"Lari ke mana si Hana? Kamu pasti tahu, Rosa!" suara Giorgia yang melengking memecah ketenangan sore di bar milik Rosa. Wanita paruh baya itu berdiri berkacak pinggang dengan napas memburu, didampingi putrinya, Bianka, yang memoles wajahnya dengan riasan tebal.
Rosa hanya melirik mereka lewat sudut matanya, tetap tenang mengelap gelas kristal seolah kehadiran dua parasit itu hanyalah angin lalu. Ia tahu persis siapa mereka. Giorgia, bibi angkat Hana yang berhati batu, dan Bianka, saudara angkat yang selalu merasa lebih cantik namun tak punya harga diri.
Bertahun-tahun Hana dijadikan pancingan keberuntungan. Setelah Bianka lahir, Hana tak lebih dari sekadar alat. Giorgia menyiksanya, menjadikannya pembantu di rumah sendiri, dan dengan tega merampas 90% gaji Hana sejak gadis itu masih remaja.
Cerita Rosa kepada Richard tentang Hana yang sebatang kara tidak sepenuhnya bohong. Bagi Hana, memiliki keluarga seperti mereka jauh lebih buruk daripada tidak memiliki siapa pun.
"Aku tidak bisa bilang," sahut Rosa pendek, suaranya sedingin es.
"Katakan di mana Hana, Rosa! Atau aku akan melaporkan tempat ini ke polisi karena mempekerjakan anak di bawah umur dulu!" ancam Bianka dengan wajah sok berani.
"Melaporkan?" Rosa tertawa renyah, sebuah tawa yang membuat bulu kuduk Giorgia meremang. "Kamu yang menjual Hana untuk kerja part-time di sini sejak dia umur 16 tahun. Kamu yang mengambil semua gajinya, menjadikannya sapi perah, menyiksanya! Kamu mau ikut dilaporkan juga, Giorgia?"
Wajah Giorgia memucat, matanya membola karena tidak menyangka Rosa akan membalas dengan kartu as tersebut.
"Hana memberiku uang yang sangat fantastis untuk menebus dirinya sendiri. Jadi, aku akan membelanya mulai sekarang," ujar Rosa seraya menyesap alkoholnya dengan elegan. "Pergilah, sebelum anak buahku menyeret kalian keluar dengan cara yang kasar!"
Giorgia gemetar karena amarah dan ketakutan, ia segera menarik paksa tangan Bianka untuk keluar dari bar sebelum situasi semakin memburuk.
"Ma! Hana benar-benar kabur? Lalu gimana sekarang?!" Bianka menggerutu kencang saat mereka sampai di trotoar. "Siapa yang akan mengurus rumah? Siapa yang bayar biaya makan dan kuliahku, Ma?! Tabungan kita sudah menipis!"
Giorgia tidak menjawab, ia hanya menyeret putrinya dengan langkah kasar, otaknya berputar mencari cara untuk menemukan tambang emas mereka yang hilang.
Sementara itu, di dalam bar yang remang, Rosa mengambil ponselnya. Jemarinya menari di atas layar, mengirimkan pesan singkat kepada Hana. Ia tidak bercanda tentang ucapannya, kesetiaan Rosa kini sepenuhnya milik Hana.
Saat menjualnya kepada Richard, itu sebenarnya adalah ide gila Hana sendiri. Hana yang menyusun strategi, Hana yang memilih target, dan Hana yang memintanya dipasarkan sebagai gadis polos yang tak tersentuh.
Richard tidak main-main, dia membayar 1 juta dollar tunai untuk hak milik atas Hana! Dan yang membuat Rosa takjub sekaligus merasa berutang budi, Hana sama sekali tidak meminta bagian sepeser pun dari uang itu. Hana memberikan semuanya pada Rosa sebagai biaya penebusan diri dan uang tutup mulut agar Rosa melindunginya dari kejaran keluarga Giorgia.
Maka dari itu, Rosa memilih memihaknya habis-habis. Toh, jauh di lubuk hatinya, Rosa sebenarnya kasihan pada gadis itu. Di dunia malam yang kejam ini, mana mungkin gadis secantik Hana bisa tetap aman bekerja di bar sampai umur 25 tahun tanpa disentuh jika bukan Rosa yang memasang badan melindunginya?
Selama ini Rosa yang menjadi tameng, namun saat Hana datang padanya dengan rencana nekat untuk menjual diri sekaligus melarikan diri selamanya dari neraka keluarga angkatnya, Rosa akhirnya menyetujui.
"Dua anjing lapar itu baru saja menggonggong di depanku. Aku sudah menendang mereka keluar. Tapi waspadalah, Giorgia terlihat seperti orang kesurupan yang kehilangan ATM berjalannya. Jangan biarkan Richard mencium bau sampah ini jika kamu belum siap."
Pesan terkirim. Rosa menyesap sisa alkoholnya, menatap bayangan dirinya di cermin bar. Ia tahu Hana sedang memainkan api yang sangat besar. Richard bukan pria sembarangan, jika Richard tahu dia sedang dimanipulasi oleh rencana pelarian seorang gadis pelayan bar, entah apa yang akan terjadi.
*****
Hana menatap pesan dari Rosa seraya tertawa geli di sudut teras balkon yang menghadap ke arah kubah-kubah basilika Roma yang megah. Ada rasa puas yang meledak di dadanya, rasa bebas yang tak pernah ia bayangkan setelah terkurung selama 25 tahun dalam neraka yang diciptakan Giorgia.
Padahal, Hana adalah berlian yang dipaksa terkubur lumpur. Hana bukan sekadar gadis cantik yang beruntung. Di balik wajah naifnya itu, ia adalah otak cemerlang yang disia-siakan.
Di Italia, sistem pendidikan sangat kaku, namun Hana berhasil menembus ujian Privatista dan lulus Liceo (SMA) di usia 15 tahun melalui program akselerasi mandiri yang langka. Seharusnya, ia sudah menjadi sarjana hukum atau ekonomi di Sapienza University of Rome sekarang.
Namun naas, kecerdasannya justru menjadi kutukan. Giorgia segera memalsukan dokumen, menyeret Hana ke bar-bar gelap untuk bekerja sejak remaja demi membiayai ambisi Bianka. Hana menjadi mesin uang yang membiayai kuliah S1 saudara tirinya hingga gaya hidup hedonis mereka di kelab-kelab Trastevere, sementara ia sendiri hanya boleh memakan sisa-sisa roti keras di dapur.
"Aku puas sekali!" Hana tertawa lirih, namun matanya berkaca-kaca menahan perihnya ingatan masa lalu.
"Kenapa tertawa sendiri?" Suara bariton Richard yang berat di belakangnya membuat Hana tersentak.
Hana segera menyimpan ponselnya ke laci meja rias, lalu berbalik dengan senyum canggung yang sengaja ia buat tampak sedikit rapuh. Ia mendekati Richard yang terlihat letih luar biasa. Seharian ini, suasana mansion memanas karena Richard bertengkar hebat dengan Clarissa melalui telepon.
Richard menganggap pekerjaan istrinya di luar kota hanyalah kedok untuk bersenang-senang dengan Sanders. Mereka benar-benar tidak terlihat seperti pasangan suami-istri, lebih mirip dua entitas bisnis yang saling membenci.
"Tuan lelah? Mau makan sesuatu?" tanya Hana lembut, tangannya memijat bahu Richard yang kaku. Richard hanya mendesah panjang, memejamkan mata.
Hana mulai merasa gelisah. Apakah Richard mulai bosan padanya? Ia tidak boleh membiarkan itu terjadi sekarang. Rencananya belum selesai. Ia harus tinggal lebih lama di mansion ini, mengumpulkan pundi-pundi uang dari Richard sebanyak mungkin sebelum ia benar-benar menghilang.
"Katanya mau ambil kuliah, sudah kamu cari?" tanya Richard tiba-tiba, memecah keheningan. Hana menggeleng pelan.
"Aku mau ambil kelas online saja, tapi belum tahu universitas mana yang fleksibel."
"Biar asistenku yang carikan universitas terbaik di Italia atau Inggris. Besok kamu konsultasi dengan dia, pilih jurusan yang kamu mau, dan urus semua administrasinya," ujar Richard mutlak. Hana hanya mengangguk patuh, meski dalam hati ia mencatat satu lagi kemudahan yang ia dapatkan.
"Uang di rekeningmu sudah aku tambahkan lagi. Kamu tidak mau keluar? Beli tas, perhiasan, atau apa pun di Via Condotti? Anak buahku bisa mengantar." tawar Richard lagi, seolah uang bukanlah masalah baginya.
"Uang tabunganku... masih sedikit, Tuan." bisik Hana dengan nada manja yang ia pelajari dari film-diam-diam, lalu ia melingkarkan tangan mungilnya di perut sixpack Richard yang keras di balik kemeja sutranya.
"Ahhh, kamu licik juga ternyata!" Richard terkekeh, meski tangannya justru merogoh saku jas dan mengeluarkan sebuah Black Card. Ia memberikan kartu tanpa limit itu kepada Hana sambil menggelengkan kepala, tak menyangka ia akan semurah hati ini pada seorang wanita.
"Terima kasih, Daddy!" bisik Hana dengan suara yang menggoda, lalu mengecup bibir Richard dengan mesra hingga pria itu mengerang rendah. "Aku boleh mengajak Gale pergi bersamaku?"
"Mengajak Gale?" alis Richard bertaut.
"Baju dinginnya di lemari sudah mulai sempit. Aku mau membelikannya jaket bulu yang hangat, selimut baru, dan membawanya ke penata rambut untuk merapikan rambutnya yang mulai berantakan. Aku mau kencan dengan bayi kecilku hari ini!"
"Kamu tidak bisa membawa putraku keluar sembarangan, Hana. Roma bisa sangat berbahaya bagi pewaris sepertinya."
Hana mendongak, menatap Richard dengan mata perayunya yang berkilat indah di bawah lampu kristal. "Kalau begitu... Tuan mau ikut bersama kami? Menjadi pelindung kami?"
Richard tertegun. Tawaran itu terdengar seperti ajakan untuk menjadi keluarga normal, sesuatu yang sangat asing baginya. Namun, melihat binar mata Hana dan membayangkan Gale yang akan melompat kegirangan, pertahanan Richard runtuh.
"Siapkan pakaian Gale. Kita berangkat satu jam lagi," ujar Richard dingin, meski tangannya tidak melepaskan pinggang Hana.
*****