Menggoda

1210 Words
"Ayo, minum s**u hangatnya sedikit lagi," bujuk Sanders dengan suara rendah yang menenangkan. Ia menyuapi Galendra dengan ketelatenan. Clarissa yang duduk di sampingnya memandangi kekasihnya itu dengan binar mata penuh puja. Sanders adalah personifikasi dari segala hal yang tidak dimiliki Richard. Kelembutan, romantisme, dan perhatian yang tulus. Sayangnya, dunia mereka terlalu kejam untuk cinta mereka. Orang tua Clarissa tidak akan pernah merestui pria yang bisnisnya baru menyentuh skala menengah, jauh di bawah imperium yang ia bangun bersama Richard. Logistik, teknologi, keuangan, Clarissa dan Richard memiliki segalanya, kecuali kehangatan. Itulah sebabnya kesepakatan Open Marriage tanpa drama ini menjadi solusi sempurna. Richard bisa bermain dengan wanita mana pun yang ia mau, sementara Clarissa bisa mendapatkan cinta dari Sanders tanpa gangguan. "Om Sanders, aku sudah kenyang," Gale bergumam lemah, wajahnya masih tampak lesu. "Yakin tidak mau makan lagi, Sayang?" tanya Sanders lembut, dan Gale hanya menggeleng lemah sebelum menyandarkan kepalanya di meja. Tiba-tiba, langkah kaki yang berat dan berwibawa memecah suasana. Richard muncul dengan kemeja yang sedikit berantakan, tanda ia baru saja bangun dari tidur yang tak nyenyak karena ikut terjaga semalam. Mendadak Richard merasa bersalah telah mengabaikan darah dagingnya selama ini. Tanpa sepatah kata pun, ia mendekat dan langsung mengangkat tubuh kecil Galendra ke dalam gendongannya. Untuk pertama kalinya, Richard mendekap putranya dengan posesif, seolah baru menyadari betapa miripnya bocah itu dengan dirinya sendiri. Ia memeluk tubuh Gale yang masih terasa hangat karena demam, membiarkan kepala kecil itu bersandar di bahunya. "Tumben banget!" Clarissa menyindir sinis, menyesap kopinya sambil menatap adegan ayah dan anak yang langka itu. "Kami sudah menjaganya setengah hari. Sekarang giliranmu, bagus kalau kamu sadar sekarang," lanjut Clarissa seraya bangkit berdiri. "Dan ya, aku mau pergi dinas ke Milan bersama Sanders. Ada beberapa masalah logistik di sana. Kamu jaga anakku dengan baik." Richard hanya mengangguk singkat, tidak ingin berdebat. Ia membalikkan badan, membawa putranya menjauh dari ruang makan yang terasa hambar itu. "Apa yang sakit, Boy? Apa yang membuat kamu tidak nyaman?" tanya Richard saat mereka berada di lorong yang lebih sunyi. Suaranya rendah, nyaris tidak terdengar seperti Richard yang biasanya meledak-ledak. Tangan kecil Gale yang gemetar menyentuh kepalanya sendiri. Wajahnya yang polos dan pucat membuat d**a RIchard semakin nyeri. "Kasihan sekali kamu." Richard mengecup keningnya lagi, merasakan denyut panas menyedihkan di sana. "Aku mau main sama Hana..." lirih Gale dengan suara parau. Richard menghentikan langkahnya sejenak. "Kenapa harus Hana?" tanyanya pada bocah 5 tahun itu, merasa sedikit heran karena pengaruh wanita itu sudah merasuk sejauh ini. "Biasanya Papa dan Mama meninggalkanku sendirian. Hanya Hana yang mau main denganku." jawab Gale jujur, menatap ayahnya dengan mata yang sayu. "Aku suka Hana." Jawaban polos itu menghantam Richard tepat di ulu hati. Ia menatap wajah Gale, lalu beralih menatap pintu kamar Hana yang tertutup di ujung lorong. "Baiklah, kita cari Hana," bisik Richard. ***** Hana tersenyum hangat, matanya berbinar saat melihat Galendra menghabiskan mangkuk Pastina in brodo buatannya dengan lahap. Kaldu ayam yang gurih dengan pasta kecil-kecil itu seolah menjadi keajaiban bagi Gale yang tadinya menolak makanan apa pun. Hanya Hana yang tahu cara membujuknya. Ia mengajak bocah itu membantunya di dapur, membiarkannya menabur sedikit keju, hingga Gale merasa bangga dengan makanannya sendiri. "Pintar banget sih kamu, Sayang!" Hana mencubit gemas pipi Gale yang menggembung karena makanan. Tawa kecil Gale pecah, suara yang sangat jarang terdengar di ruang makan yang biasanya kaku itu. Di sudut ruangan, Richard memandangi mereka dalam diam, membiarkan kopinya mendingin. Dalam hidupnya, adegan seperti ini tidak pernah terbesit sedikit pun. Dunianya hanya berputar pada angka-angka saham, negosiasi yang keras, gairah di ranjang, dan gelas-gelas alkohol mahal untuk melupakan penat. Menemani anak makan atau tertawa renyah di meja makan seperti ini? Itu tidak pernah masuk dalam daftar rencana hidupnya. Namun, melihat Hana yang begitu telaten, Richard merasa ada sesuatu yang bergeser di dadanya. Hana masih muda, namun ia memiliki naluri yang tidak dimiliki Clarissa atau dirinya sekalipun. Galendra dengan cepat luluh padanya. Anak itu menelan obat tanpa drama dan menurut saat Hana memintanya untuk tidur siang. Richard menyadari satu hal, ia dan putranya mungkin memiliki selera yang sama. Galendra menginginkan kasih sayangnya, sementara Richard... menginginkan hal lain dari wanita itu. Sekarang, Richard merasa tidak perlu lagi melakukan tes DNA atau meragukan kemiripan mereka. Gen yang mengalir di tubuh Gale, sama seperti dirinya. Setelah demam Gale sedikit turun dan anak itu terlelap untuk tidur siang, Richard tidak membuang waktu. Ia menarik tangan Hana, membimbingnya masuk ke dalam kamar utama yang luas dan beraroma maskulin. Tanpa banyak bicara, Richard duduk di kursi kulit besarnya dan menarik tubuh Hana ke pangkuannya. Ia membiarkan Hana duduk melingkar seperti Koala, tangannya yang kekar menumpu punggung wanita itu. Richard menatap wajah Hana sejenak, wajah yang tampak lelah namun tetap mempesona. Ia akhirnya memagut bibirnya dengan ciuman yang lambat dan penuh perasaan. Hana membalasnya dengan lembut, tangannya melingkar di leher Richard. Ia menatap pria di hadapannya, pria matang dengan garis wajah rupawan yang memancarkan kekuasaan. Hana membatin, ia memang tidak salah mengincar mangsa. Kalaupun ia harus menjadi wanita Richard selamanya, ia tidak akan merasa rugi. "Tuan ingin...?" bisik Hana di sela napas mereka yang memburu, matanya memberikan kode akan kesiapannya untuk lembur yang sempat tertunda. Richard menekan b****g Hana agar semakin merapat pada miliknya yang mulai bereaksi, namun ia kemudian menghela napas panjang. "Ingin sekali, Hana. Sangat ingin!" gumamnya, suaranya serak. Richard menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Hana, menghirup aroma tubuh wanita itu yang menenangkan. "Tapi aku masih punya hati. Kamu sudah merawat Gale sejak semalam tanpa tidur, kamu pasti butuh istirahat. Maka dari itu, aku hanya mau pelukanmu hari ini. Tidurlah di sini, bersamaku." Hana terpaku sejenak. Ini pertama kalinya Richard mendahulukan kenyamanannya di atas nafsunya sendiri. Strategi gadis baik yang ia mainkan ternyata memberikan hasil yang lebih besar dari sekadar uang. Ia mulai mendapatkan kendali atas hati sang singa. "Jadi aku boleh bermanja padamu, Tuan? Tidur dengan posisi seperti ini?" Hana berbisik manja, jemarinya yang lentik mengusap d**a tegap Richard yang terbungkus kemeja mahal yang kini sedikit kusut. Ia bergerak sedikit di pangkuan Richard, menyesuaikan lekuk tubuhnya dan mencari posisi yang paling nyaman untuk merebahkan kepalanya. Sentuhan dan pergerakan Hana yang halus namun intim itu seketika membuat rahang Richard mengeras. Napasnya memberat saat merasakan gesekan tubuh Hana yang begitu dekat. "Kamu sengaja menggodaku? Kamu terus bergerak-gerak di sana, Hana..." suara Richard serak, sarat akan peringatan sekaligus gairah yang tertahan. Tangannya mencengkeram pinggang Hana, mencoba menahan pergerakan wanita itu sebelum kendali dirinya benar-benar runtuh. "Sssstttt... aku mau tidur. Bukankah Tuan yang mengijinkan?" Hana menyahut pelan, menatap Richard dengan binar jenaka. "Pria terhormat harus memegang ucapannya. Aku akan istirahat dengan posisi ini, jadi diamlah." Hana memejamkan matanya, menyembunyikan senyuman nakal di balik ceruk leher Richard. Ia bisa merasakan detak jantung Richard yang berpacu cepat, sebuah melodi kemenangan bagi Hana. Richard terkekeh rendah, sebuah suara bariton yang bergetar di dadanya dan merambat ke tubuh Hana. "Hanya kamu yang berani melawanku seperti ini, Hana! Wanita lain akan gemetar atau langsung menyerahkan diri jika aku menatap mereka seperti tadi." "Aku tidak melawan, Tuan! Aku hanya menjalankan perintah Anda untuk beristirahat," balas Hana tanpa membuka mata. Ia justru semakin erat memeluk leher Richard, membenamkan wajahnya di sana seolah Richard adalah pelabuhan paling aman di dunia. Richard terdiam, tangannya yang besar perlahan mengusap punggung Hana dengan gerakan protektif. Ia membiarkan wanita itu tertidur di pangkuannya, mengabaikan semua hal disekitarnya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD