Malam Di Roma

1160 Words
Bus mewah itu melaju tenang di atas jalanan beraspal kuno Roma, melewati bayangan Castel Sant'Angelo yang agung di bawah guyuran salju. Di dalam kabin yang kedap suara, Richard menyesap sisa whiskey-nya, matanya terpaku pada Hana yang duduk kaku di tepi ranjang besar berlapis sutra abu-abu. Hana tampak begitu mungil dan rapuh di bawah bayang-bayang Richard, pria yang lima belas tahun lebih tua itu. Tubuh Richard adalah representasi dari kematangan yang dominan, bahu yang lebar, d**a bidang yang keras, dan guratan-guratan halus di sudut matanya yang menunjukkan pengalaman hidup yang kelam dan penuh kuasa. Richard meletakkan gelas kristalnya di meja marmer kecil dengan denting pelan yang terdengar seperti lonceng peringatan bagi Hana. Ia bangkit, melangkah perlahan mendekat. Setiap langkah sepatunya di atas karpet tebal terasa menekan d**a Hana. "Roma sangat indah di bawah salju, bukan?" suara Richard rendah, berdiri tepat di hadapan Hana. Ia tidak langsung menyerang. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, Richard mengulurkan tangan, ujung jemarinya yang kasar menelusuri garis rahang Hana, lalu turun perlahan ke leher jenjangnya. Ibu jarinya menekan lembut denyut nadi Hana yang berpacu liar di sana. "Kenapa kamu gemetar, sayang? Padahal aku belum menyentuhmu sepenuhnya," bisik Richard. Ia merunduk, menempelkan hidungnya di lekuk leher Hana, menghirup aroma sabun murah dan rasa takut yang bagi Richard adalah parfum paling memabukkan. Bibirnya menyapu kulit Hana, memberikan kecupan-kecupan kecil yang panas di sepanjang garis bahunya, sementara tangannya mulai bergerilya ke belakang punggung Hana, mencari ritsleting gaun beludru hitam itu. Srett. Suara ritsleting yang terbuka terasa nyaring di telinga Hana. Gaun itu meluncur jatuh, menumpuk di lantai, membiarkan tubuh mungil Hana terekspos di bawah pendar lampu interior yang remang. Richard menarik napas tajam. Ia menjauh sedikit hanya untuk mengagumi pemandangan di depannya, kulit putih s**u yang tampak kontras dengan kegelapan malam di luar jendela satu arah. Richard mulai memetakan tubuh Hana dengan jemarinya. Ia menyentuh setiap jengkal kulitnya seolah sedang mempelajari sebuah mahakarya kuno. Dari lengkungan bahu, turun ke tulang selangka, hingga ujung jarinya melingkari d**a Hana yang naik-turun karena napas yang memburu. "Sempurna," gumam Richard parau. Ia mendorong Hana perlahan hingga berbaring di atas sprei sutra yang dingin. Richard merangkak di atasnya, namun tetap menahan berat tubuhnya dengan kedua tangan. Ia mulai menciumi Hana kembali. Kali ini lebih dalam, lebih menuntut. Mulai dari dahi, kelopak mata yang terpejam, hingga ke bibir Hana yang ia lumat dengan rasa lapar. Lidah Richard menjelajah, mengklaim setiap sudut mulut Hana, sementara tangannya terus berkelana. Ia membelai pinggang Hana yang ramping, meremas pinggangnya dengan posesif, lalu jemarinya turun lebih jauh, menyentuh paha bagian dalam Hana yang sensitif. Hana mengerang pelan, tubuhnya melengkung secara insting saat Richard memberikan perhatian lebih pada area sensitifnya. Pria itu sangat mahir, ia tahu persis di mana harus menekan dan di mana harus membelai lembut untuk memancing gairah yang Hana coba tekan. "Tatap aku, Hana," perintah Richard mutlak. Hana membuka matanya yang berkaca-kaca, menatap wajah Richard yang kini dipenuhi nafsu yang gelap. Richard melepaskan ikat pinggangnya, lalu memposisikan dirinya di antara kedua paha Hana yang kini terbuka lebar untuknya. Saat Richard mulai mendorong dirinya masuk secara perlahan, ia merasakan hambatan yang belum pernah ia temui sebelumnya. Ia berhenti sejenak, urat-urat di dahi dan lehernya menegang hebat. Matanya membelalak menatap Hana. "Kamu... benar-benar masih murni," bisik Richard dengan nada yang hampir tidak percaya, suaranya parau karena kenikmatan yang menyakitkan. Keketatan Hana menjepitnya dengan sangat kuat, menciptakan sensasi panas yang merambat ke seluruh sarafnya. Richard merasa seolah sedang dipaksa masuk ke dalam ruang yang paling sempit dan paling nikmat di dunia. Ia hampir kehilangan kendali saat itu juga. Sensasi Hana yang sangat murni membuatnya merasa seperti penguasa sekaligus tawanan gairahnya sendiri. Ia mulai bergerak dengan dorongan yang dalam dan lambat, menikmati setiap inci kulit Hana yang bergesekan dengannya. Keketatan itu benar-benar membuatnya gila, setiap kali ia bergerak, Hana seolah-olah menghisapnya lebih dalam, menuntutnya untuk tidak pernah melepaskannya. Hana terengah-engah, tubuhnya yang lemas masih bergetar hebat di bawah kungkungan tubuh besar Richard yang berat dan panas. Air mata yang sejak tadi menggenang akhirnya luruh, mengalir melewati pelipisnya dan membasahi sprei sutra abu-abu yang kini tampak kusut. Rasa sakit yang tajam tadi mulai berubah menjadi denyutan tumpul yang asing, namun sensasi kepemilikan Richard masih terasa nyata di dalam dirinya. Membuatnya meringis saat hujaman pria itu semakin kuat. "Sakit..." bisik Hana parau, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan kabin. Richard tidak segera beranjak. Ia justru membenamkan wajahnya di ceruk leher Hana, menghirup dalam-dalam aroma keringat dan sisa gairah yang terpancar dari kulit wanita itu. "Rasa sakit itu adalah tanda, Hana." gumam Richard, suaranya kini terdengar lebih tenang namun tetap memiliki otoritas yang tak terbantahkan. Ia mengangkat wajahnya, menatap Hana dengan binar mata yang kini dipenuhi obsesi baru. "Tanda bahwa mulai malam ini, tidak ada pria lain yang boleh menyentuhmu. Kamu adalah milikku, sepenuhnya." Hana merasakan jemari Richard yang kasar mengusap air matanya. Sentuhan itu terasa lembut namun seolah mengikat. Hana ingin berteriak, ingin menolak takdir yang baru saja dipaksakan kepadanya, namun ia hanya bisa terdiam dengan jantung yang masih berdegup tidak keruan. Ada bagian dari dirinya yang merasa terhina, namun ada bagian gelap lainnya yang mulai menyadari kekuatan yang ia miliki atas pria ini. Gairah Richard tidak surut begitu saja setelah ledakan pertama. Sebaliknya, keketatan Hana yang luar biasa justru memicu kegilaan baru dalam syarafnya. Dengan gerakan yang kasar namun penuh perhitungan, Richard merenggut tubuh lemas Hana dari atas ranjang sutra, membawanya berdiri menghadap kaca besar satu arah yang dingin. Hana memekik saat dadanya terhimpit permukaan kaca yang membeku. Di depannya, hamparan salju Roma yang turun deras seolah hendak menelan mereka, sementara di belakangnya, ia merasakan panas tubuh Richard yang menekan punggungnya tanpa celah. "Lihat ke luar, Hana..." bisik Richard serak, napasnya memburu di tengkuk Hana yang basah oleh keringat. "Lihat kota ini. Mulai malam ini, kamu hanya akan melihat dunia dari balik bayang-bayangku." Tanpa peringatan, Richard kembali menghujamnya. Sebuah hentakan kuat dan mendalam membuat Hana tersentak hebat, kedua telapak tangannya menempel pada kaca dingin, mencoba mencari pegangan di tengah guncangan yang tak tertahankan. Richard tidak memberinya ruang untuk bernapas, setiap hentakannya adalah klaim kekuasaan, sebuah irama posesif yang bergema di kabin bus yang kedap suara itu. Richard mencengkeram pinggang Hana, mengangkat tubuh mungil itu sedikit lebih tinggi agar ia bisa masuk lebih dalam. Pria itu benar-benar kehilangan kendali diri yang biasanya ia banggakan. Richard menghimpit Hana, membiarkan gesekan kulit mereka semakin intens. Hana hanya bisa merintih, suaranya teredam oleh kaca. Setiap hentakan Richard terasa seperti hantaman yang menembus hingga ke ulu hati, membuatnya gemetar antara rasa sakit yang tersisa dan sensasi kenikmatan yang mulai melumpuhkan akal sehatnya. Sepanjang sisa malam itu, bus mewah tersebut menjadi saksi bisu atas obsesi Richard yang mengerikan. Richard tidak membiarkan Hana istirahat, ia terus menghujamnya, menghimpitnya di berbagai sudut kabin, seolah ingin memastikan bahwa setiap jengkal tubuh wanita itu telah ia tandai seluruhnya. Hana tersenyum di balik ke pasrahannya. Iya, ini yang dia inginkan. Ada seseorang yang menginginkannya, menggilainya, dan dengan sukarela memberinya kemewahan. Hana yakin, dia tidak akan berakhir seperti wanita di majalah itu. Karena dia... tahu caranya bermain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD