Chapter 8

1139 Words
Suara kunci inggris beradu dengan baut menggema di seluruh bengkel. Rezy masih berjongkok di samping sebuah mobil tua yang kap mesinnya terbuka lebar. Kedua tangannya penuh noda oli, sementara kaus hitam yang dikenakannya sudah dipenuhi bercak-bercak hitam. "Susah amat..." gumamnya pelan sambil mengencangkan baut terakhir. Ia menarik napas, lalu menyeka keringat di dahi dengan lengan. Namun, entah bagaimana, pikirannya kembali melayang. Bukan ke mesin mobil. Bukan ke pelanggan yang menunggu. Melainkan pada sepasang bibir yang semalam menyentuh bibirnya. Rezy langsung memejamkan mata rapat. "Sial..." Ia menggeleng keras, seolah ingin membuang ingatan itu. “Harusnya gue nggak ngelakuin itu, La.” Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan yang masih sedikit kotor oleh oli. Bayangan Adrela yang membalas ciumannya terus muncul tanpa diundang. Tatapan bingung. Napas yang bergetar. Lalu bagaimana Adrela kembali menciumnya. Rezy mendesah panjang. "Apa yang gue pikirin..." Ia menyandarkan punggung ke bodi mobil. Rasa bersalah perlahan menggerogoti da*danya. Adrela sedang rapuh. Sedang bingung. Sedang berusaha mencari tempat berpijak. Dan justru di saat seperti itu... Ia malah mengambil ciuman pertama perempuan itu. "Brengs*ek." Ia menundukkan kepala. Tapi kalau waktu diputar kembali... Apakah ia akan membiarkan Adrela jatuh ke pelukan pria seperti Fery? Rahangnya langsung mengeras. Tidak. Sama sekali tidak. Ia masih ingat jelas cara Fery mencondongkan wajahnya tanpa benar-benar memberi ruang bagi Adrela untuk berpikir. Ia juga masih ingat bagaimana pucatnya wajah Adrela saat keluar dari kamar hotel. Kalau malam itu ia terlambat sedikit saja... Rezy mengepalkan tangannya. "Minimal... sekarang dia tahu. Kalau nggak semua cowok harus di percayai." Tiba-tiba... ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja bergetar. Layar menyala. Nama seseorang muncul di sana. Rezy menatapnya cukup lama. Jarinya bahkan sudah menggantung di atas tombol terima. Namun... Ia tidak bergerak. Beberapa detik kemudian, nada dering itu berhenti sendiri. Bengkel kembali sunyi. Tak lama setelah itu, layar ponselnya kembali menyala. Kali ini sebuah pesan masuk. Rezy menghela napas pelan sebelum mengambil ponselnya. Matanya bergerak membaca beberapa baris di layar. Ekspresinya perlahan berubah. Alisnya berkerut. Rahangnya kembali mengeras. Ia membaca pesan itu sekali lagi, lebih pelan dari sebelumnya. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia mengunci layar ponselnya, memasukkannya ke saku celana, dan menatap kosong ke arah pintu bengkel. Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri diam. Seolah sedang mengambil keputusan yang tidak mudah. "Bang Rezy?" Suara seorang pelanggan membuyarkan lamunan Rezy. Pria itu berdiri di dekat pintu bengkel sambil melongok ke arah mobil sedan miliknya. "Udah selesai, belum?" Rezy berkedip pelan, lalu mengembuskan napas. "Udah." Ia mengambil kain lap di pundaknya, mengusap kedua tangannya yang dipenuhi oli. "Coba dinyalain dulu." Pelanggan itu segera masuk ke balik kemudi. Kunci diputar. Mesin langsung hidup dalam sekali starter. Suaranya halus, jauh berbeda dibanding saat mobil itu datang pagi tadi. Wajah pelanggan langsung berbinar. "Wah! Beres, Bang!" Ia turun dari mobil sambil tersenyum lebar. "Kirain harus nginep seminggu lagi." Rezy hanya mengangkat sebelah sudut bibir. "Ganti olinya jangan telat lagi. Sama jangan dipaksa jalan kalau mesinnya udah bunyi aneh." "Iya, siap." Pelanggan itu membayar biaya servis, berkali-kali mengucapkan terima kasih, lalu membawa mobilnya keluar dari bengkel. Suara mesin sedan itu perlahan menghilang di ujung jalan. Rezy berdiri beberapa saat memandangi jalan yang mulai lengang. Lalu tangannya perlahan masuk ke saku celana. Ponselnya kembali berada di genggamannya. Layar yang tadi sudah padam kembali menyala. Tatapannya berhenti cukup lama di layar, sebelum akhirnya ia mengembuskan napas pelan. "Sial. Ngapain sih telpon mulu?!” Ia mengunci layar ponselnya. Beberapa detik kemudian, ia meraih kunci vespa tua yang tergantung di dinding bengkel. Kunci bengkel diputar. Pintu rolling door ditarik turun hingga menutup seluruh bagian depan. Rezy memasukkan kunci ke lubangnya, memastikan semuanya terkunci rapat. Setelah itu ia menaiki vespa kesayangannya. Mesin tua itu meraung pelan begitu dinyalakan. Rezy mengenakan helm, menatap lurus ke jalan di depannya selama beberapa saat. Seolah masih memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk berubah pikiran. Namun akhirnya... Ia memutar gas. Vespa merah itu melaju meninggalkan bengkel. *** Bel kecil di atas pintu berdenting pelan ketika Rezy melangkah masuk ke sebuah kafe yang tidak terlalu ramai. Berbeda dengan penampilannya yang biasa dipenuhi noda oli, kali ini ia hanya sempat mencuci tangan dan wajah. Kaus hitam polos, celana jeans pudar, dan sepatu kanvas usang masih melekat di tubuhnya. Tidak ada yang akan mengira pria yang baru turun dari vespa butut itu datang untuk menemui seseorang yang sudah menunggunya dengan gugup. Di sudut ruangan, seorang pria paruh baya segera berdiri begitu melihat Rezy. Rambutnya sudah dipenuhi uban, jasnya rapi, dan sikapnya jauh lebih formal dibandingkan suasana santai di kafe itu. Ia sedikit membungkukkan badan. "Selamat siang, Tuan Muda." Beberapa pengunjung sempat menoleh heran. Rezy hanya mengembuskan napas pendek. "Pak Bayu... Gak usah manggil begitu." Pria bernama Bayu hanya tersenyum tipis. "Bagi saya, Tuan tetap Tuan Muda." Rezy tidak menanggapi lagi. Ia menarik kursi di hadapan Pak Bayu lalu duduk. Seorang pelayan datang menghampiri. "Mau pesan apa, Mas?" "Es coffee latte, less sugar, less ice." "Baik." Begitu pelayan pergi, Rezy langsung menyandarkan tubuhnya. "Nah sekarang bilang. Kenapa tiba-tiba telepon?" Pak Bayu tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia justru memperhatikan wajah Rezy beberapa saat. "Bagaimana kabar Tuan Rezy?" Rezy mendecak pelan. "Pak... Jangan basa-basi. Langsung aja. Ada apa sebenarnya?" Pak Bayu terdiam beberapa detik, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat. Akhirnya ia menghela napas panjang. "Perusahaan sedang dalam masalah." Rezy tidak bereaksi. "Masalah apa?" Pak Bayu merapatkan kedua tangannya di atas meja. "Nyonya Berliana membuat keputusan investasi yang sangat berisiko. Nilainya terlalu besar. Dan sekarang..." Ia berhenti sesaat. "Kemungkinan besar perusahaan akan mengalami kehancuran." Rezy masih diam. Ekspresinya nyaris tidak berubah. Hanya jemarinya yang perlahan mengetuk permukaan meja. Pelayan datang membawa segelas es kopi. "Silakan." "Terima kasih." Begitu pelayan pergi lagi, Pak Bayu melanjutkan. "Direksi mulai kehilangan kepercayaan. Para investor juga mulai menarik dana mereka. Kalau keadaan ini terus berlangsung..." Ia menatap Rezy penuh harap. "Perusahaan mungkin nggak akan bertahan lama." Rezy mengaduk kopinya perlahan. Dentingan sendok kecil terdengar pelan. "Lalu?" Pak Bayu menarik napas. "Kapan Tuan akan kembali ke perusahaan?" Sendok di tangan Rezy berhenti bergerak. Ia perlahan mengangkat wajah. Tatapannya dingin. "Kembali?" Pak Bayu mengangguk. "Perusahaan membutuhkan Tuan." Senyum tipis justru muncul di bibir Rezy. Namun senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan. "Lucu." Ia tertawa pendek. Pak Bayu hanya terdiam. Rezy meletakkan sendoknya. "Bukannya dulu mereka yang ngusir gue?" Nada suaranya tetap tenang. Namun setiap katanya terdengar semakin tajam. "Gue baru lima belas tahun. Gue disuruh angkat kaki dari rumah itu. Gue dibilang gak pantas jadi bagian keluarga." Tatapannya perlahan berubah dingin. "Udah tiga belas tahun gue hidup tanpa mereka. Gue bangun hidup gue sendiri. Gue kerja di bengkel peninggalan kakek." "Gue makan dari hasil tangan gue sendiri." Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Lalu sekarang... saat kesulitan? Mereka pengen gue balik ke rumah neraka itu?" Pak Bayu menundukkan kepala. "Tuan... Tolong anggap ini permintaan saya." Rezy menggeleng pelan. "Terlambat. Rumah itu berhenti jadi rumah buat gue... sejak hari mereka memilih ibu tiri gue daripada anak kandung mereka sendiri."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD