Bab 20: Proposal Bisnis dan Cemburu Hyper

1333 Words

Reyna berdiri di dalam kamar mandi, menatap perban cokelat di pergelangan tangannya untuk kesekian kali. Sensasi dingin air yang membasuh wajahnya telah meredakan panas di ubun-ubunnya, tetapi kekacauan dalam pikirannya masih bergejolak. Ia tidak membenci perban itu—ia membenci fakta bahwa Agrata yang memasangnya. Bagaimana mungkin seorang pria bisa sekejam itu dengan leluconnya, lalu selembut itu dalam merawat lukanya? Ia menghela napas, menata kembali rambutnya yang acak-acakan. Saat membuka pintu, cahaya pagi terasa lebih terang, dan suasana di luar terasa seribu kali lebih canggung. Agrata masih berdiri di tempat yang sama, dekat pintu, seolah-olah Reyna akan kabur jika ia bergerak satu inci pun. Ia tidak lagi menyeringai sinis. Wajahnya pucat, mata hyper-nya menunjukkan ketakutan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD