Adrela menutup pintu apartemennya, lalu menyandarkan punggung di baliknya.
Klik.
Suara kunci yang berputar memantul di ruangan yang sunyi. Ia mengembuskan napas panjang, tetapi jantungnya sama sekali tidak ikut tenang. Detaknya masih terlalu cepat, seolah masih berada di atas vespa tua Rezy.
Bayangan perjalanan pulang itu terus berputar di kepalanya. Tangan Rezy yang menarik pergelangan tangannya.
Lalu pelukannya yang tanpa sengaja melingkar di pinggang pria itu.
Dan... punggung Rezy. Ia memegang da*danya yang menempel pada punggung lebar itu. Begitu dekat hingga setiap getaran mesin vespa terasa ikut merambat ke tubuhnya.
Adrela langsung menepuk kedua pipinya. "Apa-apaan sih..."
Ia menggeleng keras, berusaha mengusir bayangan itu. "Kenapa malah kepikiran begitu?"
Panas yang sejak tadi menggelayuti tubuhnya justru semakin terasa. Bukan karena cuaca. Bukan juga karena perjalanan pulang.
Seolah berasal dari dalam dirinya sendiri.
"Aduh..."
Ia mengacak rambut frustrasi.
"Mandi aja deh."
Mungkin air hangat bisa membuat kepalanya lebih tenang.
Beberapa menit kemudian, uap tipis mulai memenuhi kamar mandi. Air hangat mengisi bathtub perlahan hingga hampir penuh.
Adrela melepaskan jaket hoodie Rezy yang masih melekat di tubuhnya. Pandangannya berhenti sesaat pada kain itu.
Masih ada samar aroma oli, sabun, dan parfum yang sangat khas milik Rezy. Jantungnya kembali berdebar.
"Astaga..."
Ia buru-buru meletakkan hoodie itu di luar kamar mandi, seolah benda itu penyebab seluruh kekacauan malam ini.
Tak lama kemudian ia berendam dalam air hangat.
Tubuhnya perlahan mengendur. Jemarinya mengambil busa mandi, mengusap lengan dan bahunya perlahan hingga busa putih memenuhi permukaan air.
"Akhirnya...”
Ia memejamkan mata. Hangatnya air membuat seluruh ototnya yang tegang mulai rileks. Namun justru ketika pikirannya mulai kosong... Bayangan itu kembali muncul.
Rezy menangkup wajahnya. Tatapan matanya yang begitu dekat. Lalu bibir hangat yang menyentuh bibirnya dengan pelan.
Begitu lembut sampai sekarang Adrela masih bisa mengingat rasanya. Tanpa sadar, ujung jarinya menyentuh bibirnya sendiri.
Seolah ingin memastikan semuanya benar-benar terjadi.
"Kayak gini."
Suara Rezy kembali terngiang di telinganya. Entah kenapa... Untuk sesaat, muncul keinginan kecil yang membuatnya sendiri terkejut.
Bagaimana kalau... Ia bisa merasakan ciuman itu sekali lagi?
Tanpa sadar tangannya mulai turun dan mengusap da*danya. Ia mere*masnya sedikit, namun seketika merasakan sensasi yang membuat tubuhnya bergetar.
Aneh tapi nyata.
Biasanya, sentuhan pada tubuhnya tak pernah terasa begitu merang*sang. Ciuman yang Rezy berikan membuat Adrela mulai memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya.
Adrela bahkan tanpa sadar memejamkan matanya, lalu jemarinya mulai turun meraba perutnya yang datar. Sentuhan itu membuatnya mende*sah pelan.
Dan sentuhan itu semakin turun, hingga ke bawah perutnya. Awalnya hanya sekilas, pelan dan terdiam cukup lama. Namun, rasa penasaran yang merambat ke seluruh tubuh membuatnya mulai meraba area bawahnya.
Tubuhnya terkejut, Adrela sempat berhenti. Namun, detik berikutnya ia mulai menyentuhnya lagi. Sentuhan itu begitu lembut, awalnya hanya sentuhan kecil. Semakin lama tanpa sadar ia mulai memainkan jarinya di bawah sana.
Bayangan ciuman Rezy yang semakin turun ke lehernya membuat Adrela terus menggerakkan jarinya. Awalnya hanya memutar, lalu perlahan membuka celah di antara kedua bagian sensitif itu.
Ia kembali membayangkan ciuman Rezy yang turun pada da*danya. Meremas da*danya dengan telapak tangan Rezy yang besar dan bahkan mungkin mampu menopang da*danya.
Tapi, ucapan Rezy terakhir kali membuatnya semakin terang*sang.
“Da*da lo ... gede juga ya.”
Suara Rezy berubah menjadi lebih berat, serak dan menggoda. Detak jantung Rezy yang Adrela rasakan saat ciuman itu membuat napas Adrela semakin cepat.
Ia bahkan membayangkan sesuatu di bawah tubuh Rezy yang mulai menegang. Tanpa Rezy sadari, sebenarnya Adrela melihatnya. Sesuatu yang mulai mengembung di balik celana jeansnya itu.
“Lo bohong Zy, katanya nggak bisa bangun? Tapi—“
Pikiran Adrela semakin kemana-mana. Ia terus menyentuh area sensitifnya. Bahkan menarik kencang nip*ple da*danya. Suara desa*hannya memenuhi ruang kamar mandi itu. Air dalam bathup itu bergerak.
Gelombangnya semakin kencang, seiring dengan gerakan jemari Adrela di bawah sana. Adrela tak kuat menahan gejolak yang tadi sempat ia rasakan saat ciuman Rezy begitu dalam.
Hingga saat bayangan Rezy memasuki tubuhnya.
Mata Adrela langsung terbuka lebar. Bersamaan dengan klim*aks yang ia rasakan. Tubuhnya bergetar hebat, hingga napasnya tersenggal dan putus-putus.
"Hah?"
Ia buru-buru menarik tangannya dari dalam bathup.
"Apa yang gue pikirin?!"
Air di bathtub sampai beriak ketika ia duduk tegak setengah panik.
"Nggak! Nggak! Nggak!"
Ia mengacak rambutnya sendiri sambil menggeleng keras.
"Kenapa jadi begini, sih?!"
Suaranya menggema di seluruh kamar mandi.
"Itu cuma Rezy!"
Sahabatnya. Teman yang sudah dikenalnya bertahun-tahun. Cowok paling menyebalkan yang pernah ia kenal.
Lalu kenapa... Kenapa setiap kali memejamkan mata, yang pertama kali muncul justru wajah Rezy? Bahkan membayangkan sentuhan itu menjadi momen bersejarah dalam hidupnya?
Adrela memekik frustrasi, lalu menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangan.
"Ya ampun... apa yang gue harapkan?"
***
Adrela baru saja sampai lobi kantornya ketika seseorang tiba-tiba menarik pergelangan tangannya.
"Eh—"
"Ikut gue sekarang."
"Laras? Ada apaan sih?"
Tanpa menjawab, Laras terus menarik Adrela hingga mereka tiba di balkon kantor. Pagi itu angin bertiup pelan, membawa suara lalu lintas dari bawah gedung.
Laras baru melepaskan genggamannya setelah memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka.
"Jawab jujur."
Adrela mengernyit. "Apaan?"
"Lagi rame di grup temennya pacar gue." Wajah Laras terlihat serius. "Bener lo sama Fery semalam ke hotel?"
Adrela langsung membeku. "Kok lo tahu?"
Ekspresi Laras berubah semakin tidak enak. "Berarti bener?"
Adrela mengembuskan napas panjang. "Iya... tapi—"
"Ya ampun, Adrel!" Laras memegang dahinya. "Fery cerita ke temen-temennya."
Adrela langsung menatapnya. "Cerita apa?"
Laras tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan.
"Katanya... lo udah punya pacar, tapi masih ikut kencan buta."
Adrela melotot. "Hah?!"
"Belum selesai." Laras menggigit bibirnya. "Dia juga bilang... lo cewek murahan."
Wajah Adrela seketika berubah. Panas menjalar sampai ke telinganya.
"Murahan?" Suaranya bergetar menahan marah. "Dia yang maksa gue ke hotel!"
Laras mengerjap. "Apa?"
"Dia yang terus-terusan bujuk gue buat ikut. Pas udah di kamar..." Adrela mengepalkan tangan. "Dia nyoba nyentuh gue. Maksa nyium gue. Bahkan dia ngajak gue tidur bareng."
Mata Laras langsung membulat. "Astaga..."
"Kalau Rezy nggak datang..." Adrela menggeleng pelan. "Gue bahkan nggak tahu bakal gimana."
Laras menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Gila..." Ia benar-benar terlihat syok. "Fery sebrengsek itu?"
Adrela mendengus kesal. "Nah, sekarang lo tahu."
Laras menundukkan kepala. "Maaf ya, Adrela."
Suaranya terdengar benar-benar bersalah.
"Pacar gue juga baru kenal Fery sekitar sebulan yang lalu. Semua orang bilang dia dokter, sopan, mapan... jadi gue pikir dia emang cowok baik."
Adrela menyilangkan kedua tangan di d**a.
"Baik tahi kucing."
Laras menghela napas panjang. "Gue bener-bener minta maaf. Gue nggak nyangka bakal begini."
Adrela menatap keluar balkon, berusaha meredam emosinya. Beberapa detik kemudian ia mendengus pelan. "Kalau gue ketemu dia lagi..."
Laras menoleh.
Adrela memutar lehernya pelan hingga berbunyi krek. "Gue bakal bikin burungnya nggak bisa bangun lagi."
Laras berkedip beberapa kali. "Serius lo?"