Memegang Kendali

1374 Words
Richard menghempaskan punggungnya ke kursi kulit bar eksklusif itu, menyesap whisky mahalnya dengan tatapan yang menerawang jauh, membayangkan wajah pasrah namun keras kepala milik Hana yang terus menghantuinya sejak siang tadi di kolam renang. "Kamu tahu, aku baru saja membeli wanita baru. Tapi dia wanita pertama yang tidak patuh dan seolah menghitung hari, menunggu kapan aku akan melepasnya!" Richard bercerita pada teman-temannya dengan nada kesal yang tak bisa ia sembunyikan. Julio, salah satu rekan bisnisnya, tertawa meremehkan. "Ya memang wanita yang kamu pakai nantinya akan kamu buang dan bagi seperti biasanya, kan? Kasih lihat ke kita dong! Mau tukeran? Aku punya model asal Milan yang baru saja kuputus." "Nggak, dia beda! Dia masih perawan saat aku melakukannya! Kali ini, aku tidak mau berbagi!" Richard menyambar gelasnya, meminum alkohol itu dengan bangga sementara teman-temannya seketika melongo. Keheningan sesaat menyelimuti meja bundar itu sebelum riuh rendah ejekan mulai terdengar. "Sialan, Richard! Kamu menemukan berlian di tumpukan jerami?" seru salah satu dari mereka. "Dia juga cantik banget, masih umur 25-an, pas banget pokoknya! Sifatnya memang agak bandel... tapi dengan semua kelebihannya itu, aku akan coba terima." Richard menyeringai tipis, membayangkan bagaimana Hana menolaknya tadi siang hanya demi tidur siang. Keberanian gadis itu justru menjadi daya tarik yang mematikan bagi Richard. "Pelit!" Julio menyahut sambil menggeleng-geleng. "Kamu enak, Richard. Pernikahanmu sama istrimu itu Open Marriage, kalian bebas banget. Kita kalau ketahuan punya simpanan, reputasi jadi taruhan! Saham bisa anjlok kalau ada skandal." Richard tertawa hambar, memutar-mutar gelas di tangannya. "Aku sama Clarissa besar bareng, teman dari lahir. Masa iya jadi suami istri beneran? Jijik lah!" Richard menyahut dengan nada sinis. "Lagipula yang pertama kali minta open marriage dengan perjanjian pra-nikah itu dia sendiri. Aku hanya mengikuti kemauannya!" Richard mengedikkan bahu, seolah urusan ranjang Clarissa bukan lagi urusannya sejak hari pertama mereka menandatangani dokumen pernikahan bisnis itu. Baginya, Clarissa adalah mitra kerja yang melahirkan pewaris, sementara Hana... Hana adalah sesuatu yang mulai merasuki pikirannya lebih dari sekadar pemuas nafsu. "Dia menghitung hari untuk kulepas." gumam Richard pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Dia pikir aku akan bosan dalam setahun? Dia salah besar. Aku justru ingin melihat berapa lama dia bisa bertahan dalam sangkar yang kubangun. Dia salah jika menantangku!" Richard bangkit berdiri, mengenakan jasnya dengan gerakan tangkas. "Aku harus pulang. Ada lembur panjang malam ini." "Hati-hati, nanti kamu jatuh cinta sama simpananmu!" Julio meledek dan Richard hanya menyeringai sombong. Ia meninggalkan bar itu dengan langkah mantap, tidak sabar untuk kembali ke mansion dan melihat wajah gadis penurut-nya yang mempesona. ***** Mansion mewah di pinggiran Roma itu biasanya terasa dingin dan sunyi, namun malam ini atmosfernya terasa berbeda. Begitu Richard melangkah masuk ke foyer, ia tidak disambut oleh keheningan formal seperti biasanya. Ada aroma minyak telon dan uap air hangat yang samar-samar tercium di udara. Langkah kakinya yang berat terhenti di ambang pintu kamar Galendra. Pintu itu terbuka sedikit, membiarkan cahaya lampu tidur yang temaram menerangi pemandangan di dalamnya. Richard terpaku. Di sana, Hana tidak sedang memakai gaun sutra merah yang menggoda atau bersiap untuk lembur seperti yang Richard bayangkan sepanjang jalan tadi. Hana duduk di tepi ranjang dengan piyama satin sederhana, wajahnya terlihat lelah namun matanya fokus. Ia sedang mengompres dahi Gale dengan handuk kecil, sesekali membisikkan kata-kata penenang yang membuat napas bocah itu yang tadinya memburu menjadi lebih teratur. "Tuan Galendra demam tinggi sejak Anda pergi tadi," suara seorang pelayan senior terdengar pelan di belakang Richard. "Nyonya Clarissa sudah berangkat ke pesta dengan Tuan Sanders, beliau bilang itu hanya demam biasa dan meminta kami mengurusnya. Tapi Tuan Muda, hanya mau bersama Nona Hana." Richard tidak menjawab. Dadanya terasa berdenyut aneh. Biasanya, jika Gale sakit, Richard hanya akan menelepon dokter pribadi, membayar tagihannya, dan membiarkan para pelayan yang bergadang. Baginya dan Clarissa, Gale adalah penerus takhta, bukan bayi yang butuh pelukan. Namun melihat wajah kecil Galendra yang biasanya sombong dan keras kepala kini tampak pucat pasi dan rapuh, sesuatu yang lama membeku di hati Richard mendadak retak. Richard melangkah masuk dengan pelan, melepaskan jasnya dan melemparkannya ke kursi. Hana menoleh, sedikit terkejut melihat kehadiran Richard yang lebih awal dari jadwal yang mereka tentukan. "Tuan... maaf, Gale sedang tidak sehat. Dia terus memanggil namaku dan tidak mau dilepas." bisik Hana lirih, matanya yang bulat tampak tulus mengkhawatirkan bocah itu. Kali ini dia benar-benar tulus. Hana juga tumbuh tanpa siapapun sejak kecil. Itu memancing rasa iba dalam hatinya, dan tidak tega membiarkan Gale kecil sendirian. Richard mendekat, lalu duduk di sisi ranjang yang lain. Ia mengulurkan tangannya yang besar, menyentuh pipi Gale yang panas. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Richard merasa tersentuh oleh kerapuhan putranya sendiri. "Sudah panggil dokter?" suara Richard lebih rendah dari biasanya, kehilangan nada otoriter yang biasa ia gunakan. "Sudah, Tuan. Dokter bilang ini karena kelelahan dan perubahan cuaca. Gale sudah minum obat, tapi dia hanya mau tidur kalau aku memegang tangannya," jawab Hana sambil mengelus jemari kecil Gale. Hana menatap Richard, lalu kembali menunduk. Ia bisa merasakan tatapan Richard yang kini tidak lagi penuh dengan nafsu seperti biasanya. Melainkan sesuatu yang lebih dalam, sebuah rasa kagum yang mulai bercampur dengan keterikatan emosional. Richard memperhatikan bagaimana Hana dengan telaten mengganti kompres Gale. Gadis ini... dia bisa menjadi p*****r yang paling mematikan di ranjang, tapi di sini, dia tampak seperti satu-satunya orang yang memberikan kehangatan nyata di rumah terkutuk ini. "Istirahatlah, Hana. Aku yang akan menjaganya sebentar," ucap Richard tiba-tiba. Hana menggeleng pelan, memberikan senyum tipis yang terlihat sangat manis di bawah cahaya redup. "Tidak apa-apa, Tuan. Anda baru pulang kerja, pasti lelah. Lagipula, ini adalah tugas saya sebagai pengasuhnya, bukan?" Kalimat Hana yang merujuk pada perdebatan mereka sebelumnya, membuat Richard terdiam. Ia baru menyadari bahwa Hana benar-benar menjalankan perannya dengan sangat sempurna. Baik sebagai pengasuh, maupun sebagai wanita yang menghancurkan logikanya. Richard tidak pergi. Ia justru menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, tetap di sana bersama Hana dan putranya yang sedang sakit. Malam ini, untuk pertama kalinya, Richard tidak memikirkan tentang seks. Di balik wajah lelahnya, Hana mencatat satu hal lagi. Poin emosional berhasil ia dapatkan. Richard tidak hanya menginginkan tubuhnya sekarang, tapi perlahan, dia mulai menginginkan kehadirannya di hidupnya. "Kenapa kamu seolah tidak menyayanginya?" Hana bertanya dengan nada suara yang begitu lembut, hampir seperti bisikan di tengah keheningan kamar yang hanya diisi oleh deru napas pendek Galendra yang sedang demam. Matanya yang jernih menatap Richard, menuntut jawaban di balik raut dingin pria itu. Richard terdiam sejenak, menatap jemari kecil putranya yang menggenggam ujung kemejanya. "Bukan tidak sayang," jawabnya akhirnya, suaranya berat dan terdengar sedikit menjauh. "Hanya saja, aku tidak siap menikah dan punya anak. Jika bukan karena tuntutan keluarga dan warisan Galendra, aku mungkin tidak akan menikah hingga sekarang." Ada kejujuran yang pahit dalam nada bicara Richard. Pernikahan baginya hanyalah sebuah kontrak yang harus ditandatangani, dan seorang anak hanyalah sebuah kewajiban untuk meneruskan nama besar. Hana mengangguk pelan, seolah memahami kehampaan di balik kekayaan pria itu. "Aku saja bercita-cita menikah di umur 28. Sekitar tiga tahunan lagi!" Hana tersenyum kecil, sebuah senyuman manis yang terlihat tulus namun menyimpan duri. "Tentunya, setelah kamu bosan dan melepasku dengan uang yang cukup." Richard terkekeh rendah, suara tawa yang sarat akan arogansi namun terselip rasa tak suka yang samar karena Hana lagi-lagi membahas tentang kepergiannya. Ia menatap Hana dengan seringaian remeh, matanya yang tajam berkilat di bawah lampu tidur yang temaram. "Baguslah jika kamu masih menunggu kebijakan dariku," sahut Richard dingin. Richard mengulurkan tangannya, ibu jarinya mengusap bibir Hana yang sedikit terbuka dengan gerakan yang lambat dan posesif. Ia memang sempat kesal. Tapi sekarang Richard mulai menyukai bagaimana Hana selalu mengingatkannya bahwa hubungan ini hanyalah transaksi, itu memberinya rasa aman semu bahwa ia tetap memegang kendali atas segalanya. "Karena Galendra sakit, aku akan melepasmu malam ini," bisik Richard serak di depan wajah Hana. Ia memberikan kecupan yang sangat lembut, sebuah kelembutan yang mengejutkan dari keganasan yang ia tunjukkan sebelumnya. Richard kemudian beranjak, menghampiri putranya sejenak. Ia membungkuk, mencium kening kecil Galendra yang masih terasa begitu panas. "Cepat sembuh, Boy." gumamnya pelan, sebuah nada kebapakan yang langka keluar dari bibir pria sedingin Richard. Hana hanya diam mematung, menatap punggung tegap Richard yang perlahan menjauh meninggalkan kamar. Saat pintu tertutup rapat, Hana menyentuh bibirnya yang masih terasa hangat karena kecupan Richard. "Kira-kira kapan dia bosan? Tapi yang pasti sebelum uangku terkumpul banyak, aku tidak boleh dibuang dulu! Aku harus pintar-pintar membuatnya selalu disisiku." lirihnya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD