Pengagum dari Masa Lalu

1745 Words
Rasyid sejak dulu menyukai Fiona, pandangan pertama saat dirinya menjadi panitia ospek. Dia tentunya masih ingat persis bagaimana wajah perempuan yang disukainya itu. Wajahnya Fiona tak berubah, hanya tampak sedikit lebih dewasa saja dari terakhir bertemu sebelum dirinya melanjutkan study S-2 ke luar negeri. Tetap cantik anggun, dan tatapannya masih sejuk seperti dulu. Adem sekali wajah perempuan itu. Fiona, perempuan itu tak pernah tahu jika disukai oleh seniornya itu. Rasyid menyukai Fiona dalam diam, hanya sesekali berinteraksi dengan perempuan itu yang dia cari bagaimana caranya karena gedung mereka berbeda dan perempuan itu diketahuinya susah didekati. Itu terbukti dari seorang presma yang memiliki banyak kelebihan saja, ditolak oleh Fiona. Makanya, nyalinya Rasyid menciut seketika. Dia maju mundur ingin mendekati perempuan itu, hingga akhirnya lulus dan melanjutkan kuliah di luar negeri. Setelah lulus di luar negeri sana, Rasyid mendapatkan pekerjaan yang bagus dan betah. Dia baru kembali lagi ke Indonesia sebulan lalu, ketika kesehatan papanya mulai turun. Sering dirawat di runah sakit. Fiona mengingat-ingat masa kuliahnya beberapa tahun lalu. Lalu, dia mengingat siapa sosok di depannya ini. "Yang pernah jadi panitia ospek, bukan? Yang susah dimintai tanda tangan?" Fiona ingat hal yang membuat dia sedikit kesulitan saat ospek. Yang lainnya dia tak ingat persis, karena ada banyak lelaki yang berada di dekatnya sepanjang masa perkuliahan. Namun, bukan berarti Fiona merespon para lelaki itu. Rasyid mengangguk. Tersenyum di dalam hatinya, karena Fiona masih mengingat momen itu. Rasyid ingat, dulu dia sengaja memberikan tantangan agar lebih lama melihat perempuan itu di sekitarnya. Sosok yang berbeda dari yang lainnya, yang terlihat takut kepadanya. "Kamu... yang punya toko ini?" Rasyid barusan dikatakan oleh karyawan di sini jika yang membuat cake ulang tahun itu owner-nya langsung, yang akan ditanya dulu waktu dan kesanggupannya mengingat ini mendadak sekali. Pesanan custom itu biasanya beberapa hari sebelumnya, maksimal sehari sebelumnya. Ketika melihat Fiona, Rasyid tak heran jika perempuan itu pemilik toko kue yang menjadi langganan mamanya ini. Mengingat Fiona itu dulunya kuliah jurusan tata boga. Fiona benar-benar mengembangkan ilmu yang dipelajarinya, Rasyid jadi makin tertarik saja. Lama tak bertemu, ternyata rasa itu masih ada. Terbukti dari jantungnya yang berdegup dengan kencang, hanya karena bertatapan dan berbicara dalam jarak sedekat ini. "Toko kecil-kecilan aja, Kak. Yaa... begini lah." Fiona mengedikkan bahunya sembari tersenyum—menyapu pandangan ke sekitar seolah sedang menunjukkan kepada seniornya itu, bahwa toko miliknya ini hanya kecil begini. Sederhana saja, tak seperti toko-toko lainnya. "Ini sudah hebat," puji Rasyid tulus. "Biasa aja aja." Fiona mengatupkan bibirnya. "Oh ya, mau pesan cake ulang tahun custom katanya, ya?" "Iya. Mama bilang, dia suka beli kue, roti dan lainnya di sini. Saya cari tahu dan nemu, kepikiran beliin kue ulang tahun buat Mama di sini." Rasyid berbicara panjang lebar menjelaskan, yang jarang sekali dia lakukan kepada perempuan-perempuan lainnya. Ketika ditanya, dia sering menjawab singkat—seperlunya saja. "Oh, ya? Siapa namanya Mama kamu, Kak? Pelangganku enggak banyak, tapi aku hapal beberapa yang sering banget beli." "Linda nama Mama saya." "Bu Linda itu Mamanya kamu? Wah, nggak nyangka sempit sekali dunia ini." Fiona terkekeh. Dia pernah mengantarkan pesanan ke rumah Bu Linda itu menggunakan mobil bersama karyawannya. Ada banyak pesanan waktu itu untuk acara arisan. Ibu-ibu sosialita yang low profile sekali mama dari seniornya itu, ramah juga murah senyum. Tak malu memesan beberapa macam mini cake dan jenis lainnya untuk acara di rumahnya. Padahal, toko milik Fiona itu kecil dan tak terkenal pula. "Oke, kamu mau custom kuenya yang kayak apa, Kak? Aku akan usahakan bikin yang spesial untuk pelanggan favoritku itu." Rasyid pun menjelaskan jenis kue yang diinginkannya, setelah berdiskusi tadi dengan adik perempuannya. "Bisa nggak kira-kira?" Rasyid melihat jam di pergelangan tangannya sejenak. "Jam 5 saya ambil, apa bisa? Setengah enam paling lambat, kalau mepet banget." Rasyid dan keluarganya akan ada acara makan-makan di pinggir pantai di Jakarta kira-kira jam setengah tujuh malam. "Sekarang jam setengah tiga. Oke, 3 jam cukup untuk itu." Bahan-bahan kuenya ada semua, Fiona yakin bisa memaksimalkan waktunya. Paling dia meminta sedikit bantuan satu karyawannya di pantry. Untuk takaran adonan dan membentuk kuenya, tentu Fiona sendiri yang mengerjakan. "Syukurlah kalau bisa, saya enggak pusing nyari lagi." "Ditunggu ya, Kak. Akan aku usahakan bikin yang terbaik, semoga enggak mengecewakan." Rasyid mengangguk. Setelah dari tempat kue itu, dia menuju coffeshop yang tak jauh dari sana. Menunggu di dekat situ saja, tak balik ke rumah lagi. Nanti setelah kuenya jadi, dia akan langsung menuju resto yang telah di-booking oleh sang adik. Waktu berlalu, jam 5 lewat Rasyid sudah dikabari oleh nomor tokonya Fiona bahwa kuenya sudah jadi. Rasyid memang tadi meninggalkan nomor ponselnya. Rasyid puas sekali dengan hasil kue buatan Fiona, sesuai ekspektasinya. Dia juga diberikan cake ukuran mini oleh Fiona dalam sebuah kotak kue kecil. Rasyid langsung mencoba mini cake tersebut sebelum melajukan mobilnya. "Enak banget! Enggak terlalu manis, pas rasanya. Mana yang bikinnya juga cakep." Rasyid terkekeh pelan. Membayangkan wajah ademnya Fiona, yang tetap terlihat cantik natural meski tak memakai riasan apa pun di wajahnya. Dengan rambut panjang yang dikuncir dan memakai apron, tetap terpancar aura kecantikan perempuan itu. "Idaman banget kamu, Fi. Udah ada pasangan belum, sih? Rasyid sadar, perempuan secantik Fiona dengan pembawaan yang anggun tapi tegas, pasti ada banyak lekaki yang menginginkannya. Dulu saja waktu kuliah, ada banyak teman seangkatannya yang naksir Fiona. Belum lagi angkatan satu tingkat di bawahnya dan juga yang seangkatan dengan Fiona. Rasyid yang dulu sibuk dengan tugas akhir, lelaki itu sesekali menyempatkan diri berkunjung ke gedung fakultasnya Fiona. Duduk di kantin memperhatikan perempuan itu makan, di perpustakaan pernah mencoba mengajak perempuan itu berbicara juga. Rasyid naksir berat. Suatu saat ingin mengajak Fiona jalan, akan tetapi down duluan ketika lelaki nomor satu di kampus ditolak oleh perempuan itu. *** Mobil city car miliknya Fiona memang dari kemarin ditaruh di kantor. Setelah seniornya itu mengambil pesanannya, Fiona memilih untuk menikmati senja di tepi pantai di area Jakarta Utara dari pada langsung pulang ke rumah. Suaminya mengabari jika sedang di rumah sang mama, dan belum tahu akan pulang jam berapa. Fiona diminta untuk langsung tidur saja oleh sang suami, tak usah menunggu dirinya pulang. Andai Fiona tahu, bahwa suaminya dari tadi bergumul dengan perempuan lain di belakangnya. Terhitung sejak masuk hotel, sudah ada tiga kali lelaki itu menggauli perempuan muda yang tengah bersamanya itu. Yang sekarang dia dan perempuan itu tengah beristirahat. Biasanya, setelah makan dan sebelum pulang, Fahri akan kembali meminta perempuan itu melayaninya. Begitu jika ada banyak waktu berdua, dia akan terus-terusan menggempur perempuan bernama Mika itu. Sering melakukan itu bersama Mika di luar sana, Fahri sampai lupa akan nafkah bathin istri sahnya. Yang terlarang begitu, dia tak sadar jika hanya nikmat sesaat yang menjerumuskan ke dalam kubangan dosa dan akan ada balasan dari apa yang telah dilakukannya itu. Hal baik atau buruk yang dilakukan, pasti akan ada balasan baik itu di dunia atau hari akhir. Bodohnya Fahri, padahal jelas-jelas ada yang halal baginya dan cantik pula. Fiona tak sekedar cantik, tapi dia juga memiliki tubuh yang langsing dengan rambut panjang yang indah. Memang jika dibandingkan Mika, agak berbeda. Fiona tak semok. Dia seperti seorang model bentukan tubuhnya. Akan tetapi, tanpa memakai riasan apa pun, Fiona tetap cantik dan tubuhnya juga putih terawat. Tiba di daerah pantai, Fiona memarkirkan mobil di dekat sebuah resto di pinggir pantai. Turun dari mobil, dia berjalan ke arah tepi pantai. Dengan menggunakan kemeja berwarna orange dan rok yang warnanya agak senada dengan kemejanya, Fiona tampak seperti menyatu dengan indahnya senja di pantai kala ini. Langit yang berwarna orange—biasan dari cahaya matahari yang perlahan mulai terbenam, memanjakan mata siapa pun yang memandang. Hembusan angin sepoi, membuat suasana senja lebih sejuk dan Fiona memejamkan mata menikmati itu dengan rambutnya yang berayun oleh hembusan angin tersebut. Dan kicauan burung yang terdengar merdu di telinga menemani senjanya Fiona. Sementara itu, ada Rasyid yang juga berdiri di tepi pantai di depan resto mengabadikan indahnya senja. Saat mengarahkan kamera ke arah samping ketika mengambil sebuah video, matanya menyipit ketika kameranya menangkap sosok perempuan tak jauh darinya berdiri. Dia menjauhkan kameranya sesaat untuk memastikan penglihatannya secara langsung. Fiona? Seketika timbul keinginan dalam diri Rasyid untuk menghampiri perempuan itu. Tak langsung menghampiri, Rasyid mengabadikan foto perempuan itu dari arah samping. Saat melangkah mendekat, Rasyid abadikan lagi foto perempuan itu dari arah belakang. "Dari belakang aja, udah cantik banget," gumam Rasyid melihat hasil bidikan kamera ponselnya. Dari penampilan Fiona dan sepatu yang dikenakannya, perempuan itu terlihat semakin anggun di matanya Rasyid. Sedikit lagi akan tiba di dekat perempuan itu, langkah Rasyid terhenti karena ada telepon dari adiknya. Terpaksa, Rasyid mengurungkan niatnya, karena sang adik mengomel—meminta jemput ke gerbang depan karena taksi yang perempuan itu tumpangi tiba-tiba mogok. Rasyid pikir, masih ada waktu lainnya untuk bertemu Fiona. Karena dia sudah tahu di mana bisa menemukan perempuan itu. Sedangkan Fiona tak menyadari kehadiran Rasyid di sekitarnya. Setelah berada di tepi pantai selama kurang lebih 1 jam'an, Fiona pun kembali ke mobilnya. Dia mengendarai mobil pulang, meski suaminya belum mengabarinya lagi. Fiona tiba di rumah pada pukul 9 malam karena jalanan cukup padat. Dia tak makan, langsung bersih-bersih dan merebahkan diri. Nafsu makanya berkurang belakangan ini. Tetapi, Fiona tetap bilang baik-baik saja ketika tadi pagi dihubungi mamanya. Fiona ingat, sang mama memberikan wejangan bahwa dia harus menjadi seorang istri yang taat kepada suami. Mamanya mempercayai Fahri sebagai pendamping hidup Fiona selamanya. Suaminya itu memang sangat baik di mata Fiona dan keluarganya. Suaminya itu juga dulu yang menyelamatkan Fiona dari sebuah kecelakaan, ketika masih kuliah. Itu awal kedekatan mereka dulunya. Tak kunjung bisa tidur walau sudah berganti posisi, Fiona berniat menghubungi sang suami. Sudah pukul 11 malam, suaminya itu belum pulang juga. Apa suami dan mama mertuanya tengah serius membicarakan rencana pernikahan kedua suaminya itu, hingga memakan waktu yang lama? Fiona urungkan niat menghubungi suaminya itu. Baru saja menarik selimut, terdengar bunyi mobil. Fiona pun pura-pura memejamkan matanya. Dia rindu akan sentuhan suaminya, di sisi lain masih ada rasa tak terima akan dimadu. Tapi mau bagaimana lagi? Fiona juga tak tega suaminya berdebat dengan orang tua sendiri. Fiona merasa kecil, dia seperti seorang istri yang tak dipilih untuk melahirkan darah daging suaminya sendiri. Takdir yang sedang tak berpihak padanya. Beberapa menit kemudian, Fiona mendengar bunyi pintu terbuka pelan. Setelahnya, terdengar pintu kamar mandi dibuka dan ditutup. Biasa, suaminya suka bersih-bersih dulu sebelum ikut merebahkan diri dengannya di ranjang. Tak lama, Fiona merasakan suaminya telah naik ke ranjang, lalu memeluknya dari belakang. "Maafin aku, Sayang… “ Fahri yang sering merasa bersalah karena telah mengkhianati, tetapi tetap mengulang lagi kesalahannya itu yang terlalu nikmat untuk dia tinggalkan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD