Saat perjalanan pulang, bahkan hingga ia sudah berada di dalam kamarnya sendiri, yang muncul di kepalanya justru satu hal yang sama.
Wajah pria itu.
Tapi jangan salah ya, ini bukanlah kenangan yang menyenangkan. Sama sekali tidak.
Yang terbayang justru ekspresi datarnya, sorot matanya yang tajam, dan cara bicaranya yang dingin seolah setiap kata yang keluar darinya selalu mengandung penilaian. Tuduhannya di awal pertemuan tadi pun masih terngiang jelas, dan itu sangat menyebalkan, tanpa sadar membuat Lily mendengus kesal.
"Hfftt ... kenapa malah kepikiran, sih? Sial!"
Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur sebentar, lalu segera bangkit lagi. Tidak mau membiarkan pikirannya berlarut - larut ke arah yang tidak jelas, Lily memilih untuk mandi untuk menyegarkan badan dan pikiran.
Air hangat mengalir membasahi tubuh dan rambutnya. Biasanya, itu cukup untuk meredakan lelah dan juga menghapus sisa - sisa pikiran yang mengganggu.
Tapi sepertinya kali ini gagal. Alih - alih hilang, bayangan itu justru muncul lagi, semakin jelas. Mulai dari cara pria itu berdiri, cara ia menatap tanpa benar - benar melihat, sekalinya menatap malah datar yang menyebalkan. Dan sikapnya yang ... dingin seperti musim dingin di kutub utara.
Halah, lebay!
Lily memejamkan mata sejenak di bawah guyuran air, menghela napas panjang.
Tidak membantu.
Saat akhirnya ia selesai dan keluar dari kamar mandi, membungkus tubuhnya dengan handuk, pikirannya masih berkutat di tempat yang sama.
"Segitu cintanya ya sama istrinya yang sudah meninggal itu?" gumamnya pelan, setengah tidak sadar. "Cantik banget atau gimana, sih?"
Lily menggumam karena penasaran sambil berjalan ke walk in closet untuk memakai bajunya, tapi ia tidak terlalu menyadari apa yang ia ucapkan tadi..
Setelah selesai ia berjalan keluar, lalu menggantungkan handuk di tempatnya di dekat teras kamar yang menghadap taman kecil di depan kamarnya.
Pikirannya belum juga berhenti.
Ada sesuatu dari pria itu yang membuatnya tidak bisa sepenuhnya mengabaikan. Bukan karena sikapnya menyenangkan, justru sebaliknya.
Tok.
Tok.
Ketukan pintu terdengar, memotong lamunannya.
"Teh..."
Suara itu langsung dikenali Lily.
"Mbak Sumi," gumamnya, lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Iya, Mbak?"
Masih dengan rambut basah, ia berdiri di ambang pintu.
"Mau makan malam nggak, Teh?" tanya Mbak Sumi lembut.
Lily menggeleng pelan. "Nggak, Mbak. udah makan."
"Oh ya sudah. Meja makannya mau dibereskan."
"Iya, beresin aja."
Lily sempat terdiam sejenak, lalu bertanya, "Mama nggak makan?"
"Ibu pergi, Teh."
"Loh, mobilnya kan ada, mama naik apa?"
"Pergi sama Nini. Tadi dijemput."
"Ooh..."
Jawaban singkat itu sudah cukup.
Lily mengangguk kecil, lalu menutup kembali pintu kamarnya.
Suasana langsung kembali sunyi.
Ia bersandar sebentar di pintu, lalu berjalan pelan ke arah tempat tidur.
Di rumah sebesar ini, justru sepi sering terasa lebih nyata. Satu - satunya orang yang biasanya bisa ia harapkan ada di rumah hanyalah mamanya. Tapi malam ini pun tidak.
Papapnya?
Sebagai pilot, keberadaannya lebih sering di luar kota atau bahkan luar negeri daripada di rumah.
Yudha, adiknya?
Meski bukan pilot, jadwalnya tidak kalah padat. Bahkan sering kali lebih sulit ditemui dibanding papapnya.
Dan kakaknya, A' Bian?
Dia sudah tinggal di rumah sendiri bersama istri dan anak - anaknya yang kebetulan tidak jauh dari sini. Tapi waktu belum menikah sama saja, karena profesinya pilot juga, ya jarang di rumah juga. Intinya orang di rumah ini jarang di rumah, kecuali mamanya.
Lily tersenyum tipis.
Dan dirinya sendiri? Tidak jauh berbeda.
Jaga rawat inap dan praktek di Poli dari pagi hingga sore, atau setiap malam minggu jaga malam di IGD, ya tentu saja ia menginap juga di rumah sakit, waktunya habis di Rumah Sakit Royal, rumah sakit milik keluarga besar papapnya. Rutinitas yang padat, melelahkan, tapi sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Ironis.
Di rumah besar ini, semua orang sibuk dengan hidup masing - masing.
Dan malam seperti ini terasa terlalu ... lengang.
Lily duduk di tepi tempat tidur, lalu meraih ponselnya. Awalnya hanya ingin mengalihkan pikiran. Sekadar scrolling tanpa tujuan. Namun jemarinya berhenti. Nama itu kembali muncul di kepalanya. Mahardika Atmaja, Vina masih sempat menyebut nama lengkapnya ketika mereka mau berpisah, entah apa maksudnya.
Lily menatap layar ponselnya beberapa detik.
Entah kenapa, rasa penasaran itu muncul begitu saja. Tidak masuk akal, tapi cukup kuat untuk membuatnya tidak mengabaikan.
"Ngapain sih gue..." gumamnya pelan, meski tangannya tetap bergerak membuka aplikasi pencarian.
Jemarinya mulai mengetik: Mahardika Atmaja.
Lily bahkan tidak sadar ia menahan napas, sampai hasil pencarian itu mulai bermunculan satu per satu di layar ponselnya.
Rasa kesalnya mulai bergeser. Bukan hilang sepenuhnya, tapi berubah bentuk menjadi rasa ingin tahu yang aneh, semacam rasa penasaran alias kepo. Dan mungkin… ada juga rasa sedikit ketertarikan pada cerita hidup pria 'adem' itu.
Ia menekan salah satu tautan.
Matanya bergerak cepat, membaca setiap baris informasi yang tersaji.
Mahardika Atmaja.
Anak bungsu dari empat bersaudara. Satu - satunya anak laki - laki dalam keluarga Efendi Atmaja, keluarga besar yang namanya cukup dikenal di dunia bisnis. Dari kuliner, otomotif, hingga penginapan berupa vila-vila di Bali.
Usianya tiga puluh empat tahun.
Lily sedikit mengernyit. Tidak terlalu jauh dari perkiraannya. Ia melanjutkan membaca.
Mahardika menghabiskan masa mudanya di Jerman. Di sanalah ia menempuh pendidikan kuliah, bekerja, dan akhirnya menetap cukup lama sebelum kembali ke Indonesia. Kepulangannya bukan tanpa alasan, ia dipanggil untuk melanjutkan usaha keluarga setelah papanya mulai sakit-sakitan.
"Tipikal anak bungsu, satu-satunya laki-laki, pewaris usaha keluarga," gumamnya.
Ia bisa membayangkan tekanan yang ada di balik itu.
Scroll.
Nama lain muncul di layar. Gina Radianti, Istri Mahardika Atmaja.
Lily berhenti.
Entah kenapa, jempolnya tidak langsung bergerak. Ada jeda kecil sebelum ia melanjutkan membaca.
Ada beberapa foto mereka disana.
Gina adalah teman kuliah Mahardika di Jerman. Mereka menikah di Indonesia tapi tinggal di sana, membangun kehidupan bersama jauh dari keluarga.
Namun…
Napas Lily terasa sedikit tertahan saat membaca kalimat berikutnya.
Gina meninggal di usia tiga puluh satu tahun karena kanker getah bening.
Sejenak, Lily hanya menatap layar tanpa benar-benar membaca.
Ia melanjutkan dengan lebih pelan.
Mereka belum dikaruniai keturunan. Usia pernikahan mereka… hanya empat tahun.
sangat singkat.
Lily menghela napas pendek.
Pantas saja pria itu terlihat seperti seseorang yang tidak ingin terlalu dekat dengan siapa pun. Pantas saja sorot matanya terasa … kosong, tapi sekaligus tajam, layaknya seseorang yang pernah kehilangan sesuatu yang terlalu besar dalam hidupnya.
Lily menjatuhkan punggungnya ke sandaran tempat tidur, ponselnya masih di tangan.
Pandangannya terarah ke TV yang sedang tidak menyala dikamarnya.
Bayangan pria itu kembali muncul. Duduk canggung dan tak nyaman di hadapannya.
Dan sekarang… rasa dipikirannya sedikit berbeda. Om Dika bukan lagi sekadar pria menyebalkan yang menuduhnya salah meja, tapi rasa maklum ... mungkin saja ada luka yang belum benar-benar sembuh dihatinya makanya ia bersikap begitu.
Lily menghela napas lagi, kali ini lebih pelan.
"Berarti…" gumamnya lirih, " ..sudah tiga tahun dia sendirian?"
Pertanyaan itu menggantung, dan tentu saja tidak ada yang menjawab.
Lily menatap ke ponselnya lagi, ada foto Om Dika di salah satu artikel. Wajah yang sama seperti yang ia lihat tadi.Tapi kali ini ia memakai jas dan dasi warna maroon, jujur, Om Dika terlihat sangat tampan disana, mungkin karena senyum tipisnya yang sama sekali tidak ia lihat waktu di restoran tadi.
Lily mengerutkan kening sedikit.
"Aneh banget sih hidup gue," bisiknya pelan.
Adalah wajar Lily berpikir seperti itu. Tadi pagi sampai siang menjelang sore tadi ia sibuk mengurus pasien di poli umum, ia bahkan tidak tahu sama sekali siapa Mahardika Atmaja.
Siang menjelang sore, ia berdebat dengan pria itu perkara meja, semua gara - gara dua sepupu Vina dan Raffi.
Dan malam ini…
Ia justru duduk di kamarnya, membaca tentang kehidupan pria itu dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan sepenuhnya.
Kesal? Jelas masih ada.
Tapi entah kenapa ada rasa lain yang mulai muncul. Rasa yang membuatnya tidak langsung menutup halaman yang sedang dibacanya itu.