Bibir Abby terkunci erat di balik telapak tangannya, menahan setiap erangan yang ingin meledak saat Damian menguasai setiap pusat kenikmatan tubuhnya. Desahan-desahan pendek dan tercekik masih saja menyelinap keluar dari celah jarinya yang gemetar. "Lepaskan suaramu, Abby. Tidak ada yang akan mendengar." Damian bergumam, suaranya parau dan berat, terasa menggelitik di pangkal telinganya. Kepala Abby bergoyang tak setuju di atas bantal. Imajinasinya sudah membayangkan gema suaranya yang memalukan itu menyebar di sepanjang koridor, akan terdengar oleh siapa pun yang kebetulan lewat. "Kamar ini kedap suara." Damian menambahkan, napas hangatnya menempel di kulit leher Abby. "Kamu bebas berteriak sesuka hatimu." "Oh," keluh Abby, sebuah desahan lega yang sekaligus melepaskan sedikit ketegan

