New York, 2019. Dunia mengenal nama Elisabeth sebagai gadis malang berusia 18 tahun yang ditemukan bersimbah darah di tempat sampah belakang sebuah penthouse mewah. Ia bukan sekadar korban pelecehan, ia adalah saksi hidup dari kegelapan seorang konglomerat yang panik dan takut kebusukannya terbongkar. Percobaan pembunuhan itu gagal, karena Elisabeth berhasil membela diri. Ia berhasil menghabisi para konglomerat kejam yang mencoba merenggut nyawanya.
Namun meski dia menang, jiwa Elisabeth tetap terkubur di balik trauma yang tak pernah sembuh. Hingga saat ini, nama Elisabeth terlupakan. Tidak ada yang tahu keberadaannya setelah malam mengerikan itu.
Mexico, 2023. Anna Keith, wanita berusia 22 tahun, muncul dengan kisah serupa. Hampir tewas karena ingin mengungkap kebenaran tentang predator berjas mahal. Ia selamat, ia juga berhasil membela diri dan membuat para konglomerat biadap itu tewas. Namun tubuhnya dipenuhi luka parut yang mengerikan, ia trauma berat hingga harus mendekam di rumah sakit jiwa selama beberapa bulan.
Kasus-kasus itu adalah bukti nyata bahwa di dunia ini, keamanan wanita sangatlah rentan.
Hana menatap tajam baris demi baris kata di majalah kusam itu. Jemarinya yang ramping sedikit gemetar, bukan hanya karena ngeri, tapi karena ada sesuatu yang terasa terlalu dekat dengan kenyataannya sendiri. Wajahnya yang polos tampak pucat di bawah cahaya lampu ruang loker yang remang-remang.
"Serem banget nggak sih? Pelecehan terhadap perempuan sekarang makin gila!" celetuk Dania, rekan kerja Hana di bar. Tanpa permisi, Dania merebut majalah itu dan melemparkannya ke tumpukan barang rongsokan di sudut.
Hana menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. "Iya, Dania. Rasanya... aku bisa merasakan ketakutan mereka."
"Mereka pasti wanita yang tidak punya pilihan, Hana. Sama kayak kita. Terpaksa kerja di tempat remang-remang begini cuma demi sepotong roti dan atap buat tidur," lanjut Dania dengan nada pahit yang tidak bisa disembunyikan.
Hana mengangguk pelan, seulas senyum tipis yang dipaksakan muncul di wajahnya. Ia bangkit, lalu memeluk Dania, satu-satunya orang yang ia anggap saudara di tempat yang keras ini.
"Shiftmu sudah selesai, Dania. Pulanglah dan istirahat. Biar aku yang lanjut."
Dania mengusap pundak Hana, matanya menatap Hana dengan peringatan yang tulus. "Kamu hati-hati, ya? Kalau ada tamu yang kurang ajar, langsung lapor ke Madam! Ingat, kita di sini kerja part-time sebagai pelayan, bukan PSK!"
Hana menunduk, meremas ujung kemeja kerjanya. "Tentu. Aku akan selalu berhati-hati."
"Hana! Cepat antar minuman ke kamar VIP!"
Teriakan melengking Madam Rosa memecah keheningan ruang loker. Suaranya yang keras seperti cambuk yang memaksa Hana kembali ke realita.
Hana tersentak. Ia buru-buru merapikan rok pendeknya yang terasa terlalu ketat, memoles sedikit lipstik merah tipis, berusaha terlihat berani meski hatinya menciut. Ia mengambil nampan perak berisi botol Macallan termahal dan dua gelas kristal.
Ia melangkah keluar dari ruang loker, menuju lorong gelap yang menuju kamar-kamar VIP. Setiap langkahnya terasa berat, dibayangi ketakutan yang baru saja ia baca di majalah.
Di balik pintu jati kamar VIP nomor 01, seorang pria bernama Richard sedang duduk di kegelapan, memperhatikannya melalui monitor CCTV sejak ia melangkah masuk ke bar.
Richard tidak sedang mencari pelayan, ia sedang mencari mainan baru untuk melengkapi koleksi obsesinya.
Dan madam Rosa bilang, Hana adalah gadis yang paling cocok. Tanpa keluarga, sebatang kara, butuh uang, dan tentunya... masih sangat segar.
Dan Richard setuju, dari layar monitor saja, ia bisa merasakan betapa ketatnya wanita 25 tahun itu!
Pintu jati tebal itu terbuka dengan bunyi yang halus, nyaris tak terdengar di tengah dentum musik bass yang meredam dari arah luar. Hana melangkah masuk, memegang nampan perak dengan jemari yang sedikit memutih karena cengkeraman yang terlalu kuat.
Ruangan itu luas, namun terasa menyesakkan. Bau cerutu mahal dan aroma maskulin yang tajam menyambut indranya. Cahaya di sana sangat minim, hanya pendar biru redup dari akuarium dinding besar yang menerangi siluet seorang pria yang duduk di sofa kulit gelap.
Richard tidak bergerak. Matanya yang tajam, yang sedari tadi puas menelanjangi Hana melalui resolusi tinggi monitor CCTV, kini menatap sosok aslinya.
"Letakkan di meja, Hana." suara Richard rendah, berwibawa, dan memiliki getaran yang membuat bulu kuduk Hana berdiri.
Hana tersentak kecil mendengar namanya disebut. Ia tidak ingat pernah memperkenalkan diri. "Ba-baik, Tuan," jawabnya lirih. Ia membungkuk, meletakkan botol Macallan dan gelas kristal itu dengan hati-hati.
Dari posisi membungkuk, Hana bisa merasakan tatapan Richard menyapu tengkuknya, turun ke garis punggungnya, dan berhenti di pinggangnya yang ramping.
Madam Rosa benar, Hana adalah kanvas yang sempurna. Tanpa kerabat yang akan mencarinya jika ia hilang berminggu-minggu, dan tanpa pelindung yang akan menuntut jika ia pulang dengan lebam di tubuhnya. Dan pastinya, dia akan menjadi wanita penurut yang dapat memenuhi fantasi gila Richard.
"Madam Rosa bilang, kamu butuh uang lebih dari sekadar tip pelayan." Richard menyesap sisa minuman di gelasnya, lalu meletakkannya dengan denting yang sengaja dikeraskan.
Hana mendongak, matanya bertemu dengan mata Richard yang dingin namun berkilat lapar. "Saya... butuh untuk membayar tunggakan sewa dan biaya kuliah, Tuan. Itu sebabnya saya part time di sini setiap malam."
Richard terkekeh mendengarnya. Ia bangkit berdiri, menampakkan tubuhnya yang tinggi besar dan atletis meski usianya sudah kepala empat. Ia berjalan mendekat, mempersempit jarak hingga Hana bisa merasakan hawa panas dari tubuh pria itu.
"Kuliah? Sangat ambisius!" Richard mengulurkan tangan, ujung jemarinya yang kasar menyentuh helai rambut Hana, menyampirkannya ke belakang telinga dengan gerakan yang posesif. "Bagaimana jika aku menawarkan kesepakatan? Aku akan membayar semua hutangmu, biaya kuliahmu sampai lulus, bahkan apartemen yang jauh lebih layak dari lubang tikusmu sekarang."
Napas Hana tertahan. "Maksudnya... apa, Tuan?"
Richard mencondongkan tubuh, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari telinga Hana. Bau alkohol dan parfum mahal itu memabukkan sekaligus mengancam.
"Jadilah milikku. Sepenuhnya. Kapan pun aku menginginkannya," bisik Richard serak. Tangannya turun, mencengkeram pinggang Hana dengan tarikan yang mendominasi, memaksa tubuh mungil itu menempel pada tubuh tegapnya. "Jangan coba-coba lari, karena aku sudah membelimu dari Rosa, bahkan sebelum kamu melangkah masuk ke pintu ini."
Hana gemetar, matanya berkaca-kaca menatap pria yang kini menjadi pemilik hidupnya. Di mata Richard, Hana hanyalah mangsa baru yang segar dan rapuh. Dia adalah korbannya yang kesekian. Ia memang terus mencari wanita baru setelah wanita lamanya... terasa membosankan. Dan menurutnya, Hana paling sempurna.
"Ta-tapi..."
"Aku tidak suka tawar-menawar. Menolak, berarti mati."
Hana terdiam saat pria itu mencumbu telinganya dengan lidahnya, tangan Richard bergerilia di dadanya, memberi remasan yang posesif.
Tubuh Hana menegang, napasnya tersangkut di tenggorokan saat telapak tangan Richard yang lebar dan panas merayap turun, masuk dari bawah roknya, mengklaim miliknya dengan remasan yang menuntut kepatuhan mutlak.
"Kamu dengar itu, sayang?" bisik Richard, suaranya serak dan rendah di ceruk leher Hana.
Hana hanya bisa memejamkan mata erat-erat, membiarkan air mata setetes jatuh membasahi pipinya yang pucat. Di mata Richard, tangisan itu adalah bumbu penyedap, tanda kelemahan yang sangat ia nikmati. Richard sudah bosan dengan wanita-wanita sebelumnya yang terlalu cepat menyerah atau terlalu berisik meminta harta.
Hana? Hana memiliki kombinasi antara ketakutan yang murni dan kecantikan yang belum terjamah oleh kemewahan.
"Bawa dia ke mobil," perintah Richard tiba-tiba, melepaskan cengkeramannya namun tetap menatap Hana dengan pandangan predator.
Dua pria berjas hitam muncul dari balik bayangan pintu, menarik lengan Hana dengan kasar. Hana tidak melawan, ia hanya menunduk, menyembunyikan wajahnya saat ia diseret keluar melalui pintu belakang bar yang tersembunyi.
******