Bab 7. Peringatan Lucy

1041 Words
Jam kantor usai. Reyna, yang sejak tadi masih memikirkan kisah masa lalu Agatha dari Yura, merapikan mejanya. Ia merasa dilema. Di satu sisi, ia merasa iba. Tapi di sisi lain, ia juga kesal dengan tingkah laku bosnya. "Reyna, ayo pulang!" ajak Lusy, rekan kerjanya yang sudah lebih dulu bekerja dengan Agatha. Lusy adalah wanita yang ramah dan suka bergosip. "Sekalian temenin aku belanja, yuk" Reyna mengangguk. "Boleh, Kak." Mereka berdua berjalan menuju supermarket. Di sela-sela memilih bahan makanan, Lusy tiba-tiba menatap Reyna dengan serius. "Rey, kamu itu polos, ya," kata Lusy. Reyna mengerutkan kening. "Maksudnya, Kak?" "Aku lihat dari gelagatnya, kamu itu beda. Dan Agatha, sepertinya juga menganggapmu beda," jelas Lusy. "Kamu jangan mau jadi korban dia, ya." "Korban apa?" tanya Reyna, bingung. "Ya, korban... dia," jawab Lusy, suaranya pelan. "Dulu, waktu Yura masih jadi sekretaris Agatha, jarang ada wanita seksi yang datang. Semua karyawan berasumsi Yura yang memenuhi kebutuhan Agatha. Tapi, kebenarannya tidak ada yang tahu. Jadi, kamu biarkan saja Bos Hyper itu bermain-main dengan wanita jalanan. Kamu jangan mau jadi salah satu wanitanya." Reyna terkejut. "Maksud Kakak, Kak Yura pernah...?" "Aku enggak tahu. Tapi, rumornya seperti itu," potong Lusy, lalu kembali fokus memilih sayuran. "Pokoknya, kamu hati-hati. Agatha itu playboy sejati. Kamu jangan mau jadi korban dia. Jaga jarak saja." Peringatan Lusy membuat Reyna semakin pusing. Cerita Yura, rumor dari Lusy, dan tingkah laku Agatha yang tak tertebak, semuanya bercampur menjadi satu. Reyna hanya bisa menghela napas. "Pusing, Kak," gumamnya. "Duh, jadi sekretaris kok ribet begini." Lusy tertawa. "Makanya, Rey, jadi sekretaris Agatha itu tidak hanya tentang pekerjaan, tapi juga tentang bertahan hidup." Setelah selesai berbelanja, Reyna berjalan pulang dengan pikiran yang kalut. Ia tidak tahu harus percaya pada siapa. Yang jelas, satu hal yang ia pahami: Bosnya, Agatha, adalah misteri yang belum terpecahkan. Ia tidak bisa terlalu dekat, juga tidak bisa terlalu jauh. *** Esok harinya, kantor kembali ramai seperti biasa, namun ada aura berbeda yang menyelimuti. Peringatan Lusy semalam masih terngiang-ngiang di telinga Reyna. Ia memutuskan untuk lebih waspada, menjaga jarak, dan mengawasi setiap gerak-ik Agatha. "Reyna, tolong atur janji dengan klien baru, Clara dari perusahaan Glamour Cosmetics. Ajak dia makan siang bersama saya," perintah Agatha. Reyna mematuhi. Pukul dua belas siang, Reyna dan Agatha sudah berada di sebuah restoran mewah. Mereka menunggu tidak lama, sebelum seorang wanita cantik dengan rambut pirang ikal dan gaun merah menyala menghampiri meja mereka. Penampilan wanita itu sungguh mencolok, dan Reyna bisa melihat mengapa Agatha begitu tertarik. Wanita itu mengenakan gaun yang begitu pas di tubuhnya, menonjolkan lekuk-lekuk tubuhnya, terutama dua aset berharga yang dibungkus kain tipis. "Halo, Pak Agatha. Saya Clara," sapa wanita itu dengan suara manja. "Halo, Clara. Silakan duduk," jawab Agatha, suaranya sedikit serak. Mata hitamnya tidak bisa lepas dari dua aset berharga milik Clara. Reyna hanya bisa menghela napas. Ia tahu, peringatan Lusy ada benarnya. Ini adalah awal dari bencana. Selama makan siang, Agatha benar-benar tidak bisa menahan diri. Setiap kali Clara berbicara, matanya tidak pernah beranjak dari dua bola besar milik Clara. Agatha terlihat seperti remaja yang baru mengenal dunia. Ia tersenyum genit, mengedipkan mata, bahkan menyentuh tangan Clara secara tidak sengaja. Reyna, yang duduk di sampingnya, merasa malu dan jijik. Ia mencoba memberi isyarat dengan batuk-batuk kecil, tapi Agatha mengabaikannya. Saat Clara sedang menjelaskan proposal kerja samanya, Agatha, yang tidak mendengarkan, malah asyik meminum kopi yang ia pesan. Tiba-tiba, Reyna, yang sudah muak, menginjak kaki bosnya dengan tumit sepatu hak tingginya. Agatha terkejut, batuk, dan menyemburkan kopi yang sedang ia minum. Kopi itu, alih-alih menyembur ke arah lain, justru menyembur tepat ke dua bola besar milik Clara. Gaun merah menyalanya kini dipenuhi noda kopi yang pekat. Clara, yang terkejut, berteriak. "Astaga! Apa-apaan ini?!" Agatha panik. Ia segera mengambil tisu yang ada di meja dan mengelap noda kopi di gaun Clara. "Maaf, Clara! Saya tidak sengaja!" Tapi bagi Clara, tindakan Agatha itu sudah kelewat batas. Ia merasa dilecehkan. Ia menampar Agatha dengan keras, membuat suara yang menggelegar di seluruh restoran. "Dasar pria m***m! Kerjasama kita batal!" Clara berdiri, lalu berjalan pergi dengan wajah memerah. Semua mata di restoran menatap ke arah mereka. Reyna hanya bisa menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan wajahnya yang malu. Agatha, yang masih terkejut dengan tamparan itu, menatap Reyna dengan tatapan marah. "Ini semua gara-gara kamu!" Di dalam mobil, Agatha terus memarahi Reyna. "Gara-gara kamu, aku kehilangan klien besar!" "Tapi Bapak yang salah! Dari tadi mata Bapak terus menatap..." Reyna tidak berani melanjutkan kalimatnya. "Menatap apa?! Aku hanya melihat proposalnya!" bentak Agatha. "Proposalnya ada di tangan Bapak!" balas Reyna. Agatha terdiam. Ia tahu Reyna benar. Ia memang tidak bisa menahan diri. Namun, egonya terlalu besar untuk mengakui kesalahan. "Pokoknya ini semua salahmu! Kamu akan kupecat!" ancam Agatha. Reyna hanya bisa menghela napas. "Pecat saja, Pak. Saya juga sudah lelah. Selama saya kerja di sini, saya hanya disuruh beli kondom, memutar musik keras, dan sekarang, saya disalahkan karena Bapak m***m!" Agatha terdiam lagi. Ia tidak bisa membantah. Semua yang dikatakan Reyna benar. "Tapi, apa yang akan terjadi dengan perusahaan jika Bapak kehilangan klien besar? Bukankah itu akan merugikan semua orang?" tanya Reyna. Pertanyaan Reyna menusuk tepat di ulu hati Agatha. Ia tahu, kehilangan klien besar seperti Glamour Cosmetics bisa berdampak buruk bagi perusahaannya. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi. "Tugasmu sekarang adalah memperbaiki kesalahan ini. Hubungi Clara, minta maaf, dan atur pertemuan baru," perintah Agatha, nadanya kini lebih tenang. "Dia sudah menampar Bapak dan membatalkan kerja sama, Pak. Saya rasa itu akan sulit," jawab Reyna. "Tidak ada yang tidak mungkin. Gunakan semua pesona yang kamu punya. Buat dia mau bertemu lagi dengan saya," kata Agatha. Reyna menatap Agatha dengan tatapan tidak percaya. "Pesona? Saya?" "Ya. Kamu. Bukankah kamu yang membuat masalah ini?" Reyna merasa ingin menjerit. Ini semua bukan salahnya. Tapi ia tahu, berdebat dengan Agatha hanya akan memperburuk keadaan. "Baik, Pak. Akan saya coba," jawab Reyna, pasrah. Agatha mengangguk. "Bagus. Kamu punya waktu sampai besok pagi." Sesampainya di kantor, Reyna langsung menghubungi Clara. Teleponnya tidak diangkat. Ia mengirim pesan, tapi tidak dibalas. Clara seolah-olah menghilang dari muka bumi. Reyna merasa putus asa. Ia tahu, ini adalah tugas yang mustahil. Tapi ia juga tidak mau dipecat. Ia butuh pekerjaan ini. Ia harus menemukan cara untuk membujuk Clara. Di dalam ruangannya, Agatha membuka laci mejanya, mengambil foto Ibunya, dan menatapnya. "Ini semua salahmu," bisiknya, penuh kebencian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD