Semua Terjadi Begitu Cepat

1194 Words
Damian berdiri mematung di tengah ruangan sempit itu. Ia tidak pernah benar-benar membayangkan seperti apa hidup Abby. Baginya, perempuan itu hanya seseorang yang “cukup layak” untuk peran yang ia butuhkan. Namun ruangan ini berkata lain. Ruang tamu yang menyatu dengan dapur, lalu ada dua kamar lain di seberang ruangan. Dan di atas meja kecil, foto seorang perempuan tua yang tersenyum lemah, dibingkai sederhana. "Kamu tinggal sendiri di sini?" Damian akhirnya memecah kesunyian, suaranya terdengar lebih keras dari yang dia rencanakan di ruangan yang hening ini. Abby mengangguk pendek, tangannya tak sadar merapikan ujung bajunya. "Sejak nenek saya meninggal, sebulan yang lalu." Nada datarnya seperti dinding yang dibangun untuk menahan sesuatu. Damian melangkah mendekati meja kecil itu. Jejak debu halus terlihat di permukaannya ketika cahaya mengenai sudut tertentu. Ia menatap foto itu, wajah tua yang penuh keriput namun masih menyimpan sisa-sisa kebaikan. "Kamu merawatnya sendirian? Dua tahun penuh?" "Iya." Hanya satu kata, padat. "Tidak ada seorang pun yang membantumu?" Tanyanya keluar lebih kasar dari yang ia maksud, terdengar seperti interogasi. Abby menarik napas hampir tak terdengar. Sebuah senyum tipis muncul di bibirnya, namun tak sampai ke matanya yang lelah. Itu adalah senyum tanpa sukacita, sebuah gerak refleks orang yang terbiasa menelan kepahitan sendiri. "Awalnya, keluarga sempat membantu. Tapi satu per satu ... mereka punya urusan masing-masing." Ucapannya halus, namun ada duri halus di baliknya. Ia masih bisa mendengar suara Tante-nya yang tegas: "Kamu yang dulu dirawat Nenek, Abby. Sudah kewajibanmu membalas budi." Kenangan itu seperti sisa rasa pahit di lidah. Tapi kemudian dia mengangkat bahu, sebuah gerakan kecil untuk mengusir bayangan itu. "Tidak apa-apa. Saya terbiasa mengatur semuanya sendiri." Kalimat itu diucapkan lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri. Damian tidak segera menanggapi. Ia berdiri di sana, di tengah ruangan sederhana yang berani menunjukkan betapa kerasnya hidup pemiliknya. Untuk pertama kalinya sejak memulai "proyek" pencarian istri ini, ia tidak melihat seorang perempuan yang putus asa dan butuh uang. Ia melihat seseorang yang telah bertahan terlalu lama di garis depan sebuah peperangan sunyi, dengan gigih dan tanpa pasukan pendukung. "Kamu tidak harus memberi jawaban sekarang," ucapnya, dan suaranya terdengar berbeda—kurang terukur, lebih dalam. "Saya bisa memberikanmu lebih banyak waktu." Abby mengangkat wajahnya dengan cepat. Matanya, yang biasanya menunduk atau menghindar, kini menatapnya langsung dengan sorotan tajam yang tak terduga. "Anda tidak serius," desisnya, hampir seperti percaya. Damian sedikit terkejut. "Oh?" "Kalau Anda benar-benar bermaksud menunggu," lanjut Abby, suaranya semakin jelas dan penuh keyakinan, "untuk apa Anda datang ke sini hari ini?" "Saya hanya iseng." Abby menatapnya, mencari-cari kilat kebohongan atau olokan di wajah Damian. Namun yang ia temukan hanyalah ketenangan datar. Damian menggeleng, pelan dan pasti. Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Hening menyelimuti mereka dalam beberapa saat. Abby menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya yang terasa kosong. "Kalau … kalau saya menerima tawaran Bapak," ucapnya dengan suara rendah namun terpotong jelas di udara sunyi. "Kamu akan mendapat semua fasilitas yang tercantum. Dan status sebagai istri sah saya." "Ada syarat lain?" tanya Abby, waspada. Damian memutar tubuhnya perlahan, hingga seluruh perhatiannya tertumpah pada Abby. "Pernikahan kita harus dirahasiakan." Sebuah senyum tipis dan getir menyentuh bibir Abby. "Sudah saya duga." "Bukan untuk alasan yang kamu kira." "Saya paham, Pak. Orang seperti anda punya reputasi untuk dijaga." "Bukan itu." Damian kembali menggeleng. "Ini tentang anak-anak saya." "Kalau mereka tidak setuju," desis Abby, "untuk apa Bapak menikah lagi?" "Karena saya yang menginginkannya," jawab Damian, tegas. "Saya butuh seorang istri yang sah. Dan seseorang yang bisa membantu saya dengan Suri." "Suri?" tanya Abby. "Anak bungsu saya." "Oh, ya. Saya bisa jadi pengasuhnya, tanpa perlu—" "Saya tidak butuh pengasuh," potong Damian, suaranya seperti baja. "Saya butuh istri." Pandangan mereka bertaut, saling mengukur, dua medan magnet yang saling tolak-menolak. Kali ini, Abby yang pertama menunduk, mematahkan kontak mata yang mulai terasa seperti pertarungan. "Kenapa harus rahasia dari anak-anak Bapak yang lain?" "Mereka … belum siap menerima sosok ibu baru." "Berapa usia mereka?" "Audrey, lima belas. Aidan, sebelas. Dan Suri, lima." Setiap nama diucapkan dengan sebuah kehati-hatian yang tak biasa. "Dan jika suatu hari nanti mereka tahu? Bukankah itu akan jadi masalah yang lebih besar?" "Jangan khawatirkan masa depan yang belum terjadi, Abby." Damian membelokkan percakapan dengan lancar. "Saat ini, saya hanya perlu jawabanmu." Abby menatap lantai. Dua tahun terakhir berdesakan di kepalanya, lelah yang meremas tulang, tabungan yang menguap, dinginnya rasa sendiri di tengah keramaian keluarga. Dia melakukan semuanya dengan cinta untuk Nenek, tanpa penyesalan. Tapi sekarang, dia berdiri di titik nol lagi. Dan di hadapannya, pria ini menawarkan sebuah kemewahan yang sekaligus mengandung resiko. Lalu, seperti bisikan dari ruang dan waktu yang lain, suara Neneknya terdengar jelas dalam ingatannya, lemah namun penuh keyakinan, "Kalau nanti ada kesempatan datang … jangan kamu sia-siakan. Tangkap, Abby. Untuk dirimu sendiri." Apakah ini ‘kesempatan’ yang dimaksud Nenek? Pintu yang tiba-tiba terbuka di dinding buntu? Nafas Abby tertahan. Antara mengambil risiko terjun ke dalam ketidakpastian yang mewah, atau tetap berada di dalam kepastian yang miskin. "Abby …," desakan Damian memecah lamunannya. "Ya," kata Abby, suaranya keluar lebih cepat dan lebih keras dari yang ia kira. "Saya bersedia." Ekspresi Damian tidak banyak berubah, hanya ada relaksasi kecil di sudut matanya. "Bagus. Pernikahan akan segera diatur. Secara privat." Abby menghembuskan napas yang sejak tadi tertahan. Namun sebelum ia bisa merasa lega, Damian menambahkan dengan suara rendah, "Tapi ingat satu hal, Abby. Sekalipun anak-anakku tidak tahu … kamu tetap istri saya." Abby menatapnya. Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia merasa, jika ia baru saja melangkah ke sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar pernikahan kontrak. *** Tidak ada gaun pengantin dari renda atau sutra. Tidak ada karangan bunga yang harum. Tidak ada sorotan kamera atau bisik-bisik bahagia. Hanya ruangan ber-AC yang terlalu dingin, dengan dinding warna krem yang sudah kusam. Abby duduk kaku di atas kursi plastik keras, mengenakan blus polos dan rok putih sederhana, pilihan terbaik yang dimiliki lemari pakaiannya yang semakin kosong. Udara terasa statis, dipotong oleh suara mesin fotokopi yang berdengung dari ruangan sebelah. Petugas catatan sipil di seberang meja terlihat seperti ingin segera pulang, matanya sesekali melirik jam dinding. Damian mendorong segumpal dokumen ke arahnya, gerakannya tepat dan efisien. Jemari Abby yang dingin menyentuh kertas-kertas itu, hampiri saja ia menggigil. "Nama?" tanya petugas, monotone. "Damian Callahan." Suaranya jelas dan datar, seperti sedang memberikan informasi rapat. "Pihak perempuan?" "Abigail Rosalie Kusuma." Namanya sendiri terdengar asing di telinganya saat diucapkan dalam konteks ini. Dengan beberapa coretan pena di atas garis bertitik, dan sebuah stempel yang dibanting dengan bunyi 'plak' yang final, segalanya beres. Sebuah buku kecil dengan sampul cokelat muda disodorkan ke arah mereka. Abby mengambilnya. Benda itu terasa ringan, terlalu ringan untuk sesuatu yang seharusnya mengubah hidupnya. Dia membuka halamannya sekilas. Ada nama mereka, tanggal, dan cap resmi. Tidak ada foto. Tidak ada ucapan selamat. Hanya fakta-fakta administratif yang tercetak rapi. Dia menatapnya, mencoba memicu suatu gejolak, kegembiraan, kesedihan, penyesalan. Tapi yang ada hanyalah sebuah kehampaan yang luas. Bukan karena penyesalan, melainkan karena semua ini terjadi terlalu cepat dan terlalu hambar, seperti menelan air tawar tanpa rasa. Damian berdiri, merapikan jasnya. Ia memandang Abby, yang masih terpaku pada buku nikah di tangannya. "Mulai hari ini," ucapnya, suaranya tetap tenang namun sekarang mengandung sebuah pengakuan final, "kamu adalah istri sah saya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD