Jantung Reyna berdebar kencang saat ia mengaduk kopi untuk bosnya, Agatha.
Rasanya bukan hanya kopi di cangkir yang diaduk, tetapi juga perasaannya yang campur aduk memikirkan "hukuman" apa yang akan ia terima. Ia membayangkan skenario-skenario mengerikan, dari dimarahi habis-habisan hingga dipaksa mengerjakan tumpukan laporan yang mustahil selesai dalam semalam.
Dengan langkah yang mantap, Reyna memasuki ruangan bos sambil membawa nampan berisi secangkir kopi.
"Kenapa tidak mengetuk pintu?" tanya Agatha, suaranya terdengar dingin saat Reyna berdiri di depannya.
Reyna mengumpat dalam hati. Ia saking gugupnya sampai melupakan etika dasar. "Astaga, karena terlalu gugup, saya sampai melupakan hal sekecil itu," gumamnya.
"Mohon maaf, Pak, saya lupa," ucap Reyna dengan wajah menyesal.
"Keluar," perintah Agatha.
"Hah?" Reyna terkejut.
"Keluar! Lalu ketuk pintunya terlebih dahulu!" Titah Agatha, suaranya tegas.
Reyna mendengus kesal. "Astaga!" gumamnya sambil keluar dari ruangan. Ia menarik napas, mengatur ekspresinya, lalu kembali berdiri di depan pintu.
Tok... tok... tok...
"Masuk," terdengar suara Agatha.
Reyna masuk lagi, berjalan menuju meja bos. "Ini, Pak, kopinya. Silakan dinikmati." Setelah meletakkan cangkir kopi, Reyna berbalik, hendak pergi secepatnya.
"Tunggu," kata Agatha. "Apa kau lupa? Kau sudah membuat kesalahan, dan harus menerima hukuman." Agatha berdiri, melangkah mendekat ke arah Reyna.
Reyna menelan ludah. "Mm-maaf, Pak." Ia tergagap saat Agatha mengikis jarak di antara mereka.
Ketampanan Agatha terlihat semakin jelas dari jarak sedekat itu. Hidungnya yang bangir, rahangnya yang tegas, dan tatapan matanya yang tajam membuat Reyna mematung.
Hidung mereka bahkan hampir bersentuhan.
"B-bapak mau apa?" tanya Reyna, suaranya bergetar. Ia memejamkan mata, menunggu hal terburuk terjadi.
Agatha memicingkan mata, lalu menyeringai. "Kenapa kau pejamkan matamu? Apa yang kau pikirkan?" ucapnya, lalu menempelkan selembar uang seratus ribu di kening Reyna.
Plak!
Reyna membuka mata, terkejut merasakan tepukan pelan di dahinya.
"Belikan saya kondom," perintah Agatha, lalu kembali ke kursinya.
"Apaaa?!" tanya Reyna, memastikan ia tidak salah dengar.
"Ck, apa kau tuli karena mendengarkan musik saat bekerja? Cepat, lakukan saja perintah saya jika kau masih ingin bekerja di sini."
Reyna pergi meninggalkan ruangan Agatha dengan perasaan kesal. Ia masih tidak habis pikir. Hanya karena mendengarkan musik saat bekerja, ia harus membeli benda memalukan itu.
"Arrrrghhhh!" teriak Reyna frustrasi.
Dengan kesal, Reyna bergegas mencari apotek terdekat. Setelah berjalan sekitar satu kilometer, ia menemukan sebuah apotek di pinggir jalan.
"Sial, yang jaga cowok lagi," gumamnya.
"Mas, Sutra-nya satu," bisik Reyna, wajahnya sudah memerah.
Pria penjaga apotek itu menatap Reyna dari ujung kaki hingga ujung rambut, tatapannya begitu genit hingga membuat Reyna semakin salah tingkah.
Setelah mendapatkan benda konyol itu, Reyna segera pergi meninggalkan apotek. Wajahnya sudah merah padam karena menahan malu.
"Ini uangnya, ambil saja kembaliannya," ujar Reyna tanpa menatap pria itu.
Sesampainya di kantor, Reyna buru-buru ingin menyerahkan kondom itu kepada Agatha.
Namun, ia melihat tirai bambu di jendela ruangan bos sudah tertutup, pertanda Agatha sedang membutuhkan privasi.
"Ini kantor atau tempat prostitusi sih?
Ruangan bos kok jadi tempat keluar masuknya wanita seperti itu," gumam Reyna, geleng-geleng kepala.
Tok... tok... tok...
"Masuk!" Titah Agatha dari dalam.
"Pak, saya sudah membawa... ko...ko..." Kalimat Reyna terputus saat melihat tatapan horor dari bosnya. Mata Agatha melotot seolah ingin keluar dari tempatnya.
"Ada apa?" isyarat Reyna melalui tatapan matanya.
Agatha tidak menjawab, ia malah semakin melotot ke arah Reyna. Di pangkuannya, duduk seorang wanita cantik yang terlihat kebingungan. "Ada apa, Sayang? Kenapa matamu seperti ingin keluar begitu?" tanya wanita itu.
"Hah? Enggak, aku lagi nahan mules, Sayang," alibi Agatha, yang terdengar sangat tidak masuk akal. "Reyna, sebaiknya kau kembali ke ruanganmu!"
"Tapi, Pak, saya sudah mendapatkan ini," ucap Reyna sambil menyodorkan sekotak kondom Sutra.
Agatha menepuk keningnya, frustrasi. Wanita yang duduk di pangkuannya langsung berdiri, menatap kotak di tangan Reyna dengan mata membesar.
"Apa-apaan ini, Sayang?! Kamu mau main sama sekretaris kamu?" tuduh wanita itu, suaranya meninggi.
"Hah?" Reyna terkejut.
"Bukan, bukan begitu, Sayang! Kamu salah paham!" jelas Agatha, berusaha menenangkan wanita itu. Namun, wanita itu menggelengkan kepalanya penuh kekecewaan, lalu pergi meninggalkan Agatha yang mengusap wajahnya frustrasi.
"REYNAAAAAA!" teriak Agatha kesal.
"Kenapa, Pak?" tanya Reyna, sama sekali tidak merasa bersalah. "Bukankah Bapak ingin memakai benda itu bersama wanita tadi? Lalu kenapa dia malah kabur?" tanya Reyna, yang benar-benar tidak mengerti situasi.
"Wanita itu calon istri saya, Reyna!" jelas Agatha, suaranya sudah seperti beruang mengamuk.
"Lalu? Apa masalahnya?" tanya Reyna polos.
"Masalahnya dia mengira saya akan menggunakan benda itu bersamamu!"
"Oh! Kalau begitu Bapak harus mengejarnya dan memberikannya penjelasan!" usul Reyna.
"Apa yang harus saya jelaskan padanya?! Saya harus bilang saya akan memakainya bersama wanita penghibur?!" Agatha membentak.
Reyna mengangguk setuju.
"Bodoh!" umpat Agatha.
"Lalu saya harus bagaimana, Pak?" tanya Reyna. Ia tidak mau calon istri bosnya itu salah paham dengannya.
Agatha menatap Reyna dengan tatapan nyalang, lalu melangkah perlahan mendekatinya. Reyna seketika melangkah mundur karena takut. "M-maafkan saya, Pak," cicitnya.
Punggung Reyna menabrak tembok. Pada saat yang sama, Agatha sudah berada di hadapannya. "Saya punya usul," bisik Agatha, wajahnya begitu dekat hingga Reyna bisa merasakan hangat napasnya menerpa kulit wajahnya. "Bagaimana kalau kita mengabulkan dugaan calon istri saya?"
"M-maksud B-bapak?" tanya Reyna, suaranya hilang ditelan udara.