Bibir mereka akhirnya bertemu.
Hanya sesaat.
Namun bagi Adrela, waktu seolah berhenti bergerak.
Jantungnya berdetak begitu keras hingga memenuhi telinganya sendiri. Napasnya tercekat, sementara jemarinya tanpa sadar mencengkeram kaus Rezy sedikit lebih erat. Ini seharusnya terasa menakutkan.
Anehnya... tidak.
Yang ia rasakan justru kehangatan. Ciuman itu tidak tergesa. Tidak menuntut. Tidak memaksa.
Rezy hanya diam di sana, memberinya ruang untuk mundur kapan pun ia mau. Hal itu justru membuat seluruh ketakutan Adrela perlahan runtuh.
Selama ini ia selalu membayangkan ciuman pertama sebagai sesuatu yang harus ia hadapi, sesuatu yang membuatnya gugup, sesuatu yang mungkin akan meninggalkan penyesalan.
Ternyata tidak. Bukan seperti ini rasanya.
Ada ketenangan yang mengalir pelan di sela-sela debar jantungnya. Seolah seseorang sedang berkata tanpa suara bahwa ia tidak perlu terburu-buru menjadi siapa pun selain dirinya sendiri.
Adrela berhenti memikirkan apakah ia terlihat bodoh. Berhenti memikirkan apakah ia melakukan sesuatu dengan benar. Berhenti memikirkan penilaian orang lain.
Yang tersisa hanya detak jantungnya... dan rasa aman yang entah sejak kapan selalu ia temukan ketika berada di dekat Rezy.
Tanpa sadar, tubuhnya ikut mengendur. Ia membalas ciuman itu dengan ragu-ragu, mengikuti ritme yang tenang, membiarkan dirinya larut dalam perasaan yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Bukan gairah. Melainkan kepercayaan. Saat napas mereka mulai menipis, Rezy perlahan menjauh.
Jarak beberapa sentimeter kembali tercipta di antara mereka. Tatapan mereka bertemu.
Mata Adrela masih terpejam sesaat sebelum perlahan terbuka. Wajahnya memerah, napasnya belum sepenuhnya teratur. Ia menatap Rezy dengan kebingungan yang bercampur rasa tenang yang sulit dijelaskan.
Rezy mengusap pelan helaian rambut yang menempel di pipinya. "Cukup sampai sini," ucapnya lirih. "Nggak semua pelajaran harus diselesaikan dalam satu malam, La."
Adrela tidak menjawab, ia masih terpaku. Napasnya belum kembali teratur. Ada sesuatu yang terasa menggantung di da*danya. Seperti hujan yang sudah mengumpulkan awan gelap, tetapi tak pernah benar-benar turun. Hangat yang baru saja memenuhi dirinya mendadak terputus, meninggalkan ruang kosong yang aneh.
Adrela menatapnya bingung. "Hah?"
"Untuk malam ini... cukup." Rezy hendak mundur, tetapi jemari Adrela lebih dulu menangkap pergelangan tangannya.
"Jangan."
Suara itu begitu lirih hingga nyaris tenggelam oleh keheningan bengkel.
Rezy mengernyit. "Adrela..."
"Gue..." Adrela menggigit bibirnya sendiri, berusaha mencari kata-kata. "Gue masih mau."
Kalimat itu membuat Rezy membeku.
Belum sempat ia merespons, Adrela sudah bergerak lebih dulu. Dengan ragu, canggung, dan sama sekali tanpa pengalaman, ia mendekat lalu mengecup bibir Rezy sekali lagi.
Kali ini justru Rezy yang kehilangan napas. Matanya membelalak. Jantungnya menghantam dadanya begitu keras hingga rasanya hampir memekakkan telinga.
Refleks, kedua tangannya terangkat. Namun bukannya memeluk Adrela, jemarinya justru berhenti di udara, mengepal kosong.
Ia takut.
Takut jika satu sentuhan saja membuatnya kehilangan kendali yang sejak tadi mati-matian ia pertahankan.
Adrela masih mencium dengan kikuk, mengikuti naluri yang bahkan ia sendiri tidak mengerti. Tidak sempurna. Tidak terlatih. Justru kepolosan itu membuat d**a Rezy semakin sesak.
"Adrela..."
Suara Rezy nyaris tak terdengar. Beberapa detik kemudian, ia memaksa dirinya menjauh. Bukan karena tidak menginginkannya.
Justru karena terlalu menginginkannya. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berantakan.
"Pelan-pelan."
Adrela berkedip bingung.
"Jangan buru-buru."
Rezy mengusap wajahnya sendiri sebelum kembali menatap Adrela.
"Lo nggak perlu ngejar semuanya dalam satu malam."
Suaranya rendah, kini jauh lebih tenang. "Rasain momennya... satu per satu."
Adrela langsung terdiam. Pipinya memanas. Ia menunduk, lalu tertawa kecil karena malu.
"Ciuman gue... aneh ya?"
Rezy menggeleng pelan.
"Tadi... gue bikin lo nggak nyaman, Zy?"
Pertanyaan itu membuat Rezy menahan napas. Kalau saja Adrela tahu... Yang tidak nyaman bukan ciumannya.
Melainkan dirinya sendiri yang hampir lupa bagaimana caranya menjaga jarak dari perempuan yang diam-diam sudah begitu lama memenuhi pikirannya.
Namun semua itu hanya berhenti di dalam kepalanya. Ia mengalihkan pandangan, meraih jaket yang tergeletak di sampingnya, lalu berdiri.
"Udah terlalu malam."
Nada suaranya kembali datar, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Gue anterin lo pulang."
Adrela masih menatapnya beberapa detik. Ada sedikit rasa kecewa yang tak sempat ia sembunyikan.
Tetapi akhirnya ia mengangguk pelan, bangkit dari duduknya, lalu mengikuti langkah Rezy keluar dari bengkel.
Sementara Rezy berjalan lebih dulu, diam-diam menggenggam tangannya sendiri di dalam saku jaket. Berusaha meredakan sisa debar yang belum juga mau tenang.
***
Malam sudah jauh lewat tengah malam ketika mereka keluar dari bengkel. Rezy mengenakan helmnya tanpa banyak bicara, lalu melemparkan satu helm lain ke arah Adrela.
"Pakai."
Adrela menangkapnya pelan.
Sejak ciuman itu berakhir, tak satu pun dari mereka benar-benar tahu harus berkata apa.
Ia mengenakan helm dengan gerakan kikuk, lalu naik ke jok belakang vespa. Ada jarak beberapa senti yang sengaja ia sisakan di antara tubuh mereka.
Dulu, jarak seperti ini tidak pernah ada. Bahkan sejak SMA, ia sudah terbiasa nebeng di belakang vespa butut Rezy. Ia akan asal memukul pundak Rezy, mengomel sepanjang jalan, atau iseng menarik ujung hoodie pria itu.
Tapi malam ini... Tangannya justru menggantung canggung di udara. Pegangan besi di belakang terlalu jauh.
Kalau memegang pinggang Rezy... Entah kenapa, rasanya berbeda.
Rezy menyalakan mesin. Vespa mulai melaju membelah jalanan kota yang mulai sepi. Hanya suara mesin tua dan angin malam yang menemani mereka.
Adrela berusaha menjaga keseimbangan tanpa menyentuh Rezy sama sekali. Ia menggenggam sisi jok erat-erat.
Dalam keheningan itu, Adrela mencoba untuk menenangkan diri. Namun setiap kali mengingat hangat bibir Rezy... Jantungnya kembali berdetak tidak karuan.
Ia buru-buru menggeleng kecil.
Beberapa menit kemudian, vespa memasuki jalan perumahan yang lampunya lebih redup. Rezy tidak sadar bahwa di depannya ada polisi tidur yang cukup tinggi.
Bruk.
Vespa memantul cukup keras.
"Ah!"
Tubuh Adrela langsung terangkat dari jok. Keseimbangannya hilang seketika. Sebelum sempat terjatuh, Rezy refleks melepaskan sebelah tangannya dari setang dan meraih pergelangan tangan Adrela.
"Pegangan, La." Suaranya terdengar tegas. Tanpa sempat berpikir, tangan Adrela ditarik ke depan.
Refleks. Tangannya melingkar di pinggang Rezy. Tubuh mereka langsung menegang bersamaan.
Adrela membeku, ia bisa merasakan hangat tubuh pria itu. Punggung yang selama ini terasa biasa saja kini mendadak begitu nyata.
Setiap getaran mesin vespa membuat tubuh mereka ikut bergesekan pelan.
Dan entah kenapa... Itu membuat napas Adrela sedikit berantakan. Ia menelan ludah. Pelukannya tidak ia lepas.
Takut jatuh. Atau... Takut kehilangan rasa aman yang anehnya baru ia sadari malam ini.
Di depan, Rezy menggenggam setang sedikit lebih kuat. Rahangnya mengeras.
Ia bisa merasakan kedua lengan Adrela memeluk pinggangnya dengan ragu, namun cukup erat hingga kehangatan tubuh perempuan itu menembus jaket yang dikenakannya.
Sial.
Kenapa jadi begini sih?
Ia memaksa pandangannya tetap lurus ke jalan. Setiap embusan napas Adrela yang sesekali menyentuh tengkuknya membuat tenggorokannya terasa kering.
Da*da Adrela yang menempel di punggungnya terasa hangat dan ... kenyal? Namun, Rezy mencoba untuk mengatur napas agar tidak berpikir yang macam-macam.
Tiba-tiba seekor kucing melompat melintasi jalan.
"Ck!" Rezy refleks menginjak rem. Vespa berhenti mendadak.
"Ah!"
Tubuh Adrela langsung terdorong ke depan hingga menabrak punggung Rezy. Lengannya tanpa sadar memeluk lebih erat, wajahnya menempel di bahu pria itu.
Keduanya langsung membeku. Merasakan tubuh mereka yang menempel. Waktu seakan terhenti, bahkan tak ada yang bergerak satu pun dari mereka.
Hingga Rezy tersenyum sinis. “Da*da lo ... gede juga ya,” ucapnya membuat Adrela langsung menjauh dan memukul belakang kepala Rezy kencang.
“Dasar messsyyum!”