Bab 1. Guncangan di gendang telinga Reyna

619 Words
Reyna merasakan guncangan di gendang telinganya, bukan karena gempa, melainkan suara-suara menjijikkan yang merayap keluar dari balik pintu kaca buram ruangan bos barunya. Hari pertama bekerja, dan ia sudah dihadapkan pada situasi yang membuat perutnya mual. Suara-suara itu seolah memanggilnya untuk segera mengundurkan diri, tetapi ia teringat bagaimana susahnya mencari pekerjaan setelah setahun menganggur. Reyna menghela napas, terpaksa menelan rasa jijiknya demi kelangsungan hidup. Ia mundur perlahan, kembali ke mejanya di luar. Ia tidak ingin mengganggu 'kesenangan' sang bos. Setelah satu jam, pintu itu terbuka. Seorang wanita dengan rok mini ketat dan blus terbuka keluar dengan rambut sedikit berantakan. Reyna meliriknya, lalu kembali menatap layar komputernya, mencoba untuk tidak membuat kesimpulan apa pun. Setelah wanita itu pergi, Reyna berdiri dan menghampiri ruangan bos. Ia menarik napas dalam-dalam, mengetuk pintu dengan sopan, dan menunggu izin masuk. "Masuk," terdengar suara berat dari dalam. Reyna mendorong pintu, masuk dengan kepala tegak. Di balik meja besar, Agatha duduk dengan tatapan tajam. Mata hitamnya mengintimidasi. "Kau yang menggantikan Yura?" tanya Agatha, nadanya dingin dan datar. "Benar, Pak," jawab Reyna, suaranya mantap. "Bacakan agenda saya," perintah Agatha tanpa basa-basi, pandangannya tidak beranjak dari layar komputer. Reyna mengambil agenda di tangannya. Ia tahu ada satu rapat yang sudah terlewat setengah jam yang lalu. Rasa gugup menyerangnya, tetapi ia berusaha tetap profesional. "Agenda pagi ini... rapat dengan tim pemasaran, pukul sembilan. Lalu, ada rapat dengan Pak Handoko pukul sepuluh," ucap Reyna. Ia berhenti sejenak, tenggorokannya tercekat. Tatapan Agatha yang dingin membuatnya semakin tegang. "Lanjutkan," kata Agatha, suaranya tajam. "Mohon maaf, Pak. Rapat dengan Pak Handoko terlewat," ucap Reyna jujur, tidak berani berbohong. Agatha mendongak, menatap Reyna dengan tatapan setajam elang. "Kenapa?" "Karena... saya mendengar suara erangan seorang wanita dari ruangan Anda, Pak. Saya tidak berani masuk karena saya khawatir ada masalah yang membutuhkan privasi." Reyna mengatakannya dengan lancar, sedikit rasa kesal tersembunyi di dalam nada bicaranya. Wajah Agatha berubah, raut marahnya berganti menjadi canggung dan malu. Matanya yang tajam kini memandang ke arah lain, menghindari kontak dengan Reyna. Privasinya terbongkar, dan ia tahu hal itu membuat dirinya tampak buruk di depan sekretaris barunya. "Kembali ke ruanganmu! Usulkan kembali rapat yang terlewat untuk besok," titah Agatha, matanya lurus menatap layar komputer di depannya. Reyna tidak bisa menahan senyum puasnya. Ia melangkah keluar dari ruangan itu dengan perasaan menang. Saat jam istirahat tiba, Reyna keluar dari ruangannya, siap mencari makan siang. Langkahnya terhenti saat ia menabrak seorang wanita dengan pakaian yang lebih minim dari yang sebelumnya. Wanita itu tersenyum genit, lalu berjalan masuk ke ruangan Agatha. Reyna hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tidak habis pikir. Bosnya ini sepertinya punya hobi 'mengumpulkan' wanita-wanita seksi. Setelah makan siang, Reyna kembali ke mejanya. Ia baru saja duduk saat suara-suara menjijikkan itu kembali terdengar. Kali ini lebih keras dan lebih... berani. "Astaga!" desis Reyna, mencengkeram kepalanya. Ia tidak tahan lagi. Tanpa pikir panjang, ia mengambil earphone dan memasangnya, memutar lagu-lagu rock keras untuk menenggelamkan suara yang mengganggu dari ruangan Agatha. Reyna begitu tenggelam dalam musiknya sampai ia tidak menyadari telepon di mejanya berdering, berulang kali. Suara dering itu terhalang oleh dentuman musik, dan Reyna tidak mendengar satu pun panggilan dari Agatha. Tiba-tiba, bayangan gelap menutupi mejanya. Reyna mendongak, dan jantungnya hampir copot. Agatha, si bos hiper, berdiri tegak di belakangnya dengan tangan terlipat di depan d**a. Ekspresi wajahnya keras dan tidak ramah. Reyna segera berdiri, mencabut earphone-nya. "Maaf, Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya, suaranya sedikit gemetar. Agatha tidak menjawab. Ia hanya menatap Reyna tajam. "Apa kau ingin kupecat di hari pertamamu bekerja?" tanyanya, suaranya rendah dan mengancam. "T-tidak, Pak," jawab Reyna terbata. "Kalau begitu buatkan saya kopi," ucap Agatha. "Dan... persiapkan dirimu untuk menerima hukuman." Setelah mengucapkan itu, ia berbalik dan masuk ke ruangannya. Reyna hanya bisa mematung, pandangannya kosong. "H-hukuman...?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD