Parasit

1265 Words
Richard melangkah keluar dari mobil SUV hitam antipeluru miliknya dengan aura yang berwibawa. Di sisi kanannya, Hana tampil memukau dengan rok pendek yang dipadukan dengan stoking musim dingin berwarna gelap. Memamerkan kaki jenjangnya, namun tetap terlihat elegan dalam balutan mantel wol modis berwarna camel. Hana menggandeng erat tangan kecil Galendra yang hari ini tampak jauh lebih ceria. Bocah itu terlihat menggemaskan memakai jaket bulu tebal, lengkap dengan penutup telinga dan kupluk berbentuk karakter beruang yang telinganya bergoyang setiap kali ia melompat kecil. Pemandangan ini sungguh langka bagi para pengawal yang mengikuti mereka dari jarak sepuluh meter. Sangat jarang sekali bosnya ada waktu untuk hal seperti ini. Biasanya isi kepalanya hanya pekerjaan, wanita, pesta dan uang. Semua anak buahnya tahu itu. Dan kini, pria gagah itu berjalan santai di trotoar Via Condotti, sambil sesekali melirik wanita di sampingnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tuan, lihat! Gale suka sekali kupluknya!" Hana berseru riang, suaranya terdengar merdu di tengah hiruk pikuk turis dan warga lokal Roma yang berlalu-lalang di depan butik Valentino. Richard hanya berdehem, mencoba tetap terlihat berwibawa meski tangannya kini sesekali menyentuh pundak Hana secara protektif. "Dia terlihat konyol dengan kupluk itu, tapi... terserahlah, asalkan dia tidak menangis." "Papa! Aku tidak konyol! Hana bilang aku pemberani seperti beruang!" Gale menyahut dengan bangga, membuat Richard tertegun. Ini pertama kalinya Gale berani menyahut ucapannya tanpa rasa takut yang biasanya menghantui bocah itu. Hana tertawa, sebuah tawa lepas yang membuat beberapa pria yang lewat sempat menoleh terpesona. Tatapan yang langsung disambut dengan tatapan tajam dan mematikan dari Richard. "Kita masuk ke sana," Richard menunjuk ke arah butik Gucci Kids dengan dagunya. "Ambil apa saja yang menurutmu perlu untuknya. Jangan sampai dia kedinginan dan sakit lagi seperti kemarin." Saat mereka masuk ke dalam butik yang eksklusif itu, para pelayan segera membungkuk hormat. Richard duduk di kursi kulit yang disediakan, membiarkan Hana sibuk memilihkan jaket puffer dan selimut kasmir untuk Gale. Hana benar-benar terlihat seperti seorang ibu muda yang mapan, bukan lagi pelayan bar yang dibeli dengan satu juta dollar. Gerakannya anggun saat memadupadankan pakaian untuk Gale dengan selera tinggi. Sesekali Hana menoleh, meminta pendapat Richard yang duduk bersandar di kursi kulit butik. Richard hanya menjawab dengan anggukan kaku atau memintanya membungkus saja semuanya. Seolah seluruh isi toko itu tak lebih berharga dari uang receh di sakunya. Namun, di balik sikap cueknya, Richard diam-diam mengamati Hana dengan kekaguman yang sulit ia sangkal. Wanita ini benar-benar merubah cara pandangnya hanya dalam hitungan hari. Richard yang biasanya hanya peduli pada angka di bursa saham dan aroma wiski, kini mendapati dirinya berdiri di sebuah butik anak-anak. Hana telah menyulapnya menjadi seorang ayah yang benar-benar hadir bagi anaknya. "Papa, aku senang sekali jalan-jalan hari ini! Aku suka Hana, aku suka pergi denganmu!" Gale berseru riang, tangannya yang mungil kini menenteng kantong belanjaan kecil berisi mainan. Bocah itu mendongak, matanya berbinar menatap sang ayah yang selama ini ia anggap seperti patung es yang tak tersentuh. "Lain kali, kita boleh ke Disneyland bersama? Aku, Papa, dan Hana?" Pertanyaan polos itu menggantung di udara, membuat suasana butik yang eksklusif itu mendadak hening. Richard tertegun. Disneyland? Itu adalah janji yang tak pernah ia buat, mimpi yang tak pernah ia tawarkan pada putranya. Richard bisa membayangkan betapa panas dan repotnya itu. Namun, melihat binar harapan di mata Gale dan tatapan provokatif Hana yang seolah menantangnya untuk menjadi ayah yang lebih baik, Richard akhirnya memberikan anggukan kaku. "Ya. Kita akan ke sana," jawab Richard rendah. Mendengar itu, Gale langsung melepaskan kantong belanjaannya dan melompat ke pelukan Richard. "Aku sayang Papa!" teriaknya sambil membenamkan wajah di leher Richard. Richard mematung sesaat, merasakan detak jantung kecil putranya yang berpacu cepat karena bahagia. Perlahan, tangannya yang besar membalas pelukan itu, mendekap Gale dengan protektif. Di atas bahu Gale, mata Richard bertemu dengan mata Hana. "Semenjak ada Hana, Papa jadi baik dan sayang aku!" lirihnya. Hana tersenyum tipis, senyuman yang terlihat begitu tulus namun menyimpan kepuasan mendalam. Ia berhasil. Ia tidak hanya mendapatkan akses ke Black Card Richard, tapi ia juga telah mengikat Richard lewat kasih sayang anaknya. "Kita sudah selesai di sini," Richard berdehem, mencoba menormalkan suaranya yang sedikit bergetar. "Mari cari tempat makan malam yang bagus sebelum Gale kelelahan." Mereka melangkah keluar butik, sebuah potret keluarga sempurna. Richard tidak tahu bahwa di balik senyum manis Hana, gadis itu sedang menghitung setiap langkah pelarian dan segala rencananya yang berjalan dengan sangat lancar. "Kita makan di rumah saja, aku mau masakan Hana saja!" gerutu Gale sambil mengucek matanya yang mulai memerah. Bocah itu tampak berjuang melawan rasa kantuk yang menyerang setelah puas berkeliling Via Condotti. "Bilang saja kamu mengantuk, Sayang!" Hana menyentil lembut hidung mungil Gale. Bocah itu tertawa malu, menyembunyikan wajahnya di balik mantel Hana karena merasa rahasianya terbongkar. Setelah rentetan barang belanjaan mewah itu diambil alih oleh para pengawal berbaju hitam, Hana menoleh ke arah Richard. Dengan isyarat mata yang lembut, ia meminta Richard untuk menggendong putranya. Tanpa membantah, Richard merentangkan tangannya. Gale langsung menghambur, memeluk leher ayahnya erat-erat dan memejamkan mata, mencari posisi nyaman di bahu kokoh sang ayah. "Dari mana kamu tahu dia mau tidur?" tanya Richard dengan nada takjub. Ia selama ini menganggap Gale sebagai anak yang penuh energi tanpa henti, namun di tangan Hana, bocah itu seolah memiliki saklar yang bisa dikendalikan. Hana mengedikkan bahunya sombong, sebuah gerakan kecil yang terlihat sangat menawan. Ia berjinjit, mendekatkan bibirnya ke telinga Richard hingga napas hangatnya menyentuh kulit pria itu, lalu membisikkan sesuatu dengan senyuman nakal. "Tebak?" Hana kemudian mengecup rahang kokoh Richard dengan mesra, meninggalkan jejak panas yang membuat jakun pria itu naik-turun. Richard tidak tinggal diam. Dengan satu tangan yang masih menganggur karena tangan lainnya menahan beban tubuh Gale, ia menarik pinggang Hana hingga tubuh mereka merapat sempurna. Di bawah cahaya lampu jalanan Roma yang menyala romantis, Richard mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Hana sekilas. Sebuah kecupan posesif yang menandakan kepemilikan mutlak di depan umum. Namun, suasana manis itu tak luput dari sepasang mata yang penuh rasa iri. Dari balik kaca sebuah coffee shop di seberang jalan, Bianka dan Giorgia terpaku dengan mulut menganga. Cangkir espresso di tangan Bianka hampir saja terlepas. "Hana?" gerutu keduanya secara bersamaan, suara mereka bergetar antara tidak percaya dan benci. Mata mereka semakin membola saat melihat pemandangan selanjutnya. Hana tidak hanya dipeluk oleh pria luar biasa tampan itu, tapi ia juga melangkah masuk ke dalam deretan mobil mewah yang sudah menunggu di lobi. Belasan pengawal berseragam rapi membukakan pintu untuknya dengan sikap hormat yang luar biasa, seolah Hana adalah seorang ratu. "Itu benar-benar Hana, Ma!" Bianka berteriak tertahan, wajahnya merah padam karena cemburu melihat kemewahan yang kini menyelimuti saudara angkat yang dulu ia injak-injak. "Dia memakai barang-barang branded! Dan pria itu... pria itu pasti kaya raya! Kenapa dia tidak bilang pada kita?!" Giorgia tidak menjawab, namun matanya berkilat penuh rencana jahat. Ia mencengkeram tas tangannya erat-halus. "Dia pikir dia bisa kabur begitu saja setelah semua yang kita berikan?" desisnya tajam. "Jika dia bisa masuk ke dalam mobil semahal itu, artinya dia punya kunci menuju gudang emas. Kita harus mengikuti mereka, Bianka. Hana berutang nyawa pada kita, dan sekarang saatnya dia membayar bunga dari utang itu." "Ma, meski tampan, pria tadi seperti sudah lumayan berumur kan?" "Dia pasti jadi simpanan!" Giorgia menanggapi. "Kita jadikan itu senjata! Jika dia tidak membagi uangnya pada kita, maka kita akan bongkar kedoknya sebagai simpanan pria kaya! Kita harus segera cari tahu siapa istri pria itu!" Di dalam mobil yang melaju membelah kemacetan Roma, Hana menyandarkan kepalanya di bahu Richard, menatap lampu-lampu kota yang berlarian di jendela. Ia tidak tahu bahwa dua parasit dari masa lalunya sudah mulai merayap mendekat, siap untuk menghancurkan kebahagiaan semu yang baru saja ia cicipi. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD