Chapter 2

1294 Words
Pagi datang terlalu cepat. Adrela mengerjap pelan saat cahaya matahari menembus tirai apartemennya. Kepalanya masih berat akibat alkohol semalam. Ia mengerang kecil lalu berusaha berganti posisi. Namun tubuhnya tidak bergerak jauh. Ada sesuatu yang hangat menahannya. Adrela membuka mata lebih lebar. Lalu membeku. Ia berada di dalam pelukan Rezy. Satu lengan pria itu melingkari pinggangnya. Wajahnya hampir menempel di da*da bidang yang naik turun dengan napas tenang. Butuh tiga detik bagi otaknya untuk memproses semuanya. Dan akhirnya sadar bahwa dirinya hanya mengenakan underwear dan kaus dalam tipis. "REZYYYYYY!" Teriakannya mengguncang seluruh kamar. Rezy langsung tersentak bangun. "Hah?! Kebakaran?!" Matanya menyipit kebingungan sebelum akhirnya turun ke posisi mereka. Lalu ia mengumpat pelan. “s**t!” Adrela buru-buru menarik selimut sampai menutupi dagunya. "Lo apain gue?!" "Apa?" "Lo macem-macem sama gue, ya?!" Rezy mengusap wajahnya kasar sebelum meraih kacamatanya dari nakas. "Adrela." "Apa?!" Rezy memasang kacamatanya lalu menatapnya datar. "Lo mabuk parah. Lo nggak inget kebiasaan lo yang suka buka baju kalo mabuk?" Wajah Adrela langsung kosong. Perlahan, ingatan samar mulai muncul. Adrela perlahan menarik selimut sampai menutupi wajahnya. "Astaga! Gue lupa.” Rezy hanya menggeleng kecil sambil berdiri dari ranjang. Ia mengambil kaus oblong yang tergeletak di lantai lalu memakainya cepat. Karena sejujurnya, bangun dan mendapati Adrela tertidur di pelukannya bukan pengalaman yang ingin ia pikirkan terlalu lama. "Lo nggak kerja?" tanyanya. Adrela menoleh ke arah jam weker. Lalu matanya membelalak. "ASTAGA!” Ia langsung meloncat dari ranjang. "Gue telat!" Rezy memejamkan mata. “Udah biasa.” Dua puluh menit kemudian, Adrela keluar dari apartemen dengan kemeja putih, rok selutut, dan rambut yang masih sedikit berantakan karena disisir terburu-buru. Ia baru saja hendak memanggil taksi ketika suara klakson terdengar. Tit! Tit! Adrela menoleh. Vespa merah tua yang sudah lebih pantas masuk museum daripada jalan raya berhenti tepat di depannya. Rezy mengangkat dagu. "Naik." "Lo belum pulang?" Sebagai jawaban, Rezy mengulurkan kantong plastik berisi roti dan kopi dingin. "Makan dulu." Adrela menerimanya tanpa banyak protes. Lima menit kemudian mereka sudah melaju membelah jalan pagi yang mulai ramai. Adrela menggigit rotinya. "Lumayan." "Lumayan?" "Maksud gue enak." Rezy mendengus. Adrela meneguk kopinya lalu menyandarkan dagu di bahu Rezy sesaat. "Mabuk gue langsung hilang." "Bagus." "Lagian gue nggak sering mabuk." "Kemarin siapa yang hampir jatuh dari motor tiga kali?" Adrela pura-pura tidak dengar. Beberapa saat mereka terdiam. Lalu Rezy berkata pelan. "Kurangin alkohol kalau lagi ketemu cowok baru." Adrela mengangkat alis. "Kenapa?" Tatapan Rezy tetap lurus ke jalan. "Gue nggak bisa jagain lo terus." Kalimat itu membuat Adrela terdiam sesaat. Namun kemudian ia mendengus. "Gue bisa jaga diri sendiri." Rezy tidak membantah. Ia hanya berkata, "Semoga." Tak lama kemudian mereka tiba di depan kantor. Adrela turun cepat. "Nih." Ia menyerahkan kantong plastik berisi sampah roti dan botol kopi kosong. "Makasih ya." Lalu langsung berlari masuk ke dalam gedung tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Rezy yang masih menatap punggungnya yang menjauh. Adrela hampir terpeleset ketika berlari menuju lift. Pintu hampir menutup, tapi ia berhasil menahannya dengan tangan. Beberapa pegawai di dalam lift menatapnya, dan Adrela buru-buru membungkuk kecil. “Maaf… makasih ya,” ucapnya sambil menarik napas. Begitu pintu lift kembali menutup, suara familiar berbisik di sampingnya. “Gimana kencan buta lo kemarin?” Adrela menoleh. “Laras… jangan tanya.” Laras menaikkan alis, penasaran. “Kenapa? Gagal? Lagi?” Adrela mendesah panjang. “Hancur total. Kayaknya gue emang nggak cocok dapet cowok dari cara beginian. Bukan gue banget.” Lift berbunyi, pintu terbuka, dan mereka berjalan keluar bersama menuju koridor kantor. “Kok bisa sampai hancur total?” tanya Laras lagi sambil mengikuti langkah Adrela. “Gue… nggak tahu. Kayaknya gue memang nggak pantes,” jawab Adrela pelan. “Atau mungkin bukan caranya yang salah, tapi gue-nya yang nggak cocok.” Laras langsung menepuk bahu sahabatnya itu. “Tenang... Kalo yang itu gagal, masih banyak lagi cowok lain. Gue cariin yang baru deh buat lo.” Adrela tersenyum lemah. “Makasih, Ras.” Mereka tiba di persimpangan lorong. Laras melambaikan tangan sambil berjalan lurus menuju area staf, sementara Adrela belok ke kanan menuju ruangannya sendiri. Ini adalah tahun kedua Adrela menjabat sebagai Kepala General Affair. Di usianya yang baru dua puluh delapan tahun, pencapaian itu terbilang cukup cepat. Tanggung jawabnya pun tidak sedikit, mulai dari pengadaan kebutuhan kantor, pengelolaan aset dan fasilitas gedung, hingga memastikan operasional kantor berjalan lancar setiap hari. Adrela duduk di kursinya, menyalakan komputer, lalu mulai memeriksa laporan dan email yang masuk. Baru sekitar lima belas menit bekerja, notifikasi ponselnya berbunyi pelan. Pesan dari Laras muncul di layar. [Jam 7 malam di Cafe Bar. Namanya Fery, 33 tahun, dokter gigi. Orangnya cakep, kalem. Lo pasti cocok.] Adrela langsung menjatuhkan ponselnya ke meja. "Ya ampun..." Baru semalam ia pulang sambil menangis di belakang punggung Rezy. Baru semalam ia merasa seperti perempuan paling gagal. Dan sekarang Laras sudah mencarikan kandidat berikutnya. Jempolnya mengetik cepat. [Gue capek, Ras.] Balasan Laras datang hampir seketika. [Makanya jangan menyerah.] Adrela menatap layar. [Kalau yang ini juga gagal gimana?] [Ya cari lagi, Adrel.] Adrela mengembuskan napas panjang. Sesederhana itu bagi Laras. Cari lagi. Coba lagi. Seolah jatuh cinta adalah sesuatu yang bisa dipelajari dengan latihan. Sementara sampai umur dua puluh delapan tahun, Adrela bahkan belum pernah berhasil mempertahankan satu hubungan pun. Ponselnya kembali bergetar. [Minimal ketemu dulu. Lo nggak harus langsung suka.] Adrela menyandarkan kepalanya ke kursi. Entah kenapa ia teringat ucapan Rezy pagi tadi. "Gue nggak bisa jagain lo terus." Menyebalkan karena pria itu selalu terdengar benar. Adrela menutup mata beberapa detik. Lalu akhirnya mengetik satu kata. [OK.] Begitu pesan terkirim, ia langsung menjatuhkan ponselnya ke meja. "Kalau gagal lagi..." gumamnya pelan. Ia tidak melanjutkan kalimat itu. Karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu berapa kali lagi ia sanggup mencoba. *** Adrela mendorong pintu Cafe Bar, aroma kopi, alkohol ringan, dan musik pelan langsung menyambutnya. Ia menatap ponselnya yang mendapatkan pesan dari Rezy menanyakan apakah dia sudah pulang. Tapi Adrela cuma balas bahwa dia lagi di Cafe Bar buat kencan buta. Matanya melihat ke sekeliling, hingga jatuh pada satu sosok tinggi di sudut ruangan dengan kemeja putih rapi, rambut klimis, dan senyum kecil yang mengarah padanyaa Adrela menegakkan bahu dan melangkah menuju pria itu. “Adrela?” tanya lelaki itu sambil tersenyum hangat. Adrela membalas senyumnya. “Iya. Fery, ya?” Beberapa saat kemudian, keduanya duduk lebih santai. Fery duduk sedikit condong ke depan, senyumnya penuh percaya diri. Adrela berusaha membalas dengan senyum tipis, tapi rasa tegang di d**a membuatnya hampir susah menelan ludah. “Jadi…” Fery memutar gelasnya pelan. “Udah berapa banyak cowok yang lo pacarin?” Pertanyaan itu membuat Adrela beku. Ia memegang ujung roknya, menunduk sedikit. “Belum… pernah,” jawabnya pelan. Fery terdiam sesaat, dan itu cukup buat jantung Adrela deg-degan, takut akan reaksi yang sama seperti kencan-kencan sebelumnya. Tapi alih-alih menyingkir atau memandang rendah, Fery justru tersenyum lebih lembut. “Gue kagum,” katanya tulus. “Nggak banyak cewek yang milih fokus ngembangin karir dulu ketimbang cinta-cintaan.” Adrela mengangkat wajahnya, jelas terkejut. “Menurut lo... itu bagus?” “Banget,” balas Fery, kini suaranya lebih hangat. Tiba-tiba Fery mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Adrela di atas meja. Gerakannya mulus, seolah natural. Ia mendekat, wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajah Adrela. “Berarti…” suaranya merendah, “lo juga belum pernah ciuman dong?” Adrela menelan ludahnya pelan. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia yakin Fery bisa mendengarnya. Fery tersenyum kecil. "Lo tegang banget." Adrela tertawa gugup. "Kelihatan, ya?" "Banget." Jarak mereka semakin dekat. Adrela bisa mencium aroma parfum Fery yang samar. Matanya perlahan terpejam. Mungkin Laras benar. Mungkin selama ini ia hanya belum bertemu orang yang tepat. Mungkin kali ini berbeda. Mungkin— BRRRT. Ponselnya bergetar di atas meja. Layar menyala. Nama yang muncul membuat senyumnya langsung tertahan. Rezy. Adrela membuka mata. Sementara di depannya, Fery masih menatapnya dengan jarak yang nyaris tak menyisakan ruang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD