Pernikahan Fahri

1950 Words
Fahri terkejut mendengar persyaratan terakhir dari Fiona. "Sayang, kamu enggak percaya sama aku?" "Namanya manusia, bisa berubah kapan aja. Aku tahu, kamu adalah laki-laki yang baik selama ini, tapi aku nggak mengenal sosok maduku itu." "Dia nanti bisa aku atur." Fiona menggeleng, tetap dengan keinginannya. Pasalnya, ada mama mertuanya yang Fiona duga akan condong ke istri keduanya Fahri nanti apabila perempuan itu hamil. Dan Fahri yang berbakti itu, kadang tak bisa menolak keinginan mamanya itu. Sisi egois Fiona muncul, tak ingin madunya hidup lebih sejahtera dibanding dirinya. Bisa-bisa nanti dia ditendang, Fiona tak ingin itu terjadi. Dia istri sah dan harus berkuasa, tak mau ditindas. "Kamu nggak setuju dengan syarat terakhir yang aku ajuin, Mas?" "Kan apa yang aku kasih selama ini udah cukup banyak, Sayang. Kamu juga punya penghasilan sendiri. Kamu khawatir aku akan berubah setelah menikah lagi? Nggak akan, Istriku. Tetap kamu satu-satunya di hatinya aku, prioritasnya aku." Fiona tetap bersikeras dengan keinginannya, yang membuat Fahri heran. Tak pernah Fiona seperti ini sebelumnya, meminta sesuatu berlebihan. Fiona bukan lah perempuan materialistis, karena dia berasal dari keluarga yang cukup berada. "Ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu? Coba sini cerita sama aku, apa yang bikin kamu enggak nyaman?" Fiona kembali menggeleng. "Aku cuma minta itu aja, Mas. Kenapa sesulit itu kamu mengabulkannya? Sedangkan aku secara nggak langsung, dipaksa untuk menerima kamu yang harus menikahi perempuan lain. Padahal, kondisiku ini sehat dan nggak ada masalah dengan reproduksiku. Mungkin memang belum saatnya aja aku dipercaya untuk hamil, tapi kan kita masih bisa terus berusaha. Empat tahun pernikahan kita, sudah cukup lama memang." Fiona tersenyum getir, masih saja ada rasa tak ikhlas tentunya meski dia sudah berkata mengizinkan. "Ada yang lebih lama lagi dari itu dan akhirnya bisa hamil." "Aku berkali-kali bilang enggak masalah kalau pun kamu enggak bisa hamil, Sayang. Tapi, Mamaku... " Suara Fahri tercekat. "Aku nggak bisa menentang Mama terus. Mama sering jatuh sakit kalau habis marah-marah sama aku, naik tensinya. Kamu tahu, Mama udah enggak muda lagi." Fahri tak bohong jika mamanya sering sakit saat di saat dia sering membantah—tak ingin menikah lagi. Pernah mamanya masuk rumah sakit juga. Mamanya memang lebih tua dari pada mamanya Fiona yang masih berusia 50 tahun. Sedangkan usia dari mamanya Fahri saat ini sudah 62 tahun. Fiona tak bisa berkata-kata lagi. Dia kasihan juga pada suaminya yang pasti berada di posisi yang sulit. Akan tetapi, sisi egonya tetap ingin syarat terakhir yang diajukan itu dikabulkan sang suami. Jika mama mertuanya bisa menekan suaminya hingga dituruti keinginannya, Fiona sebagai istri—pasangan lelaki itu bertahun-tahun juga tak mau kalah. Tak ingin terima begitu saja, tanpa dia mendapatkan apa pun. Tak cukup jika hanya sertifikat rumah saja. "Baik lah, Mas, aku nggak akan permasalahin lagi tentang pernikahan kedua kamu yang akan dilaksanakan seminggu lagi itu. Yang penting sekarang, aku cuma ingin dipenuhi semua syarat yang aku ajukan. Mama kamu minta hal yang berat, kamu pada akhirnya menyetujui. Kenapa tidak dengan permintaanku? Kamu kan tahu, selama ini aku bisa mengelola uang dengan baik. Jangan takut, aku pasti akan atur untuk keperluan pribadinya kamu dan pengeluaran lainnya." Dengan berat hati—tak ingin Fiona merajuk yang takutnya meminta berpisah, Fahri pun menyetujui permintaan perempuan itu. "Sarapannya dihabisin dulu, ya? Setelah ini kita obrolin lagi. Apa pun yang kamu minta, aku akan usahakan kabulin sesuai kemampuanku. Kita sama-sama berdo'a ya, Dek." Setelah makan, mereka pun pindah ke ruang tamu. Takut Fahri lupa nanti-nanti, Fiona langsung menagih ucapan suaminya di meja makan beberapa saat lalu. "Sayang, tapi aku mengakui sesuatu dulu sama aku. Jangan marah, ya? Tentang transferan di banking-ku." "Aku sangat menghargai kamu mau jujur, hal apa pun itu. Jadi, apa itu, Mas?" Fahri menarik napas sejenak. "Aku ada transferin uang ke mama." "Enggak masalah itu, Mas. Aku enggak pernah larang kamu ngasih orang tua kamu sendiri, ada rezeki lebih juga. Bagaimana pun memberi orang tua, termasuk sedekah namanya." "Ada lagi selain itu." Fiona menatap suaminya dengan tatapan bertanya. "Aku sejak 2 bulanan lalu udah dipaksa kenal sama anak temannya mama itu. Dan Mama minta aku bantua keuangan perempuan itu, karena dia berasal dari keluarga sederhana. Maaf, aku baru bilang sama kamu. Aku bingung, gimana cara bilangnya. Aku takut kamu marah, sementara ak— " "Berapa kali?" tanya Fiona lembut, tapi sorot matanya menuntut kejelasan. Mama mertuanya sampai segitunya menyuruh anak sendiri membantu orang lain, sementara belum ada terjalin hubungan apa pun di antara suaminya dengan perempuan itu? Fiona jadi semakin yakin akan menguasai harta suaminya. Dia tak ingin semakin diinjak oleh mama mertuanya, seolah tak ada harga dirinya. Dia harus membalas perbuatan mertuanya yang semena-mena itu, Fiona akan tunjukkan jika dia memiliki kuasa juga atas suaminya sendiri. "Tiga kali. Aku malas berdebat sama Mama, jadi aku kasih aja." Fahri berbohong untuk satu ini, tak ada mamanya menyuruh. Uang itu Fahri berikan secara cuma-cuma kepada Mika karena perempuan itu sering memuaskannya. Sudah tiga kali dia transfer uang sebesar 5 juta rupiah dua kali, dan sekalinya lagi 10 juta rupiah setelah 2 minggu lalu bermain di rumah ini. Saat itu Fiona tak di rumah, ada acara arisan saudara persepupuan di Bogor. Fiona yang memang setiap bulan ada acara rutin berkumpul dengan saudara dan sepupu-sepupunya. "Dua kali 5 juta dan sekali 10 juta, ada riwayatnya di mobile banking." "Oke." Fiona tak ambil pusing dengan itu. Anggap saja suaminya sedang bersedekah. "Password banking aku, tanggal pernikahan kita." Fahri pun menyerahkan ponselnya. "Kamu cek aja. ATM aku satu lagi, kamu tahu nggak ada banking-nya dan isinya cuma ada 2 jutaan kayaknya." Meraih ponsel milik suaminya, Fiona langsung membuka aplikasi banking di ponsel tersebut. Selain dirinya yang bisa menabung dari nafkah yang diberikan oleh suaminya, dia tahu jika suaminya juga banyak uang karena mereka berdua tipe yang sama. Tak suka membeli sesuatu yang tak penting. Apa-apa, Fiona yang membeli. Suaminya memberikan uang di luar nafkah belanja, dan Fiona dipercaya untuk membeli apa pun untuk di rumah mereka atau kebutuhan mereka berdua. Uang bonus pun, Fiona suka dikasih walau tak sepenuhnya. Ada ratusan juta di banking suaminya itu. Tanpa berpikir panjang dan tak meminta izin kepada suaminya, Fiona pindahkan uang itu ke rekeningnya sendiri. Hanya menyisakan 5 juta rupiah saja. Fahri pasrah saja setelah Fiona mengembalikan ponsel dan mengecek saldonya. Untung saja kemarin sudah transfer kepada mamanya untuk biaya sebesar menikah 15 juta rupiah. Seserahan 5 juta rupiah dan biaya pernikahan kecil-kecilan di rumahnya Mika sebesar 10 juta rupiah saja. Tak masalah keungannya diatur sepenuhnya oleh Fiona. Hati istrinya itu begitu lembut, Fahri yakin untuk pribadinya dan nafkah untuk Mika nanti akan sesuai porsinya. Untuk Mika, Fahri ingin memberikan 5 juta saja per bulan. Dirasanya itu cukup banyak untuk Mika, yang biasa hidup sederhana. Gajinya sebesar 25 juta sudah termasuk tunjangan, uang makan, transport dan lain-lain, Fahri percayakan sepenuhnya kepada Fiona. *** Hari pernikahan Fahri pun tiba. Saat ini, Fiona memilih menyibukkan diri di toko kuenya. Dia tak mau menghadari acara tersebut, yang dia yakin tak akan kuat mendengar suaminya mengucapkan akad dengan perempuan lain. Sakit sekali rasanya. Hanya dengan membayangkannya sudah sesakit itu, apa lagi menyaksikan secara langsung. Fahri 2 hari kemarin ini cuti dan Fiona diajak liburan ke Bandung. Akan tetapi, senyuman yang Fiona tunjukkan saat mereka berlibur tak tulus dari hatinya. Meski rasa cinta terhadap suaminya itu masih sama kadarnya, tetap ada rasa kecewa. Bahkan, Fiona sama sekali tak bisa melayani Fahri di atas ranjang. Fiona merasa bersalah, tak bisa memberikan kewajibannya sebagai seorang istri. Untuk saja dia memiliki suami yang sabar. Fahri sama sekali tak memaksanya, begitu menyadari reaksi Fiona yang terlihat tak ingin. Sebeleum berangkat pagi ini dari rumah, Fahri berkali-kali meminta maaf padanya. Dari kemarin-kemarin juga, sering kata maaf keluar dari mulut lelaki itu. Tidak dengan mama dari lelaki itu, yang sama sekali tidak ada rasa bersalahnya memiinta Fahri menikah lagi. Tak memikirkan bagaimana perasaan Fiona. Bahkan, beberapa hari lalu mama mertuanya itu menemuinya perkara tempat tinggal untuk istri mudanya Fahri nanti. Fiona tentu saja tak mau kalah untuk kali kedua kalinya. Dia menyahut pelan ucapan mertuanya, tetapi begitu menusuk. "Mama, aku kurang gimana lagi bagi Mama? Aku udah ikhasin Mas Fahri untuk menikah lagi walau pun berat rasanya. Masa Mama minta aku harus menerima maduku di rumah ini juga? Aku minta maaf ya, Ma, aku enggak bisa membiarkan ada dua ratu di rumah ini." "Rumah ini ada tiga kamar, Fiona! Apa salahnya memberikan satu kamar untuk madumu itu, biar Fahri nggak perlu cari rumah baru yang akan menambah pengeluaran lagi." Fiona menggeleng, lalu tersenyum. "Ini rumah miliknya aku, Ma. Aku berhak menentukan siapa aja yang boleh memasuki rumah ini." "Apa? Rumah kamu?" Mama mertuanya itu mengejek. "Jelas-jelas Fahri beli rumah ini sebelum menikah sama kamu." "Iya, tapi ada uangku juga untuk bantu renovasi dan lainnya. Kami udah sepakat jika rumah ini balik nama atas namaku. Jadi, bisa dibilang ini miliknya aku sekarang." Fiona sudah menguasai semua harta suaminya. Bahkan, tanpa sepengetahuan suaminya itu, diam-diam dia membeli rumah secara tunai di daerah Beji Depok yang harganya lebih murah dari pada Jakarta. Dia tambahkan kekurangannya dari uang simpanannya sendiri. Rumah itu akan Fiona sewakan nanti, setelah ada renovasi kecil. "Kamu udah mencuci otak anak saya???" Fiona kembali tersenyum, berusaha tetap tenang menghadapi mama mertuanya itu. "Enggak ada aku begitu, Ma. Justru Mas Fahri sendiri yang bersedia memberikan ini kepada istri tercintanya. Mama bisa tanya aja sendiri, enggak ada aku nyuci otak dia. Bukannya justru Mama sendiri yang cuci otaknya Mas Fahri??" "Kamu!!!" Mama mertuanya melotot mendengar ucapan Fiona. "Awalnya Mas Fahri kan enggak mau menikah lagi, tapi Mama terus memaksa. Aku justru berbaik hati dengan memberikannya izin, agar Mama enggak marah lagi sama suamiku itu. Aku ingin hubungan mama dan Mas Fahri selalu baik-baik aja." Mama mertuanya sampai segera pergi dari rumah saat itu dengan muka memerah. Namun, setelah itu tak ada teguran dari Fahri kepadanya. Tak ada lelaki itu menarik apa pun syarat yang telah Fiona dapatkan. Dia tak membahas apa pun, hanya memeluknya saja sepanjang malam. Masih siang, Fiona meminta para karyawannya untuk pulang leih awal. Fiona ingin sendiri di sini, tak ada lagi yang dia kerjakan sejak pagi sibuk di pantry. Barusan suaminya itu bertanya apa Fiona sudah makan atau belum, dan Fiona hanya membalas singkat. Dia tahu suaminya terpaksa, tetapi tetap sakit rasanya. Suaminya telah resmi memiliki istri baru hari ini. Akadnya pasti sudah selesai sejak pagi, dan suaminya pasti sibuk dengan keluarga istri barunya. Bagaimana pun, dia tahu suaminya itu sangat menghargai orang tua. Nanti malam, tanpa bertanya, Fiona mengerti jika suaminya pasti akan bersama istri barunya meski pun tak cinta. Mama mertuanya menginginkan seorang cucu, tentunya sang suami harus menggauli istri barunya itu. Fiona menggeleng, sesak dadanya membayangkan suaminya b******u dengan perempuan lain. Dari tadi menahan-nahan, akhirnya tumpah juga tangisnya. Namun, Fiona buru-buru menyeka air matanya ketika matanya pintu tokonya terbuka. Seorang lelaki menggunakan kemeja dilipat hingga bagian sikut dan menggunakan celana jeans, melangkah masuk ke dalam tokonya. "Kak Rasyid?" Fiona langsung berdiri. Melayani calon pembeli, tak sopan jika hanya duduk saja. Fiona berusaha untuk menampilkan senyum terbaiknya kepada pengunjung tokonya itu. "Sendirian aja? Karyawan kamu mana?" tanya lelaki itu menyadari hanya melihat Fiona saja di dalam toko ini, setelah mengedarkan padangan menyeluruh isi toko. "Iya, karyawanku baru pada pulang. Hari ini tokoku akan tutup cepat." Rasyid manggut-manggut. "Saya mau semua roti, mini cake dan cemilan yang ready, bisa nggak?" "Semuanya?" Rasyid mengangguk. "Iya, untuk Jum'at berbagi. Apa bisa?" tanyanya sekali lagi memastikan. "Bisa! Bisa!!" Fiona menyahut bersemangat. Sejak pagi, tokonya agak sepi seolah mendukung suasana hatinya. "Tunggu sebentar, aku siapin dulu." "Ada plastik-plastik kecil atau mini box?" "Iya, ada. Sebentar." Fiona menuju ke arah pantry untuk mengambil stok roti yang tak sepenuhnya dipajang di etalase. Sesaaat kemudian, dia kembali dengan membawa roti-roti tersebut. "Agak menunggu sebentar, keberatan nggak?" "Boleh. Mau saya bantu sekalian? Repot pastinya kamu sendirian."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD