Sudah dua bulan sejak kejadian aneh itu berlalu.
Selama itu pula Lily belum pernah lagi bertemu langsung dengan Vina, Raffi apalagi omnya. Berarti mereka benar - benar menepati permintaannya waktu terakhir mereka bertemu untuk tidak mencoba lagi mencomblanginya.
Meski begitu, Lily dan Vina tidak sepenuhnya putus kontak. Sesekali mereka masih saling berkirim pesan di w******p, sekadar menanyakan kabar atau membahas hal - hal ringan. Obrolannya singkat, seperlunya, dan aman.
Tidak pernah lagi ada pembicaraan soal perjodohan dengan Om Dika seperti yang pernah ia rencanakan dengan Raffi. Seolah ada kesepakatan diam - diam untuk melupakan kejadian sore itu. Vina pun tampaknya sadar diri, atau mungkin merasa bersalah pada Lily hingga memilih tidak mengungkitnya lagi, bahkan sekadar menyebut nama Om Dika pun tidak.
Sementara Lily… sudah benar - benar move on dan melupakan semua. Hidupnya kembali normal sebagai high quality jomblo yang sibuk dengan pekerjaannya.
Tiga hari dalam seminggu, dari pagi hingga sore, ia sibuk dengan tugas jaga dirawat inap dan poli umum Rumah Sakit Royal. Sedangkan malam minggu ia berjaga di IGD yang tak pernah benar - benar sepi, pasien yang datang silih berganti, dan ritme kerja yang menuntut fokus penuh membuatnya tidak punya banyak waktu untuk memikirkan hal lain.
Masa sih sama sekali ia tidak pernah memikirkan pria itu?
Ini betulan, ia hampir tidak pernah memikirkannya lagi. Rasa penasaran yang sempat muncul waktu itu sampai mencari tahu lewat google tentang Om Dika ataupun mendiang istrinya, perlahan memudar. Ia menganggapnya hanya sebagai reaksi penasaran yang sesaat akibat pertemuan yang tidak biasa dan sedikit menjengkelkan, sebelumnya.
Hanya itu, tidak lebih.
Di luar itu, hidupnya tetap berwarna.
Sesekali ia pergi bersama teman - temannya entah itu teman kuliah, teman koas dulu, atau rekan kerja di rumah sakit. Kadang hanya untuk makan malam, kadang sekadar ngopi dan nongkrong dalam waktu yang panjang sambil bercerita hal - hal receh yang entah kenapa selalu terasa menyenangkan.
Di waktu lain, ia juga sering menghabiskan waktu dengan mamanya. Mencoba restoran baru, jalan - jalan ke mal, atau sekadar menemani belanja.
Rutinitas yang sederhana, tapi cukup membuatnya merasa … normal.
Seperti hari ini, ia sedang libur, Lily mengisi waktu sama mama Jani ke salon dan sedikit shopping. Dari siang mereka sudah pergi, jam dua belasan tepatnya.Sebelum ke salon, mereka makan dulu di rumah, jadi pas perawatan disalon nanti, mereka tidak akan kelaparan.
Lily berjalan berdampingan dengan mamanya di Plaza Indonesia, mereka masuk ke salon langganan yang sudah dipesan mama Jani. Walau orang salon bisa datang ke rumah, mama Jani lebih senang ke salonnya langsung, biar sekalian jalan - jalan seperti ini.
"Selamat datang bu Anjani dan kak Lily," sambut manajer salon yang menyambut mereka, mama Jani adalah pelanggan VIP mereka, wajar kalau sangat dikenal.
"Kami bisa langsung ya?" tanya mama Jani dengan wajah ramahnya.
"Bisa bu, silahkan."
Mereka masuk ruangan ViP seperti biasa dan mulai perawatan selama kurang lebih tiga jam.
Selesai perawatan, mereka keluar untuk shopping.
*
Mereka menikmati suasana sore yang tidak terlalu ramai di Mal ini sepulang dari salon dan sedikit berbelanja. Tangan Lily sesekali menggandeng lengan Mama Jani, sambil sesekali melirik etalase toko yang mereka lewati, padahal ditangan kirinya sudah ada dua paperbag.
"Masih mau belanja?" tanya mama Jani.
"Nggak, cuma ngelirik doang."
Mama Jani terkekeh.
"Beli juga nggak apa - apa."
"Nggak tahu juga mau beli apa."
"Baju itu bagus, Teh," kata mama Jani sambil menunjuk satu baju yang dipakai Manekin disebuah butik merek terkenal.
Mereka berjalan lagi.
"Baju pestaku masih ada yang belum dipake tuh dua, udah jarang datang ke pesta sejak jaga malam minggu di IGD."
"Lagian Teteh aneh. deh. Ngapain coba minta tugas jaga malam minggu, kelihatan banget jomblonya."
Lily tertawa.
"Siapa tahu nemu jodoh di IGD."
"Halah, nemu jodoh kok di IGD."
Lily senyum - senyum saja. Ia memang sering bercanda begini dengan mamanya. Apa yang dibicarakan bisa sambil lewat saja.
"Makan yuk, Ma, laper juga.."
Mama Jani melihat jam tangannya, sudah hampir jam setengah lima.
"Sekalian makan malam.aja ya, jangan cuma ngemil."
"Iya. Mau ditempat biasa, nggak?"
"Ya boleh."
Baru saja beberapa langkah, tiba - tiba ada yang memanggil Lily.
"Lily!"
Suara itu memanggil cukup jelas walau tidak terlalu keras.
Lily refleks menoleh.
Mama Jani juga ikut menoleh, tentu saja ia sedikit penasaran siapa yang memanggil anaknya barusan.
Dan hanya dalam satu detik, Lily langsung tahu siapa pemilik suara yang memanggilnya tadi, yaitu Raffi, sepupunya Vina.
Tapi Raffi tidak sendirian, bukan sama Vina atau teman sebaya. Raffi terlihat sedang mendorong kursi roda seorang wanita sepuh. Wajahnya terlihat lembut, penuh garis usia, tapi tetap memancarkan kehangatan dan kecantikan masa lalu. Di samping mereka, berjalan seorang wanita lain, usianya kurang lebih sebaya Mama Jani, dengan penampilan rapi dan anggun, dan satu lagi, wanita itu mirip Raffi.
Tanpa perlu berpikir lama, Lily sudah bisa menebak, Itu pasti keluarganya.
Jarak mereka berdiri sebenarnya tidak terlalu jauh, cukup dekat hingga suara Raffi bisa terdengar jelas, tapi Raffi tetap melangkah beberapa langkah agar mereka lebih dekat lagi, dia memastikan mereka benar - benar saling berhadapan.
"Apa kabar, Raf?" sapa Lily lebih dulu, mencoba terdengar santai.
"Baik," jawab Raffi singkat, tapi dengan senyum yang ramah.
Mereka berjabat tangan.
kemudian, Raffi berinisiatif memperkenalkan dua wanita yang sedang bersamanya itu.
"Kenalin, Ly … ini Oma Gia, Oma ku," katanya sambil sedikit menundukkan kepala ke arah wanita sepuh di kursi roda yang didorongnya.
Lily bersalaman dengan Oma Gia, mencium tangannya.
"Dan ini Mama Heni, mamaku."
Lily langsung tersenyum sopan. Ia juga menyalami Mama Heni dengan penuh hormat.
" Aku Lily, temannya Vina dan Raffi," kata Lily memperkenalkan dirinya.
Mama Heni membalas dengan senyum hangat, Oma Gia juga, matanya menatap Lily dengan lembut.
Lily pun tidak lupa memperkenalkan mamanya.
"Ma, ini Raffi … sepupunya Vina. Teman koas aku dulu. Mama ingat, kan?"
Mama Jani mengangguk.
"Iya, ingat," jawabnya sambil tersenyum, lalu menyalami Raffi, Mama Heni, dan Oma Gia satu per satu.
Percakapan kecil pun terjadi.
"Oh ternyata teman Vina waktu koas dulu, kirain tuh teman sma gitu ," kata Mama Heni.
"Iya tante, kami satu rumah sakit dulu."
Setelah Lily menjawab ucapan Mama Heni, tampak Raffi sedikit berbisik kepada Omanya, dan seketika membuat Oma Gia langsung menatap Lily. Sayangnya mama Jani dan mama Heni tidak terlalu memperhatikan itu, bahkan Lily juga, ia malah asik ngobrol bertiga dengan mamanya dan mamanya Raffi. Basa - basi yang wajar menanyakan sedang apa disini dan, sedikit cerita ringan tanpa masuk ke hal yang terlalu pribadi.
"Maaf ya kami pamit dulu, kebetulan jam tujuh Oma sudah ada janji dengan dokter Jantung di rumah sakit Royal. Takut macet," kata mama Heni sopan, ia tidak mau lawan bicaranya tersinggung.
"Oma sakit Jantung?" tanya Lily.
"Cuma kontrol rutin aja," jawab Oma Gia.
"Biasa sama dokter siapa, Oma?"
"Dokter Dhannis Mahendra."
Lily tertawa.
"Dokter Dhannis kakak sepupuku, Oma."
"Eh serius? Dulu Opanya Raffi berobatnya sama dokter Nino Mahendra, lho."
"Dokter Nino itu adik mertua saya," jawab mama Jani.
"Oalah, dunia sempit ya," kata mama Heni.
"Ya udah, takutnya nanti jadi terlambat, kasihan ibu," ucap mama Jani.
"Iya sampai ketemu lagi ya," jawab mama Heni sambil melihat ke mama Jani dan juga Lily.
"Iya, tante,," kata Lily,
"Mari Tante," pamit Raffi.
Mama Jani mengangguk.
"Lily, kapan - kapan main ke rumah Oma ya," kata Oma Gia ke Lily secara tiba - tiba, ajakan itu sempat membuat Lily kaget juga, tapi tetap menjawab dengan sopan..
"O iya Oma .. insyaAllah."
Raffi sempat melirik Lily sekilas dan tersenyum sebelum akhirnya mereka benar - benar berpisah, kali ini mama Jani menangkap momen itu.
Dan pertemuan itu pun berakhir… secepat itu dimulai.
Hanya beberapa langkah setelah berpisah, Mama Jani menoleh ke arah Lily.
"Kok Teteh bisa kenal sama Raffi?" tanyanya penasaran.
Lily tersenyum tipis.
"Waktu itu aku janjian sama Vina di restoran. Kebetulan Raffi ikut," jawabnya ringan.
Ia sengaja tidak menjelaskan lebih jauh soal pertemuan dua bulan yang lalu itu. Tidak ada alasan untuk membuka cerita lama yang … cukup mengesalkan itu.
Mama Jani mengangguk pelan, tapi tatapannya masih penuh rasa ingin tahu.
"Raffi ganteng, loh, Teh," kata Mama Jani tiba - tiba.
Lily langsung menoleh cepat ke arah mamanya, ada ekspresi kaget sekaligus heran.
"Tiba - tiba banget bilang Raffi ganteng. Maksud Mama apa?"
Suaranya spontan berubah, sedikit waspada.
Mama Jani tersenyum, terlihat menikmati reaksi anaknya.
"Ya nggak ada maksud apa - apa. Cuma bilang aja … Raffi ganteng."
Lily menyipitkan mata.
"Aku nggak percaya Mama cuma mau bilang gitu. Pasti ada lanjutannya."
Kali ini Mama Jani benar - benar tertawa.
"Kebaca ya, Teh?"
"Banget!"
Tawa Mama Jani semakin lepas, sementara Lily hanya bisa menghela napas, setengah heran, setengah pasrah.
"Mama apa sih … jangan mikir yang aneh - aneh, deh."
"Ya siapa tahu cocok," goda Mama Jani ringan.
"Ma!" protes Lily cepat.
Tapi bukannya berhenti, Mama Jani justru semakin terhibur.
"Apalagi Omanya nyuruh main ke rumah, tanda - tanda itu, Teh. Raffi pasti cucu kesayangan. Jarang - jarang cowok muda gitu mau dorong - dorong kursi roda neneknya di Mal."
"Nggak tahu ah, aku aja baru ketemu Raffi sekali, ini yang kedua."
"Tapi tatapannya tadi beda. Teh."
"Please deh, Ma."
Lily mulai mulas kalau mamanya menggoda seperti itu.
"Ih ...mama serius loh, padahal."
Lily memutar bola matanya malas.
Obrolan absurd itu terus berlanjut sampai mereka tiba di depan restoran yang mereka tuju.
Sebuah tempat yang cukup tenang, dengan suasana hangat dan elegan.
Karena belum memasuki jam makan malam, restoran itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa meja yang terisi, kebanyakan pengunjung duduk santai sambil menikmati teh dan cemilan manis.
Tanpa perlu menunggu, mereka langsung mendapat tempat duduk.
Lily menarik kursinya perlahan, lalu duduk sambil masih mengingat pertemuan tak terduga dengan keluarga Raffi tadi.
Dan entah kenapa … di balik candaan mamanya, ada satu hal yang sempat terlintas di pikirannya. Tapi bukan Raffi, melainkan tentang seseorang yang justru tidak ada di sana. Seseorang yang seharusnya tidak lagi ia pikirkan, seseorang yang bernama Mahardika Atmaja.
Eh tunggu.
Berarti Oma Gia itu mamanya si Om Dika itu, kan? Itu yang dibilang Vina dulu, Omanya Raffi cantik, memang tidak salah, sih.
Lily mengerjapkan mata cepat, seolah ingin menepis pikiran itu. Ia takut pikirannya jadi jauh dan kemana - mana.
"Fokus, Lily," ucapnya dalam hati sambil menatap daftar menu makanan yang sedang dipegangnya.