Rapatnya berjalan lancar.
Tapi apakah hidupnya akan berjalan selancar rapat tadi?
Ala tidak yakin.
Setelah apa yang terjadi tadi pagi. Dimulai dari bangun di kasur Mas Saka —atau sekarang ia harus memanggilnya Pak Sakala? Lalu hampir menabraknya yang hanya memakai handuk itu, melongo menatap perut kotak-kotaknya, lalu muntah di kamar mandinya.
Mata Ala menunduk menatap kemeja yang dipakai olehnya. Juga kemeja ini. kenapa ia bisa salah mengambil dari ruang setrika?
Tidak. Ini dimulai dari tadi malam. Benar sekali! Ala masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi tadi malam. Kepalanya mulai berputar mengingat apa yang terjadi semalam tadi. Ia datang jam sembilan setelah lembur dua jam di kantor. Lalu pulang, semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang aneh. Sampai—
Ala terkesiap sendiri.
“Teh manis basi!” gumamnya.
Tadi malam, sesampainya di rumah, Ala membuka kulkas dan mengambil botol dengan air berwarna coklat. Yang ada di dalam pikirannya, air cokelat itu adalah teh manis. Namun rasanya aneh. Jadi Ala yakin kalau itu adalah teh manis basi. Rasanya tidak enak, bau aneh, dan menyengat di tenggorokannya.
Tapi teh manis basi tidak mungkin membuatnya tidak sadar sudah salah masuk kamar, kan?
Kepala Ala dijatuhkannya di atas meja. Ingatannya kembali saat bos level tertingginya itu malah senyum padanya tanpa ragu di ruang rapat tadi.
“Mau pulang kemana gue udah ini?!”
Tok! Tok!
Ruang kosong di samping kepalanya yang tertunduk di atas meja diketuk.
“Lu kenal Pak Sakala?” bisik Lisa. Teman satu divisinya, tepat di kubikel sebelah kirinya.
Kepala Ala menoleh, pipinya menekan meja, tangannya meraih rambut dan menyelipkanny di belakang telinga. “Mana gue tau, Sa,” katanya dengan bibir bawah maju. Ia sungguh sudah putus asa dengan nasibnya setelah ini.
Gadis berambut panjang yang dikuncir ekor kuda itu nyengir kecil, “Kemeja lu pake punya Pak Saka, kan? Keliatan banget! Lu udah ngapain sama dia?” alis Lisa naik turun menggoda.
Ah, kepala Ala kembali terasa berat. Bagaimana caranya menghilang dari situasi seperti ini?
“Mbak Ala?”
Panggilan suara lelaki itu membuat Ala kembali menegakkan duduknya. Di sampingnya ada Sapto yang berdiri. Office boy yang sudah sangat mereka kenal itu berdiri dengan senyum lebar dengan nampan di tangannya.
“Kenapa, Mas Sap?” tanya Ala. Ia tidak merasa sudah memesan sesuatu pada Sapto. Iya, Mas Sapto memang langganan dititipi sesuatu dari para karyawan lantai dua puluh lima.
“Ini, Mba,” Sapto mengangkat cangkir putih dari atas nampannya, “ada pesenan teh madu buat Mba Ala,” katanya menjelaskan sambil menyimpan cangkir putih yang mengepul itu di atas meja Ala.
Mata Ala menatap cangkir dengan wangi teh yang menguar menggoda hidungnya. Tapi ia kembali menatap Sapto, “Saya gak pesen deh, Mas,” bingungnya.
Sapto juga ikut menatap bingung, “Tapi ini buat Mbak Ala,” katanya.
Ponsel Ala bercentung pelan, ia menoleh pada benda pipih yang berada di samping cangkir putih yang menggodanya itu. Sebuah balon notifikasi terlihat, pesan.
[Mas Saka Rumah : Teh madu buat kamu, biar gak hangover.]
Alis Ala bertaut, “Hangover itu apa?” gumamnya dengan jelas.
“Lu udah kobam?” tanya Lisa dari samping, yang sejak tadi diam saja melihat Ala dan Sapto saling beradu bilang iya dan tidak.
“Kobam?”
“Demi apa lu gak tau kobam, Ala?” Lisa terkekeh.
Ala manyun.
“Kobam itu mabok, Mba Ala. Kalau hangover itu adalah keadaan setelah mabuk, kalau bahasa indonesianya pengar.” Sapto menjelaskan dengan nada medok.
Tangan Lisa bertepuk lalu menunjuk Sapto dengan bangga, “Mas Sapto aja tau,” kerlingnya pada Ala.
Tangan kanan Ala menggaruk pelan telinga kanannya, lalu mengangguk pada Sapto, “Saya terima ya, Mas Sapto, makasih.”
Sapto memeluk nampannya lalu mengacungkan jempol, “Aman, Mba Ala. Semoga gak lama-lama pusingnya ya, Mba,” katanya menunduk kecil dan berbalik meninggalkan Ala dan Lisa.
“Kita ngobrol nanti, revisi Pak Sakala gak main-main,” ucap Lisa sambil kembali tersembunyi dalam kubikelnya.
Kepala Ala mengangguk pelan menjawab Lisa sebelum ia kembali menatap cangkir teh manis hangat dengan aroma madu yang membuat perutnya bergejolak. Ia baru ingat belum memakan atau meminum apapun karena buru-buru. Tangannya meraih pegangan cangkir. Menyesapnya pelan, merasakan bagaimana hangatnya masuk ke dalam rongga perutnya.
Kemudian secara ajaib, ia merasa baik-baik saja.
Teh madu hangat ini terasa menenangkan perutnya yang tidak karuan.
Mungkin benar yang ia minum tadi malam adalah minuman mabok. Ia ingin tahu. Ia ingin memastikannya. Jadi, setelah menyesap minumannya, Ala meraih ponsel, membuka pesan terakhir yang belum dibukanya tadi.
[Mas Saka Rumah : Teh madu buat kamu, biar gak hangover.]
[Ala Fahira : Makasih banyak, Mas –
Ala menghapusnya lagi.
[Ala Fahira : Terima kasih banyak, Pak Sakala.]
Kirim.
[Ala Fahira : Tapi yang tadi malem itu ap—
Dihapusnya lagi.
[Ala Fahira : Air di botol itu bukan teh manis, kan?
Ala menghela napas, dihapusnya lagi.
Pesannya belum terbaca meski sudah centang dua. Matanya kemudian melirik pesan-pesan yang dikirimkannya. Makin ia baca makin matanya melebar.
[Ala Fahira : Mas Saka, punten, maaf boleh tolong tutup atap ruang jemur?]
[Ala Fahira : Mas Saka, maaf sekali lagi, nanti ada paket yang kirim kotak besar. Mohon diterima ya, Mas.]
[Ala Fahira : Mas Saka, mau nitip apa? Saya sekalian ke minimarket.]
Lebih banyak isi pesan yang memintanya membuka akses pintu, dan menutup atap ruang jemur. Karena memang lebih sering ia meninggalkan rumah dalam keadaan atap ruang jemuran terbuka. Tapi iya, ia selalu menemukan ruang cuci jemur sudah dalam keadaan terututup saat ia datang.
Pakaiannya tinggal ia bereskan dan setrika malam itu juga, termasuk membereskan bekas makan. Lalu subuhnya Ala akan membereskan rumah, nyapu, ngepel, dan membereskan rumah yang sebenarnya tidak berantakan juga itu.
Yang ia kenal dari Sakala di dalam rumah itu adalah kenyataan bahwa lelaki itu tidak pernah menyusahkannya. Membereskan rumah sudah ia lakukan sepanjang hidupnya, masak juga ia bisa, itu tidak seberapa. Namun ternyata, selama ini ia yang sudah menyusahkan lelaki teman satu rumahnya yang ternyata adalah bosnya itu.
Kepala Ala kembali pusing melihat betapa ia semena-mena pada seorang CEO tempatnya bekerja ini.
Itu baru yang diingatnya, banyak yang mungkin tidak diingatnya. Seperti kejadian keran itu misalnya, atau saat gas habis dan ia meminta Saka yang menggantikannya.
Bagaimana bisa?
Ala sesak napas sendiri. bagaimana bisa ia meminta seorang CEO menggantikan gas untuknya memasak mie instan? Mati Ala, mati aja sana! Kepalanya kembali menunduk di atas meja, rambut panjang hitamnya terggerai ke sisi kiri kanan kepalanya.
Kemudian Ala kembali mengangkat kepala, ia mengingat surat permintaan perpanjangan kontrak yang sudah diisinya minggu lalu. Tangan kanannya mengetuk-ngetuk keningnya. Ia benar-benar habis.
Ponselnya kembali berdenting. Ala cepat-cepat membuka ponsel. Ia berniat meminta maaf atas semua yang terjadi, atas sikap kurang ajarnya, dan atas semua kesalahannya, jika itu adalah balasan dari Sakala.
Namun jarinya berhenti bergerak. Bukan balasan dari Sakala.
[Mama Arum : Uang mama habis. Bulanan buat Gina juga belum kamu kirim.]
Hatinya mencelos. Rasanya, ia ingin menyusul Ayah dan Mama.
-o0o-
“Lembur lagi?” Lisa menunduk menatap layar iMac di hadapan Ala. Sudah gelap, “Udah beres, kan? Yuk pulang bareng,” ajaknya kemudian.
Ala menarik napas, mengerjapkan matanya, lalu menarik bibirnya agar tersenyum. “Lu duluan aja. Gue masih ada perlu,” jawabnya,
Lisa meneggakan tubuh lalu mematung menatap ke arah pintu.
“Ada perlu kemana?” tanya suara itu.
Suara yang membuat Lisa mematung dan membuat Ala menoleh karena kenal dengan suara itu.
“Ma— Pak Saka,” Ala cepat-cepat berdiri dari duduknya, lalu mengangguk pelan.
“Kamu mau kemana?” tanya Saka yang menuntut jawaban dari Ala.
Mata Lisa bergerak dari Saka ke Ala, lalu kembali ke Saka.
Mata Ala berkedip cepat, “Saya ada urusa—“
“Kita pulang bareng,” Saka dengan wajah tidak ramahnya memberi isyarat pada Ala untuk mengikutinya.
Sedangkan Ala yang sudah kadung takut dan ragu untuk pulang merasa harus menghindar untuk satu malam ini saja. Jadi Ala mematung di tempatnya.
“Ikut, Al,” Lisa menatap Ala dengan mata membelalak takut. Wajah Sakala di depannya benar-benar seperti yang tersebar dalam rumor. Menyeramkan dan punya aura yang keinginannya harus diikuti dengan mutlak.
Lisa takut sendiri melihatnya.
“Saya—“
Saka berbalik, langkahnya kembali mendekati Ala yang masih diam di tempat. Tangannya terulur, meraih pergelangan tangan Ala yang mengepal.
Ala terkejut, begitu juga Lisa.
“Ayo,” ajak Saka sekali lagi. Tangan kanannya meraih tas tote Ala yang tersampir di kursi. Lalu dengan lembut menuntun Ala yang mengikutinya tanpa pilihan lain.
-o0o-