Damian tidak memberi Abby waktu untuk bernapas. Tubuhnya condong ke depan, sebuah gerakan halus namun penuh maksud. Dari laci meja kayu gelap itu, ia mengeluarkan sebuah map berwarna hitam pekat, lalu mendorongnya melintasi permukaan meja yang licin. Map itu berhenti tepat di tepian, menghadap Abby.
"Baca," perintahnya, singkat dan padat.
Abby memandangi benda hitam itu seolah itu adalah makhluk asing. Perlahan, jari-jarinya yang dingin merangkak ke atas meja. Sentuhan pertamanya pada map terasa halus dan dingin. Dengan hati-hati, ia membuka penutupnya.
Isinya membuat napasnya tersangkut.
Bukan kontrak kerja. Bukan surat lamaran.
Sebaris daftar yang tertata rapi, seperti menu dari sebuah kehidupan yang asing:
•Sebuah rumah tinggal dengan seluruh fasilitas dan staf pengurus.
•Rekening bank atas nama Abigail Rosalie.
•Tunjangan bulanan dengan angka yang membuat matanya berkedip.
•Biaya pendidikan penuh, S1 hingga S3, di institusi pilihannya.
•Cakupan asuransi kesehatan premium.
Dada Abby terasa sesak. Tulisan-tulisan itu berputar-putar di depan matanya.
"Ini .…" Suaranya tercekat, nyaris tanpa suara, "ini terlalu berlebihan."
"Ini sepadan," bantah Damian, tegas tanpa celah untuk bantahan. "Kamu akan menjadi istri saya. Ibu bagi anak-anak saya. Ini bukan peran paruh waktu."
Dengan gemetar yang ia coba kendalikan, Abby menutup map itu. Kulitnya yang hitam terasa seperti membakar ujung jarinya.
"Mengapa saya?" gumamnya dengan suara lirih penuh keheranan.
"Karena dari semua berkas lamaran, hanya latar belakangmu yang memenuhi kriteria yang saya cari."
Abby mengangkat pandangan, matanya membesar. "Maksud Anda?"
"Saya tidak sedang menawarkan cinta atau romansa," jelas Damian, blak-blakan. "Saya menawarkan landasan. Sebuah kehidupan yang stabil dan terjamin untukmu."
Sebuah tawa pendek dan parau terlepas dari bibir Abby. Bukan tawa sukacita, melainkan suara getir yang mencerminkan dua tahun terakhir hidupnya: hari-hari yang diukur dari sisa uang di dompet, dari harga obat-obatan nenek, dari tagihan listrik yang mengintai. Dua tahun merasa seperti roda berputar di tempat, hanya menghasilkan kelelahan dan keputusasaan.
Kehidupan yang stabil.
Kata-kata itu terasa seperti dongeng pengantar tidur.
"Jadi ... Anda memilih saya karena hidup saya yang berantakan?" tanyanya, suara bergetar antara sakit dan ironi. "Karena keputusasaan saya adalah kualifikasi yang baik?"
"Katakanlah, saya menawarkan solusi untuk masalah kita berdua," balas Damian, tetap diplomatis.
"Kalau boleh saya tanya." Abby memberanikan diri, menatap langsung, "apa alasan sebenarnya, selain ... kebutuhan fisik? Pasti ada lebih dari itu."
"Putri bungsu saya." Nada Damian berubah, tidak lagi datar. Sesuatu yang lebih dalam dan rapuh menyelinap ke dalam suaranya.
"Ada apa dengannya?" Abby bertanya, menangkap perubahan sekilas di mata pria itu.
"Dia … berhenti bicara. Hampir sepenuhnya. Sudah dua tahun." Damian memalingkan muka sebentar ke jendela, rahangnya mengeras. "Seharusnya dia bersekolah, bermain dengan teman-teman. Tapi dunia dia adalah dunia yang sunyi."
Ruangan kembali sunyi. Abby menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan pecahan-pecahan pikirannya yang berhamburan.
"Saya … tidak bisa memberi jawaban sekarang," ucapnya akhirnya, suaranya lelah.
Damian mengangguk, sekali, anggukan bisnis yang final. "Kamu punya waktu dua puluh empat jam."
Abby berdiri, tubuhnya terasa ringan dan sekaligus berat seperti timah. Ia membungkuk sebentar, lalu berbalik. Langkahnya keluar ruangan terasa tidak mantap, sementara kepalanya dipenuhi oleh daftar fasilitas, bayangan seorang anak gadis kecil yang bisu, dan lamaran pernikahan yang terasa seperti sebuah transaksi yang menusuk kalbu.
***
Malam itu, Abby terbaring di tempat tidur, matanya menatap langit-langit yang gelap. Bukan gambar wajah atau kilasan emosi yang menghantui pikirannya, melainkan deretan angka dan item: nominal tunjangan, nilai properti, cakupan asuransi. Dan seperti mantra yang berputar-putar, tiga kata itu: kehidupan yang stabil. Dia merasa seperti sedang memeriksa katalog, bukan merenungkan lamaran pernikahan.
Kepalanya penuh sampai terasa sakit. Dia meraih ponsel, jari-jarinya mengetuk cepat. Dia butuh mendengar suara manusia, perlu mengeluarkan kabut keputusan ini dari kepalanya sebelum dia sesak.
"Apa? Dilamar?!" Teriakan Erica nyaris membuat Abby menjauhkan telinganya dari speaker. "Serius, Abby?"
"Gila, kan?" tanya Abby, suaranya terdengar kosong, lebih seperti mencari konfirmasi atas rasa tidak percayanya sendiri.
"Gila banget! Jadi bosnya itu melamarmu? Untuk dinikahi? Wow, kamu lucky banget!" Erica terdengar hampir terengah-engah. "Gimana tampangnya? Jangan bilang kalau bapak-bapak beruban dan berperut buncit?"
"Tidak. Dia ... terlihat matang. Seorang duda. Dengan tiga anak." Kata-kata itu terasa asing di lidahnya.
"Tiga anak?! Abby, kamu mau?"
"Hmm, entahlah, Er," gumam Abby, jari-jarinya tanpa sadar meremas ujung selimut. "Tapi ... tawarannya sangat menggiurkan. Aku gak perlu pusing cari kerja atau capek-capek lagi. Cuma perlu mengurus anak bungsunya dan .…"
"Dan melayani ayahnya juga, kan?" sergah Erica, blak-blakan.
"Umm, ya ... untuk itu juga," desis Abby, pipinya memerah sendirian di dalam gelap. "Tapi dia bilang tidak akan memaksaku, jika belum siap."
"Jadi, gimana? Kalau kamu lelah, By. Lelah dengan semua kesialan dan perjuangan yang gak ada ujungnya … mungkin ini bukan tawaran yang buruk."
"Aku masih memikirkannya, Er. Sungguh."
"Oke. Kabari aku ya. Aku pasti jadi orang pertama yang tepuk tangan kalau akhirnya kamu bisa pamer ke om Tante dan saudara kamu yang nyebelin itu."
Abby mencoba tertawa, tapi yang keluar hanya embusan napas pendek yang getir. "Terima kasih, Erica. Kamu sahabat terbaik yang aku miliki."
Pagi datang dengan cahaya keabu-abuan yang menyelinap melalui celah gorden. Abby baru terlelap sebentar ketika getar ponsel di atas meja samping tempat tidurnya mengguncang permukaan kayu yang tipis.
Matanya langsung terbuka. Nama di layar membuat seluruh tubuhnya kaku seketika.
Damian.
Ponsel itu bergetar lagi, bergeser mendekati tepi meja. Abby menatapnya, jantung berdebar kencang di telinganya sendiri. Getarannya terasa seperti gema di ruangan sunyi itu. Lima … enam … tujuh detik.
Akhirnya, dengan tangan yang terasa dingin dan kaku, ia menyambar ponsel itu.
"Ya, Pak?" Suaranya serak karena kurang tidur.
"Sudah putuskan?" Suara Damian langsung menyapa, tanpa salam, tanpa basa-basi. Efisien dan menusuk.
Abby terdiam. Jarum jam di dinding menunjukkan masih ada tiga jam lagi sebelum tenggat waktu dua puluh empat jamnya habis. Tapi pria di seberang telepon itu jelas bukan tipe yang menghormati batas waktu dengan patuh.
"Abby?"
"Pak, waktu yang Bapak berikan … bahkan belum habis," protesnya lemah.
"Selisih beberapa jam tidak mengubah keputusan final," jawabnya dingin, logikanya tak terbantahkan.
"Astaga," keluh Abby pelan, tangan yang tidak memegang ponsel menekan pelipisnya yang berdenyut-denyut.
"Sudah berpikir?" ulang Damian di seberang telepon.
Abby menarik napas pelan. Jantungnya berdetak terlalu cepat untuk sebuah percakapan singkat.
"Saya … masih mempertimbangkan, Pak," jawabnya hati-hati. "Tawaran Bapak besar. Terlalu besar untuk dijawab tergesa-gesa."
Hening beberapa detik.
"Perkataan itu tidak menjawab apa pun," ujar Damian dingin.
Abby menelan ludah. "Saya tidak menolak."
"Dan kamu juga tidak menerima."
"Belum, Pak. Saya masih memikirkannya."
Damian menghembuskan napas pendek, jelas tidak sabar. "Kamu butuh apa lagi?"
Abby memejamkan mata. "Saya hanya ingin memastikan saya tidak mengambil keputusan karena terdesak."
"Kamu memang terdesak, Abby," jawab Damian tanpa melunak. "Dan kamu tahu itu."
Ucapan itu menusuk, tapi tidak sepenuhnya salah.
"Beri saya sedikit waktu lagi," pinta Abby lirih. "Saya janji akan memberi jawaban hari ini."
Telepon ditutup tanpa ucapan tambahan.
Abby menurunkan ponselnya perlahan, dadanya terasa sesak. Ia menatap ruangan kamarnya, tembok kusam, kipas angin tua, dan koper yang belum pernah ia bongkar sepenuhnya sejak dua tahun lalu saat dia kembali ke rumah ini, rumah neneknya.
Ia belum siap, tapi ia juga tahu, menolak berarti kembali ke hidup yang sama. Ini kesempatan langka dan sangat fantastis untuk mengubah kehidupannya secara drastis.
Satu jam kemudian, ketukan keras menggema di pintu.
Abby yang tengah sibuk di dapur sedikit terlonjak. Ia tidak menunggu siapa pun.
Ketukan itu terdengar lagi. Tegas. Tidak ragu.
Abby segera berlalu ke depan, membuka pintu.
Dan jantungnya langsung runtuh.
Damian berdiri di sana, mengenakan kemeja gelap tanpa jas.
Sorot matanya jauh dari tenang.
"Pak?" Suara Abby tercekat. "Bagaimana Bapak—"
"Saya tidak suka jawaban setengah-setengah," potong Damian sambil melangkah masuk tanpa permisi.
Ia menoleh cepat, memandang ruangan sempit itu, lalu kembali menatap Abby.
"Ini tempat tinggalmu?" tanyanya datar.
Abby mengangguk, merasa kecil di hadapan pria itu.
Damian berhenti tepat di depannya. Terlalu dekat, karena ruangannya memang sangat sempit.
"Kamu bilang butuh waktu," ucapnya rendah. "Saya datang untuk memastikan apa yang sebenarnya kamu ragukan."
Abby mendongak, napasnya tidak teratur.
Apakah ia ragu pada tawaran itu, atau pada dirinya sendiri yang perlahan mulai tergoda?