“Kamu sudah selesai revisinya?” tanya Laksmi tiba-tiba, suaranya datar namun terasa seperti pemeriksaan.
Matanya masih tertancap di layarnya, tapi perhatiannya jelas mengarah ke Orin yang masih terlihat bingung di depan laptop yang baru saja dinyalakan.
Orin tersentak. “Ah, iya... belum. Sebenarnya belum selesai, masih kurang sedikit,” jawabnya dengan suara gugup, jari-jarinya segera menari membuka file desain yang penuh dengan komentar merah dari Sora.
Dia menghela napas dalam hati. Semalaman ia bergadang mengerjakan revisi itu, sampai akhirnya tertidur di atas meja kerjanya di kamar kosong. Mata masih berat, tapi rasa takut akan kritikan lebih pedas dari Sora membuatnya tetap terjaga.
“Semoga saja nanti tidak ada yang direvisi lagi,” gumamnya pelan, hampir seperti doa, sambil memulai perbaikan pada bagian color grading yang disebutkan terlalu "flat".
“Berdoa saja seperti itu,” sahut Laksmi tanpa menoleh, suaranya terdengar bergetar meski ia berusaha tenang.
Wajahnya tegang, alisnya berkerut mendalam, dan bibirnya terkunci rapat menahan stres. Tangannya sesekali meremas pelipis, tanda tekanan tinggi yang ia tanggung.
Di layarnya, dokumen presentasi untuk klien besar dipenuhi dengan komentar berwarna merah dari Sora yang setiap katanya seperti perintah mutlak bila pekerjaan itu tidak cukup data, analisisnya dangkal dan memintanya mengulang.
Orin melirik sekilas ke arah Laksmi, lalu ke sekeliling ruangan. Semua orang terpaku pada layar masing-masing, wajah-wajah mereka pucat dan bahu mereka tegang.
Suasana di ruangan itu seperti ruang gawat darurat sebelum operasi besar, hening, penuh ketegangan, dan dipenuhi oleh ketakutan akan satu sosok, Bos Iblis yang belum datang, namun kehadirannya sudah terasa menguasai setiap napas.
Sementara di apartemen, Sora baru keluar dari kamarnya dua jam setelah sarapan.
“Tinggal sedikit yang belum aku periksa,” desahnya sambil mengusap mata. “Sebaiknya aku lanjut di kantor nanti.”
Dia tidak menyadari waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, sangat terlambat menurut standar kebanyakan orang, tapi bukan masalah baginya. Pandangannya tertuju ke pintu kamar Orin yang tertutup rapat.
“Mungkin dia sudah berangkat,” gumamnya, lalu bergegas ke kamar mandi.
Setelah mandi, dia berdiri di depan cermin panjang di kamarnya. Proses transformasi dimulai. Rambut yang tadi acak-acakan kini disisir rapi ke belakang dengan pomade, memberi kesan tajam dan tanpa ampun.
Kemeja putih lengan panjang dari bahan premium dikancingkan hingga ke leher, dipadu dengan celana hitam yang disetrika licin. Jaket blazer abu-abu gelap disampirkan di satu lengan. Wajahnya yang tadi santai dan ramah kini menjadi dingin, terukur, dengan ekspresi datar yang memancarkan kewibawaan dan otoritas mutlak.
Dia adalah gambaran kesempurnaan profesional yang dingin dan klinis, sangat bertolak belakang dengan "Van" yang berpiama dan berambut acak.
“Semoga saja di kantor nanti nggak banyak tugas revisi,” gumamnya pada bayangannya sendiri, lebih seperti mantra untuk menenangkan diri sebelum masuk ke medan perang.
Setelah merasa penampilannya sempurna, Sora mengambil tas kerjanya yang berisi laptop dan setumpuk printout desain staf yang sudah ia beri catatan pedas. Langkahnya tegas dan cepat meninggalkan apartemen, menuju mobil hitam yang terparkir rapi.
Ketika mobilnya berhenti di depan gedung kantor, sebuah notifikasi otomatis terpantau di sistem keamanan internal. Di ruang kerja, lampu kecil di sudut monitor setiap staf berkedip merah dua kali, disertai bunyi 'ding' pelan namun jelas dari sistem komunikasi internal. Itu adalah alarm khusus yang hanya aktif saat Sora memasuki gedung.
“Bos Iblis datang,” bisik Laksmi dengan suara datar namun penuh tekanan, dan seketika seluruh ruangan seperti disetrum. Ketukan keyboard yang tadi riuh menjadi hening, semua bahu menegak.
Orin, yang masih asing dengan sistem itu, terlihat bingung. Tapi melihat rekan-rekan di sekitarnya tiba-tiba pucat dan panik, dia pun ikut dilanda kecemasan.
Hanya beberapa menit kemudian, pintu utama ruang kreatif terbuka dengan hentakan tegas. Langkah kaki berat yang berirama sempurna menggema di lantai kayu. Aroma parfumnya, kombinasi kayu oud, amber, dan sedikit kesan metalik tersebar, bukan menenangkan, melainkan justru menegangkan dan menandakan d******i.
Sora Ivander berdiri di ambang pintu, tatapan tajamnya menyapu setiap sudut ruangan seperti predator yang memindai wilayah kekuasaannya. Suasana yang tadi sudah tegang, kini membeku sepenuhnya.
“Pekerjaan kemarin sudah aku periksa. Silakan dilihat. Bagi yang tidak ada, bisa ambil di ruanganku,” ucap Sora dengan suara datar yang memotong keheningan. Ia menyerahkan setumpuk file tebal, masing-masing berisi printout desain yang sudah penuh dengan coretan tinta merah dan catatan pedas kepada staf yang berdiri paling dekat dengannya.
“Baik, Pak Sora,” jawab staf itu dengan suara hampir bergetar, menerima tumpukan itu dengan kedua tangan seperti menerima benda sakral yang berbahaya.
Begitu Sora berbalik dan masuk ke ruang kerjanya yang berkaca, semua staf segera berkerumun. Mereka dengan cepat memilah-milah file, mencari nama mereka masing-masing dengan ekspresi campur cemas dan harap.
“Syukur, punyaku sudah tidak ada revisi lagi setelah tujuh kali revisi!” seru seorang desainer senior sambil mengusap keringat di dahinya, wajahnya lega sekali seolah baru lolos dari hukuman mati.
Tapi tak semua bernasib sama. “Aduh, punyaku masih revisi lagi padahal sudah tujuh kali aku revisi,” keluh staf lain sambil memeluk file itu dengan putus asa.
“Sama, punyaku juga masih harus direvisi lagi. Padahal ini sudah revisi ke-delapan. Apa lagi yang kurang?”
Orin, yang belum menyerahkan file, mulai bingung. Jantungnya berdebar lebih kencang. “Lalu... punyaku bagaimana? Apa aku harus menyerahkannya langsung pada Pak Sora?” tanyanya pada Laksmi dengan suara kecil.
Laksmi yang baru saja menemukan filenya, langsung mengerutkan kening melihat isinya, menoleh pada Orin. “Ya, sebaiknya begitu. Kalau kamu belum serahkan, berarti kamu harus menyerahkan langsung padanya di ruangan,” nasihatnya sambil menarik napas dalam. “Tapi siapkan mental. Biasanya, kalau staf baru, ada banyak yang harus dibahas... atau direvisi.”
Dengan kaki sedikit gemetar, Orin mengangguk. Dia melangkah pelan menuju ruang kaca yang seperti sangkar predator itu, sambil berusaha mengingat semua revisi yang sudah dia kerjakan semalaman. Tapi di lubuk hatinya, ada firasat bahwa ini baru awal dari ujian sebenarnya.
Orin mengetuk pintu ruang kaca dengan ringan, namun terdengar keras di tengah keheningan.
“Masuk.” Suara datar terdengar dari dalam.
Dia melangkah masuk, ruangan terasa dingin. “Pak Sora, ini hasil revisi saya, mohon diperiksa,” ucapnya sambil menyerahkan laptop.
Sora mengangkat wajah, tatapannya seperti pisau bedah yang siap membedah setiap piksel di layar.