Abby merapikan map cokelat di tangannya, di mana ujung-ujungnya sudah sedikit lecek karena terlalu sering ia pegang. Di depannya, gedung berlantai tujuh itu berdiri tak terlalu megah, tetapi cukup rapi. Kaca-kacanya bersih, memantulkan langit pagi yang cerah. Sesuai dengan bayangannya tentang perusahaan menengah yang mungkin masih memberi kesempatan pada seseorang seusianya.
Dua puluh tujuh tahun.
Usia yang dianggap ‘terlambat’ untuk memulai dari nol, namun ‘terlalu dini’ untuk dianggap ahli.
Napasnya tertahan sebentar sebelum ia mendorong pintu kaca itu dan melangkah masuk.
Dua hari sebelumnya, ia telah melalui tes tertulis, psikotes, dan simulasi kerja. Semuanya berjalan lancar. Hari ini seharusnya hanya formalitas terakhir, wawancara dengan HRD.
Namun, saat pintu ruang wawancara terbuka, udara di sekitarnya seakan berubah.
Ruangannya jauh lebih luas dari yang ia kira. Sebuah meja kayu gelap dan masif membentang, di belakangnya jendela lebar membingkai pemandangan kota yang samar-samar. Dan yang duduk di sana bukan staf HRD yang ramah, melainkan seorang pria berkemeja hitam dengan jas abu-abu gelap tergantung rapi di sandaran kursinya.
Pria itu mengangkat wajah. Matanya, warna abu-abu seperti langit di balik jendela, menatapnya langsung, tenang, dingin, dan terukur. Seolah-olah dalam beberapa detik itu, ia sudah memindai setiap detail dari Abby: dari rambutnya yang diikat rapi, blazer hitam sederhana, sampai ke ujung sepatu flats yang sudah agak usang.
"Abigail Rosalie?" Suaranya datar, mengisi ruangan yang hening.
"B-Benar, Pak." Abby berusaha menahan agar suaranya tidak bergetar.
"Silakan duduk."
Kursi di depannya berat ketika ia tarik perlahan. Bunyi gesekannya di atas lantai marmer terdengar nyaring. Abby melipat tangannya di atas pangkuan, berusaha menenangkan jari-jari yang gemetar halus. Dari sudut matanya, ia mengamati ruangan lagi, tidak ada tanda-tanda orang lain, hanya mereka berdua.
"Saya Damian Callahan." Pria itu menyatukan ujung jari-jarinya di atas meja. "Pemilik perusahaan ini."
Abby menelan ludah. Pikiranannya berpacu. Pemilik perusahaan? Untuk posisi staf pemula?
"Saya mengambil alih sesi wawancara terakhir Anda," lanjutnya sambil membuka map di depannya. "Catatan perjalanan tes Anda cukup menarik."
Seharusnya itu pujian, tapi nada Damian tidak meninggi sedikit pun. Abby malah merasa dadanya semakin sesak.
Wawancara dimulai dengan pertanyaan rutin, latar belakang pendidikan, pengalaman kerja sebelumnya, kelebihan dan kekurangan. Abby menjawab dengan runut, suaranya semakin percaya diri seiring berjalannya waktu. Namun, kemudian Damian menutup map itu perlahan.
"Ceritakan tentang keluarga Anda." Kalimat itu meluncur tiba-tiba.
Abby berkedip. "Maaf, Pak?"
"Keluarga." Damian mengulangi, tatapannya tidak bergeser dari map milik Abby. "Dengan siapa Anda tinggal sekarang?"
Nafas Abby sedikit tersendat. "Saya … tinggal sendiri. Orang tua saya sudah meninggal. Dua tahun terakhir saya habiskan untuk merawat nenek saya yang sakit parah."
"Dua tahun tanpa pekerjaan formal." Damian menyimpulkan dengan suara rendah, lebih kepada dirinya sendiri.
"Benar, Pak. Itu sebabnya ada jeda dalam CV saya." Abby berusaha tersenyum kecil, tetapi rasanya kaku.
Damian mengangguk pelan, matanya tetap tertancap padanya. "Jadi, Anda memilih keluarga daripada karier."
Bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Abby hanya bisa mengangguk, tenggorokannya terasa kering. "Iya."
Damian tidak menanggapi. Hanya diam sejenak, dan dalam keheningan itu, Abby bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdebar kencang di telinganya. Ruangan yang tadinya terasa luas, tiba-tiba terasa sempit.
Akhirnya, Damian berdiri. "Keputusan akan dikabarkan via email dalam dua hari ke depan."
"Jadi saya boleh pergi?"
"Ya, silakan."
Abby buru-buru berdiri, membungkuk cepat, lalu berbalik. Langkahnya terasa ringan namun goyah saat ia meninggalkan ruangan itu, meninggalkan sosok Damian Callahan yang masih berdiri di balik meja besarnya, dengan tatapan yang terus membekas di punggungnya.
***
"Bagaimana interview tadi, Abby?" Suara Erica terdengar di ujung telepon saat sore harinya.
Abby menarik napas. "Masih harus menunggu pengumuman. Diterima ... atau ditolak."
"Lho, bukankah kamu sudah lulus semua tahap? Bukannya tadi kamu ketemu HRD? Kalian tidak negosiasi gaji?"
"Tidak ada, Er," jawab Abby, suaranya terdapat sedikit getar. "Aku ... eh, dia, malah bertanya tentang keluargaku. Apa itu hal biasa dalam interview?"
"Menanyakan keluarga?" tanya Erica, nadanya berubah.
"Iya. Aneh, kan?"
"Mungkin memang kebijakan internal, By. Setiap perusahaan kan beda-beda."
"Hmm, mungkin," gumam Abby, jari-jarinya tanpa sadar memilin ujung baju. "Tapi tetap saja rasanya tidak nyaman."
"Semoga kamu diterima, ya. Aku tahu betapa kamu butuh pekerjaan itu."
"Terima kasih, Er."
Begitu telepon ditutup, notifikasi di ponselnya langsung menyala. Sebuah email baru.
Abby membukanya, kedua alisnya bertaut.
Pengirim: kantor Damian Callahan.
Isinya singkat dan dingin: Harap hadir besok pukul 10.00 di ruang direktur utama.
Tidak ada konfirmasi diterima. Tidak ada penolakan.
"Belum dua puluh empat jam," bisiknya sendiri, jantung berdebar-debar tak karuan. "Cepat sekali."
~
Keesokan harinya, Abby kembali duduk di kursi yang sama. Dinginnya kulit jok kulit merambat melalui bahan roknya. Dia melipat tangan di pangkuan, mencoba menenangkan jari-jari yang dingin dan berkeringat.
Damian memandangnya. Tatapannya bukan lagi pengamatan singkat kemarin, melainkan sebuah pengkajian yang mendalam dan menyeluruh, seolah mengukur setiap inci dari keberadaannya.
"Abby," ucap pria itu akhirnya, memecah kesunyian yang mencekik. "Saya akan langsung pada intinya."
Tangan Abby mencengkeram erat satu sama lain, buku-buku jarinya memutih.
"Maukah kamu menjadi istri saya?"
Udara di ruangan itu seakan tersedot keluar. Telinga Abby mendenging, membungkus suara Damian dalam kesamaran. Bibirnya terbuka sedikit, tapi tak ada suara yang keluar.
"Apa ... maksud Bapak?" Akhirnya terucap, suaranya serak dan kecil, hampir bukan miliknya.
"Saya tidak sedang menawarkan pekerjaan." Damian menjawab, tenangnya bagai permukaan danau beku. "Saya menawarkan pernikahan."
Seluruh tubuh Abby membeku. Kursi di bawahnya terasa asing, ruangan di sekelilingnya mengambang. Dia datang untuk melamar pekerjaan, tetapi justru dialah yang dilamar. Pikiran itu menabrak kesadarannya seperti pukulan tumpul.
Tanpa sadar, Abby bangkit setengah, punggungnya menjauh dari sandaran kursi. Wajahnya terasa dingin dan pucat, perutnya bergejolak mual. Ini adalah lamaran yang tidak pernah sekalipun terlintas dalam khayalannya.
"Pak ... maaf, saya rasa ada kesalahpahaman," ujarnya cepat, kata-kata itu tumpah tanpa struktur. "Jika Bapak butuh pengasuh anak, atau ... pembantu rumah tangga, saya bisa. Saya sanggup. Saya memang butuh pekerjaan."
Damian tidak bergerak. Tidak ada kedipan di matanya yang kelabu, tidak ada perubahan di raut wajahnya yang dingin. Ekspresinya tetap datar, seolah Abby baru saja membicarakan cuaca.
"Hmm." Dia mengeluarkan suara rendah. "Saya tidak sedang mencari pelayan."
Bibir bawah Abby tergigit, rasa logam tipis menyebar di lidah. "Saya juga tidak pernah berniat—"
"Saya membutuhkan seorang istri, Abby," Damian memotong, suaranya mantap dan final, memotong semua kemungkinan lain. "Bukan karyawan tambahan."
Ruangan itu terasa semakin sempit, dinding-dindingnya seakan bergerak mendekat. Abby menggeleng pelan, hampir tak terlihat. "Saya tidak pantas untuk posisi itu, Pak. Saya hanya—"
"Kamu meremehkan dirimu sendiri," sela Damian, suaranya datar bagai garis lurus. "Dan kamu sedang menghindar."
Jemari Abby mengepal erat di atas pangkuannya, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga berbekas kemerahan. "Jika soal mengurus rumah dan anak-anak, saya bisa melakukannya tanpa gelar istri."
Lagipula, dia tidak ada niatan untuk menikah, apalagi dengan pria asing yang tak dikenalnya, bahkan belum pernah tersentuh di sudut pikirannya yang paling samar. Mereka adalah dua orang asing.
Tatapan Damian mengeras, membekukan udara di antara mereka. Sudut bibirnya naik sedikit, sebuah bentuk yang terlalu sinis untuk disebut senyum. "Saya tahu kamu bisa mengerjakan banyak hal, Abby. Tapi yang saya butuhkan bukan pekerja, melainkan seorang istri."
"Maaf, Pak. Itu terlalu ... ekstrem. Jika Anda membutuhkan pengasuh atau pengurus rumah, saya siap. Tapi istri?" Kepalanya kembali menggeleng, gerakan penuh keraguan.
"Lalu, bagaimana dengan kebutuhan lain?"
Abby terdiam, matanya menyipit sedikit. "Maaf?"
"Kamu mengabaikan satu hal." Damian melanjutkan, suaranya serendah bisikan namun memotong seperti pisau. "Saya adalah laki-laki dewasa. Saya tidak menawarkan pernikahan yang hampa."
Seketika itu juga, seperti tersiram air es, pemahaman mulai merayap masuk. Abby menelan ludah, rasa kering di kerongkongannya tiba-tiba menjadi nyata. Jantungnya berdebar kencang, suaranya menggema di dalam tulang-tulang rusuknya.
"Bisa saja …," ucap Damian perlahan, setiap katanya diukir dengan sengaja, tajam dan tanpa ampun, "… saya membutuhkanmu di ranjangku."
Kata-kata itu menghunjam, bagai palu godam yang meremukkan segala ilusi tentang pernikahan yang hanya formalitas.
Abby terpaku di kursinya. Napasnya tersangkut di d**a, masuk tak keluar. Dunia di sekelilingnya bergerak lambat. Pikirannya diserbu oleh bayangan dan ketakutan, dan sebuah pertanyaan tunggal yang membakar.
Apakah ini akhir dari semua usahanya, atau justru awal dari sebuah langkah yang akan menariknya ke dalam jurang terdalam?