“Oh, kamu anak baru kemarin rupanya,” balas Sora dengan nada datar, menatap Orin selama beberapa detik yang terasa panjang. Matanya mengamati, namun tidak ada kilatan pengenalan,hanya penilaian profesional yang dingin.
“Ya, Pak. Benar,” jawab Orin, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
“Kamu duduk sebentar, aku periksa sekarang.” Sora mengangkat tangan, menunjuk ke kursi kosong di seberang meja kerjanya yang luas dan sangat rapi.
Orin mengangguk dengan kaku, perasaan canggung dan gugup memenuhi dadanya. Dia menarik kursi secara perlahan, lalu duduk di tepinya dengan punggung tegak dan tangan tergenggam erat di pangkuan. Ketegangan terasa begitu nyata di udara ber-AC itu.
Sora mengambil laptop Orin, matanya langsung menyapu layar. Ia memeriksa dalam keheningan total selama beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam bagi Orin. Jari-jarinya sesekali men-scroll, berhenti, lalu scroll lagi.
“Ini punyamu?” tanyanya tiba-tiba, tanpa melihat Orin. “Masih banyak kurangnya.” Suaranya seperti palu yang memecah keheningan. “Di bagian color grading masih flat, tidak ada depth. Typography hierarchy-nya masih berantakan, judul tidak dominant, body text terlalu padat. Dan yang paling parah, konsep visualnya tidak punya storytelling. Ini cuma kumpulan elemen, bukan sebuah narasi.” Setiap kritikan diucapkan dengan presisi pedas, langsung ke inti kelemahan.
Orin, yang sudah diberi peringatan oleh Laksmi, berusaha kuat mendengarkan. Rasanya seperti ditimpa beban berat, tapi dia menahan napas, mencerna setiap kata.
“Karena kamu masih baru,” lanjut Sora, nadanya sedikit, hanya sedikit berubah, mungkin seperti upaya memberi arahan. “Jadi, kamu perlu perbaiki dengan pertama, buat moodboard baru untuk menentukan tone dan emosi. Kedua, pelajari prinsip visual storytelling. Ketiga, kerjakan tiga opsi konsep yang benar-benar berbeda, jangan hanya variasi kecil. Aku mau lihat pemikiranmu, bukan eksekusi teknis buta.”
“Baik, Pak Sora. Terima kasih,” jawab Orin dengan suara kecil namun jelas. Dia menerima kembali tabletnya, lalu berbalik dan keluar dari ruangan itu.
Kaki dan tubuhnya masih gemetar halus, dadanya berdebar kencang seperti baru saja berlari maraton. Kembali ke kursinya, dia meletakkan tablet dengan hati-hati, lalu menarik napas dalam-dalam.
Rasanya dunia masih berputar, tapi setidaknya dia punya petunjuk yang jelas dan kejam untuk diperbaiki. Dan entah mengapa, di balik semua ketakutan itu, ada sedikit tekad yang mulai menyala, dia akan buktikan bahwa dia bisa lebih dari ini.
Orin kembali ke tempat duduknya dengan langkah gontai. Wajahnya pucat, tubuhnya masih bergetar halus, efek sisa dari tatapan dingin dan kritikan telak Sora. Dia duduk dengan berat, seolah seluruh tenaganya habis terkuras di ruangan itu.
Laksmi meliriknya, matanya penuh pengertian. “Kamu masih dapet revisi?” tanyanya, meski sudah bisa menebak dari tampang suram Orin.
"Ya," jawab Orin lirih, suaranya pecah. "Padahal aku sudah berusaha maksimal... Tapi kenapa masih kurang?"
“Di sini, revisi tujuh kali sampai sepuluh kali itu biasa,” ujar Laksmi, berusaha memberi semangat. “Kamu baru dua kali ini. Masih awal.”
Namun, niat menghibur itu justru membuat Orin semakin down. Tujuh sampai sepuluh kali? Itu berarti hari-hari seperti ini masih akan terus berulang, mungkin selama berminggu-minggu ke depan.
"Ya, Laksmi," balasnya hanya dengan satu kata pelan, tak sanggup berkata lebih.
Dia meletakkan tabletnya di atas meja dengan hati-hati, lalu menarik napas dalam-dalam. Matanya memejam sebentar. 'Aku bisa. Aku pasti bisa. Aku tidak datang sejauh ini untuk menyerah di hari kedua,' bisiknya pada diri sendiri, mencoba memadamkan kepanikan dan menyalakan tekad.
Melihat rekan-rekan di sekitarnya yang masih sibuk membenahi revisian mereka masing-masing dengan wajah pasrah namun tekun, Orin pun membuka kembali file desainnya.
Dengan gigitan bibir, ia mulai mengeksekusi arahan Sora satu per satu, mencari referensi moodboard, mempelajari visual storytelling, dan menyusun kerangka untuk tiga konsep yang benar-benar berbeda. Kakinya mungkin masih gemetar, tapi jari-jarinya mulai bergerak lagi.
Hampir di penghujung jam kerja, Orin akhirnya menyelesaikan revisinya. Proses itu menghabiskan tenaga, konsentrasi, dan kekuatan mental penuh. Rasanya seperti baru menyelesaikan maraton.
“Laksmi, boleh aku serahkan ini langsung pada Pak Sora?” tanyanya dengan suara lelah namun penuh harap.
“Kamu sudah selesai, Orin? Luar biasa cepat!” Laksmi terkejut, matanya membesar. Biasanya revisi sebanyak itu memakan waktu hingga esok hari.
“Entah, yang jelas aku ingin ini cepat selesai,” jawab Orin jujur, tidak ingin terbebani lebih lama.
“Coba saja kamu langsung masuk ke ruangannya. Tapi hati-hati, dia mungkin sedang sibuk.”
Orin mengangguk, lalu berjalan kembali ke ruang kaca itu. Dengan napas yang ditahan, ia mengetuk pintu. “Pak Sora, permisi. Aku baru saja selesai merevisi.”
Sora, yang sedang sibuk mengetik dengan cepat di laptopnya, sama sekali tidak menatap wajah Orin. “Ya. Taruh di meja sini. Nanti aku akan periksa,” balasnya singkat, suara datar tanpa emosi.
“Baik, Pak.” Orin melangkah pelan, meletakkan tablet dengan file revisinya di tepi meja kerja Sora yang sangat rapi.
Pria itu tetap tidak melirik, fokusnya sepenuhnya pada layar komputernya. 'Dingin sekali atasanku ini,' pikir Orin dalam hati, sedikit kesal tapi juga pasrah.
Dia kembali ke tempat duduknya, tubuh terasa ringan namun hampa. Sambil menunggu jam pulang, ia hanya bisa menatap jarum jam yang bergerak lambat, sambil berharap revisi kali ini cukup baik untuk tidak membuatnya kembali bergadang semalaman.
Jam pulang tiba. Beberapa staf segera berkemas, sementara yang lain masih bertahan dengan wajah lelah, entah karena lembur terpaksa atau takut pulang sebelum bos. Orin memilih pulang karena tak ada perintah lembur eksplisit. Ruang kerja perlahan sepi.
Sementara itu, di balik dinding kaca, Sora masih duduk tegak di kursinya. Tumpukan folder dan tablet masih menunggu untuk diperiksa. Dia mengambil dari tumpukan paling atas. Matanya menangkap nama "Orin Daniella" di catatan sampul.
“Ini punyanya anak baru tadi? Dia merevisinya dengan cepat...,” pikirnya, sedikit terkesan.
Saat membuka file, ia melihat peningkatan yang signifikan dari draft pertama. “Sepertinya dia diamond mentah. Perlu diasah lebih keras lagi agar benar-benar matang.”
Namun, mata tajamnya langsung menangkap beberapa kesalahan baru dan detail yang masih kurang presisi. Dengan cepat, ia memberikan catatan digital di bagian-bagian yang perlu diperbaiki.
"Konsep B, tone color inconsistent. Hierarchy typo masih ambigu. Perkuat visual hook di 3 detik pertama."
**
Orin membuka pintu apartemen, keheningan memyambut. Lampu ruang tamu menyala redup, tapi tak ada tanda-tanda kehidupan.
“Van belum pulang?” gumamnya, matanya tertuju pada pintu kamar yang masih terkunci rapat.
Perasaan campur aduk menghampirinya, lega bisa istirahat sendiri, tapi juga sedikit kesepian. Hari yang panjang rasanya belum benar-benar usai.