuat Baja jadi sosok pria bajingann sungguhan. Belum lagi tentang siapa yang sedang dirinya tumbuk demi mereguk kenikmatan. Siapa .... Aylin. Aylin. Oh, God! Terus begitu dengan vokal seraknya. Sedang Aylin—sudah tak perlu disebut Avita karena saat ini Baja telah mengetahui siapa gerangan sebenarnya—dibuat tersentak-sentak tubuhnya. Bergetar hebat. Kenapa bisa seperti ini? Terus dipertanyakan. Namun, yang membuat Baja melakukan ini kepada siapa pun itu, bukankah sebab obat perangsang di minuman couple? Sampai di detik darahnya seakan kumpul semua di satu titik, lalu ada yang ingin ditumpahkan. Detik itu .... Damn. Lega pol rasanya. Amat sangat. Yang mana kemudian dia terusik akan sesuatu, membuka mata. Diam sejenak mencerna situasi. Baja mendapati dirinya sedang memeluk guling, ruangan pun dapat dia kenali—ini kamar Baja di rumah pribadi. Diembusnya napas kasar. Shitt! Bahkan ada yang basah di bawah sana. Ini memalukan. Usianya yang tiga puluh satu tak membuat Baja pede setelah mimpi becek—mimpi khas remaja puber pada laki-laki. Lagi pula, tidak sopan sekali mimpinya. Sangat kurang ajar. Melanggar norma. Tahu siapa yang tadi jadi partner bertumbuk Baja di mimpi? Aylin gadis SMA. Kurang ajar sekali Baja. Ditambah lagi Aylin adalah teman dari putrinya. Baja merinding sendiri. Aslinya dia tidak mau, kok. Baja bukan pria mengerikan macam penyuka anak-anak. Tidak. Dia sangat normal dan hanya terangsang dengan perempuan dewasa, meski tidak serta-merta tiap wanita dewasa membuatnya bergairahh. Tentu tidak. Baja menjaga diri baik-baik selama ini. Alur hidupnya selalu sesuai norma yang berlaku. Tapi malam ini mimpinya kurang ajar sekali. Jangan sampai ada orang yang tahu mimpi menjijikkan itu. Baja menganggapnya jijik karena usia Aylin bahkan mungkin masih delapan belas tahun, sedang dirinya sudah tiga puluh satu. Catat! Itu mengerikan. Bagi seorang Baja Isander Pribumi yang menjunjung tinggi norma asusila beserta lain-lainnya. *** "Kamu nggak diapa-apain, kan, Lin, sama Om Reno?" Aylin sudah cerita tentang semalam terkait Om Reno pagi ini kepada Maharani. Semua, tanpa terkecuali. Baru bisa cerita kala matahari terbit, soalnya semalam itu sudah lelah sekali. Tidak sanggup. Habis nangis bersama langsung cuci muka dan tidur. Sebetulnya bukan betul-betul nangis yang keluar air mata, sih. Cuma suaranya saja 'huhu-huhu' lebay macam itu. Namanya juga anak remaja, kan? "Lin?" "Kan, udah aku ceritain, Ran. Cuma sampe di sana aja, nggak terjadi apa-apa syukurnya." "Tapi, kok, kamu bengong terus?" Maharani khawatir. Selain mencemaskan Aylin, Rani juga cemas pada dirinya sendiri. "Jujur aja, Lin. Lebih jujur lagi. Kamu diapa-apain?" "Nggak, Ran." Aylin cuma kepikiran soal mimpi joroknya tadi malam. Iyuuuwh! Mengerikan. Kok, bisa Aylin mimpi seperti itu? Seumur-umur paling banter juga mimpiin idol bergandengan tangan dengannya. Just it. Walaupun Aylin sudah punya KTP, lalu sebentar lagi sudah mau dewasa—ya, kisaran dua atau tiga tahunan lagilah. Umur dua puluhan bagi wanita Tanah Air sudah banyak yang menikah, right? Tetap saja tabu mimpinya yang semalam itu. "Nah, nah. Terus kenapa sekarang kamu bergidik gini?" Oh, ya. Aylin malah bergidik, padahal tadi bilang tidak terjadi apa-apa. Sontak dia nyengir. Lanjut makan roti. Habis ini Aylin pulang, akan ada jemputan. "Gitu, ah, kamu. Biasanya kalo cerita selalu rinci dan terbuka, Lin." "Udah rinci dan super terbuka, kok, Ran." Cuma Aylin tidak mau perihal mimpinya dibagikan. Malulah, gilak! Sekali pun Maharani sohib sehati sejiwa dari ketika Aylin duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Hingga kemudian, terdengar suara bip-bip bunyi klakson mobil. Itu pasti jemputannya. "Aku pulang, ya, Ran. Betewe, makasih banget semalam dan makasih juga sarapannya. See you di sekolah!" Kan, sudah dikata baru juga kelulusan. Sekarang sedang urus-urus pendaftaran ke kampus tujuan. Aylin mau kuliah di Jakarta saja, di kampus terbaik ibu kota. Papi pun membebaskan pilihannya. Tak seperti Januar—adik Aylin, ditentukan arah karier masa depannya. Eh, eh, yang jemput Om Raja! Pujaan hati Aylin. Sontak dirinya tersenyum senang. Masuk ke bagian sisi kemudi, tak mau duduk di jok belakang kalau Om Raja yang nyetir. Padahal sudah Raja bukakan pintu belakang itu, auto dia tutup lagi. Di teras, Maharani mengantar Aylin. Dia praktis geleng-geleng atas tingkah sobat gaulnya. Keciri banget naksirnya, dasar Aylin Markulin. "Mari!" Raja pamit. "Oh, iya. Hati-hati, Om. Dah, Aylin!" Maharani melambaikan tangan. Aylin juga. Barulah saat mobil melaju, kaca jendelanya dinaikkan. Aylin lalu menoleh ke arah asisten pribadi papinya. Masya Allah Tabarakallah. Tampan paripurna, masih pagi jadi fresh seperti ikan yang baru dipancing dari empang. "Morning, Om." "Kamu harusnya nggak nginap-nginap gitu, Lin." Eh, langsung bahas hal berat. Raja menoleh sekilas kepada Aylin. "Jangan nakal, nggak bisa?" Memangnya Aylin nakal? "Papi dan mami kamu khawatir." "Tapi mereka, kan, tahu aku nginapnya di mana." Om Raja geming. Aylin menatap pria itu. Tidak mungkin papi dan mami tahu sesuatu soal semalam, kan? Barangkali. Makanya khawatir. "Ya udah, iya. Besok-besok nggak gini lagi. Aku usahakan ini terakhir aku nginap di rumah temen." Karena Raja sudah bicara. Aneh, tetapi nyata. Kebanyakan orang lebih nurut kepada sosok yang dicintainya, padahal belum jadi siapa-siapa ketimbang nurut sama orang tua. *** Auranya beda ketika masuk rumah. Papi dan mami kelihatan agak menciutkan nyali Aylin di sini. Mereka kenapa, ya? Tidak mungkin tahu soal semalam, kan? Karena kalau tahu, harusnya papi dan mami langsung menggeret Aylin pulang. But, mereka juga tidak bilang apa-apa setelah Aylin cium tangan. Adapun mami cuma bilang, "Hari ini sekolah, Lin?" "Iya, Mi." Sudah, itu saja. Aylin langsung ke kamar. Tidak lama bersiap, Aylin sudah kembali menuruni satu per satu anak tangga. Saat itu arahnya ke dapur, setidaknya mau makan sehelai roti buatan mami. Pasti sudah disiapkan. Tumben ruang makan sepi. Januar juga tidak di sini. Sontak langkahnya Aylin bawa ke halaman belakang, terdengar ada suara-suara dari sana soalnya. Kasak-kusuk entah apa. "Mas ... ini beneran?" Aylin terdiam. Dia lalu mengintip. Pelan-pelan. Hal yang membuat bola matanya membeliak samar, lalu jantung berdetak kencang. Saangat kencang. Aylin juga langsung kembali ke posisi awal walau masih berdiri di dekat pintu, setidaknya sudah tidak melongok intip-intip. "Ish! Nggak boleh asal cium di sini, Mas." "Nggak ada orang. CCTV juga belum dibenerin." Suara Om Raja. Mereka bicaranya pelan-pelan, tetapi memang dari sini masih kedengaran. Dan Aylin tahu bahwa Om Raja itu sosok yang paling mengetahui situasi rumah. Tapi ... mereka ciuman? Om Raja dan Mbak Aisyah, ART baru di rumah ini. Putri dari si mbok. Hal yang langsung membuat bumi di bawah pijakan Aylin seolah hancur lebur, lalu dia teperosok ke dalamnya. Terseret arus gravitasi hingga terdampar mengenaskan di inti bumi. Apa hal yang kini sedang terjadi dalam hidup sempurnanya? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD