"Istrimu sehat?" tanya sang bos kepada Fahri setelah memberikan undangan untuk acara anniversary-nya. Mereka mengobrol santai di saat sebentar lagi jam kerja berakhir. "Sehat, Pak." "Syukur lah. Nanti ajak istrimu itu datang." Fahri mengangguk. Meski di dalam hatinya tak yakin karena semingguan ini Fiona masih bersikap dingin kepadanya. Setelah dia tak sengaja kelepasan menampar perempuan itu, Fiona makin terasa jauh darinya. Mereka berada di atap yang sama, tapi jarang berbicara. Fahri mengaku salah, telah main tangan kepada istrinya itu. Hal yang tak pernah terbayang olehnya sebelum ini. Fahri sungguh menyesal. Namun, saat ini dia hanya bisa berdo'a agar istrinya tetap bertahan di sisinya. Fahri tahu bahwa dia sangat egois, karena Fiona belakangan ini merasa sendirian dan sedih. Fahr

