Part 4 (Tanggung jawab 2)

1123 Words
Di dalam kamar mandi “Aaarrghhh,” teriak Humairah “Aku udah nggak suci lagi. Aku benci sama diriku sendiri.” pekiknya Humairah menggosok seluruh tubuhnya dengan kasar, bahkan sampai memerah. Tidak ada rasa sakit sedikitpun, yang ada hatinya yang terluka dan hancur secara berkeping-keping. Banyak penyesalan yang Humairah rasakan, namun semuanya telah terjadi. “Aku nggak mau.” “Aku nggak mau semua ini terjadi, tapi kenapa?” “Aarrgghh,” “Hikss,” Humairah terisak sampai punggungnya bergetar hebat. Humairah tidak bisa merasakan apapun selain kehancuran. Ia memang ingin menikah tapi tidak dengan kejadian seperti ini. Apa yang telah ia jaga selama belasan tahu telah direnggut paksa oleh laki-laki b******k. Humairah menyesal datang ke rumah itu. Jika waktu bisa diulang ia akan menolak permintaan Ibunya untuk datang ke rumah itu. “Hikss,” “Kenapa semua ini terjadi pada Humairah, Ya Rabb? Apa salah Humairah?” lirihnya dengan suara bergetar “Humairah tidak ingin menikah dengan cara seperti ini.” “Hikss,” Sekalipun menyesal tidak akan merubah keadaan. Apa yang telah terjadi tidak bisa berubah. “Jahat!” “Dia memang laki-laki jahat! Aku membencinya.” Tiba-tiba Humairah teringat dengan kejadian malam itu. Di mana Rafa mengambil kehormatannya secara paksa, meskipun ia sudah memohon untuk tidak melakukannya. Flashback Krekk Rafa merobek paksa gamis yang dikenakan Humairah. Seketika matanya berkabut melihat pemandangan indah di hadapannya. Pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tubuh Rafa semakin bergetar karena pengaruh obat yang telah masuk ke dalam tubuhnya. Rafa tersenyum smirk membuat Humairah semakin ketakutan. Humairah tidak bisa lagi memberontak karena kedua tangannya telah diikat oleh Rafa. “Jangan lakukan apapun padaku! Aku mohon.” pinta Humairah dengan nada memohon “Sstt!” bisik Rafa Rafa mendekatkan wajahnya pada Humairah, hal itu membuat keduanya merasakan hembusan nafas masing-masing. Jarak wajah keduanya begitu dekat membuat hidung mereka hampir bersentuhan. “Tubuhmu sangat indah. Aku menyukainya.” ujar Rafa sembari tersenyum “Tutup mulutmu!” “Sayangnya aku tidak bisa menutup mulutku. Yang aku bisa membungkam bibir ini dengan mulutku.” Rafa mengelus bibir merah alami milik Humairah. “Kita akan menikmati malam panjang setelah ini.” Humairah menggelengkan kepalanya dengan bercucuran air mata. “Enggak. Aku mohon jangan lakukan itu!” Rafa tidak peduli dengan permintaan Humairah. Sekalipun Humairah tetap memohon ia akan tetap melakukannya. Rafa tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri karena pengaruh obat. Apa yang ia rasakan harus terlampiaskan. “Aku ingin merasakan ini lagi.” ujar Rafa sembari mengelus bibir Humairah “Jang…” Cup Belum selesai bicara Rafa langsung menyatukan bibir keduanya membuat perkataan Humairah terhenti. “Emhh,” Rafa melenguh “Emhh.. hmptt,” “Lewpasin!” berbeda dengan Humairah yang terus memberontak “Diam!” bisik Rafa “Sshh,” Rafa menggigit bibir bawah Humairah membuat perempuan itu meringis kesakitan. Rafa menangkup wajah Humairah agar perempuan itu tidak bisa memberontak. “Enghh,” Rafa terlihat begitu sangat menikmati. Rafa bergerak turun ke bawah. Ia beralih pada leher jenjang Humairah. Dan… Cup “Tubuhmu sangat harum. Aku sangat menyukainya.” bisik Rafa tepat di telinga Humairah “Aku mohon berhenti!” “Awss,” ringis Humairah Rafa meninggalkan bekas kepemilikan di leher Humairah. Tidak hanya satu, melainkan ada banyak. Rafa berusaha memberikan sensasi pada tubuh Humairah namun sayangnya perempuan itu tidak terpancing. Yang ada Humairah terus menangis dan memohon pertolongan pada Yang Maha Kuasa. “Hikss,” “Aku mohon berhenti!” ujar Humairah dengan suara bergetar Rafa menghirup dalam aroma wangi yang keluar dari tubuh Humairah. Ia sangat menyukainya. “Panggil namaku, sayang!” ucapnya dengan nada meracau “Aku tidak sabar ingin segera melakukannya.” “Aku akan menciptkan kehangatan untuk kita berdua.” ujar Rafa Rafa bergerak ke bawah. Dan… Krek “Hikss,” Rafa merobek gamis Humairah sampai terbelah beberapa bagian. Ia membuangnya ke lantai. Seketika pemandangan indah di hadapannya terlihat begitu jelas. Hanya tersisa pakaian tertentu yang melekat di tubuh Humairah. Rafa menatapnya tidak berkedip. Bahkan berulang kali ia menelan ludahnya dengan kasar. Ia sangat mengagumi keindahan di hadapannya saat ini. Keindahan yang baru pertama kali ia nikmati secara langsung. “Waw.. sangat indah!” gumam Rafa Humairah benar-benar malu saat ini. Jantungnya berdetak cepat karena ketakutan. Sekalipun ia berteriak akan percuma. Yang ada Rafa akan semakin menyakitinya. Bahkan tenggorokannya terasa sakit karena terus memohon dan menangis. Rafa melakukan hal yang sama pada dirinya. Ia membuang pakaiannya ke lantai lalu kembali menindih Humairah. Kali ini tatapannya lebih menakutkan daripada yang sebelumnya. “Aku mohon jangan!” “Aku tidak ingin melakukan ini. Ingat Allah!” ujar Humairah “—“ Rafa terdiam sejenak. “Malam ini kamu akan menjadi milikku seutuhnya.” entah dorongan dari mana tiba-tiba Rafa berkata seperti itu. “Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu selagi kamu menurut.” ujar Rafa “Tapi…” Cup Rafa menyatukan bibir keduanya. Kali ini perlakuannya sedikit kasar dari yang sebelumnya. Bahkan kedua tangannya mulai bergerak menelusuri lekuk tubuh Humairah. Dan sampailah kedua tangannya pada dua benda kenyal milik perempuan itu. “Emhh,” Rafa melenguh “Aku menyukai ini.” ujar Rafa dengan nada meracau “Terasa pas di tanganku.” Dan malam ini terjadilah malam panjang bagi Rafa dan Humairah. Malam yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Humairah. Bahkan ia tidak menyangka Takdir Allah membawanya pada kehidupan seperti ini. Rafa tidak berhenti melakukannya sampai Humairah kelelahan. Malam itu air mata Humairah tidak berhenti mengalir membasahi kedua pipinya. Ternyata usahanya gagal. Ia gagal mempertahankan kehormatannya. Flashback off “AARRGGHH,” teriak Humairah “AKU JIJIK!” “AKU BENCI DENGAN DIRIKU SENDIRI.” teriaknya di dalam kamar mandi Humairah merasa jijik pada dirinya sendiri karena kejadian malam itu terus berputar di kepalanya. Ia benar-benar merasa malu. Tiba-tiba terbesit untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Namun di lubuk hatinya yang paling dalam ia masih mengingat Allah. “Hikss,” “AKU BENCII!” teriaknya “HUMAIRAH!” tiba-tiba terdengar suara Amina memanggilnya. Tok.. tok.. tok “HUMAIRAH KELUAR, NAK!” teriak Amina sembari mengetuk pintu kamar mandi Amina merasa khawatir dengan kondisi putrinya. Sebagai sesama perempuan beliau tahu apa yang dirasakan olehnya. Beliau juga menyesal karena meminta Humairah untuk mengantar makanan itu. Jika beliau tidak menyuruhnya kejadian ini tidak akan terjadi. “Nak, tolong keluar!” “Umma khawatir sama kamu.” “Humairah!” Tok.. tok.. tok “Humairah keluar, nak!” Ceklek Pintu kamar mandi terbuka. Dan... Brugh Humairah langsung memeluk tubuh sang Ibu dengan begitu erat. Ia menangis di dekapannya. Humairah tidak bisa berkata apa-apa selain menangis. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia tidak bisa menjaga kehormatannya sendiri. Ia telah gagal menjadi perempuan sholehah. "Hikss," isak tangis Humairah "Tenaglah, nak! Di sini ada Abah dan Umma yang selalu ada untuk kamu." ujar Amina sembari mengeratkan pelukannya. "Maafin Umma, nak. Ini semua terjadi karena kesalahan Umma." lanjutnya dalam hati Next>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD