"Maaf ya, Sayang. Semalam aku lama ngobrol sama Mama, banyak yang kami bicarakan," ujar Fahri dengan menunjukkan muka memelas, saat Fiona membangunkannya pada pagi hari.
"Iya, enggak apa-apa. Aku paham." Fiona tersenyum tipis, memaklumi. Fiona merasa suaminya begitu lelah, mungkin karena banyak pikiran selain urusan pekerjaan? Ada tekanan dari mamanya juga? "Udah jam setengah enam, aku udah bangunin kamu dari tadi. Tapi, kamu kayaknya ngantuk banget."
"Iya, Sayang. Akhir-akhir ini aku capek banget."
"Aku paham, Mas. Tapi, sekarang kamu harus bangun dulu sebentar, laksanain kewajiban."
"Iya."
"Aku mau jogging pagi ini. Kamu gimana, Mas? Mau ikut atau nggak?"
"Absen lagi aku, Dek." Fahri menguap—membekap mulutnya. "Kamu enggak apa-apa sendirian aja?
Aku mau lanjut tidur lagi kayaknya setelah ini. Maaf, Sayang, ya?"
Bagaimana tidak lelah dan masih mengantuk berat? Liburnya saja, menghabiskan banyak energi bersama perempuan lain. Sudah kali keempat Fiona mengajak jogging bersama seperti biasanya di kala sama-sama ada waktu, tetapi Fahri selalu tak bisa.
"Ya udah, enggak apa-apa. Tapi aku izin mau jogging di car fee day ya, Mas? Ada temanku yang ikutan bazar di sana, sekalian aku mau lihat-lihat nanya. Kepikiran mau ikut bazar juga kapan-kapan."
"Boleh, Sayang. Sekali lagi, aku minta maaf, ya? Enggak bisa nemenin kamu. Tapi nanti semisal kamu mau adain bazar, aku pasti akan ikut bantuin kamu."
Fiona mengangguk sembari tersenyum.
Fahri pun memasuki kamar mandi. Dia mencuci muka dan menatap pantulan dirinya di kaca yang berada di atas wastafel. Tentu saja lelaki itu merasa bersalah telah mengkhianati Fiona. Dia tahu yang dilakukannya itu salah—merupakan sebuah dosa besar. Dirinya telah terjerumus oleh rayuan sisi negatif, meruntuhkan akal sehatnya. Sialnya, dia berat sekali meninggalkan hal yang sudah 2 bulan ini dilakukannya. Ketika sisi lain menolak, ada sisi devil yang lebih mendominasi. Dia kalah, tak dapat dapat menahan hasrat sesat itu.
Zaman sekarang, banyak lelaki yang seperti Fahri begini. Yang awalnya memang lurus, pada akhirnya tersesat karena tak kuat iman untuk menahan godaan. Fahri yang awalnya enggan jalan dengan perempuan yang merupakan anak dari teman mamanya itu, dipaksa terus oleh mamanya untuk melakukan pendekatan. Dingin tak tersentuh perempuan mana pun selain sang istri, pada akhirnya godaan anak dari teman mamanya itu tak bisa ditepis.
Ingatan Fahri melayang pada saat pertama kali tergoda oleh perempuan itu. Saat itu, dia mampir setelah lembur di kantor, karena mamanya memaksa untuk menjenguk Mika yang agak kurang sehat. Niatnya sejenak saja, akan langsung pulang setelah mendapatkan foto dan mengirim pada sang mama.
Fahri berhasil mendapatkan foto dirinya dan Mika pada malam itu, yang mana perempuan itu tampak agak pucat.Ketika dirinya hendak pulang, Mika menahan dan dirinya malam itu tergoda setelah Mika tiba-tiba menyatukan bibir mereka sambil membuka cardigan-nya. Camisole yang digunakan perempuan itu merosot, yang membuat mata Fahri membola. Dia meneguk salivanya melihat bagian dadanya Mika yang terlihat besar. Dan hanya diam saja di kala Mika meraih tangannya ke arah payudaranya perempuan itu, sementara satu tangannya Mika yang lain menyentuh bagian pangkal pahanya Fahri yang tertutupi celana. Fahri yang sudah semingguan sibuk dan tak berhubungan intim dengan sang istri, seketika timbul hasratnya.
"Udah keras loh, Mas." Mika menyeringai ketika mendapati Fahri yang membalas ciumannya dengan tangan yang telah bergerilya ke mana-mana, sementara tangannya Mika juga tak tinggal diam terus menggoda bagian bawahnya lelaki itu hingga didapatinya telah menegang. "Mau lanjut di kamar nggak? Ayah dan Ibuku udah tidur dari tadi, enggak bakalan ketahuan."
Fahri sempat kepikiran Fiona, akan tetapi nafsunya telah di ubun-ubun tak tertahankan lagi. Ingin segera menuntaskannya. Fahri pun menggendong Mika menuju kamar. Setelah mengunci pintu, dia langsung menyerang Mika. Ada sekitar 1 jam'an dia menggauli perempuan itu, mengkhianati sang istri yang tengah menunggunya di rumah.
Fahri sempat menyesali malam itu, tak ingin terulang lagi. Akan tetapi, kembali terjadi seminggu kemudian ketika orang tuanya Mika tak di rumah. Yang mana saat itu Fahri mampir sebentar ke kamar mandi, mengantarkan Mika pulang dari rumah mamanya. Di ruang tengah rumah itu, mereka melakukannya lagi. Setelahnya, Fahri benar-benar kecanduan. Dia rutin meminta jatah dilayani atau Mika sendiri yang memberikan kode. Fahri pun tak segan memberikan uang kepada Mika karena telah memuaskannya. Di sisi lain, Fahri yakin, dia melakukan itu bersama Mika sekedar nafsu saja. Tak ada cinta di dalamnya. Sampai kapan pun, yang dicintainya hanya Fiona seorang. Tak masalah jika bersama Fiona tak memiliki anak juga. Fahri tetap ingin selamanya bersama perempuan itu.
Fiona yang cantik, penyabar, lemah lembut, taat pada suami dan tak pernah berkata kasar, pintar, rajin dan banyak lainnya sifat perempuan itu yang membuat Fahri tetap ingin perempuan itu di sisinya terus. Fahri tak akan mengikuti permintaan mamanya untuk menceraikan Fiona, akan terus dia pertahankan bagaimana pun caranya.
"Andai Mamaku bisa terima keadaan kamu dan nggak mengenalkan aku sama perempuan itu... " Fahri menghela napas. "Aku salah, Fi, maafkan aku. Tapi, kamu harus tahu kalau cuma kamu yang ada di dalam hatiku satu-satunya dan aku nggak akan pernah lepasin kamu sampai kapan pun."
***
Setelah memarkirkan mobilnya sebelum di area car free day, Fiona dihubungi oleh temannya yang ikut bazar itu. Fiona pun berkata jika akan jogging dulu, setelah beberapa kilometer nanti baru dia akan mampir melihat.
Selain baking, olahraga juga bisa membuat Fiona lupa dari kesedihan sejenak. Memiliki suami nyaris sempurna seperti Fahri, Fiona tak pernah sedikit pun terpikir untuk berpisah dari lelaki yang pernah menyelamatkan hidupnua itu. Baginya, menikah itu cukup sekali seumur hidup. Dan untuk sekarang, Fiona berusaha untuk mencoba menerima. Karena Fiona tahunya lelaki itu terpaksa menjalankan mandat dari orang tuanya. Fiona juga tak mau Fahri dicap sebagai anak durhaka. Tak ingin terjadi perselisihan besar antara ibu dan anak itu, apabila dia tak memberikan izin.
Fiona pun mulai berlari kecil menyusuri jalanan tanpa kendaraan itu, yang mana cukup ramai saat ini. Fiona percaya diri saja jogging sendirian, karena merasa tak mengenal siapa pun di sekitarnya. Pandangan Fiona lurus ke depan, tak memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Ada banyak pasang mata lelaki yang terpesona padanya—ada yang menggoda juga, yang mengira Fiona masih seperti anak kuliahan, namun Fiona tampak biasa saja.
Setelah berlari kecil, Fiona berhenti sejenak untuk minum air putih dengan tumbler yang dibawanya.
"Fiona?"
Saat akan mulai bergerak lagi dengan niat jalan cepat saja, ada seorang lelaki menyapa Fiona dengan pakaian olahraga juga.
"Kak Rasyid?"
"Ketemu lagi kita." Lelaki itu tersenyum tipis, senang tentunya bisa bertemu dengan Fiona lagi. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari sosok lain kalau-kalau Fiona tak sendiri. "Sendirian aja?"
Fiona mengangguk. "Duluan ya, Kak. Mau lihat-lihat bazar soalnya." Fiona menghindari interaksi dengan lelaki lain di luar rumah, kecuali di toko kuenya jika sesekali dia yang berjaga di depan.
Baru akan bersuara menyahut, Fiona sudah bergegas pergi. Rasyid tersenyum masam. Fiona sepertinya masih seperti dulu, susah didekati. Kemarin perempuan itu mau berbicara panjang lebar dengannya, hanya karena diirinya memesan kue saja. Tapi, Rasyid penasaran, apa Fiona masih single? Perempuan itu jogging sendirian, berarti...
Rasyid sungguh berharap jika Fiona masih sendiri. Jika pada masa kuliah waktu itu dia memilih mundur karena kurang rasa percaya diri dan harus melanjutkan studi setelahnya, sekarang pada usianya yang telah matang dengan finansial stabil dan merasa lebih baik dari pada waktu kuliah dulu, dia ingin tetap maju mengejar perempuan itu semisal memang masih sendiri. Apa lagi mamanya juga sudah berisik bertanya terus mengenai pendamping hidup, Rasyid rasa mamanya akan senang jika perempuan seperti Fiona menjadi pasangannya.
Mimpi lo kejauhan, Syid!
Rasyid terkekeh sendiri, menatap punggungnya Fiona yang perlahan mulai menjauh.
Fiona terus berjalan cepat, hingga beberapa saat kemudian dirasanya cukup untuk olahraga pagi ini. Dia pun menuju ke area bazar tempat temannya berada.
"Gue baru kali kedua ikut beginian sebenarnya, Fi," ujar temannya yang bernama Anin itu setelah melayani seseorang yang membeli dagangannya. Dia menjual minuman seperti jus dengan aneka rasa, spaghetti brulee dan juga zupa soup. Cukup ramai dari tadi dan sekarang tinggal sedikit dagangannya. Anin dibantu oleh adik sepupunya. "Ternyata, lumayan banget."
"Alhamdulillah. Tapi gue sempat kaget tadi, lo bilang ikut bazar. Sejak kapan lo jualan begini?"
"Udah sebulanan ini, Fi. Lo ke mana aja? Ah iya, lo sibuk juga sama baking, ya? Jarang buka medsos juga sejak menikah."
Fiona tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. "Tiba-tiba banget jualan? Bukannya nikmatin harta Pak Suami aja." Anin sejak resign dan menikah 2 tahun lalu, yang Fiona tahu hidupnya enak karena memiliki suami yang kaya.
Anin menghela napas. Dia menarik satu kursi plastik di dekat Fiona. "Masa depan itu nggak ketebak, Fi. Sesuatu yang buruk bisa terjadi begitu aja. Gue harus mempersiapkan diri dari sekarang."
Fiona mengernyit.
"Suami gue kayaknya ada main sama perempuan lain." Anin mengatupkan bibirnya. "Belum ada bukti valid, tapi gue akan cari tahu. Makanya, gue lagi mempersiapkan diri semisal dugaan gue itu benar. Kalau pisah, gue harus siapin sesuatu untuk masa depan gue dan anaknya gue. Ya... begini lah, awalnya gue iseng bikin ini di rumah dan ternyata banyak yang suka."
"Kok lo baru cerita, Nin?"
"Kan baru dugaan gue aja, Fi, belum tentu valid. Makanya, ini baru kali gue cerita sama lo. Cuma guenya udah kasih warning ke diri gue sendiri. Gue juga sekarang minta password banking-nya dia. Gue kuras hartanya yang banyak." Anin terkekeh kecil. "Gue harus mengumpulkan uang sebanyak mungkin, demi masa depan yang nggak pasti."
Setelah mendengar ceritanya Anin panjang lebar, Fiona jadi kepikiran. Apa dia harus menguras harta suaminya juga untuk masa depan yang tak terduga? Tapi, suaminya itu kan juga wajib menafkahi istrinya yang lain? Meski ada uang juga, tetap Fiona jadi merasa tak rela jika berbagi sama rata dengan madunya.
Begitu tiba di rumah, Fiona mempersiapkan sarapan untuk suaminya. Sarapan yang dibelinya pada bazar tadi. Sambil ikut sarapan, Fiona pun menimang-nimang untuk membicarakan keinginannya yang telah dia pikirkan sepanjang perjalanan pulang tadi.
"Mas... "
"Hmmm?"
"Aku mau ngomong soal pernikahan kedua kamu."
"Apa itu, Dek?"
"Aku kan setuju calonnya bukan dari pilihanku, membiarkan itu dari mamanya kamu aja. Tapi, aku mau mengajukan syarat lain. Aku belum mengajukan syarat apa-apa loh!" ujar Fiona tersenyum. "Enggak mudah bagi aku untuk mengikhlaskan kamu untuk menikah lagi."
Fahri menghentikan pergerakan tangannya. Dia raih kedua tangan istrinya itu dan menatapnya lembut. "Aku tahu, pasti enggak mudah bagi kamu. Maafin aku... "
"Aku serius ingin mengajukan syarat."
"Apa itu, Sayangku?"
"Yang pertama, rumah ini harus balik nama atas namaku."
"Iya, boleh. Besok langsung aku urus," ujar Fahri tanpa berpikir panjang.
"Lainnya lagi, aku enggak mau maduku itu menginjakkan kaki di rumah ini dengan alasan apa pun."
Fahri terdiam. Teringat jika sudah pernah membawa Mika ke sini, bahkan melakukan hubungan terlarang sebelum resmi menikah di rumah ini. Tak ada CCTV di rumah ini, jadi Fahri leluasa waktu itu bercinta hampir di seluruh bagian rumah ini bersama Mika. Mencoba banyak gaya dengan perempuan itu, yang mana Mika begitu ahli mengimbanginya.
"Mas? Kok diam?"
"Ya. Nanti dia akan tinggal di rumah kontrakan." Fahri tersenyum. "Rumah ini, cuma ada satu ratunya dan hanya kamu seorang selamanya."
"Aku masih punya syarat lain lagi."
"Apa lagi, Sayang?" Fahri tak masalah dengan syarat-syarat yang Fiona ajukan, asal perempuan itu tak meminta untuk berpisah saja.
"Gajinya kamu, Mas. Aku pengen akunya aja yang atur, sebagai istri sahnya kamu. Begitu juga dengan bonus yang kamu terima. Apa kamu keberatan dengan itu? Kalau nggak, tolong bilang sama mama biar aku yang cariin calon buat kamu. Belum lamaran untuk pernikahan kamu minggu depan itu, 'kan? Kamu belum ada bilang apa pun sama aku soalnya."
Fiona tak mau teraniaya sebagai istri sah. Dia ingin menguasai harta suaminya. Susah berhadapan dengan mama mertuanya yang punya kendali besar atas suaminya, maka satu-satunya yang bisa Fiona kuasai adalah harta. Sebelum sang suami resmi menikahi perempuan lain.