Pertemuan Pertama

1201 Words
Koper yang ditarik di tangan kanannya dan tas ransel di punggungnya, juga tas tote bag di tangan kiri. Ala menunduk menahan tangis. Teman satu kosnya yang bilang akan berbagi harga kos menjadi dua ternyata menipunya. Ia sudah membayar bagiannya tanpa pernah telat. Tapi ternyata tagihannya tidak pernah sampai ke ibu kosnya. Sekarang, ia diusir karena sudah tiga bulan tidak membayar. Jika saja masih ada uang yang tersisa di tangannya, mungkin ia akan meminta ibu kos untuk memberinya tumpangan semalam lagi. Tapi siang tadi, Mama Arum juga meminta uang untuk membeli obat. Katanya ia sakit kepala. Kalau tahu akan begini, Ala tidak akan mengirim untuk Mama Arum. Ia akan menyimpan untuk dirinya sendiri. Tapi jika tidak ada Mama Arum, ia tidak punya lagi siapapun di dunia ini. Mamanya sudah tiada sejak ia SMP. Meninggalkannya dengan Ayah. Lalu saat karir Ayah mulai menanjak naik saat ia kelas sebelas, Ayah menikah lagi dengan Mama Arum. Semuanya berjalan baik sampai empat tahun yang lalu. Kuliahnya baru setengah jalan dan Ayah meninggal. Usaha Ayah dikelola Mama Arum dan berakhir bangkrut sertahun kemudian. Ala bekerja sambil menyelesaikan kuliahnya, sedangkan Gina, anak Mama Arum, adik tirinya, memutuskan untuk cuti kuliah karena tidak ada biaya. Setelah Ala lulus dan bekerja, ia adalah penopang hidup untuk Mama Arum dan Gina. Di hidupnya yang sekarang, ia hanya punya Mama Arum dan adiknya saja. Tidak ada lagi yang bisa ia jadikan sandaran. Meski Mama Arum tidak pernah jadi sandarannya, tapi setidaknya ia bisa bilang kalau ia akan pulang ke Mama. Langkahnya berhenti di pinggir jalan. Ala menunduk. Air matanya merebak di pelupuk matanya. Meratapi nasibnya yang harus terlunta di pinggir jalan seperti ini. Kakinya tidak tahu mau melangkah kemana. Ia mungkin harus mencari kos yang tidak harus bayar di awal. Ia juga harus mencari yang bisa sedekat mungkin dengan Gedung Wise Corp. Karena uang untuk ongkosnya juga terbatas sekali. Ala memutuskan untuk duduk diam sebentar. Matanya menatap berkeliling jalanan yang mulai sepi. Hampir tengah malam dan Ala tidak tahu bisa tidur dimana malam ini. Dalam keheningannya sendiri, ia berpikir bisakah ibu peri datang padanya? Cerita hidupnya sudah seperti Cinderella yang ditinggalkan dengan ibu tiri. Namun di tengah ke absurd-an pikirannya, Ala terkekeh pelan. Merasa seputus asa itukah dirinya sampai mengharapkan ibu peri untuk menolongnya? Kepalanya mendongak melihat langit malam yang hitam dan tidak berbintang. Polusi cahaya yang menutupi kerlip bintang dari luar angkasa sana. Bulan juga tidak terlihat. Semua hal sepertinya tidak menginginkannya ada. Angin yang bertiup terasa mulai dingin menusuk, menelusup ke celah bajunya. Tangan Ala memeluk dirinya sendiri. Kalau tidak menemukan tempat, ia akan izin untuk tinggal di masjid, atau di teras rumah yang terlihat. Atau— BRAK! Mata Ala membelalak saat suara keras itu terdengar dari depannya. Ala bisa melihat bagaimana motor itu rebah dan seorang yang terkapar tak jauh dari tempatnya duduk. Tangan Ala yang refleks menyentuh tengah dadanya sekarang naik menutup mulut. Kakinya otomatis membawanya berdiri dan menghampiri orang yang terkapar di tengah jalan itu. Orang itu memakai helm. Syukurlah. Ala berlutut di sisinya. “Mas? Sadar, gak?” tanyanya berani. Tapi ia tidak berani memegang. “Mas?” panggil Ala lagi. Orang di depannya masih tidak merespon. Mata Ala turun naik memerhatikan keadaan dari atas kepala yang masih terpasang helm, pada tangannya yang bisa Ala lihat memakai sarung tangan, lalu jaket kulitnya, lalu celana panjangnya, terakhir pada sepatunya yang terlihat masih baru. Ala tidak bisa dan tidak mengerti medis. Jadi, ia mengeluarkan ponsel, mencari nomor ambulance atau polisi, apapun. Karena sampai ia selesai menelepon Ambulance, memberi tahu lokasinya, ia sendiri menghadapi orang yang tidak tahu masih hidup atau tidak ini. Namun seperti instruksi dari yang menerima teleponnya tadi, Ala harus melihat apa pasiennya masih hidup atau sudah— glek, Ala menelan liurnya. Bibirnya kering seketika. Tangannya terulur pada helm yang masi tertutup, ia berusaha membuka visor dan bersamaan dengan jarinya yang berhasil mendorong visor itu, ia juga melihat matayang terbuka. Mata hitam tajam yang berkedip-kedip itu membuat Ala menghela napas lega. Hidup. “Mas, masih hidup?” tanyanya memastikan. Mata itu terbuka, menatapnya, lalu menyipit, “Lo pikir orang mati bisa buka mata?” Suara dingin itu membuat Ala terpaku. Benar. Tapi membuatnya merasa bodoh. -o0o- Orang yang ia bantu malam itu –dua minggu yang lalu, lelaki urakan yang hanya menghabiskan hari-harinya di dalam ruangan bermain, dan juga lelaki yang berada di sisinya sekarang dengan setelan jas mahal yang khusus dibuat untuknya itu adalah orang yang sama. Sakala Rangga Wisesa. Ala kembali merasa bodoh. Ia tidak bisa mengenali orang yang fotonya berseliweran di setiap kali membuat pamflet acara, membuat banner acara, atau membereskan susunan jabatan. Payah. “Pak Saka,” Ala menoleh, kedua tangannya saling bertemu bagai pose para petinggi partai di banner Idul Fitri di tiap sudut jalan. “saya minta maaf. Saya gak mengenali Pak Sakala. Saya udah banyak menyusahkan,” Ala mengingat semua yang terjadi di rumah mereka selama dua minggu ini, “saya udah nyuruh-nyuruh.” Ala menelan liurnya lagi, kerongkongannya yang sudah kering terasa lebih kerontang lagi sekarang. Kepalanya semakin menunduk tiap ia ingat semua kekonyolannya sejak bertemu Sakala di kecelakaan tunggal malam itu. “Maaf juga saya minum teh manis basi Pak Saka yang bikin saya salah masuk kamar, muntah di kamar mandi Pak Saka, dan sampai pake kemeja ini juga. Saya juga minta maaf udah telat masuk rapat,” lanjutnya mengoceh dengan mata terpejam, menunduk, dan kedua tangan berada di depan wajahnya. “Tapi beneran, Pak, saya mohon jangan usir saya dari rumah. Jangan pecat saya juga. Saya masih butuh kerjaan,” pintanya dengan kurang ajar. Saka yang sejak masuk ke dalam mobil sudah menatap iPadnya, kini menurunkan benda persegi itu. “Kamu sudah selesai mengoceh?” tanya Saka sambil menoleh pada Ala yang masih menangkupkan kedua tangan di depan wajah. Ala berkedip. Suara itu tidak terdengar marah. Jadi, ia memberanikan diri untuk membuka mata, tangannya perlahan turun, “Kalau saya bilang satu hal lagi boleh?” tanyanya. Kini Saka menatuh perhatian penuh pada gadis di sampingnya yang sedang menggigit bibir bawahnya itu. Satu gestur ragu-ragu yang selama dua minggu ini sering Saka lihat. Kepalanya mengangguk kecil, ia memutuskan untuk memberi kesempatan untuk gadis itu bicara. “Apa?” “Janji jangan marah,” pinta Ala dengan wajah memohon. Mata hitam cemerlangnya berkedip-kedip pelan. Ala takut. Tapi ia berharap tidak kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal. Hanya itu. karena dengan begitu, ia masih punya banyak kesempatan untuk datang ke rumahnya dan meminta izin Mama Arum untuk mengunjungi makam mama dan ayahnya. Seringai kecil tercipta di ujung bibir Saka. “Saya akan menilai apa yang kamu bilang akan membuat saya marah atau tidak.” Glek. Ala tersenyum kaku, tangannya kini saling meremas di atas pangkuannya. Tapi ia harus mengatakannya, “Selain permintaan saya yang tadi, bisakah Pak Saka gak nyimpen teh manis basi di kulkas dapur?” Mata Saka melebar. “Teh manis basi?” “Hm,” kepala Ala mengangguk-angguk, “bahaya banget. Saya sampe muntah, sakit perut, dan disangka udah mabok sama Lisa.” Saka memalingkan wajahnya, menatap keluar jendela, tangan kanannya naik dengan siku menekan jendela mobil, punggung tangannya menutup hidung, dan bibirnya. Menahan diri untuk tidak kelepasan tertawa di depan gadis yang seputih kertas ini. “Kamu memang mabuk, Ala.” “Hah?” -o0o-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD