Wajah Fery semakin dekat. Hingga Adrela bisa merasakan napas pria itu menyentuh bibirnya.
Jantungnya berdebar begitu keras sampai telinganya berdenging. Telapak tangannya basah oleh keringat. Namun genggaman Fery terasa hangat, membuatnya berpikir mungkin kali ini tidak akan gagal.
Mungkin kali ini berbeda. Mungkin kali ini ia tidak akan pulang sendirian lagi.
Hanya tinggal sedikit lagi.
Sedikit.
Sedikit lagi—
Tiba-tiba kepalanya tertarik ke belakang.
"Eh?!"
Adrela langsung membuka mata.
Di sampingnya berdiri Rezy. Tatapannya datar. Seolah ia sedang menahan sesuatu.
Fery langsung berdiri.
"Siapa lo?!"
"Bukan gini caranya lo ngajak cewek yang baru lo kenal."
Suasana di meja langsung berubah dingin.
"Apa urusan lo?" bentak Fery.
"Urusan gue adalah dia bukan cewek yang bisa lo ajak seenaknya."
"Rezy!" Adrela langsung menarik lengan sahabatnya. "Lo apaan sih?!"
Adrela langsung berdiri. "Kamu salah paham." Suaranya terdengar lebih kecil dari yang ia inginkan. "Rezy cuma sahabat gue."
Fery tertawa pendek. "Sahabat?"
Ia menunjuk Rezy yang masih berdiri di samping meja dengan wajah datar.
"Sahabat yang tiba-tiba muncul pas gue hampir nyium lo?"
Adrela membuka mulut, tapi tidak ada jawaban yang keluar. Karena kalau dipikir-pikir... ia juga tidak tahu bagaimana Rezy bisa sampai di sana.
Fery menggeleng pelan. "Oke." Ia meraih dompetnya. "Kayaknya kita cukup sampai sini."
Adrela membeku. "Apa?"
Fery menatapnya sebentar. Tatapan yang tadi hangat sekarang berubah hambar.
"Gue nggak suka dibohongin."
"Tapi gue nggak—"
"Atau mungkin..." Fery tersenyum tipis. "Sekarang gue ngerti kenapa umur segini lo masih sendiri."
Wajah Adrela langsung pucat.
Fery melirik Rezy.
"Lepasin dulu sahabat lo sebelum cari pacar."
Lalu ia pergi begitu saja. Meninggalkan Adrela yang bahkan belum sempat membela diri.
Rezy langsung memaki. "Dasar brengsek."
Tapi saat menoleh, ia mendadak diam. Matanya mulai berkaca-kaca, pipinya memerah, bibirnya bergetar takut pecah menangis
"Lo kenapa?"
BUK.
Pukulan mendarat di lengannya. "Ini semua gara-gara lo!"
BUK.
"Fery jadi pergi!"
Rezy mengerutkan dahi. "Hah? Gue nolongin lo."
"Nolongin apanya?!" Suara Adrela pecah.
"Kita bahkan belum tukeran nomor!"
"Gue cuma nggak mau lo diremehin, Adrela."
"Diremehin gimana?!"
"Gue lihat sendiri dia mau ngapain! Dia mau nyium lo."
"Tapi dia suka sama gue!"
Rezy tertawa pendek. Terdengar sinis. "Lo yakin?"
"Yakin!"
"Karena cowok itu, bilang apa yang pengen lo denger?"
Wajah Adrela memerah. "Gue hampir punya pacar, Rezy!"
"Pacar?"
"Iya!"
Ia menunjuk pintu keluar. "Fery tuh dewasa, keren, tubuhnya kekar, wangi."
Tatapannya turun ke pakaian Rezy. "Nggak kayak lo."
Rezy diam.
“Kaos oblong, celana jeans gombrang, noda oli dimana-mana dan ... lo udah berapa hari nggak mandi, hah?!”
Rahang Rezy mengeras. "Adrela."
"Tiap hari kerja di bengkel—"
"CUKUP."
Untuk pertama kalinya malam itu Rezy meninggikan suara. Adrela terdiam. Seluruh tubuhnya ikut membeku.
Rezy melangkah mendekat.
Satu langkah.
Lalu satu lagi.
Sampai jarak mereka tinggal beberapa senti.
Rezy menatap dengan lekat. "Cowok itu baru kenal lo berapa menit." Nada suaranya rendah. "Tapi lo udah nutup mata buat dicium dia."
"Apa salahnya?" Ujar Adrela
"Apa salahnya lo bilang?!" Rezy tertawa pendek. "Lo bahkan nggak kenal dia."
"Setidaknya dia suka sama gue!"
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang Adrela sadari. Karena rahang Rezy langsung mengeras.
"Lo mau dianggap cewek murahan?"
PLAK!
Tamparan itu mendarat keras. Kepala Rezy sampai berpaling.
“Lo jahat!” Adrela langsung pergi.
“Adrela! Tunggu!” Rezy mengejar, napasnya memburu. “Ayo gue anter pulang.”
“Gue nggak mau!” Adrela menepis, langkahnya cepat.
Langit tiba-tiba gelap, dan dalam hitungan detik hujan turun deras. Keduanya berhenti, sama-sama basah kuyup. Rambut Adrela menempel di wajahnya. Rezy berdiri beberapa langkah di belakang, bingung harus gimana.
“Gue cuma punya satu jas hujan,” kata Rezy, mencoba untuk mendekat.
Adrela malah mendorong Rezy keras hingga ia tersentak mundur.
“Gue nggak butuh lo!” serunya, lalu berlari di bawah hujan.
“Adrela! Mau naik taksi aja?!” Rezy masih berusaha mengejar.
Tapi Adrela tetap berlari, air hujan menyelimuti tubuhnya. Sampai akhirnya ia berhenti di persimpangan jalan, tepat di bawah papan iklan besar.
Iklan itu menampilkan sepasang model yang berpelukan dan hampir berciuman, wajah mereka dekat dan sempurna. Sangat mirip dengan momen yang tadi hampir dia dapatkan… sebelum segalanya hancur berantakan.
Adrela menengadah, lalu teriak. “Gue benci lo, Rezy!”
Ia berteriak sekeras mungkin dan seolah semesta menertawakan, sebuah mobil melaju kencang melewati genangan besar tepat di depan Adrela.
BYUR!
Sebuah mobil melintas. Air kotor menyiram seluruh tubuhnya.
Adrela mematung.
Lalu tertawa yang terdengar seperti putus asa. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada tangisannya.
Rezy yang berdiri di belakangnya hanya bisa terdiam. Ia melangkah mendekat dan mencoba menyentuh lengan Adrela.
“Udahlah, kita naik taksi aja —”
Namun Adrela langsung menepis tangannya. Tatapannya tajam, penuh kesal.
“Jangan sentuh gue.”
Rezy menghela napas pelan, tapi tak memaksa lagi.
***
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di taman kecil dekat apartemen. Permainan anak-anak di sana sudah karatan, ayunan berdecit tiap kali tertiup angin. Hujan baru saja berhenti. Adrela duduk di ayunan, menatap kosong ke depan, rambutnya masih meneteskan sisa air hujan.
Rezy datang mendekat sambil membawa handuk dan segelas teh panas dalam gelas kertas.
“Nih.”
Adrela mengambil handuk itu, mengeringkan rambutnya perlahan. Ia menerima teh panas dari Rezy, lalu meniup uapnya sambil menatap lurus ke depan.
“Kenapa nasib gue begini amat, sih?” tanyanya pelan. “Kemarin gue nolak diajak ke hotel, terus gue malah dikatain kolot.”
Rezy melirik pelan.
“Hari ini gue dibilang pembohong.”
"Lalu sahabat gue sendiri ngancurin ciuman pertama gue."
Rezy mengusap wajahnya. Ia hanya duduk di ayunan sebelah sambil menghirup tehnya sendiri.
Adrela menatapnya, lalu perlahan mendekat, terlalu dekat hingga wajah mereka hanya sejengkal.
“Lo cemburu ya?” bisiknya.
Rezy langsung tersedak. Batuk-batuk keras sambil menjauh sedikit.
“Dih gila ya? Buat apa gue cemburu?”
Adrela berdiri, emosi meledak. “Terus ngapain lo gangguin gue tadi?!”
Rezy meremas gelas tehnya kesal. “Gue udah bilang! Hubungan itu harus mengalir santai! Kalo tadi lo beneran ciuman sama tuh cowok, terus dia ngajak ke hotel, lo bakal iyain?”
Adrela mengembuskan napas panjang, frustasi. “Gue cuma… nggak mau dianggap kolot. Jadi gue mikir ya… sekali ini nggak apa-apa.”
Rezy menatapnya dengan ekspresi tak percaya.
“Emangnya lo pernah ciuman? Tiba-tiba gigi lo tabrakan sama gigi dia gimana? Lo nggak bakal malu apa?”
Adrela langsung terdiam. Merasa bodoh. Merasa konyol.
Ia menunduk. “Emangnya… gimana harusnya?”
“Ya… bukan gitu caranya, Adrela. Ciuman pertama lo bukan hal yang harus dipaksain, cuma biar nggak keliatan kolot. Itu harusnya… terjadi karena lo mau. Karena momen itu tepat. Karena orangnya juga tepat.”
Adrela menggenggam handuk itu erat, lalu menatap Rezy mengamati setiap detail wajahnya.
“Terus menurut lo… cara yang tepat gimana?”
Rezy menatapnya balik, lama. Hening merayap di antara mereka. Angin malam bertiup pelan, bermain dengan ujung rambut Adrela.
Tiba-tiba, Rezy berdiri. Langkahnay mendekat ke arah Adrela, lalu kedua tangannya terangkat cepat, menangkup sisi wajah Adrela.
"Kayak gini."
Perempuan itu membeku. Jantungnya langsung berdebar.
"Rezy..."
Namun pria itu tidak menjawab. Tatapannya turun ke bibir Adrela. Napas mereka bertemu. Jarak mereka menghilang.
Lalu Rezy menciumnya.
Adrela membeku, dan seluruh dunia seolah berhenti berputar.