Dengan hati-hati, Orin melangkah lebih dalam ke dalam apartemen itu, sementara Van mundur ke sofa dan mengambil kembali buku yang tadi terbuka. Suasana di dalam terasa nyaman, terlalu nyaman untuk sebuah apartemen sewaan.
Udara hangat dan aroma kopi ringan masih menggantung di ruang keluarga. Ruang tamu bersambung ke dapur kecil yang teratur, peralatan masak berkilau meski tampak jarang dipakai.
Di sudut dapur, Orin melihat dua cangkir keramik bergaya minimalis, seolah mengisyaratkan bahwa Van pernah mengharapkan kehadiran orang lain di sini.
“Silakan lihat kamarnya, ada dua. Satu sudah aku pakai, yang satunya kosong,” ujar Van tanpa mengangkat pandangan dari bukunya, suaranya tenang namun tetap ramah.
Orin mengangguk dan membuka pintu kamar yang ditunjuk. Kamar itu lebih dari cukup untuknya, luas, dengan jendela besar menghadap ke arah berbeda dari ruang tamu, memperlihatkan pemandangan atap-atap rumah dan pepohonan yang masih basah oleh hujan.
Kasur single tanpa sprei, lemari kosong, dan meja kayu sederhana. Tidak ada yang mencurigakan, justru terasa seperti kanvas kosong yang menunggu untuk diisi.
Namun, ketika ia berbalik, matanya menangkap pintu kamar Van yang sedikit terbuka. Dari celah itu, terlihat sudut ruangan yang berantakan, kaos bertumpukan, kertas berserakan di lantai, dan sketsa-sketsa yang menempel di dinding. Sangat kontras dengan kerapian ruang lainnya. Orin mengernyit, tapi segera mengusir pikirannya. Masing-masing punya privasi, batinnya.
“Semua sudah sesuai, Pak Van. Aku akan tempati apartemen ini sekarang,” ucap Orin kembali ke ruang tamu.
Van akhirnya menatapnya, senyum kecil kembali muncul. “Panggil saja Van. ‘Pak’ terdengar terlalu kaku untuk roommate.”
“Roommate?” Orin sedikit terkejut. Iklan itu tidak menyebutkan bahwa mereka akan berbagi apartemen.
“Iya, aku tinggal di sini. Tapi jangan khawatir, aku jarang di rumah. Dan kalau pun di rumah, aku nggak ganggu,” jelasnya santai, seolah itu hal yang wajar.
Orin terdiam sejenak. Tapi sekali lagi, harga yang tak bisa ditolak dan waktu yang mendesak membuatnya mengalah. Ia menghela napas, lalu mengangguk. “Baik, Van. Senang bekerja sama.”
Saat ia berpamitan dan melangkah keluar, rasa lega bercampur dengan kecemasan yang samar. Apartemen itu sempurna, tapi ada terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab, terutama tentang pria berambut acak itu, yang matanya tadi sesaat terlihat tajam dan dalam, sebelum kembali tersembunyi di balik senyum santainya.
Setelah pintu tertutup, Orin berjalan menjauh dengan perasaan ganjil. Apartemen itu sempurna, tetapi ada sesuatu yang mengusiknya, mata Van yang tiba-tiba tampak terlalu tajam untuk seseorang yang begitu santai.
Ia menggeleng, berusaha meyakinkan diri bahwa kekhawatirannya berlebihan. Kunci apartemen di genggamannya terasa dingin dan berat, seperti sebuah pintu menuju kehidupan baru yang tak sepenuhnya ia pahami.
Sementara itu, di balik pintu apartemen, "Van" berdiri diam. Senyum santainya perlahan menghilang, digantikan oleh ekspresi kosong yang biasa ia tunjukkan di kantor.
Perlahan, ia berjalan ke kamarnya yang berantakan, melemparkan piyama ke sudut, dan menatap sketsa desain yang tertempel di dinding, salah satunya adalah konsep yang pernah ditolaknya mentah-mentah dari tim desain kemarin.
Van memilah sketsa dengan mata kritikal yang sama seperti di kantor. “Yang ini cocok, konsepnya kuat dan eksekusi visualnya matang,” gumamnya, meletakkan satu desain di tumpukan "setuju".
Lalu ia mengambil desain lain, mengerutkan kening. “Yang ini... kurang greget. Tidak ada 'punch'-nya, terasa aman dan generik. Komposisinya kaku.” Kertas itu ia geser ke tumpukan "tolak".
Tangannya tiba-tiba berhenti. Di balik tumpukan kertas, pikirannya melayang pada wanita yang baru saja pergi.
“Orin... tadi aku lupa nggak tanya dia kerja di mana ya?” desisnya pada ruangan yang sunyi.
Pertanyaan itu terasa aneh baginya, karena ia tak pernah benar-benar peduli dengan kehidupan personal calon roommate sebelumnya.
Tapi ada sesuatu pada Orin yang membuatnya ingin tahu. Ia menggeleng, kembali fokus pada sketsa.
Sementara itu Orin duduk di atas kasur apartemen barunya, ia menatap dinding kosong sambil membiarkan perasaan lega perlahan mengisi dadanya. Setidaknya, masalah tempat tinggal sudah teratasi.
Namun, di balik itu, masih ada kabut kecemasan yang mengganjal, terutama tentang Van dan apartemen sempurna yang terlalu murah.
Pikirannya kemudian melompat ke hari esok. Hari pertama kerja di agensi impian. Jantungnya berdegup campur harap dan takut.
“Semoga besok lancar. Aku bertemu rekan kerja yang baik... dan atasan yang bisa membimbingku, bukan menghancurkan semangatku,” gumamnya pelan, seperti sebuah doa. Ia membayangkan meja kerjanya, proyek pertama, dan wajah-wajah baru.
Tapi di sela-sela harapannya, bayangan menakutkan tentang "Bos Iblis" yang sering menjadi buah bibir di industri itu menyelinap.
Ia menggenggam erat ujung selimut, berusaha mengusir pikiran buruk. Malam ini, ia butuh istirahat. Besok adalah peperangan baru yang harus ia hadapi dengan senyuman dan keyakinan.
**
Pagi hari di apartemen baru itu terasa sunyi dan sedikit asing. Orin sudah duduk di meja makan, menghabiskan semangkuk sereal sederhana.
Suara sendoknya yang berdenting di mangkuk keramik terdengar nyaring dalam keheningan yang hampir tak wajar. Tanpa sengaja, pandangannya tertuju pada pintu kamar Van di seberang ruang tamu. Masih tertutup rapat. Tak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam.
“Dia belum bangun juga?” gumamnya dalam hati, sambil melirik jam dinding. Sudah pukul 7 pagi. “Apa dia nggak kerja atau bagaimana?” Tumbuh rasa penasaran, tapi juga keinginan untuk tidak ikut campur. Bagaimanapun, mereka masih asing satu sama lain.
Dengan cepat, Orin mengalihkan perhatiannya kembali ke sarapannya. Hari ini adalah hari pertama kerja, dan kesan pertama adalah segalanya. Dia tidak boleh terlambat. Dalam beberapa gerakan efisien, mangkuk dan sendoknya sudah dicuci dan diletakkan di rak pengering. Tas kerjanya yang sudah dipersiapkan sejak kemalaman diangkatnya, digantungkan di bahu.
Sebelum pergi, ia melirik sekali lagi ke arah pintu kamar Van yang masih tertutup. Sebuah pertanyaan kecil menggelitik, seperti apa sebenarnya kehidupan sehari-hari pria yang menyewakan kamarnya dengan harga murah ini?
Tapi itu pertanyaan untuk lain waktu. Untuk sekarang, dunia barunya di agensi menanti. Dengan satu tarik napas dalam, Orin membuka pintu apartemen dan melangkah keluar, meninggalkan keheningan dan misteri si "roommate" di belakangnya.
Beberapa saat setelah Orin pergi, pintu kamar Van terbuka perlahan. Ia mengusap mata sambil menguap lebar, rambutnya lebih berantakan dari kemarin.
“Sudah pagi rupanya,” gumamnya serak. Matanya menyapu ruang tamu yang sunyi, lalu tertuju pada meja makan. Cangkir dan piring sudah dicuci rapi di rak. Hanya aroma kopi hangat yang masih tersisa di udara.
“Jadi... dia sudah berangkat,” lirihnya, merasa aneh dengan keheningan yang tiba-tiba terasa berbeda.