Sore kian pekat. Bias keemasan memantul dari jendela-jendela kaca gedung tinggi hingga menyentuh meja-meja di Théologie. Bintang akhirnya mengiyakan pertanyaan Jihan, mengatakan “iya, Teh Ia cantik. Jihan juga cantik” dengan gemetaran, berhubung enggan mengambil resiko ditanya sepanjang hari. Wajah pria itu masih memerah—semerah strawberry sauce di menu favorit kafe itu. “Tehnya enak ngga, Jihan?” “Enak, Teteh. Krimnya juga wangi. Teh Ia jago!” Helia terkekeh. “Teh Ia happy deh karena Jihan suka teh di sini.” “A Bintang enak ngga tehnya?” Jihan beralih ke abangnya yang tengah menyesap minumannya. Bintang mengangguk. “Raos pisan!” Beberapa saat kemudian, bel dapur berbunyi. Helia mendekati kitchen pass, mengambil piring berisi salah satu menu dessert yang dihias cantik. “Ini tart-nya

