Eps. 5 Sarapan Sempurna

1058 Words
Pagi di apartemen dimulai dengan suasana yang sama sekali berbeda dari kantor. Van keluar dari kamarnya dengan penampilan khas mode rumah, rambut cokelatnya acak-acakan seperti sarang burung, piyama bergaris-garis lusuh, dan matanya masih setengah mengantuk. Di dapur, Orin sudah sibuk dengan apron sederhana, rambutnya dikuncir acak-acakan tinggi, memakai kaos oblong dan celana pendek, jauh dari image desainer junior rapi yang ia tampilkan kemarin di kantor. “Terima kasih untuk makan malam yang kamu buatkan semalam,” ucap Van dengan suara serak namun ramah, senyum tulus mengembang di wajahnya yang masih berbekas kantuk. “Ah, iya. Sama-sama. Aku harap kamu suka,” balas Orin, balas tersenyum sambil membalik telur di atas wajan. “Aku sedang buat sarapan. Kamu mau?” Van sebenarnya terbiasa sarapan praktis dengan roti bakar, sereal, atau bahkan sisa makanan kemarin yang dipanaskan. Tawaran Orin terasa seperti kemewahan. “Apa nggak ngrepotin kamu?” tanyanya, ragu. “Nggak, lagipula nggak akan habis kalau aku makan sendirian,” jawab Orin polos, mengangkat bahu. “Baik, kalau begitu terima kasih,” ujar Van lalu duduk di kursi makan, mengamati Orin yang kini bergeser menyiapkan piring. Dalam keheningan pagi yang hangat ini, tidak ada yang terpikir oleh mereka bahwa mereka baru saja bertemu kemarin dalam peran yang sangat berbeda, satu sebagai bos yang ditakuti, satunya lagi sebagai bawahan yang cemas. Di sini, mereka hanya dua roommate yang saling berbagi sarapan, sama-sama tidak menyadari kehidupan ganda yang sedang mereka jalani. Orin selesai memasak dan menghidangkan dua piring sarapan sederhana namun penuh warna, nasi goreng spesial dengan potongan ayam suwir, telur dadar iris, dan taburan bawang merah goreng, disertai tumis kangkung terasi di sampingnya. Ada juga sambal tomat dan kerupuk kecil sebagai pelengkap. “Sarapan sudah siap, Van. Aku harap ini masih masuk dengan selera kamu,” ujar Orin sambil menempatkan piring di hadapannya. Van menatap hidangan itu dengan mata berbinar, inilah sarapan lengkap pertama yang ia lihat di meja makan apartemennya sendiri setelah bertahun-tahun hanya mengandalkan roti panggang, sereal, atau makanan beku. “Dari baunya enak sekali, pasti rasanya lebih enak,” celotehnya antusias. Begitu ia mencoba sesuap nasi goreng, ekspresinya langsung berubah senang. “Wah, ini enak banget!” ucapnya sambil memberikan jempol dua, senyum lebar tersungging di wajahnya. Di tengah makan, rasa penasaran Van muncul. “Kamu kerja di mana, Rin?” “Oh, aku cuma pekerja baru sebagai desainer grafis junior di sebuah agensi iklan,” jawab Orin santai, tidak menyebut nama perusahaan agar tidak terdengar sombong. Van hanya mengangguk, tidak bertanya lebih lanjut. Pikirannya sama sekali tidak menghubungkan "desainer grafis junior" dengan departemen kreatif di perusahaannya sendiri. Justru, perhatiannya lebih pada kenyamanan Orin sebagai roommate. “Kalau kamu butuh sesuatu di sini, misal pipa bocor atau mau angkat paket berat, bisa minta tolong padaku,” tawarnya sambil menyendok nasi lagi. “Terima kasih, Van,” balas Orin dengan hati hangat. Dalam hati, ia benar-benar merasa beruntung menemukan teman serumah yang baik seperti Van di tengah kerasnya kehidupan kota ini. Ironisnya, keduanya tidak tahu bahwa "kebaikan" yang mereka rasakan ini akan segera diuji oleh realitas lain yang sama sekali berbeda di balik pintu kantor. Van menyendok suapan terakhir nasi gorengnya dengan lahap, lalu menyeruput teh hangat yang disiapkan Orin. “Terima kasih banyak untuk sarapan paginya, Rin. Beneran enak,” ucapnya dengan suara lebih cerah dari biasanya. “Aku masih ada urusan lain yang harus diselesaikan, jadi mau duluan ya.” Dia beranjak dari kursi, membawa piring kosongnya ke wastafel sebelum melangkah menuju kamarnya. “Ya, Van. Tak perlu sungkan. Sama-sama,” jawab Orin sambil tersenyum, mengangkat tangannya sebagai salam. Pintu kamar Van tertutup perlahan, meninggalkan Orin sendirian di ruang makan yang tiba-tiba terasa hening. Sambil membersihkan meja, pikirannya mulai mengembara. 'Van ini profesinya apa, ya? Pria itu selalu terlihat punya waktu fleksibel, kadang di rumah seharian, tapi juga sering bilang "ada urusan". Mungkinkah dia freelancer ? Atau punya bisnis online? Tapi apartemen ini bagus, dan caranya bicara kadang terkesan... tajam, meski selalu disamarkan dengan sikap santai.' Orin menggeleng, mencoba mengusir rasa penasaran yang tak penting. “Sudahlah, yang penting dia baik dan nyaman sebagai roommate,” lirihnya pada diri sendiri. Dia pun bergegas membereskan dapur, lalu masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian kerja. Tak lama kemudian, Orin sudah berdiri di depan cermin dengan blus rapi dan rambut yang disanggul ketat, sepenuhnya berubah menjadi "Orin si desainer junior" yang siap menghadapi hari kedua di bawah bayang-bayang "Bos Iblis" tanpa sedikit pun menyadari bahwa pria yang baru saja ia beri sarapan adalah sumber ketakutannya itu. Orin sudah siap dengan blazer tipis dan tas kerjanya. Sebelum pergi, pandangannya tertuju pada pintu kamar Van yang masih tertutup rapat. Tidak ada suara apa pun dari dalam. Misteri tentang pria itu kembali menggelitik pikirannya. 'Apa yang sebenarnya ia kerjakan di balik pintu itu sepanjang hari?' Namun, jarum jam terus berdetak. Dengan sedikit gelengan kepala, Orin menarik napas dan membuka pintu apartemen. Ia melangkah keluar, meninggalkan kehangatan dan keheningan rumah. Sepanjang perjalanan ke kantor, pikirannya masih sesekali melayang pada Van, sosok roommate yang baik namun penuh teka-teki. Tapi begitu gedung kantornya mulai terlihat, semua pikiran itu segera tersapu oleh realitas yang lebih nyata, ketegangan, tenggat waktu, dan sosok "Bos Iblis" yang menunggu. Misteri Van harus ia pendam dulu, setidaknya sampai malam nanti. Orin menarik kursi kerjanya dengan hati-hati, mencoba tidak menimbulkan suara berisik. Suasana di ruangan itu begitu tegang, padahal jarum jam baru menunjukkan pukul 7.35. Laksmi dan rekan-rekan lainnya sudah duduk membungkuk di depan laptop, wajah mereka serius dan pucat, mata mereka terpaku pada spreadsheet atau dokumen yang penuh dengan komentar merah. Suara ketikan keyboard terdengar seperti tembakan cepat di tengah keheningan yang mencekam. “Laksmi, tugasmu banyak hari ini?” tanya Orin pelan, mencoba memecah kebekuan. “Iya,” jawab Laksmi singkat, tanpa sekalipun menoleh. Jari-jemarinya terus menari di atas keyboard. “Aku dapet banyak revisi dari Bos Iblis untuk laporan klien kemarin. Dan ini,” katanya sambil akhirnya melirak ke Orin sepersekian detik, “Harus selesai sebelum dia datang ke kantor. Kalau nggak…” Kalimatnya terpotong, tapi nada suaranya sudah cukup menjelaskan konsekuensinya. Orin mengangguk pelan, rasa lega karena berhasil tiba lebih awal tiba-tiba menguap. Dia membuka laptopnya, mempersiapkan diri untuk menghadapi hari yang mungkin akan sama beratnya atau bahkan lebih dari kemarin. Bayangan “Bos Iblis” yang belum muncul itu sudah terasa seperti awan gelap yang menutupi seluruh ruangan. “Revisiku juga banyak,” gumamnya dengan bibir bergetar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD