Jakarta masih mengantuk. Cahaya matahari pertama menyelip di sela tirai, membentuk garis-garis emas di karpet kamar Bintang. Sarung masih melekat longgar di pinggangnya sejak shalat subuh tadi, surainya sedikit kusut. Dari luar kamar terdengar celoteh Jihan yang sudah bangun sejak adzan, sibuk mengganggu Hana dengan modus bantu memasak. Aroma bawang tumis samar-samar masuk lewat celah pintu. Suasana rumah terasa hangat, hidup, dan damai—kontras dengan perasaannya setiap kali teringat sosok Zetta yang tiba-tiba muncul kemarin. Ia membuka tirai lebar-lebar, lalu duduk di tepi ranjang sambil meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Notifikasi bertumpuk. 404-NotFound Bintang menggeleng tipis sambil tersenyum. Belum dibuka, ia sudah tau akan ramai seperti biasa. “Masih pagi padahal,” ke

