bc

The Rose Blood & The Secret Of You

book_age16+
145
FOLLOW
1K
READ
adventure
time-travel
others
drama
icy
female lead
male lead
magical world
multiverse
supernatural
like
intro-logo
Blurb

Aneh.

Ada sepuluh ribu hal yang tidak Jovanka mengerti ketika dia terbangun di dunia ini. Semuanya tak masuk akal, fakta bahwa kekasihnya selingkuh dan kemudian dia terbangun di dunia Argenta, dunia para werewolf. Jovanka benci membaca novel Fantasy tapi dia malah terjebak di suatu kisah tak logis seperti ini. Semuanya terasa membingungkan. Termasuk salah satunya adalah pemilik mata biru safir dengan alis tebal dan hidung mancung bak perosotan di hadapannya sekarang. Jovanka mungkin akan tenggelam dalam pesonanya dan bersyukur mati-matian saat dia tahu bahwa Jevan D'movic adalah calon suaminya. Untuk ukuran perempuan seperti Jovanka, menjadi calon istri dari seorang pria tampan seperti Jevan bak mendapat lotre yang hanya hadir satu juta tahun sekali dalam hidupnya.

Tapi ini berbeda. Bagaimana Jovanka bisa bersyukur jika dia tahu bahwa dunia ini bukan dunia yang seharusnya dia tinggali dan lelaki di hadapannya ini bukan lelaki biasa. Apa kau juga akan merasa bahagia jika kamu tahu bahwa calon suamimu adalah manusia seeigala? Meski tampan tapi dia tetap bukan manusia biasa.

Satu hal yang Jovanka sadari, dia harus melarikan diri secepatnya dari dunia ini. Tapi hari demi hari bak bom waktu yang mengikatnya dengan seorang Jevan D'movic. Pria ini membutuhkannya, bukan hanya Jevan tapi seluruh Argenta membutuhkannya. Karena tanpa Jovanka sadari memang sejak awal dia tertakdir di dunia ini.

chap-preview
Free preview
Prolog
"Aku membenci dunia ini," gumam Jovanka dengan tatapan nanar dan alis mata yang menerawang keluar balkon.   "Kau mau tahu apa yang membuatku membenci dunia ini?"   Jovanka tidak sedang bertanya. Tapi dia sedang menanyakan itu pada dirinya sendiri. Jevan D'movic  menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.  Sejak awal Jovanka datang ke Argenta,  dia tahu bahwa Jovanka bukan perempuan biasa.  Argenta membutuhkan Jovanka.  Ah tidak,  lebih tepatnya  Jevan membutuhkan Jovanka.  Tapi  jika Jovanka terus berada di Argenta,  nyawa adalah taruhannya.  Perempuan ini harus segera keluar dari Argenta. Namun Jevan sendiri tidak tahu di mana pintu penghubung antara dunia Jovanka dan Argenta.   "Dunia ini terlalu sempurna untuk kutinggali," gumam Jovanka dengan mata menerawang.  Perempuan itu menghembuskan napasnya.  Dia terjebak.  Tujuan awalnya ketika dia datang ke Argenta  adalah pergi dari dunia ini.    "Karena itu sebaiknya kau pergi dari sini." Jevan mencoba menekan perasaannya sendiri. Dalam hati ada goresan luka yang dalam yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapapun. Lelaki ini mencintai Jovanka, tapi apa dia rela jika pada akhirnya Jovanka akan jadi sasaran dari kaum Morven? Mempertahankan Jovanka di sini sama seperti sebuah keegoisan. Sama artinya menjadikan Jovanka tumbal  untuk kaum Morven. Jevan tidak mau kehilangan perempuan yang dia cintai dengan cara melihat jasadnya menggantung di pohon seperti lima puluh tahun yang lalu.  Tidak! Jevan D'Movic tidak akan membiarkan Jovanka Abriela menanggung semua itu. Tapi membiarkan Jovanka pergi sama dengan membuat Jevan D'movic akan kehilangan setengah kekuatannya karena setelah hari penyatuan itu dia dan Jovanka telah menjadi satu. Setengah kekuatannya adalah milik Jovanka dan jika Jovanka pergi lelaki itu akan kehilangan setengah kekuatannya.  Lalu bagaimana Argenta bisa bertahan dari kaum Morven jika pemimpinnya saja menjadi lemah?   Jovanka menatap  Jevan D'movic dengan senyum mengembang di bibirnya. Bahasa seorang Jevan D'movic adalah sebuah kebalikan.  "Bilang saja kalau kau ingin aku bertahan,  Jevan." ujar Jovanka sambil tersenyum.   Hal yang paling dia benci ketika datang ke sini adalah dia membenci Argenta.  Jakarta lebih baik daripada Argenta, tapi bolehkah dia egois sekarang? Kakinya terlalu berat  untuk meninggalkan  dunia ini.  Argenta punya daya magis untuk memikat Jovanka  tinggal lebih lama. Lebih tepatnya bukan Argenta tapi Jevan D'movic. Jovanka ingin egois.  Dia ingin bersama lelaki ini lebih lama.   "Aku tidak bilang seperti itu." gumam Jevan.  Lelaki itu memegang bahu Jovanka untuk pertama kalinya. Jovanka mendongak. Kini tatapan mereka saling bertemu. Untuk pertama kalinya mata biru safir yang selalu sulit dibaca oleh Jovanka kini seakan memiliki ekspresi.  Lelaki ini,  seperti mengatakan Jovanka untuk tetap tinggal. Tapi ucapannya berbanding terbalik dengan apa yang diinginkannya.  Jovanka bisa membaca itu.   "Pergilah Jovanka.  Tinggalkan aku."   Tanpa rasa bersalah  Jevan D'movic meminta Jovanka untuk pergi. Perempuan itu kembali tersenyum,  "Tidak akan pernah.  Aku akan tetap di sini."   "Kau tidak  akan bisa menghadapiku ketika Black Rose Blood.  Aku bisa membunuhmu,"  gumam Jevan D'movic.   Melepaskan Jovanka adalah pilihan terbaik.  Black Rose Blood,  hari dimana  bulan bersatu dengan matahari. Hari di mana kekuatan  Jevan D'movic akan bangkit dengan level penuh dan hari di mana penduduk Argenta mengurung rajanya sendiri di Hutan Terlarang Reseveltdon, menguncinya dengan mantra Dandelium Mortsvel  dan menyediakan sepuluh tumbal  penduduk Argenta tak bersalah untuk menjadi mainan Jevan D'movic,  Jovanka tidak akan bisa mengendalikan  Jevan dengan cara seperti  saat Rose Blood, bulan purnama yang terjadi sebulan sekali di Argenta.   "Aku akan melakukan ini seperti  biasa," Jovanka memajukan tubuhnya dan mencium Jevan singkat.  Lelaki itu bergeming.   "Bahkan dengan kau menciumku lebih lama itu tetap tidak akan berhasil. Karena  itu pergilah." Jevan D'movic benar-benar  meminta dengan tatapan memohon kali ini.   "Pergi dan meninggalkanmu sendiri? Maaf aku bukan pengecut. Bahkan bila aku harus mati di tanganmu,  aku gak masalah," gumam Jovanka.   Keras kepala.  Perempuan ini memang keras kepala dan Jevan tidak akan bisa mengendalikan Jovanka seperti yang dia mau.   "Aku menemukan  CrossVeltDun, kau bisa kembali sekarang."   Mata Jovanka membulat.  Jovanka tidak pernah tahu bahwa CrossVeltDun benar-benar ada,  selama hampir setahun dia ada di Argenta, berkeliling  mati-matian, hampir mati dan tertangkap kaum Morven hanya demi mencari CrossVeltDun,  pintu penghubung antara Argenta dan dunianya.   Jika Jevan D'movic  mengatakan ini setahun lalu, mungkin sekarang  Jovanka akan berteriak kegirangan. Kembali  ke Jakarta,  menjadi manusia normal dan hidup dengan manusia biasa adalah hal yang paling  diinginkannya. Tapi entah kenapa Jovanka justru kecewa sekarang.   "Aku tidak mau kembali. Tapi bagaimana kau visa menemukan CrossVeltDun?  Apa benar pintu itu megah dengan pinggiran berlian tertempel berlian seperti yang  Hezelfin bilang? Apa benar membukanya hanya dengan mantra khusus. Bagaimana bisa kau yang menemukannya, padahal aku udah keliling ke seluruh Argenta tapi tetap tidak ketemu, ," gumam Jovanka dengan bibir mengerucut.   "Pintu itu tidak akan bisa kamu cari. Karena kita yang harus membuatnya, Jovanka," gumam Jevan D'Movic.   "Membuatnya bagaimana?  Apa aku harus mengambil kayu di hutan lalu memahatnya menjadi  sebuah pintu,  begitu?"   Jevan D'Movic hampir saja tertawa lepas jika dia tidak  ingat bahwa satu tawanya seperti  meminta tumbal satu nyawa penduduk  Argenta. Perempuan di hadapannya ini benar-benar tak terduga.  Jevan bahkan tidak percaya setiap tindakannya memicu satu rasa aneh yang tidak  pernah Jevan lakukan sebelumnya.   "Bukan begitu.  Yang jelas pintu itu tidak dapat  menemukannya," gumam Jevan.  Jevan enggan membahas ini.   "Jelaskan dengan detail,  Jevan. Kau mau aku mati penasaran gegara kau bicara setengah - setengah?" Jovanka kesal.. Perempuan  itu mengerucutkan bibirnya.   "Kau benar-benar ingin tahu? Apa kau bersedia menanggung  risikonya?" Tanya Jevan dengan tatapan yang sulit diartikan.   Jovanka mengangguk  mantap.  Dia sudah terlanjur  penasaran.  Maka tidak ada kata mundur  baginya.    "Baiklah, " Jevan berkata sambil menarik napas dalam. Inilah saatnya. Jevan sudah bersiap untuk momen ini sebelum dia mengatakannya pada Jovanka. Tapi entah kenapa perasaannya seperti  tidak rela,  dia ingin perempuan  ini tinggal lebih lama.  Jevan menepis keegoisannya sendiri. Ini kesempatan terakhir Jevan untuk  mengembalikan semua seperti semua.   "Apa kau siap?" Tanya Jevan. Jovanka mengangguk tanpa rasa ragu sedikitpun. Dia tidak tahu bahwa keyakinannya yang akan membawanya dalam sebuah penyesalan panjang.   Jevan D'movic maju tanpa ragu. Lelaki itu mengikis jarak diantara  dirinya dan Jovanka.  Jovanka tidak siap dengan langkah  Jevan yang mendekat secara tiba-tiba.  Lelaki itu meraih  pinggang Jovanka dengan tangan kokohnya.  Sementara  di sisi lain Jovanka menahan napasnya sendiri. Gadis itu tercekat saat iris mata biru safir itu menatapnya lurus.   "Kau mau apa?" gumam Jovanka dengan gugup. Jantungnya berdebar sangat kencang.   "Katanya kau ingin melihat  CrossVeltDun, huh?"   "Tapi kenapa kau dekat-dekat denganku?" Jovanka masih belum bisa menetralisir rasa gugupnya sendiri.   "Nanti kau juga akan tahu," gumam Jevan D'Movic tanpa penjelasan. Lelaki itu benar-benar mengikis jarak diantara mereka.  Jovanka tidak pernah menyangka cara untuk membuat CrossVeltDun adalah seperti ini.  Jevan  mencium bibir  Jovanka secara tiba-tiba.  Meski ini bukan pertama kalinya tapi ciuman kali ini terasa berbeda. Jovanka merasa seperti  ciuman perpisahan.   "La vrisa elylt vregros namoros prevente nadreisa en vrisos marisvesta."   Jevan D'movic mengucapkan  sebuah mantra dengan bibir yang masih menyatu dengan bibir Jovanka.  Jovanka,  benar bahwa itu adalah ciuman perpisahan tepat setelah Jevan menjauhkan dirinya semuanya menjadi ungu pekat. Jovanka benar-benar menyesali keputusannya.  Dia tidak ingin kembali dengan cara seperti ini.    

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

The Alpha's Mate 21+

read
146.6K
bc

AKU TAHU INI CINTA!

read
9.1K
bc

Time Travel Wedding

read
5.4K
bc

Romantic Ghost

read
162.6K
bc

Possesive Ghost (INDONESIA)

read
121.5K
bc

Putri Zhou, Permaisuri Ajaib.

read
4.1K
bc

Legenda Kaisar Naga

read
90.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook