Bab 19

1163 Words

Bab 19. Pukulan Pagi Hari Keesokan harinya. Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyinari kamar Reyna. Perlahan, Reyna membuka matanya. Pandangannya buram, kepalanya terasa pening, tetapi sensasi panas semalam telah menghilang. Reyna menyentuh keningnya. Ia merasa ada handuk dingin di sana. Ia terkejut, lalu matanya menyapu sekeliling ruangan. Ia melihat sebuah kursi yang tidak pada tempatnya, dan... seorang pria tertidur pulas di sofa kecil di sudut kamarnya. Agatha. Reyna membeku. Napasnya tercekat. Kenapa Agatha ada di sini? Bagaimana bisa? Ia merasa ada sebuah keanehan. Ia bangun, lalu menyadari pakaiannya telah berganti. Ia tidak lagi memakai kaos basah yang ia kenakan semalam. Ia kini memakai kaos polos, tetapi ia tidak memakai bra. Reyna merasa wajahnya memerah, amarahnya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD