Fiona sontak menggeser tubuhnya ke samping, ketika mertua dan madunya menyelonong begitu saja memasuki rumahnya ketika Fiona membukakan pintu. Mama mertuanya benar-benar sudah sangat keterlaluan, tak menghargainya. Selalu berkata jika ini adalah rumahnya Fahri, jadi dia berhak juga atas rumah sang anak. Tak mau buang-buang energi berdebat, Fiona tak lagi menyahut ketika mertuanya itu berkoar-koar. Rumah ini atas namanya dan sudah ada perjanjian di atas notaris, jadi semisal suatu saat dipermasalahkan—meminta bagian untuk Mika, Fiona sudah merasa siap bertarung karena sudah memiliki kekuatan hukum. "Ada apa, Ma?" Fiona menghampiri mama mertua dan madunya yang langsung mendudukkan diri di sofa begitu masuk. "Fahri udah bilang kalau saya dan Mika ke sini?" Fiona menggeleng. "Enggak ada."

