Motor melaju dengan kecepatan stabil di bawah sinaran lampu-lampu kota. Udara Jakarta tak sebersih itu untuk mendukung suasana romantis. Namun bersama Helia, bahkan momen di tengah embusan asap knalpot rasanya seperti menjadi protagonis utama di sebuah novel cinta yang kisah manisnya sampai membuat salah tingkah. “Maaf, Izora.” “Kenapa?” “Saya mau ambil kanan tapi jalurnya terlalu ramai tadi. Kamu sesak? Tadi ada mobil diesel di depan kita.” Helia tersenyum. “Aku ngga apa-apa.” “Kamu suka sekoteng, wedang ronde, kembang tahu?” tanya Bintang kemudian. “Suka banget,” sahut Helia. “Saya tau yang enak. Gerobakan agak gede, kayak di Malioboro gitu, tapi menurut saya minuman hangatnya jauh lebih enak yang ini. Legit, ngga terlalu manis, pedas jahenya juga pas.” Mungkin, Helia punya momen

