Spek Om Dika Banget!

1220 Words
Lily mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia sempat menatap layar beberapa detik, jempolnya sudah bersiap menekan nama Vina di daftar kontak. Bukan karena temannya itu terlambat, ini masih jam empat kurang lima, sementara mereka janjian jam empat, masih ada lima menit lagi dari waktu janjian mereka, tapi karena ia tak sabaran mau menceritakan kejadian aneh barusan. Ia menghela napas pelan, sisa kekesalan akibat kejadian tadi masih terasa mengganjal. Namun sebelum panggilan itu benar - benar tersambung, sebuah suara yang familiar memanggilnya. "Maaf ya, Teh Lily, gue telat." Lily langsung menoleh. Vina berdiri di sana dengan senyum lebar, seperti biasa ceria dan hangat. Panggilan 'Teh' memang kadang-kadang ia gunakan saat memanggilnya, padahal mereka seumur, satu angkatan, dan seketika membuat ekspresi Lily otomatis melunak. Mereka saling mendekat dan bersentuhan pipi kanan kiri. "Nggak, lo belum telat, Vin. gue yang kecepetan," jawab Lily sambil tersenyum tipis. Vina kemudian sedikit bergeser, memberi ruang pada seseorang yang berdiri di sampingnya. "Oh iya, kenalin. Ini sepupu gue, namanya Raffi." Senyum Lily membeku. "Raffi?" ulangnya refleks, nadanya berubah, antara kaget dan tidak percaya. Pria di samping Vina langsung mengulurkan tangan dengan santai. "Iya, gue Raffi. Sepupunya Vina." Lily menyambut uluran tangan itu, tetapi pikirannya seperti tertahan di satu titik. Ia menatap wajah Raffi lebih lama dari seharusnya, mencoba menyusun potongan kejadian yang baru saja ia alami beberapa menit lalu. Raffi. Nama yang sama, nama yang tadi disebut pria dingin itu, dan juga nama yang muncul di layar ponsel dengan tambahan julukan yang cukup … jujur, 'keponakan sialan'.Kebetulan wajah kok ya menunjukkan kecocokan dengan julukan itu, ekspresinya agak tengil, wajar saja kalau diumpat 'sialan' oleh pria tadi yang kemungkinan besar memang omnya. Lily sampai sedikit melongo, jelas ia benar-benar tidak menyangka. Semua terasa terlalu kebetulan untuk disebut kebetulan. "Lo kenapa, Teh?" tanya Vina, sedikit heran melihat perubahan ekspresi Lily. Lily tidak langsung menjawab. Tatapannya sempat melayang ke arah pintu restoran, seolah berharap pria tadi masih ada di sana, ia cuma mau bertanya,"Ini bukan keponakan 'sialan'nya itu?" Tapi pria tadi sepertinya sudah benar - benar pergi dan pertemuan singkat itu hanya lewat begitu saja. Ia kembali menatap Raffi, kali ini dengan sorot mata yang lebih tajam. "Jadi … lo yang namanya Raffi?" tanya Lily lagi, perlahan, seolah ingin memastikan. Raffi mengernyit sedikit, lalu tertawa kecil, berusaha terlihat santai. "Iya. Emangnya kenapa, mbak ... eh, Teh?" "Nggak usah ikut - ikutan Vina, panggil aja gue Lily." Di sampingnya, Vina ikut tersenyum, meskipun sekilas matanya melirik ke arah Raffi, tatapan singkat yang nyaris tidak terlihat, tapi cukup untuk menunjukkan ada sesuatu yang mereka pahami bersama. Lily menarik napas dalam-dalam, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Gue barusan ketemu sama om lo." Kalimat itu membuat Raffi terdiam sepersekian detik, terlalu singkat untuk disadari jika tidak diperhatikan bahwa wajahnya sempat berubah, tapi cukup jelas bagi Lily yang sedang fokus menilai reaksinya. "… hah?" sahut Raffi kemudian, nada bicaranya dibuat seolah-olah bingung. Vina langsung menoleh ke arah Raffi lagi dengan ekspresi terkejut yang sedikit terlambat. "Om lo yang mana, ya?" tanyanya ke Raffi, ia ikut bermain dalam kebingungan yang dibangun. Lily menyipitkan mata melihat keduanya bergantian, dan ia memilih untuk menjawab duluan pertanyaan Vina ke ke sepupunya itu. "Yang wangi, tinggi, mukanya datar, dan … nyebelin," jawabnya tanpa ragu. "Dia bilang kalo dia omnya Raffi," kata Lily melihat ke arah Raffi. Raffi mengusap tengkuknya pelan, tersenyum canggung. "Oh… om Dika, kali ya…?" Suara Raffi terdengar seperti santai saja, tapi body language dan ada jeda kecil sebelum ia menyebut nama itu, sangat jelas menunjukkan seperti orang yang sedang berpikir untuk mengucapkan kebenaran walau sebenarnya enggan mengakui. Lily menangkapnya, nama yang disebut Raffi itu pas dengan pesan yang ia baca tadi, 'Om Dik'. "Dia ada di meja ini. tepatnya lima menit yang lalu," lanjut Lily. "Dan dia pikir gue adalah cewek yang mau lo jodohin sama dia, seenaknya dia nuduh gue. Nggak jelas banget, mana galak pula, minta maaf aja nggak." Suasana mendadak hening. Vina menutup mulutnya, seolah betul - betul kaget. "Serius?" tanya Raffi, meskipun suaranya terdengar terlalu rapi untuk benar-benar spontan.Lalu ia tertawa kecil, kali ini lebih dipaksakan,"..wah…sebenarnya nggak gitu juga Ly, tapi kok bisa pas banget, ya… kebetulan banget sih ini." "Pas banget, Kebetulan?" ulang Lily, alisnya terangkat tinggi. Ia menatap keduanya bergantian. Ada sesuatu yang terasa tidak pas. Cara Raffi menjawab dan cara Vina bereaksi, semuanya terlihat … sedikit terlalu teratur. Dan rasanya terlalu rapi untuk sebuah kejadian yang katanya tidak disengaja. Tapi sayangnya Lily tidak ada bukti langsung menuduh. apalagi pria tadi tidak kenal Vina. padahal berulang kali ia menyebut nama Vina. Jadi sekarang ia hanya mengandalkan firasat yang kadang belum tentu benar juga. Ia menyandarkan tubuhnya, lalu melipat tangan di depan d**a, tatapannya masih ke arah Vina dan Raffi. "Oke," katanya pelan. "Sekarang jelasin dari awal, karena gue yakin banget ini bukan kebetulan." Raffi menelan ludah, masih dengan senyum canggung yang berusaha ia pertahankan dengan gaya santainya. Vina yang duduk di sampingnya berusaha terlihat biasa saja, meskipun jari-jarinya saling bertaut di atas meja. Dan di antara mereka bertiga, memang ada rahasia kecil yang disembunyikan oleh Vina dan Raffi kepada Lily, sebuah rencana yang sudah sangat jelas tidak berjalan sesuai harapan mereka berdua, bahkan bisa dibilang gagal total. "Vina aja yang cerita," kata Raffi cepat, terlihat kalau ia ingin segera melempar tanggung jawab ke sepupunya itu. "Eh kenapa gue, Fi? Kan ini ide lo," balas Vina tidak kalah sigap, matanya langsung melotot ke arah Raffi "Ini memang ide gue. Tapi yang milih Lily, kan lo," jawab Raffi, membela diri tanpa rasa bersalah. "Lah, gue memang yang nyodorin Lily, tapi kan ada Ria sama Ike juga. Dan lo yang bilang sendiri kalo Lily paling cocok buat dijodohin ke Om Dika, lo bilang Lily tuh spek Om Dika banget!" sahut Vina, kini mulai kesal. Mereka berdua malah saling beradu argumen seperti anak kecil yang ketahuan berbuat ulah. Tidak ada lagi usaha untuk terlihat santai atau berpura-pura tidak tahu apa-apa. Justru dari cara mereka saling menyalahkan, semuanya semakin terlihat jelas, setidaknya bagi Lily. Tapi Lily terlihat masih menahan sabar, ia tidak langsung menyela perdebatan kecil mereka. Ia hanya diam, mencondongkan tubuhnya dengan tenang, lalu kembali mengaduk minumannya dengan sedotan. Gerakannya pelan, teratur, menunjukkan kalau ia benar-benar tidak terganggu dengan perdebatan tidak jelas itu. Padahal, di balik ekspresinya yang datar, pikirannya sedang menyusun potongan-potongan kejadian yang sejak tadi terasa janggal, dan sepertinya dengan percakapan mereka saat ini, mengenai keheranannya soal Omnya Raffi tadi benar adanya. Sesekali ia melirik ke arah mereka berdua yang masih berdebat kecil. Ia tidak menyela, cenderung membiarkan saja sampai mereka mereda dengan sendirinya. Baru setelah itu, Lily mengangkat pandangannya. Tatapannya bergantian ke arah Raffi dan Vina, tenang, tapi tajam. "Sudah diskusinya?" sindir Lily singkat. Suaranya tidak tinggi, tapi cukup untuk membuat keduanya langsung diam. Lily menarik napas pelan, lalu menggeser gelasnya kesamping. "Sekarang… gue cuma mau denger versi yang sebenar-benarnya. Jangan coba-coba buat ngarang cerita ya, apalagi drama berseri - seri. Gue tahu lo berdua sekongkol dengan rencana ini, dan gue harap kalian jujur aja sama gue." Vina dan Raffi saling menoleh, tapi tanpa kata, hanya mata mereka yang bicara. Lily memutar matanya malas, ini tidak bisa dibiarkan, bisa - bisa tidak ada yang mau ngaku. "Dokter Vina, bisa jawab jujur dan serius, nggak?" Lily merubah mode tatapan, suara beserta intonasinya. Vina pun menghela nafas pendek, tidak ada jalan lagi. "Sebenarnya ... memang gue sama Raffi mau nyomblangin lo sama Om Dika."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD