Langkah Adrela terasa berat saat memasuki kamar hotel itu.
Pintu tertutup pelan di belakangnya, membuat dadanya ikut menegang. Untuk beberapa detik ia hanya berdiri mematung di dekat pintu, memandangi ruangan yang menjadi menyeramkan.
Sementara itu, Fery terlihat jauh lebih santai.
Pria itu meletakkan kunci kamar di atas meja, lalu berjalan menuju minibar. Dengan gerakan yang seolah sudah sangat biasa, ia mengambil sebotol wine, membukanya, dan menuangkan cairan merah itu ke dalam dua gelas.
"Ini," katanya sambil menyerahkan satu gelas pada Adrela.
Adrela menerimanya dengan tangan sedikit gemetar. Ia menunduk menatap permukaan wine yang bergoyang pelan di dalam gelas.
Semuanya terasa berjalan terlalu cepat.
Beberapa saat yang lalu mereka masih berada di club. Musik berdentum keras, lampu warna-warni berputar di atas kepala mereka, dan Fery terus mengajaknya tertawa di tengah lantai dansa.
Adrela bahkan masih bisa mengingat bagaimana Fery merangkul pinggangnya dan berbisik bahwa suasana di sana terlalu ramai.
"Cari tempat yang lebih tenang, yuk."
Saat itu Adrela tidak sempat berpikir panjang. Mungkin karena ia masih terbawa suasana. Mungkin karena untuk pertama kalinya ada pria yang terlihat benar-benar tertarik padanya.
Atau mungkin karena ia masih teringat ucapan orang-orang yang selama ini menganggapnya terlalu kaku, terlalu hati-hati, terlalu kolot.
Jadi ketika Fery mengajaknya pergi bersama, ia hanya mengangguk.
Dan sekarang...
Ia berada di kamar hotel bersama pria yang baru dikenalnya. Jantungnya berdetak semakin cepat. Fery sudah duduk santai di tepi ranjang sambil memutar gelas winenya.
"Kenapa tegang begitu?" tanyanya sambil tersenyum.
Adrela memaksakan senyum kecil.
"Nggak kok."
Padahal jelas-jelas ia gugup. Tangannya dingin. Tenggorokannya terasa kering. Bahkan napasnya terasa tidak teratur.
Fery menepuk sisi ranjang di sampingnya.
"Duduk sini."
Adrela menatap tempat yang ditunjuk itu selama beberapa detik. Lalu perlahan melangkah mendekat.
Namun semakin dekat ia ke ranjang itu, semakin keras pula suara hatinya mempertanyakan satu hal yang sama.
Apa dia benar-benar siap melakukan ini?
Akhirnya Adrela duduk perlahan di ujung ranjang. Jarak di antara mereka masih cukup jauh, tapi entah kenapa dadanya tetap terasa sesak.
Fery memperhatikannya sebentar, lalu terkekeh pelan.
"Lo tegang banget."
Adrela memaksakan senyum. "Soalnya... gue belum pernah begini."
"Begini gimana?"
"Ya..." Adrela menunduk. "Pergi berduaan ke hotel."
Fery mengangkat alis. "Oh."
Fery menggeser duduknya lebih mendekat. Adrela yang sejak tadi duduk kaku langsung menegakkan punggungnya.
Tiba-tiba Fery menyentuh lengannya.
Tapi sentuhan itu justru membuat seluruh tubuh Adrela bergetar. Nafasnya pendek, jantungnya memukul-mukul rongga da*da. Adrela mencoba untuk menjauh dari Fery.
Tapi Fery langsung mencengkram bahu Adrela, ia mendekati wajahnya jelas berniat menciumnya. Detik itu juga Adrela memalingkan wajahnya cepat.
Fery langsung menghela napas keras, kecewa, lalu matanya berubah dingin.
“Ya ampun… lo kaku banget,” gumamnya, dan tanpa peringatan ia mendorong tubuh Adrela hingga berbaring di atas ranjang.
“Fery jangan!” pekik Adrela panik.
Fery mendekat, tubuhnya condong ke arah Adrela. Namun tepat sebelum ia menyentuh, Adrela bergerak lebih cepat.
BUGH!
Kaki Adrela menghantam perut Fery dengan kekuatan penuh.
Fery terjengkang ke belakang sambil mengumpat keras. Sementara Adrela bangkit secepat kilat, tubuhnya masih gemetar tapi tekadnya jauh lebih kuat.
Saat Adrela mencoba kabur, tangan Fery tiba-tiba meraih gaunnya dengan kasar.
“Mau kemana lo?” geramnya.
KRAKK.
Gaun Adrela robek di bagian belakang, membuatnya tersentak kaget dan makin panik. Tapi ia tak berhenti. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Adrela berhasil memutar kenop pintu dan membukanya lebar.
Tepat di depan pintu, Rezy berdiri di sana dengan wajah yang mengeras. Matanya langsung naik ke arah Fery di dalam kamar, yang masih memegangi sobekan gaun Adrela.
Dalam sepersekian detik, rahang Rezy mengeras.
“Dasar b******k!” pekik Rezy penuh amarah.
Fery belum sempat menjawab.
BUG!
Tinju Rezy menghantam wajah Fery dengan keras. Fery terlempar ke samping, menabrak meja kecil dan jatuh dengan ringisan.
Rezy maju selangkah, menunduk menatap Fery dengan tatapan membunuh.
“Kalo lo berani deketin Adrela lagi, gue bawa lo ke kantor polisi! b******n!”
Fery tak bisa membalas. Ia hanya memegangi hidungnya yang berdarah.
Rezy kemudian berbalik pada Adrela. Napasnya masih berat menahan emosi, tapi tatapannya melembut saat melihat gadis itu gemetar.
“Lo nggak apa-apa?” tanyanya cemas.
Ia melepas hoodie hitam yang ia pakai, lalu menyampirkannya ke bahu Adrela, menutup bagian gaun yang robek. Rezy menarik resletingnya dengan hati-hati, memastikan Adrela tertutup.
“Ayo. Kita pergi dari sini.”
Tanpa menunggu jawaban, Rezy menggenggam pergelangan tangan Adrela dan menuntunnya menjauh dari kamar itu, menjauh dari Fery, dari ketakutan, dan dari semua hal yang baru saja hampir terjadi.
***
Kini keduanya berada di bengkel Rezy.
Lampu neon tua menggantung redup di langit-langit. Bau oli bercampur besi memenuhi ruangan. Mereka duduk di atas karpet kumal yang biasa dipakai Rezy untuk beristirahat saat bengkel tutup.
Adrela masih mengenakan hoodie Rezy. Ukurannya terlalu besar hingga menutupi sebagian pahanya. Pipinya memerah karena alkohol, matanya sembap setelah menangis.
Rezy menyesap birnya lalu melirik ke arahnya.
"Lo nggak mau pulang?"
Adrela mendengus pelan. Lalu tiba-tiba berteriak.
"b******k!"
Ia meraih kaleng bir kosong di dekatnya lalu melemparkannya sembarangan ke sudut ruangan.
"Padahal gue udah bertekad buat ngelakuin itu..."
Suaranya pecah.
"Meski gue belum pernah sama sekali."
Ia tertawa kecil, tapi terdengar menyedihkan.
"Tapi pas ada kesempatan, gue malah takut."
Rezy menyandarkan punggung ke tumpukan ban. "Itu karena lo maksa diri lo sendiri."
Adrela menggeleng cepat. "Bukan."
"Terus?"
"Gue capek."
Ia menunduk.
"Gue capek jadi orang yang selalu ketinggalan."
Adrela mengusap matanya kasar. "Semua orang gampang banget jatuh cinta, gampang punya pasangan." Suaranya semakin pelan. "Sementara gue nggak ngerti apa-apa."
Rezy diam.
"Kadang gue mikir..." Adrela tertawa hambar. "Jangan-jangan emang ada yang salah sama gue."
Rahang Rezy langsung mengeras. "Jangan ngomong begitu."
"Tapi kenyataannya gitu, Zy." Air mata kembali jatuh. "Setiap kali gue kenalan sama cowok, ujung-ujungnya mereka pergi."
Ia menatap lantai.
"Kenapa nggak ada yang mau sabar sedikit sih? Kenapa nggak ada yang mau kenal gue dulu sebelum mikirin hal lain?"
Rezy menggenggam kaleng birnya lebih erat.
Adrela menggeser tubuh mendekat. Sampai akhirnya kedua tangannya naik memegang wajah Rezy.
Pria itu langsung membeku.
"Adrela..."
"Lo nggak mau ajarin gue?" Suara Adrela nyaris berbisik. "Biar gue nggak takut. Biar gue nggak gugup. Biar gue nggak keliatan bodoh terus."
Mata mereka bertemu. Jarak mereka tinggal beberapa senti.
Rezy bisa mencium aroma sampo dan parfum yang masih tertinggal di rambut Adrela.
"Lo mabuk."
"Terus?"
"Besok pagi lo bakal nyesel."
"Nggak."
"Lo nggak tahu apa yang lo omongin."
Adrela menggeleng.
"Gue tahu."
Rezy mengembuskan napas panjang. Berusaha menjaga jarak. Berusaha tetap berpikir jernih. Tapi Adrela tidak melepaskan wajahnya.
Tatapannya justru semakin lembut.
"Kalau bukan sama lo... Gue nggak tahu harus percaya sama siapa lagi."
Kalimat itu menghantam Rezy jauh lebih keras daripada yang seharusnya. Karena sejak kecil memang selalu begitu.
Saat Adrela bertengkar dengan orang tuanya, dia datang ke Rezy.
Saat Adrela gagal ujian masuk Universitas, dia datang ke Rezy.
Saat Adrela menangis, dia datang ke Rezy.
Dan malam ini...
Ia datang lagi.
Mencari tempat aman yang sama.
Rezy memejamkan mata sesaat. Seolah sedang berdebat dengan dirinya sendiri. Lalu perlahan ia membuka mata.
"Lo yang minta, ya."
Adrela mengangguk kecil. Kali ini tidak ada teriakan. Tidak ada tangisan. Hanya tatapan yang tidak berpaling.
Rezy mengangkat satu tangan. Menyelipkan rambut basah yang menempel di pipi Adrela ke belakang telinganya.
Jantung Adrela berdetak semakin cepat. Tangannya masih mencengkeram kerah kaus Rezy. Napas mereka mulai bercampur.
Perlahan Rezy mendekat. Adrela tidak mundur. Matanya jatuh ke bibir pria itu. Dan saat jarak di antara mereka nyaris tidak ada lagi, Adrela menutup matanya.
“Kita mulai dari yang ringan dulu.”