Kandidat Potensial

1278 Words
"Nggak nyangka ..." kata Lily sambil bersedekap dan menatap tajam. "Om Dika itu adik mamanya Raffi. Dia itu duda, tanpa anak. Istrinya sudah meninggal dari tiga tahun yang lalu karena sakit," jelas Vina. "Sejak itu, dia sendirian terus, Teh ... dan nggak pernah mikirin dirinya sendiri lagi, bener - bener tenggelam dalam dukanya. Mamanya Raffi sama keluarga yang lain sudah mulai khawatir dengan keadaannya, hidupnya udah nggak sehat lagi, nggak bisa lupain yang sudah pergi dan kayaknya hidupnya stuck disana … larinya cuma ke kerja ..kerja dan kerja aja." Vina menghela nafas dan menoleh ke Raffi sebelum melanjutkan. "Makanya Raffi sama sepupunya yang lain disuruh nyariin jodoh buat Om Dika, biar hidupnya normal lagi, kembali ke Om Dika yang dulu, yang ceria dan hidupnya teratur lagi." Lily mengerjapkan mata beberapa kali. Informasi itu memang mengagetkan, membuatnya perlu beberapa detik untuk mencerna. Ini maksudnya mereka berdua ini mau mencomblanginya sama Duda yang gagal move on, gitu? Yang benar saja, apa kata papap dan mamanya nanti? "Bener kata Vina, bukan cuma gue aja yang nyariin jodoh buat Om Dika," sambung Raffi cepat, seolah ingin membela diri sebelum Lily bereaksi lebih jauh. "Seluruh keluarga juga dikerahkan. Tapi entah kenapa, cuma gue yang paling di-notice sama Om gue itu." Lily memiringkan kepala, menatap Raffi dengan ekspresi antara heran dan geli. "Pantesan aja di kontak om lo tadi nama lo ditulis 'keponakan sialan'," katanya santai, tapi jelas menyimpan sindiran. Raffi nyengir lebar, sama sekali tidak tersinggung. Ia sudah tahu julukan itu, bahkan om-nya itu sudah pernah bilang langsung. "Gue udah tahu, itu julukan kesayangan," jawabnya santai. "Hah, kesayangan?" Lily menggeleng pelan. Ia masih berusaha menyusun potongan-potongan kejadian tadi. Pria dingin itu, sikapnya yang kaku, cara bicaranya yang minim basa-basi, semuanya sekarang mulai terasa lebih masuk akal dengan informasi yang ia dapat dari Vina dan Raffi. Tapi tetap saja ia merasa.... "Aneh," gumamnya pelan. Lalu ia menoleh ke Vina, yang sudah menceritakan secara terang - terangan semuanya. "Tapi tunggu," lanjut Lily, keningnya berkerut lagi. "Kok Om Dika nggak kenal lo, Vin? Bukannya Raffi ini sepupu lo? Berarti Om Dika itu om lo juga, kan, bukan cuma omnya Raffi, doang? Dan tadi gue beberapa kali nyebut nama lo, tapi om Dika itu nggak ada respon apa-apa, kayak nggak kenal." Vina menghela napas kecil, seolah sudah menduga pertanyaan itu akan muncul. "Jadi bokap gue itu adik bokapnya Raffi, sedangkan Om Dika adik nyokapnya Raffi yang paling kecil," jelasnya pelan. "Jadi hubungan gue sama Om Dika itu… ya cuma karena pernikahan keluarga. Dia saudara ipar bokap gue. Dan lo tahu sendiri kan, keluarga besar kayak gitu nggak semua orang saling kenal dekat." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya. "Lagian, mana mungkin Om Dika ingat semua keluarga kakak iparnya? Apalagi sampai ke gue, kalau bokap gue aja mungkin dia kenal dan ingat. Ketemu sama gue juga jarang banget. Terakhir gue lihat dia itu… waktu istrinya meninggal tiga tahun lalu, itu kita masih koas, Teh." Nada suara Vina sedikit menurun di akhir kalimat. "Itu pun gue cuma ikut nyokap sama bokap melayat. Nggak nyapa, apalagi ngobrol. Jadi ya … wajar kalau dia nggak kenal gue." Sampai disini Lily mulai paham, tidak semua seperti keluarganya yang kenal mulai dari ipar dan keluarganya yang lain. "Lagian Om Dika itu dari dulu tinggal di Jerman, dia baru pulang ke Jakarta satu tahun sebelum istrinya meninggal, jadi wajar nggak banyak ingat keluarga besar papa," tambah Raffi. Penjelasan itu semakin masuk akal. Lily kembali teringat bagaimana pria itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengenali Vina sama sekali, makanya tadi ia merasa sedikit aneh. "Om Dika sempat mau balik ke Jerman lagi setelah beberapa bulan istrinya meninggal, tapi ditahan sama Oma dan disuruh nerusin salah satu bisnis Opa dulu yang selama ini dipegang sama adik mama yang lain, jadi dibagi dua gitu. Oma sampe nangis - nangis nahan Om Dika disini. Untungnya Om Dika nurut, dia laki - laki satu - satunya dan anak bungsu kesayangan Oma." "Oma Raffi umur tujuh lima, masih sehat dan cantik," kata Vina. Lily mengangguk pelan. "Kalau dasarnya cantik, sampai tua pun tetap cantik. Aki dan Nininya juga sudah sepuh, tapi masih terlihat ketampanan dan kecantikannya, semua juga tergantung perawatan." Lalu Lily menghela napas panjang. Sekarang semuanya mulai terang. Kejadian aneh tadi ternyata bukan sekadar kebetulan. Tapi hasil rencana dari dua orang di hadapannya ini, Raffi dengan ide-idenya, Vina yang menyodorkan kandidatnya, dan ia yang jadi tumbalnya. Lily menyilangkan tangan di depan d**a, lalu menatap keduanya bergantian. "Terus," ucapnya pelan, tapi nadanya mulai berubah, "kenapa jadi kepikiran gue yang lo sodorkan? Kenapa nggak diri lo sendiri yang jomblo juga?" Kali ini tatapan tajamnya berhenti di Vina. Vina tidak langsung menjawab. Ia sempat melirik Raffi, sangat terlihat kalau ia mencari bantuan. Tapi Raffi justru pura-pura sibuk dengan ponselnya, menghindari kontak mata. "Ckk," Lily mendecak pelan. "Jangan lempar-lemparan." "Soalnya…" Vina menggantung kalimatnya, terlihat ragu. Lily menaikkan alis. "Soalnya apa?" "Soalnya gue bisa emosi kalo deket - deket cowok kayak Om Dika gitu, jiwa ekstrovert gue bisa tersinggung parah kalo dicuekin. Dan menurut gue, lo paling cocok, lo sabar ... diselingkuhin aja tetap santai kayak nggak berasa gitu," jawab Vina akhirnya, cepat, sebelum keberaniannya hilang. "Nggak berasa lo bilang?" tanya Lily sambil melotot. Vina mengangguk sambil memberi cengiran kecil. Sunyi, beberapa detik berlalu tanpa suara. Lily menatapnya tanpa berkedip, mencoba memastikan ia tidak salah dengar. "Cocok, sabar?" ulangnya pelan, nyaris seperti berbisik. "Lo sehat, Vin?" "Gue baek - baek aja. Beneran, Teh, gue yakin lo memang cocok aja sama Om Dika," jawab Vina percaya diri, tetap berusaha menjelaskan walau tatapan Lily tidak bersahabat sama sekali. "Lo baik hati, nggak menye-menye dan gak gampang patah semangat, trus cara lo ngomong juga… berkelas, dan ..." Ia berhenti sejenak, lalu menatap Lily lebih serius. "Lo kan juga korban peselingkuhan Angga, Lo butuh cowok setia kayak Om Dika ...kalo dari cerita Raffi, jelas Omnya itu cowok setia." Kalimat itu membuat Lily terdiam sesaat. Entah kenapa, bayangan pria dingin tadi kembali terlintas di kepalanya. Tatapan tajam dan sikap dinginnya. Dan cara dia duduk tanpa satu pun usaha untuk bersikap ramah, benar - benar membekas. "Lagian," tiba-tiba Raffi ikut menyela, masih dengan nada santainya, "Om Dika itu bukan tipe yang bakal cocok sama cewek yang ribet atau manja. Dia butuh yang… seimbang." Lily langsung menoleh tajam. "Dan menurut lo, gue ini cocok jadi bahan percobaan kalian?" "Bukan percobaan," Raffi mengangkat kedua tangan, pura-pura defensif. "Kalo dari cerita Vina, lo tuh … kandidat potensial buat ngimbangin Om Dika." Lily mendengus pelan. "Kandidat potensial yang dijebak duduk satu meja tanpa dikasih tahu apa-apa, begitu skenarionya?" Raffi kembali nyengir. "Hehe… biar natural." Lily benar-benar tidak habis pikir dengan pendapat kedua sepupu ini. Ia memijat dahinya pelan, mencoba meredam rasa kesal yang mulai naik. Semua ini terdengar tidak masuk akal dan sedikit keterlaluan. Lily menurunkan tangannya, lalu menatap Vina sekali lagi. "Jujur," katanya pelan, tapi tegas. "Lo yakin ini ide yang bagus, Vin? Kok bisa - bisanya sampe melibatkan gue?" Vina terdiam, ia tidak bisa langsung menjawab. Soalnya jauh sebelum ini, ia sangat yakin, tapi melihat reaksi Lily sekarang, ia ciut juga. Dan itu justru membuat Lily merasa, mungkin, ini hanya mungkin, ia sudah terjebak dalam rencana yang berantakan. "Jujurly ... gue gambling juga, sih, Teh," jawab Vina lalu menarik sudut bibirnya, terlihat canggung, salah tingkah . Entah sudah keberapa kali Lily berdecak, menghela nafas dan menunjukkan ketidaknyamanannya, nyatanya kedua saudara sepupu dihadapannya ini memang benar-benar membuatnya kesal. Walaupun hatinya masih dipenuhi rasa kesal karena merasa 'dikerjai' oleh Vina dan Raffi, tapi semua sudah terjadi, terus mau bagaimana lagi? "Mumpung gue belum kenalan sama om kalian itu, cepat coret nama gue dari list percomblangan ini, selain nggak bakat, kalian juga amatiran. Kok bisa - bisanya nyomblangin gue sama om -om, Keterlaluan!" Vina meringis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD