Hari ini adalah hari pernikahan Rafa dan Humairah. Acara ini hanya dihadiri oleh keluarga besar. Mereka semua terkejut dengan kabar baik ini. Ilham dan Naura memberitahu secara mendadak, bahkan sebelumnya tidak ada pembicaraan apapun.
Humairah menatap dirinya dari pantulan cermin di hadapannya. Saat ini wajahnya sedang dirias secantik mungkin. “Nak, tersenyumlah!” ujar Amina
“Bagaimana bisa tersenyum jika pernikahan ini bukanlah impian Humairah selama ini, Umma.” ujar Humairah dalam hati
“Umma tahu perasaan kamu, tapi jangan lupa untuk tersenyum ya.”
Sebagai seorang Ibu mengingikan yang terbaik untuk putrinya. Mereka tidak bisa lari dari Takdir yang sudah Allah tentukan. Amina yakin ada Hikmah dibalik kejadian ini. Allah sudah menyiapkan suatu yang indah di depan sana untuk putrinya.
“MasyaAllah.. cantik sekali!” pihak MUA memuji kecantikan Humairah
Humairah tersenyum kecil mendengarnya. “Terima kasih.”
“Make up tipis yang terbalut menambah kecantikan Mbak Humairah.”
“Saya Doa’kan pernikahan Mbak Humairah menjadi Sakinah, Mawaddah, Warahmah.” ucapnya sembari tersenyum
“Aamiin.”
Humairah mengaminkan setiap Doa baik yang terucap dari orang lain. Meskipun pernikahan ini bukanlah pernikahan impiannya tapi ia mengharapkan yang terbaik. Menikah adalah sekali seumur hidup, dan ia ingin pernikahan ini terjalin selamanya sampai Tua.
“Terima kasih atas Doa baiknya.” mereka tersenyum menanggapinya.
***
“Bagaimana Rafa, apa kamu sudah siap?” tanya Fathir
Rafa mengangguk pelan. “Sudah!”
“Baiklah. Kalau gitu kita mulai sekarang acar Ijab Qobul’nya.”
Tidak ada senyum di bibir Rafa. Yang ada hanya wajah datar dan dingin. Jika bukan karena perintah dari Orang Tuanya ia tidak akan menikahi Humairah. Pernikahan ini bukanlah impiannya. Bahkan Humairah bukanlah perempuan yang ia inginkan selama ini. Pernikahan ini terjadi karena peristiwa yang tidak diingikan.
Fathir menggenggam tangan Rafa lalu mengucap Ijab yang disaksikan oleh keluarga besar dan malaikat Allah. “Qobiltu nikahaha wa’tazwijaha bil mahril madzkur haalan.” dengan satu tarikan nafas Rafa menjawab Ijab tersebut.
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“SAH!”
“Alhamdulillah’hirabbilalamin.”
Akhrinya Humairah dan Rafa Sah menjadi pasangan suami istri. Rafa telah mengucap janji di hadapan Allah untuk membimbing dan menjadi kepala Rumah Tangga yang baik untuk keluarganya.
Di satu sisi, Humairah menitihkan air mata menyaksikan acara Ijab Qobul tersebut. Dan sekarang ia telah resmi menjadi seorang istri. Amina mengelus punggung tangan putrinya. Beliau menahan tangis saat acara Ijab Qobul dilaksanakan.
“Nak, sekarang kamu sudah resmi menjadi seorang istri. Jadi istri yang baik untuk suamimu, ya.” ujar Amina dengan suara bergetar
“Iya, Umma.”
“Kita sekarang keluar, yuk!”
Humairah mengangguk. Ia terlihat begitu cantik dengan gaun putih yang melekat di tubuhnya. Make up tipis menjadi perpaduan yang menambah kesan cantik dan elegan. Nuansa putih menggambarkan kesucian cinta.
Perlahan Humairah menurun tangga ditemani oleh sang Ibu tercinta di sebelah kanan. Ia menunduk menghindari tatapan para tamu undangan. Di lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa malu karena takut keluarga besarnya berpikir yang tidak-tidak.
Mendengar suara langkah seketika mereka semua menatap ke sumber suara. Pihak keluarga tersenyum menatap kedatangan Humairah. Mereka berdecak kagum melihat kecantikannya.
“MasyaAllah, cantik sekali Humairah!”
Rafa tidak munafik. Ia mengakui kecantikan Humairah hari ini. Namun ia langsung menampik hal tersebut. Ia tidak ingin memperlihatkan kekagumannya pada wanita itu. Mau sampai kapanpun ia tidak akan menerima pernikahan ini.
Humairah berdiri tepat di hadapan Rafa. Ia menunduk menghindari tatapan laki-laki itu. “Alhamdulillah, kalian sekarang sudah Sah menjadi pasangan suami-istri.” ujar Ilham
“Humairah salim, nak!” ujar Amina dengan nada berbisik
“Tapi Umma…”
“Kalian telah menjadi pasangan halal, nak.”
Humairah sedikit ragu. Meskipun pernah berhubungan lebih dengan Rafa ia masih takut untuk bersentuhan dengan seorang laki-laki secara langsung. Mungkin ke depannya ia akan trauma karena kejadian malam itu.
Amina meyakinkan putrinya jika mereka sudah menjadi pasangan halal. “Nggak papa, sayang. Salim dengan suamimu!”
“Bismillah’hirohmanirrahim.”
Humairah memberanikan diri mengambil tangan Rafa lalu mencium punggung tangan laki-laki itu. Tangannya terlihat gemetar karena belum terbiasa. Kedua Orang Tua mereka tersenyum haru menyakiskannya. Mereka masih tidak menyangka hal ini akan terjadi.
“Alhamdulillah.”
“Rafa sekarang giliran kamu membacakan Doa untuk keberkahan rumah tangga kalian.” ujar Ilham
“Doa?” Rafa mengernyitkan keningnya bingung.
“Doa yang semalam Ayah kasih tahu, Rafa. Jangan bilang kamu belum hafal.” desis Ilham dengan nada berbisik.
Ilham dan Naura akan merasa sangat malu jika Rafa tidak hafal doa itu. Ilham menunggu jawaban Rafa sembari melayangkan tatapan tajam. Di saat seperti ini Ilham merasa gagal menjadi Orang Tua.
“Hmm,” Rafa hanya bergumam sebagai jawaban
“Huhh.. syukurlah!” Ilham menghela nafas lega setelah mendengar jawaban putranya.
“Sekarang berdoa untuk keberkahan rumah tangga kalian.”
Ilham menarik tangan kiri Rafa lalu mengarahkan untuk memegang ubun-ubun Humairah. Meskipun Rafa dan Humairah menikah karena suatu kejadian mereka harus tetap berdoa pada Sang Pencipta untuk kebaikan rumah tangga.
"Allahumma inni as'aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha 'alaihi, wa a'udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha 'alaihi"
“Aamiin.”
Humairah mengamikan Doa yang dipanjatkan oleh suaminya. Tidak saling mencintai bukan berarti menginginkan perpisahan dalam rumah tangga. Setelah Rafa mengucap Ijab Qobul Humairah berjanji akan menjaga keutuhan rumah tangga mereka apapun yang terjadi.
“Ya Allah, bantu Humairah agar ikhlas menjalani rumah tangga ini. Dan juga jagalah rumah tangga kami.” Doa’nya dalam hati
“Jangan harap saya menerima pernikahan ini. Setelah ini saya buat kamu menyesal dengan pernikahan ini sehingga kamu meminta cerai dengan sendirinya.” ucap Rafa dalam hati
Rafa dan Humairah berdoa dengan niat yang berbeda. Humairah menginginkan kebaikan, namun Rafa menginginkan yang sebaliknya. Entah Doa mana yang paling kuat. Tapi Allah memiliki rencana sendiri untuk setiap hamba-Nya.
“Setelah ini kalian melakukan sesi foto.” ujar Nuara sembari tersenyum kecil
“Kenapa pakai acara foto segala, Bunda? Bukannya setelah Akad nikah langsung selesai.” ujar Rafa
“Hush."
"Jaga ucapan kamu, Rafa! Jangan membuat Ayah dan Bunda malu.”
Naura tidak habis pikir dengan jalan pikiran putranya. Sebisa mungkin beliau menutupi Aib putra dan menantunya. Naura dan Ilham tidak ingin keluarga besarnya mendengar musibah itu. Yang ada mereka akan menanggung rasa malu di hadapan keluarga besar dan orang lain.
"Jaga sikap dan perkataan kamu di hari sakral ini! Jangan coba-coba bertingkah yang membuat Ayah dan Bunda malu. Apalagi di depan keluarga mertuamu." nasehat Naura
"Huhh.. sialan!"
"Kenapa harus pakai ini-itu sih!?" gerutu Rafa dalam hati
Karena Rafa pikir setelah Akad nikah mereka kembali ke rumah masing-masing. Dan ternyata masih ada acara lainnya. Rafa merasa muak berada di tempat ini. Ingin rasanya ia melarikan diri sejauh mungkin.
"Benar-benar sialan! Siapa yang berani mencampurkan obat itu? Dan kenapa aku tidak mengetahuinya?" batin Rafa bertanya-tanya
"Aku akan mencari tahu siapa seseorang itu. Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya."
Next>>