Eps. 3 Hari Pertama Masuk

1020 Words
Van kemudian masuk ke dapur, merogoh kulkas untuk mengambil roti tawar, dua butir telur, dan selai stroberi. Dengan gerakan terbiasa, ia pecahkan telur ke dalam mangkuk, mengocoknya dengan sedikit su-su, lalu mencelupkan roti ke dalamnya. Roti itu kemudian dipanggang di wajan hingga keemasan. Hasilnya ia olesi tipis dengan mentega, lalu di atasnya diberi selai stroberi yang manis-asam. Sementara teko dipanaskan, ia menyeduh secangkir mokaccino pekat, espresso dengan busa su-su lembut dan sedikit bubuk cokelat di atasnya. Dia membawa sarapan sederhana itu ke meja. Sesekali matanya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul delapan lebih. “Aku ke kantor nanti saja. Ini terlalu pagi,” gumamnya santai sambil menyobek roti panggangnya yang hangat. Sebagai bos, ia punya hak istimewa untuk datang siang. Untuk sekarang, yang ia butuhkan hanyalah mokaccino-nya dan kesunyian apartemen yang sudah tak lagi terlalu sepi. Semetara itu Orin tiba di lobi gedung perkantoran modern setinggi 20 lantai itu dengan napas sedikit tersengal. Ia berangkat jalan kaki karena jarak apartemen barunya ternyata sangat dekat, hanya 15 menit. Sebuah keberuntungan kecil di hari pertamanya. “Nggak terlambat,” ucapnya lega, menatap jam tangan yang menunjukkan pukul 7.20 pagi, masih 40 menit sebelum jam kerja resmi. Dia menghela napas sambil mendorong pintu kaca tebal yang berlapis chrome. Udara dingin AC langsung menyambutnya. Interiornya minimalis dan serba putih, dengan aksen kayu dan tanaman hijau yang tertata rapi. Suasana terlihat profesional namun sedikit steril. Di area meja penerima tamu, beberapa staf sudah terlihat sibuk. Orin mendekat dengan senyum ramah. “Halo, pagi,” sapanya. Seorang wanita dengan kacamata tipis menatapnya sekilas. “Kamu desainer junior baru?” tanyanya singkat, tanpa ekspresi. “Iya, perkenalkan namaku Orin Daniella,” jawab Orin antusias, mengulurkan tangan untuk bersalaman. Namun, jabat tangan itu menggantung di udara. Wanita itu hanya mengangguk dingin, sementara rekan di sebelahnya malah memalingkan muka. Suasana tiba-tiba jadi canggung. “Ya, sudah. Mulai saja bekerja. Kubikelmu ada di sana, meja kamu dekat tanaman lidah mertua,” ujar wanita itu sambil menunjuk ke arah deretan meja terbuka. “Untuk tugas hari pertama, aku belum tahu. Tapi kamu bantu aku dulu menyelesaikan laporan klien ini sampai nanti bos datang.” Orin menarik kembali tangannya dengan rasa kecewa yang menusuk. Hatinya terasa sedikit ciut. Apakah ini kultur kerja di sini? Dingin dan tidak ramah? Tapi dia tak punya pilihan. Dengan senyum tipis yang dipaksakan, ia hanya mengangguk patuh. “Baik, terima kasih,” ucapnya lembut sebelum berbalik menuju tempat kerjanya. Di balik senyuman itu, hati kecilnya mulai bertanya, apakah hari-hari di sini akan selalu se-dingin ini? Orin duduk di kubikelnya, mencoba menenangkan diri dengan mengamati sekeliling. Di meja di sebelah kanannya, terpampang papan nama kecil bertuliskan "Rangga Aditya – Senior Designer". Orangnya belum terlihat. Sementara di meja sebelah kirinya, papan nama bertuliskan "Maya Wulandari – Content Strategist". Wanita yang tadi memberinya tugas dengan nada dingin itu ternyata bernama "Laksmi Dewi – Project Coordinator", sesuai papan nama di meja tepat di depannya. Baru beberapa menit Orin membuka laptop dan mencoba memahami file laporan klien yang diberikan Laksmi, suara yang sama kembali terdengar. “Apa kamu ada kesulitan?” tanya Laksmi tanpa mengangkat pandang dari komputernya, nada datar namun kini terdengar sedikit lebih lunak atau mungkin itu hanya bayangan Orin. Orin tersentak. “Belum, Mbak Laksmi. Nanti kalau ada yang kurang jelas, aku akan tanya langsung,” jawabnya dengan sopan, berusaha menampilkan sikap kooperatif. Laksmi hanya mengangguk singkat sebelum kembali fokus. Orin pun menarik napas dan mulai mengerjakan. Tugas pertamanya adalah melakukan tracing dan koreksi visual pada serangkaian banner iklan digital untuk klien produk skincare. File-file yang diberikan masih berupa draft kasar, komposisi warna belum konsisten, tipografi berantakan, dan beberapa elemen grafis perlu diperhalus. Dengan tekun, Orin membuka software desain, tangan-tangannya mulai lincah menyesuaikan warna pantone, merapikan grid layout, dan memperbaiki spacing antara teks dan gambar. Meski hati masih sedikit terasa berat, ia bertekad menyelesaikan bagian ini dengan sempurna. Setidaknya, ini bisa menjadi pembuktian pertama atas kemampuannya. Setelah dua jam berkonsentrasi penuh, Orin akhirnya menyelesaikan koreksi dan perbaikan pada serangkaian banner iklan itu. Dengan sedikit deg-degan, dia menghampiri meja Laksmi. “Mbak, ini sudah selesai. Boleh dicek? Apakah ada yang kurang atau perlu diperbaiki lagi?” tanyanya sambil menyerahkan laptopnya. Laksmi mengambil alih, matanya menyapu cepat setiap detail konsistensi warna, kerapian tipografi, presisi alignment. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang membuat Orin menahan napas. “Lumayan. Not bad untuk pertama kali,” ujar Laksmi akhirnya, meski ekspresinya tetap datar. “Tapi bukan aku decision maker-nya di sini. Semua final approval ada di tangan Pak Sora.” “Pak Sora?” tanya Orin, masih polos. Laksmi menatapnya dengan pandangan yang tiba-tiba berubah, seolah Orin baru saja menyebut nama yang tabu. “Iya. Bos kita. Creative Director.” Dia menurunkan suaranya menjadi hampir berbisik. “Tapi kami di sini biasa memanggilnya… Bos Iblis.” “B-Bos Iblis?” pekik Orin tanpa sengaja, suaranya terdengar lebih kencang dari yang ia rencanakan. Beberapa kepala di sekitarnya menoleh sebentar sebelum kembali fokus pada layar masing-masing. “Ssst! Kencang amat,” desis Laksmi dengan mata melotot kecil. “Iya, dia belum datang. Biasanya siang baru muncul. Nanti kalau dia sampai, aku akan tunjukkan pekerjaan ini padanya sekaligus menanyakan tugas spesifik untukmu.” “O-oh… baik. Terima kasih, Mbak,” balas Orin dengan suara kecil, hatinya berdebar kencang. Bos Iblis. Julukan itu saja sudah cukup membuat darahnya berdesir dingin. Hari pertama ini tiba-tiba terasa lebih menakutkan dari yang ia bayangkan. Pintu utama ruang kerja terbuka dengan hentakan tegas. Semua kepala langsung tertunduk, suasana berubah jadi tegang dan senyap. Sora Ivander melangkah masuk dengan aura menguasai. Rambutnya rapi tersisir, kemeja putih lengan panjang digulung hingga siku, matanya tajam menyapu ruangan. “Selamat siang, Pak Sora,” sapa beberapa staf serempak, suara mereka bergetar. “Hm,” sahutnya singkat, tanpa senyum. Lalu, tatapan dinginnya berhenti pada sosok baru di kubikel dekat tanaman. Pada Orin, yang wajahnya pucat dan tangan gemetar memegang mouse. Mata Sora menyiratkan pertanyaan singkat, siapa junior baru ini? Tapi tidak ada secercah pengenalan. Dia sama sekali tidak mengenali wanita yang sebelumnya masih mengobrol santai dengannya di apartemen. Baginya, Orin hanyalah satu dari sekian banyak bawahan yang harus dia kendalikan. “Kamu staf baru?” tanyanya tegas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD