Bab 6: Belasungkawa yang Salah Alamat
Pagi hari di kantor terasa berbeda. Suasana tegang dan hening, tidak ada lagi candaan atau tawa yang biasa terdengar dari para karyawan. Agatha tiba di kantor dengan wajah masam, matanya terlihat lelah, seolah semalaman tidak tidur. Ia berjalan lurus ke ruangannya tanpa menyapa siapa pun.
Reyna, yang melihatnya dari meja kerjanya, merasa iba. Ia yakin bosnya sedang berduka karena kabar kecelakaan pesawat yang menimpa calon istrinya.
Dengan langkah ragu, Reyna memberanikan diri mengetuk pintu ruangan Agatha.
"Masuk," terdengar suara berat dari dalam.
Reyna masuk dengan kepala tertunduk. "Maaf, Pak, saya mengganggu," ucapnya pelan. "Saya cuma mau menyampaikan belasungkawa."
Agatha mendongak, menatap Reyna dengan bingung. "Belasungkawa untuk apa?" tanyanya datar.
"Untuk Nabila, Pak," jawab Reyna, suaranya pelan dan penuh empati. "Saya turut sedih atas apa yang terjadi."
Mendengar nama itu, wajah Agatha berubah. Raut sedihnya seketika diganti dengan ekspresi kesal. Ia berdecak, seolah Reyna baru saja mengatakan hal paling konyol di dunia.
"Kenapa? Kamu pikir Nabila meninggal?" tanya Agatha, nadanya terdengar sinis.
Reyna terkejut. "Bukankah... pesawatnya jatuh?"
"Nabila tidak ada di pesawat itu," jawab Agatha. "Dia selamat, tidak jadi berangkat."
Reyna membeku, tidak bisa berkata-kata. Belasungkawanya salah alamat. "Oh," adalah satu-satunya kata yang bisa keluar dari mulutnya.
"Lalu, kenapa Bapak terlihat murung?" tanya Reyna, yang tiba-tiba merasa jengkel. Ia sudah bersusah payah mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan simpati, tapi ternyata semua itu sia-sia.
Agatha menghela napas. "Dia memutuskan hubungan dengan saya."
Reyna mendengarkan dengan seksama.
"Bapak ketahuan?" tanyanya, tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Agatha terkejut. Matanya melotot, menatap Reyna dengan curiga. "Bagaimana kamu tahu?"
Reyna mengangkat bahu, "Oh, jadi benar. Saya pikir cuma kebetulan saja, kemarin saya lihat Bapak masuk ke sebuah hotel. Makanya saya tebak-tebak saja."
Agatha menggeram kesal. "Sekarang kamu sudah tahu, jadi cepat keluar! Aku tidak ingin diganggu."
"Rey..." Panggil Agatha saat Reyna hendak keluar.
Reyna berhenti.
"Reyna, belikan saya kondom."
Reyna mendengus, "Belalai gajah bos sialan ini memang tidak ada matinya!"
"Apa katamu?"
"Tidak pak, hehehe"
***
Suara musik rock dari earphone Reyna berdentum keras, berusaha menenggelamkan suara-suara sumbang dari ruangan bosnya. Ia kembali ke mejanya, menenggak kopi tanpa gula yang dibuatnya tadi. Ia menghela napas, bertanya-tanya apakah ia bisa bertahan di kantor ini.
Tiba-tiba, seorang wanita dengan penampilan rapi dan sopan menghampirinya. Pakaiannya tertutup, rambutnya dicepol rapi, dan wajahnya dipoles riasan tipis.
Reyna terkekeh dalam hati. Biasanya, tamu Agatha memiliki penampilan yang kurang bahan, tapi kali ini berbeda.
.
"Saya ingin bertemu dengan Pak Agratha," ucap wanita itu, suaranya lembut.
"Hah? Maksudnya Pak Agatha?" tanya Reyna, sedikit bingung.
"Ah, iya. Maaf, saya terbiasa memanggilnya Agra," jawab wanita itu, tersenyum kecil.
"Sebelumnya sudah ada janji?"
"Belum," jawab wanita itu jujur.
"Maaf, tapi Pak Agatha sedang ada tamu," jelas Reyna, sedikit canggung.
Wanita itu tersenyum tipis. "Tamu?" tanyanya sambil menggerakkan dua jarinya di udara, seolah ia paham maksud Reyna.
Reyna mengangguk.
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Kapan kamu berubah, Gra?" gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
"Maaf, kalau boleh tahu, Mbak ada keperluan apa?" tanya Reyna, penasaran
Wanita itu mengulurkan tangannya. "Yura. Saya mantan sekretaris Pak Agra. Sekaligus sahabatnya dari kecil."
Reyna membalas jabat tangan itu. "Oh, Reyna."
"Maaf, Mbak. Apa dari dulu Pak Agatha selalu seperti ini?" tanya Reyna, tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Yura menghela napas. "Agratha pria baik, Rey. Ia hanya sedang mengobati lukanya."
"Luka?"
"Ya. Ia kehilangan ayahnya karena ayahnya bunuh diri akibat gangguan jiwa. Dan... itu disebabkan ibunya." Yura terdiam sejenak.
"Ibunya mengkhianati ayah Agratha berulang-ulang, bahkan memasukkan obat-obatan agar ayahnya gila."
Reyna terkejut. Kisah masa lalu itu sangat jauh dari sosok Agatha yang selama ini ia kenal. "Duh, kok saya jadi curhat. Maaf, ya, saya cuma prihatin sama Agra," ucap Yura, menyadari dirinya terlalu terbuka.
"Tidak apa-apa, Mbak."
"Saya di sini ingin memberi undangan. Tolong sampaikan pada Agra, ya. Karena, jika saya harus menunggunya bermain-main, mungkin sampai besok juga tidak akan selesai," gurau Yura, mencoba mencairkan suasana.
"Eh, iya, Mbak. Akan saya sampaikan," jawab Reyna sambil menerima undangan itu.
"Titip Agratha, ya," ucap Yura sambil tersenyum tulus, lalu melangkah pergi.
Reyna mematung, menatap undangan di tangannya. Perlahan, ia mulai memahami kenapa Agatha selalu seperti itu. Di balik sikap arogan dan hobi 'mengumpulkan' wanita, ada luka mendalam yang tidak bisa ia sembuhkan. Ia merasa iba, tapi juga bingung. Ia tahu ia tidak bisa ikut campur, tapi hatinya tidak bisa menolak untuk merasa prihatin.